[OneShot] Invisible Romance

Posted: April 10, 2012 in Uncategorized
Tags: ,

Annyeong haseyo ^^
saya kembali dengan FF baru …
FF ini sebenarnya saya masukkan untuk lomba, tapi gak menang T^T
FF ini juga ada di FB saya : Tiffany TeukhaeElfuty Armstrong.. #promosi

selamat membaca
WARNING : TYPO :p

Author : Tiffany TeukhaeElfuty Armstrong a.k.a Tiffany a.k.a Kang Myung Dae

Title : Invisible Romance

Lenght : Oneshot

Genre : Romance, Teenager

Cast :

Doojun B2ST as Doojun.
Park Hyun Ah

Other cast :

Dong Woon B2ST as Dong Woon

=====================================================================================

“omo~ seperti biasa, dia kelihatan cantik sekali hari ini.” ujar Doojun dalam hati.

Sambil melayani pembayaran di kasir di cafe tempat ia bekerja, sesekali ia menatap yeoja yang selalu datang di café ini. sudah hampir sebulan Doojun mengamati yeoja itu. yeoja yang berambut panjang dan selalu memakai pakaian one piece dan SELALU pergi ke café itu tiap hari. Doojun tidak tahu mengapa yeoja itu selalu kesini. Mungkin saja ini menjadi tempat nongkrong yeoja itu untuk melepas stress.

Doojun menyukai yeoja itu saat pertama perjumpaan mereka. Saat yeoja itu datang ke café ini. Dan sejak itu Doojun tidak pernah melepas pandangan nya dari yeoja yang sangat cantik itu. tapi, Doojun tidak pernah mendengar suara yeoja itu. menyapa nya saja ia tidak pernah karena malu. Lagipula yeoja itu tidak bicara apa-apa saat membayar di kasir. Ia hanya tersenyum. Senyumnya sangat indah dan membuat Doojun jatuh hati.

Esok harinya, seperti biasa Doojun melakukan tugas nya sebagai kasir dicafe. Tentu saja sambil menoleh-noleh kekaca untuk melihat yeoja itu datang. Tapi, sudah hampir dua puluh menit yeoja itu tidak datang. Padahal ini sudah jadwal biasanya yeoja itu datang kesini. Doojun tetap optimis dan menunggu yeoja itu. ia berpikir, mungkin saja yeoja itu terlambat datang karena ada urusan penting. Karena ini pertama kali yeoja itu seperti ini.

Malam hari. Doojun baru saja selesai dari pekerjaannya. Ia akan segera pulang sekarang. Ia cukup kecewa karena yeoja itu tidak datang hari ini. padahal doojun sangat ingin melihatnya hari ini meski sebentar saja. Ia berharap semoga besok tidak seperti ini lagi. semoga dia baik-baik saja.

Doojun menyebrangi jalan di perempatan untuk pergi ke halte bus. saat berjalan menuju ke halte, ia melihat seorang yeoja berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari zebra cross di perempatan. Doojun melihat dengan seksama yeoja itu sambil berjalan. Tiba-tiba ia kaget karena yeoja itu melangkah kan kaki menyeberangi jalan yang sangat ramai itu.

Dengan segera Doojun berlari mengejar yeoja itu untuk menyelamatkan nya.

“hei! Apa yang kamu lakukan!” seru Doojun sambil menarik yeoja itu ke pinggir jalan lagi.

“ah?” yeoja itu menatap Doojun. Bukan main kaget nya doojun melihat ternyata itu yeoja yang selalu datang ke café itu. dengan segera ia melepas tangannya yang sedang menggenggam lengan yeoja itu.

“siapa kamu?” tanya yeoja itu. doojun mengerutkan kening.

“itu tidak penting untuk mengetahui siapa aku. tapi yang akan kamu lakukan itu benar-benar berbahaya!” seru Doojun. “kamu mau bunuh diri!?”

“bunuh diri?” tanya yeoja itu bingung. Yeoja itu melihat dirinya sendiri.

“bukannya aku sudah mati?” tanya yeoja itu lagi. doojun merasa aneh dengan perkataan yeoja itu. sudah mati? Padahal jelas-jelas dia masih hidup.

“nona, mungkin kamu mabuk. Mari kuantar pulang.” Ujar Doojun sambil menarik tangan yeoja itu.

“tu..tunggu!” ujar yeoja itu.

“dimana rumahmu?” tanya doojun tidak memedulikan ucapan yeoja itu barusan.

“di.. di Chungmuro *nama jalan di Seoul*” ujar yeoja itu.

“baiklah, aku akan mengantarmu kesana naik bis.” Ujar Doojun. “itu bisnya datang! Ayo!”

Dengan segera Doojun membawa yeoja itu naik bis untuk mengantarnya pulang. Yeoja itu hanya mengikuti kemauan Doojun. Padahal kalau yeoja lain sudah mengira doojun ini orang jahat karena memaksa.

Doojun duduk dengan tenang didalam bis bersama hyun ah. Tapi ia merasa aneh saat itu karena orang-orang menatapnya. Tapi doojun mengacuhkan mereka.

Beberapa lama kemudian, mereka sampai. Yeoja itu memberitahu kalau ia tinggal di apartemen didekat situ. Doojun segera membawanya kesana.

“nah, sekarang pergi masuklah. Dan jangan mengulanginya. Bahaya bila seorang yeoja berjalan-jalan malam hari, apalagi sambil mabuk.” Ujar Doojun.

“tapi aku tidak tahu dimana kunciku.” Ujar nya

“hah? Bagaimana bisa?” tanya Doojun bingung. Yeoja itu hanya mengangkat bahu.

“ya sudah, kita minta bantuan pekerja itu saja.” Ujar Doojun melihat seorang pekerja yang sedang memperbaiki pintu yang rusak.

“ja.. jangan!” seru yeoja itu tampak khawatir.

“kenapa?” tanya Doojun bingung.

“itu.. aku.. tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu..” ujar yeoja itu.

“gwaenchana.. dari pada aku harus mendobraknya? Nanti pintunya rusak.” Ujar Doojun.

Doojun membawa yeoja itu menemui pekerja itu.

“permisi.. bisa anda menolong kami?” tanya Doojun.

“ada apa?” tanya nya.

“yeoja ini kehilangan kunci kamarnya. Apa anda bisa membuka kannya?” tanya Doojun sambil menunjuk yeoja disebelahnya.

“ah? Yeoja mana?” tanya namja itu.

“ini yang disebelahku.” Ujar Doojun.

“yang sebelah mana? Tidak ada siapa-siapa.” Jawabnya lagi. Doojun menoleh ke arah yeoja disebelahnya sambil mengangkat alis bingung. Yeoja itu kemudian hanya menunduk.

“maaf, tolong jangan bercanda.” Ujar Doojun.

“aku tidak bercanda. Disebelahmu tidak ada siapa-siapa kan?” jawab pekerja itu. “tapi, aku bisa membantu mu untuk membuka pintu apartemenmu kalau terkunci.”

Doojun semakin bingung. Ia menoleh ke arah yeoja itu. ternyata dia sudah berjalan meninggalkan Doojun.

“bagaimana?” tanya pekerja itu lagi.

Doojun tidak menghiraukan dan mengejar yeoja itu. ia tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan yeoja itu.

“aku kan sudah bilang jangan..” ujar yeoja itu.

Sekarang Doojun sedang berada didepan apartemen bersama yeoja itu. dan doojun sedang mencari tahu ada apa dengannya.

“tapi aku tidak mengerti tadi, kenapa ia tidak bisa melihatmu..” ujar Doojun.

“aku juga tidak mengerti. Yang aku ingat terakhir kali, kemarin malam aku sedang menyebrangi jalan menuju ke apartemen ini. lalu orang-orang tidak bisa melihatku.”

“tapi aku bisa melihatmu?” tanya Doojun.

“aku tidak tahu.” Ujar yeoja itu.

Mereka terdiam disitu.

Tiba-tiba yeoja itu pergi meninggalkan Doojun.

“aku mau membantumu.” Ujar Doojun.

Yeoja itu menghentikan langkah.

“maksudmu?” tanyanya sambil menoleh.

“aku mau membantumu mencari tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya.” Ujar Doojun.

Doojun sedang berada di rumahnya sekarang. Lebih tepatnya, didalam kamarnya. Dan sekarang ia bersama yeoja itu. keluarganya tak ada yang bisa melihat yeoja itu jadi ia masuk ke sana. Tadi, yeoja itu menuruti kemauan Doojun untuk membantunya dan Doojun membawanya pulang karena tidak ada tempat lain untuk yeoja ini karena kamar apartemennya terkunci.

“jadi, kamu sering melihatku?” tanya yeoja itu sambil duduk manis mengamati Doojun dengan seksama yang sedang menulis sesuatu.

“bagaimana tidak? Kamu selalu datang ke cafe.” Ujar Doojun sambil mengatur buku-bukunya dalam tas.

“ne.. Doojun ssi kenapa kamu bekerja disitu?” tanya nya lagi.

“untuk ini.” ujar Doojun menunjukkan bukunya. “untuk kuliahku.”

Mereka sudah banyak bercerita saat Doojun membawanya pulang. Mereka bahkan sudah berkenalan. Yeoja itu namanya Park Hyunah.

“Doojun-ssi.. kenapa kamu mau membantuku?” tanya hyunah.

“karena aku menyukaimu..” ujar Doojun. “eh.. maksudku.. karena aku menyukai hal-hal yang ‘berbau’ aneh seperti ini.”

Hyunah heran dengan perkataan Doojun.

“maksudmu aku aneh?” tanya nya.

“ah.. anio.. maksudku.. hal-hal yang misterius seperti ini..”

“ohh.. jadi aku misterius?”

“ah.. aniyo.. bukan seperti itu.. aku..”

Tiba-tiba hyunah tertawa terbahak-bahak. Ia merasa lucu melihat Doojun yang kebingungan seperti itu.

“hahahaha.. mianhae, aku hanya bercanda.” Ujar hyunah sambil menjulurkan lidah.

Doojun membulatkan bibirnya.

“aku mau tidur..” ujarnya.

“ah, kamu marah padaku?” tanya hyunah sambil menghampiri Doojun.

“aniyo.” Jawab Doojun.

“lalu kenapa kamu mau tidur? Kamu marah kan?” tanya hyunah.

“kubilang tidak.”

“pasti marah..” ujar hyunah cemberut. “aku kan sudah minta maaf.”

Doojun menghela napas dan berbalik menatap hyunah.

“aku tidak marah,hyunah ssi.” Ujar Doojun lembut. Membuat hyun ah terdiam dan tidak cemberut lagi.

“nah, sekarang aku mau tidur.”

Doojun naik ke kasurnya. Hyunah mendekatinya.

“sekarang apa?” tanya Doojun.

“aniyo.” Jawabnya.

“kamu tidak mengantuk?” tanya Doojun.

Hyunah menggeleng-geleng.

“aku tidak pernah merasa mengantuk lagi sejak hal ini menimpa ku.” Ujar hyunah. Doojun hanya diam.

Doojun ingin segera tidur karena sangat mengantuk. tapi, pengalaman hari ini masih belum bisa ia lupakan. Ia tak menyangka akan jadi sedekat ini dengan yeoja yang ia sukai. Apalagi mengetahui, ternyata yeoja ini lucu sekali. Cara bicaranya juga. Doojun merasa sangat beruntung dan sangat senang.

“doojun ssi. Kamu harus membantuku besok.” Ujar hyunah.

“ne.” jawab Doojun yang sudah diambang tidur.

“aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tiba-tiba saja seperti ini. apa aku sudah mati?” tanya hyunah.

“doojun ssi?” tanya hyunah lagi karena tidak ada jawaban dari Doojun.

Ia mencolek lengan Doojun.

“yah.. dia tidur..”

..

“hooooaaaammmmmm…” doojun menguap lebar. Ia baru terbangun pagi ini.

Ia mengucek-ucek matanya.

“waaa!” doojun kaget setengah mati ketika ia membuka matanya.

“selamat pagi!” seru hyunah. Yeoja itu ada didepannya dan sedang menatapnya membuat Doojun kaget.

“ne. tapi kamu mengagetkanku..” ujar Doojun.

“hehehehe..” hyunah hanya senyum-senyum.

Doojun pun hanya tersenyum dengan tingkahnya yang menggemaskan itu.

“lebih baik aku tidak mengikutimu. Kalau tidak orang-orang bisa merasa aneh melihatmu berbicara dengan ku. Aku kan tidak terlihat.” Ujar hyunah.

“gwaenchana, asalkan kamu tidak berbicara dan menganggu.” jawab Doojun.

“mana bisa seperti itu.??” tanya hyunah.

“aku bercanda.” Ujar Doojun. “ikut saja kalau mau.”

“gwaenchana. Aku mau disini saja.” Ujar hyunah.

“betul? Tidak bosan?”

“aniyo. Aku bisa jalan-jalan sendiri kalau bosan.”

“ne.”

Doojun segera mandi setelah itu dan pergi untuk kuliah. Sorenya ia melanjutkan dengan kerja sebagai cashier man di café.

“Doojun ssi!” tiba-tiba Doojun mendengar seseorang berteriak memanggil namanya dari luar. Doojun sedang bekerja di café sore ini. ia menoleh ke kaca. Ternyata itu hyunah. Doojun keluar dari café. tidak apa, karena belum ada yang membayar di kasir.

Ia mengajak hyunah ke samping café agar tidak dilihat pengunjung café.

“hyunah ssi? Waeyo?” tanya Doojun.

“seperti nya aku sudah tahu apa yang terjadi denganku.” Ujar hyunah murung.

“hah? Bagaimana bisa?” tanya Doojun lagi.

“gampang sekali.” Ujar hyunah. “dari koran yang ada dirumahmu.”

Doojun ingat hyungnya yang berlangganan koran.

“koran? Koran mana?” tanya doojun.

“kamu bisa cari sendiri.” Ujar hyunah.

“ayo, kita liat sama-sama korannya.” Ujar Doojun.

“sekarang?” tanya hyunah.

“ne.”

“tapi kan, kamu sedang bekerja.” Ujar hyunah.

“ya, aku akan minta digantikan sebentar.” Ujar Doojun

Ia pergi ke café. tidak lama kemudian Ia kembali lagi. mereka pergi kesebuah tempat penjualan koran. Sampai disana, hyunah menunjuk ke salah satu berita. Disalah satu berita di halaman depan itu adalah mengenai kasus tabrakan. Sebuah mobil menabrak seorang yeoja yang sedang menyeberang jalan.

“ini..” ujar Doojun. “kamu kan?”

“ne.”

“disini tertulis rumah sakit yang membawa mu untuk dirawat.” Ujar Doojun. “ayo kesana.”

“ne.”

Doojun dan hyunah pergi kerumah sakit seperti yang tertulis diberita. Sesampainya disana, doojun bertanya pada resepsionis untuk menanyakan di mana tempat hyunah berada sekarang. Setelah itu mereka berjalan ke tempat yang telah diberi tahu oleh resepsionis.

Mereka tiba didepan sebuah ruangan. Doojun melihat dari kaca, disitu ada hyunah yang sedang tertidur. Tiba-tiba keluar seorang perawat dari dalam kamar.

“permisi.” Ujar Doojun pada perawat itu.

“ne?”

“ini benar pasien yang bernama park hyunah ?” tanya Doojun.

“ne. dia sudah koma sejak dibawa kesini. Dia mengalami benturan cukup keras saat tabrakan sehingga membuat dia tak sadarkan diri.” Jelas perawat itu.

“apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?” tanya Doojun.

“tidak ada luka luar yang serius, hanya luka goresan dikepala dan sedikit memar ringan.”

Doojun terlihat lega. Tapi sepertinya hyunah masih terlihat khawatir.

“ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya perawat.

“ah, tidak. Terimakasih.” Ujar Doojun.

“kalau mau melihat, silahkan. Tapi saya harus pergi sebentar.”

“ne, gwaenchana. Kamsahamnida.” Ujar Doojun.

Perawat itu pergi. Hanya tinggal Doojun dan hyun ah yang saling bertatapan.

Doojun menggenggam tangan hyunah. Hyunah tampak masih murung.

“kamu akan baik-baik saja.” Ujar Doojun.

“hmm.. aku lega aku belum meninggal. Tapi aku khawatir bisa meninggal.” Ujar nya.

“tenang saja. Tidak ada yang serius. Hanya benturan di kepala yang membuat mu koma. Sebentar lagi kamu pasti bangun.” Ujar Doojun.

“Doojun ssi.. bagaimana caranya agar aku bisa sadar kembali?”

“hmm..”

Doojun dan hyunah masuk kedalam kamar. Disitu ada tubuh hyunah yang terbaring memakai infus. Hyunah mencoba menempelkan badannya ke tubuhnya itu. tapi ia tidak bisa menyatu dengan tubuhnya.

“aku tidak bisa menyatu dengan tubuhku.” Ujar hyunah.

“kurasa tidak semudah itu.” ujar Doojun.

“lalu seperti apa? kalau aku bisa masuk sekarang pasti aku akan segera sadar.” Ujar hyunah.

“nanti kita cari cara lain.” Ujar Doojun.

“bagaimana?” tanya Hyunah.

“kita akan coba berbagai cara nanti.” Jawab Doojun.

“cara seperti apa!?” seru Hyunah. Hyunah meneteskan air mata.

Doojun datang dan memeluk hyunah untuk menenangkannya. Hyunah menyandarkan kepalanya didada doojun.

“mianhe Doojun ssi. Aku hanya terlalu khawatir dengan diriku.” Ujar Hyunah.

“aku tahu. Itu karena kamu baru mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dengan dirimu.”

“kamu benar.” Ujar hyunah. “gomawo Doojun ssi..”

“ne, nanti kita akan mencari cara nya bersama-sama..”

“hmm..”

Doojun dan hyunah kembali pulang kerumah setelah itu.

Doojun sedang duduk didepan tivi bersama hyunah sekarang. Menonton action movie kesukaan doojun.

“kamu suka nonton film seperti ini?” tanya Doojun.

“tidak. Aku lebih suka menonton film komedi romantis.” Ujar hyunah.

“ahh.. dasar perempuan.” Ujar Doojun.

“apa maksudmu ‘dasar perempuan’??” seru hyunah.

“aniyo.” Ujar Doojun sambil menjulurkan lidah.

“apa maksudmu hah!?” hyunah memukul-mukul doojun.

“aww.. hentikan..!” ujar Doojun.

Hyunah berhenti dan mereka bertatapan. Mereka terdiam sekejap.

“week..” Doojun menjulurkan lidah nya lagi.

“huh!” hyunah beranjak dari kursi meninggalkan doojun.

“hyunah ssi! Tunggu!” Doojun mengejar hyunah.

Doojun mengejar hyunah yang berjalan dan menembusi kamar.

“aku tidak bermaksud mengejek kok.” Ujar Doojun dari luar kamar. Tapi tak ada jawaban apa-apa dari kamar. Ia berpikir mungkin hyunah menangis. Doojun membuka pintu kamar.

“BAAA!” seru hyunah yang tiba-tiba ada didepan pintu ketika doojun membuka pintu kamar.

“Woo~!” Doojun kaget setengah mati.

“haha~ satu kosong! Aku berhasil menipumu!” seru hyunah.

“kamu..” ujar Doojun geram. Dia tampak marah. Hyunah yang melihat Doojun marah tidak jadi tertawa dan terdiam takut.

“Doojun ssi.. aku..”

“WAA!”seru Doojun sambil tertawa.

“waa!!” hyunah kaget dan berlari.

“sini kau! Beraninya kamu menipu ku! Doojun berlari mengejar hyunah.

Karena ruangan Doojun yang tidak terlalu lebar, ia berhasil menangkap hyunah.

“kyaa~” pekik hyunah.

“buuk..” mereka berdua jatuh dikasur Doojun.

“Doojun ssi! Sakit sekali!”ujar hyunah.

“itu pembalasanku. Sekarang kita satu sama, kan?” ujar Doojun.

“hihi..” hyunah tertawa dan menjulurkan lidahnya. “week!”

Mereka terdiam sejenak menyadari posisi mereka yang begitu dekat seperti ini.

Doojun mendekatkan wajahnya. Mencium hyunah begitu lembut. Sebuah kecupan yang ringan dan singkat.

Setelah itu mereka saling tersipu. Dan mereka saling tersenyum.

Hari minggu, doojun dan hyunah sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit naik bus way. Mereka berniat untuk mencoba cara baru yang Doojun temukan di internet semalam. Mereka berharap cara ini bisa berhasil membuat arwah hyunah kembali ketubuhnya.

“doojun ssi.. janji ya, habis ini kita jalan-jalan..” ujar hyunah.

“tapi ini sudah termasuk jalan-jalan bukan..?” tanya doojun.

Hyun ah terdiam.

“ah? Aku bercanda.. iya, habis ini kita jalan-jalan kemana saja kamu mau.”

“hihi~ gomawo..” hyunah memeluk lengan Doojun dan menempelkan kepalanya di bahu Doojun.

“Doojun ssi, sepertinya kamu tidak merasa malu..” ujar Hyunah.

“mwo? Kenapa malu?” tanya Doojun agak heran.

“ya.. kamu kan tahu orang-orang tidak bisa melihat ku.” Ujar Hyunah.

“lalu?” tanya Doojun lagi.

“huh! Doojun ssi! Kamu kok gak ngerti? Apa kamu tidak merasa aneh orang-orang melihatmu berbicara sendiri!?” tanya hyunah.

“aniyo. Untuk apa malu? Aku kan tidak benar-benar berbicara sendiri.” Jawab Doojun santai.

“tapi bagi mereka kamu itu aneh..” ujar hyunah.

“aku tidak peduli.” Jawab Doojun lagi dengan nada santai.

Hyunah terdiam. Tapi ia tidak menyanggah lagi. baginya perkataan Doojun itu romantis.

Beberapa lama kemudian, dua orang itu tiba dirumah sakit tempat ‘tubuh’ hyunah terbaring koma. Mereka pergi kekamar tempat tubuh hyunah itu berada.

Sesampainya disana, ternyata ada seorang namja yang ada didalam kamar. Berdiri disamping ranjang tempat hyunah berbaring. Namja itu terlihat memegang seikat bunga. Doojun tak berniat mengganggu orang yang didalam kamar itu. makanya ia masih menunggu diluar.

“hyunah ssi, siapa itu?” tanya Doojun.

“itu…”

“kriieett..” tiba-tiba pintu kamar hyunah terbuka memotong pembicaraan mereka. Namja yang tadi didalam kamar keluar.

Doojun menatap namja itu. tinggi, cakep dan terlihat lebih muda darinya. Mukanya tampak seperti blasteran Arab atau Kroasia bahkan Eropean. Namja itu tidak bicara apa-apa, hanya tersenyum. Doojun membalas senyumnya. Setelah itu namja itu pergi meninggalkan Doojun, dan Hyunah.

“ayo masuk.” Ujar Doojun. Doojun melihat hyunah agak murung ,tapi ia tidak terlalu memerdulikannya. Mereka masuk ke dalam kamar.

“bunganya indah sekali.” Ujar Doojun. Ia menyentuh bunga itu. bunga yang berwarna-warni dan mengembang itu. Doojun mengambil setangkai bunga dan memakaikannya ke telinga di tubuh hyunah yang koma.

“babo..” ujar hyunah.

“gwaenchana.. kan lebih cantik.” Ujar Doojun.

Tiba-tiba Doojun kaget karena hyunah menggenggam tangannya. Doojun menatap hyunah dengan heran. Tapi tiba-tiba hyunah mencium bibir Doojun. Doojun yang masih tidak mengerti, menerima saja ciuman itu.

“Doojun-ssi..” hyunah menyandarkan kepalanya di bahu Doojun yang ada disebelahnya.

“saranghaeyo..” ujar hyunah.

“nado saranghaeyo..” ujar Doojun lembut.

“oh ya, bagaimana kalau kita mencoba cara itu?” tanya hyunah.

“oh iya, ayo!” ujar Doojun lalu merogoh tas selempang yang ia pakai kemari.

Doojun mengeluarkan sebuah buku tebal. Sebenarnya itu adalah kumpulan kertas yang isinya berisi metode-metode gaib yang ia print dari internet. Metode itu akan mereka coba untuk membuat hyunah kembali.

Menurut dari blog dimana Doojun mendapatkannya, metode itu adalah metode tradisional masyarakat Jepang untuk mengembalikan arwah yang tidak sengaja keluar dari tubuh arwah tersebut. Hal ini tidak ada jauh bedanya dengan apa yang dialami hyunah. Hanya saja arwah hyunah keluar karena kecelakaan.

Doojun memakaikan selembar kain kekepala hyunah yang terbaring di kasur. Ia menuliskan huruf kanji disitu. Agak sulit, karena Doojun tidak pernah menulis dengan kanji, tentu saja, karena dia orang Korea. Setelah itu ia memegang tangan hyunah yang sedang tertidur dan tangan hyunah yang ‘arwah’.

Doojun mulai membaca mantra-mantra aneh dan tidak jelas. Mulut nya komat kamit dengan bahasa aneh yang ia baca dari buku metode yang ia pegang itu. keduanya tampak serius menjalankan upacara aneh itu.

“bonmun ilbon yuryeong suikeul jumun…” Doojun mengucapkan mantra dengan lancar dan serius. Kali ini ia tidak membaca buku lagi karena mantranya singkat dan mudah dihapal. Doojun mengucapkannya sambil menutup mata.

Tiba-tiba Doojun terdiam. Ia tidak berkomat kamit lagi. suasana tiba-tiba menjadi hening. Hyunah yang tadi juga ikut serius langsung merasa aneh karena suasana menjadi mencekam. Ia mengira mantra nya bekerja. Semenit dua menit mereka masih menunggu. Makin lama hyunah merasa capek. Akhirnya sudah 10 menit mereka terdiam tak bergerak sama sekali.

“hyunah ssi..” bisik Doojun.

“mwo?” tanya hyunah dengan berbisik juga.

“apa mantra nya berhasil?” tanya Doojun.

“entahlah, aku belum membuka mataku. Tapi sepertinya aku tidak merasa apa-apa.” ujar Hyunah.

“aku juga..” ujar Doojun. “aku merasa masih memegang dua tanganmu.”

“bagaimana kalau kita membuka mata?” tanya Hyunah.

“baiklah.”

Mereka membuka mata perlahan-lahan.

“lho?” ujar Doojun dan hyunah bersamaan.

Mereka saling bertatapan aneh.

“sepertinya tidak berhasil?” tanya hyunah.

“aku juga yakin sepertinya begitu.” Ujar Doojun. “padahal ini sudah sesuai metode.”

Mereka melihat tidak ada yang berubah. Arwah hyunah masih berada diluar tubuhnya. Sepertinya upacara mereka gagal. Mereka hanya saling menatap malu karena upacara aneh itu tidak membuahkan apa-apa.

Doojun dan hyunah sedang dalam perjalanan keluar dari area rumah sakit. setelah upacara aneh itu tidak berhasil mereka memutuskan untuk pulang saja.

“jadi sekarang kita kemana?” tanya Doojun.

“emm.. sepertinya lebih baik kita pulang saja.” Jawab hyunah.

“hhmm? Waeyo? Bukankah kita sudah sepakat habis ini kita jalan-jalan?” tanya Doojun heran.

“ne.. tapi aku merasa ingin pulang.” Ujar hyunah.

“hmm.. ya sudah. Kita pulang saja.” Jawab Doojun menuruti permintaan Hyunah. Sepertinya terjadi perubahan mood hyunah, dan Doojun tahu hal ini makanya ia hanya menuruti perkataan hyunah. Mereka kembali naik bis untuk langsung pulang kerumah.

Satu hari berlalu. Esok hari tiba. Doojun dan hyunah sedang berada didalam kamar. Doojun sedang duduk didepan PC nya sambil membuka situs pencarian untuk mencari cara baru untuk mengembalikan hyunah ketubuhnya yang sedang koma. Sedangkan hyunah sedang duduk diam di pinggir kasur sambil mengamati Doojun.

“Doojun ssi..” ujar Hyunah.

“ne?” tanya Doojun sambil menoleh hyunah.

Hyunah tak berkata apa-apa lagi. Doojun yang mengerti dengan keadaan hyunah yang sepertinya masih ‘badmood’ , mendekati yeoja itu dan duduk disebelahnya.

“ada.. yang harus kubicarakan..” ujar Hyunah pelan.

“hmm? Tentang apa?” tanya Doojun.

“ah.. tapi aku tidak enak mengatakannya padamu.” Ujar hyunah.

“tidak enak? Memangnya makanan?” tanya Doojun.

“Doojun ssi.. bukan itu.”

“haha.. ne, gwaenchana, ceritakan saja.” Ujar Doojun meyakinkan.

“jangan marah ya..”

“ne..”

“sebenarnya.. aku akan menikah.” Ujar Hyunah.

Doojun terdiam sambil menatap hyunah kaget. Ia kaget mendengar apa yang baru diucapkan hyunah.

“menikah?” tanya Doojun.

“mi..mianhae Doojun ssi.. aku..”

“ceritakan.” Potong Doojun.

“namja tadi.. yang kita temui di rumah sakit. itu Dongwoon, dia anak dari sahabat appa ku dari luar negeri. Appa ku dan appa Dongwoon mentunangkan aku dan dia tahun lalu. Dan sebenarnya, minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan.” Ungkap hyunah.

“ah.. benarkah?” tanya Doojun. Ia melihat hyunah mengangguk.

Doojun tersenyum kecut. Doojun bangkit berdiri dan berjalan keluar pintu. Hyunah hanya berdiam ditempatnya berdiri.

“tapi aku tidak menyukainya.. percayalah..” seru hyunah. Doojun tidak menghiraukan dan terus berjalan.

“Doojun ssi! Doojun ssi!” panggil hyunah. Ia mencoba mengejar Doojun.

“BLAM!” pintu ditutup kasar oleh Doojun. Hyunah menghentikan langkahnya. Tidak jadi mengejar Doojun.

Doojun keluar dari rumah setelah pembicaraan yang menyakitkan hati itu. ia benar-benar terpukul dan sedih. Ia tak menyangka Hyunah sudah akan menikah. Doojun berpikir, andaikan hyunah memberitahu lebih awal, ia pasti tidak akan jatuh cinta pada hyunah karena ia sudah tahu kalau hyunah sudah memiliki calon suami.

“praang!” Doojun menendang tong sampah di pinggir jalan hingga jatuh dan isinya berkeluaran.

“ahh..” Doojun kaget melihat sampahnya berserakan karena ulahnya. Ia segera berlari sebelum di lihat orang.

Doojun duduk termenung di dalam sebuah restoran di pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya. Ia termenung sambil memainkan sedotan didalam minuman yang ia pesan sedari tadi. Pikirannya tidak karuan. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Sudah hampir tiga jam ia disini terus.

Ia begitu kesal karena mengetahui hal pernikahan hyunah yang ternyata tinggal seminggu lagi. tapi ia tidak bisa menyalahkan hyunah. Mereka baru saling mengenal, sedangkan hyunah dan calon suaminya sudah setahun bahkan sudah sejak dulu saling kenal.

“tapi aku tidak menyukainya.. percayalah..”

Tiba-tiba ucapan hyunah tadi terngiang di pikiran Doojun. Ia berpikir apakah ucapan hyunah itu memang benar atau tidak.

“hei! Apa yang kamu lakukan!”

“bukannya aku sudah mati?”

“maksudmu?”

“aku mau membantumu mencari tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya.”

“hahahaha.. mianhae, aku hanya bercanda.”

“doojun ssi. Kamu harus membantuku besok.”

“selamat pagi!”

“saranghaeyo..”

“nado saranghaeyo..”

Pikiran doojun memutar kembali kenangan-kenangan mereka. Doojun tiba-tiba bangkit dari tempat ia duduk. Ia keluar dari restoran. Ia sadar. Tak seharusnya ia marah. Ia ingin meminta maaf pada hyunah. Doojun mempercepat langkahnya. Ia berlari menuju rumah. Ia ingin segera menemui hyunah.

“hyunah ssi!” Doojun membuka pintu kamarnya.

Tidak ada siapa-siapa disitu. Doojun membuka pintu lemarinya, pintu kamar mandi,ia mencari disetiap sudut-sudut rumahnya tapi hyunah tetap tidak ada. Doojun berlari keluar dari rumah. Mungkin saja hyunah pergi keluar dari rumah dan bersembunyi disuatu tempat.

Doojun berlari menyusuri jalan. mencoba mencari hyunah di tempat manapun. Hari sudah malam dan ia agak kesulitan memerhatikan jalan.

“brukh!” tiba-tiba sepatunya tersandung lobang dan ia terjatuh.

“uhh..” Doojun mencoba bangkit kembali sambil mencoba mengatur kembali napasnya yang sudah tidak karuan. ia kembali berlari.

“Grroooo~”

Doojun menatap keatas. Langit malam tampak sangat mencekam. Ia yakin hujan akan segera turun.

“GYUUURR~”

Tebakannya benar. Tak lama setelah guntur itu, hujan yang deras tiba-tiba turun mengguyurnya. Doojun kalang kabut, tapi ia terus mencari hyunah.

Doojun tiba didepan café. café masih buka. Ia berteduh di depannya dari hujan. Tiba-tiba matanya terperangah pada sesuatu yang ada di pinggir jalan. seperti sosok seseorang yang sedang berdiri.

Doojun mendekat ke sosok itu. makin lama makin jelas. Sosok seorang yeoja berambut panjang.

“hyunah?” Doojun menarik lengan yeoja itu dengan pelan.

“Doojun ssi?” benar. Itu hyunah.

“hyunah, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Doojun. “aku mencari-carimu.”

“kamu tahu, ini tempat pertama kali kamu menyapaku.” Ujar hyunah. “malam itu kamu datang dan menuduhku akan bunuh diri. Setelah itu kamu mengantarku pulang dan akhirnya kamu tahu ternyata orang-orang tidak bisa melihatku.”

“hyunah ssi.. apa maksudmu?” tanya Doojun heran. “Sedang apa kamu disini?”

“hmm, aku hanya ingin mengenang saat-saat indah itu.” ujar hyunah.

Doojun memeluk hyunah.

“hyunah ssi, mianhae. Aku tidak bermaksud..”

“araseo..” potong hyunah. “akulah yang salah karena tiba-tiba menceritakan hal itu. mianhaeyo..”

Doojun memeluk hyunah makin erat. Ia merasa bersalah telah menyakiti hati hyunah.

“sudahlah, kita lupakan saja itu..” ujar Doojun sambil melepaskan pelukan. Tapi tiba-tiba ia tercengang.

“hmm, benar.” Ujar hyunah seraya tersenyum manis.

“hyunah, ka.. kamu…” ujar Doojun terbata-bata.

“hah? Waeyo?” tanya hyunah.

Ia melihat dirinya dan ia ikut tercengang.

“kenapa aku…… pudar?” tanya hyunah bingung.

Arwah hyunah makin lama makin terlihat memudar dan makin tembus pandang.

“Doojun ssi.. ada apa ini!?” seru hyunah.

“ah!? Mo.. molla..!” jawab Doojun yang terlihat makin khawatir.

Doojun mencoba memegang tangannya. Tapi tangan hyunah makin tidak terasa. Doojun seolah mulai tidak bisa memegangnya kembali.

“doojun ssi, maafkan aku..” ujar hyunah.

“hyun.. hyunah!!” seru Doojun karena melihat hyunah seakan makin menghilang.

“saranghaeyo..” tiba-tiba hyunah menghilang. Seperti ditelan hujan. Doojun kaget setengah mati melihat hyunah tiba-tiba lenyap dari pandangannya.

“HYUN AH !!” seru Doojun.

Tapi hyunah tak muncul-muncul lagi. Doojun yakin pasti arwah hyunah sudah masuk lagi dalam tubuhnya. Ia jadi bersemangat untuk pergi kerumah sakit melihat hyunah siuman. Ia berlari menyebrangi jalan.

“Piiiiiiiiiipppp !!” suara klakson mobil mengagetkan Doojun. Ia tertabrak mobil di malam hujan itu.

“Doojun ssi~ saranghaeyo!”

“ne, nado saranghaeyo…hyunah ssi.”

**

“hu’uhkh!” Doojun merasakan seperti ada sengatan listrik mengalir ditubuhnya yang mengagetkannya. Doojun membuka matanya. Ia melihat sebuah cahaya terang menyinarinya membuat matanya sakit. di sekelilingnya ada beberapa orang memakai pakaian aneh seperti jubah berwarna biru dan bermasker.

“dia selamat!” ujar seseorang di antara orang-orang berpakaian aneh itu.

“ya! dia selamat!”

Orang-orang di sekeliling Doojun tampak kegirangangan. Sementara Doojun masih mengkhayal apa dia sedang ada di surga ataukah neraka saat ini.

**

Esok harinya Doojun sadar ternyata ia sedang ada dirumah sakit. tadi malam ia tertabrak mobil. Ia mendapat beberapa luka serius yang terus mengeluarkan darah lalu segera dilarikan kerumah sakit ini. di tubuhnya banyak sekali luka dan tangannya di gips karena patah. Dokter berkata, untung saja dia selamat padahal ini kecelakaan yang sangat berbahaya dan biasanya korban bisa langsung meninggal ditempat.

Doojun yang sudah sadar dikamar pasien, sangat ingin melihat keadaan hyunah apakah ia memang sudah sadar atau belum. Tapi badannya sakit semua sehingga ia masih belum kuat untuk berjalan. Berdiri saja masih terasa sakit.

Makin lama, Doojun makin tidak sabar. Ia benar-benar ingin melihat hyunah. Akhirnya dengan semua tekad yang ia miliki, ia memaksa untuk menuju ke kamar hyunah meski kakinya terasa sangat sakit untuk berjalan.

“ah? Nona Park Hyunah sudah keluar tadi pagi.” Ujar perawat. “keluarganya langsung meminta dipulangkan tadi pagi setelah ia siuman tadi malam.”

“ah? Benarkah?” tanya Doojun agak lega. “kira-kira mereka pulang kemana?”

“mianhamnida. Kalau untuk itu, saya tidak tahu.” Ujar perawat itu lagi.

“hmm.. gomapseumnida..” ujar Doojun. Perawat itu lalu pergi meninggalkan Doojun sendiri.

Doojun masuk kekamar pelan-pelan. Ia duduk di ranjang tempat hyunah terbaring dulu. Dalam hati ia berpikir, pasti hyunah sedang dalam persiapan pernikahannya. Pasti ia akan terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang panjang dan berjalan membawa seikat bunga cantik dan harum.

Doojun meneteskan air mata. Ia menangis tanpa suara. Ia berpikir, ia benar-benar sudah terlambat.

Satu minggu kemudian.

Doojun sedang bekerja di café. tapi ia masih belum bisa bekerja optimal karena kakinya masih terasa sakit dan tangannya belum pulih.

“hey hyung! Kalau belum sanggup kerja, lebih baik beristirahatlah dulu.” Ujar seorang pelayan pada Doojun.

“gwaechana, aku baik-baik saja! Jangan khawatirkan aku!” seru Doojun.

“pincang begitu bisa dibilang baik-baik saja!??” tiba-tiba terdengar suara lain ditelinga Doojun dari arah samping. Doojun menoleh.

“hyunah ssi!?” seru Doojun terkejut. Yeoja itu hanya tersenyum manis.

“ka.. kamu.. baik-baik saja?” tanya Doojun.

“ne, aku baik-baik saja. Sangat sehat.” Ujar hyunah. “malam itu aku langsung sadar.”

“ohh..” Doojun hanya mengangguk. Setelah itu mereka terdiam.

“aku tidak jadi menikah.” Ujar hyunah tiba-tiba.

“hah?” Doojun tercengang. “bukannya kalian sudah..”

“kami berdua membatalkannya..” potong hyunah.

“kok bisa?”

“aku hanya mengatakan padanya kalau aku sudah memiliki orang yang aku cintai. Dan ternyata, ia berkata seperti apa yang aku katakan. Lalu kami sepakat untuk mengatakan ‘tidak bersedia’ saat upacara pernikahan.” Jelas hyunah.

“dan kalian mengatakannya?” tanya Doojun.

“tentu saja.”

Doojun dan hyunah saling bertatapan dan saling tersenyum. Hyunah mendekat kearah Doojun.

“dan kau tahu siapa orang yang aku cintai itu?” tanya Hyunah.

“hemmm.. aku?” tanya Doojun sambil menggenggam tangan halus hyunah.

“tepat sekali!” jawab hyunah.

“tentu saja.” Ujar Doojun.

Doojun mencium Hyunah. Memainkan bibirnya dengan lembut. Tiba-tiba pecahlah tepukan dari para pengunjung yang menyaksikan pembicaraan mereka. Doojun berhenti mencium hyunah karena merasa malu. Mereka berdua hanya senyum-senyum karena orang-orang tengah menonton mereka. Beberapa dari mereka terlihat terharu.

“Aw! Hyunah ssi! Kamu menyenggol kakiku! Sakit sekali!” seru Doojun.

“yaa~ mana? Mianhae.. aku tidak sengaja! memangnya ada apa dengan kaki mu?” tanya Hyunah.

“aniyo.. hanya kecelakaan kecil.”

Tak perlu khawatir karena mereka benar-benar akan menjalani kisah mereka secara nyata mulai sekarang.

THE END

In Autumn

Posted: October 9, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany TeukhaeElfuty Armstrong
Title : In Autumn
Category : PG 15, Teenager, oneshot
Genre : Romantic
Cast :
1. me ( Tiffany ) as Kang Myung Dae.
2. Eli U-Kiss as Eli.

Note : Jeongmal Mianhae kalo FFnya rada aneh n gak jelas.. coz saya bikinnya pas lagi gak mood bikin FF.. terus, mian juga kalo banyak Typo coz ni FF saya bikin tadi malam n langsung aja di post pagi hari ini.  hehe~ Gomawo for the attention. ^^ *Tiffany*

Bulan oktober tiba. Disore hari yang dingin karena mulai musim gugur ini aku membantu eomma merapikan gudang yang biasa dibersihkan 6 bulan sekali ini. aku melihat sebuah gardus berukuran sedang dan begitu berdebu. Aku tidak pernah melihat gardus ini. aku menariknya. Gardus ini begitu berat. Karena penasaran aku segera membuka nya. Aku melihat begitu banyak album foto didalamnya. Aku mengambil sebuah album besar berwarna pink. Di covernya tertulis namaku dan aku tahu ini tulisan eomma. Kubuka halaman pertama. Disitu ada foto-foto waktu aku masih bayi yang terhias dan tersusun begitu baik. Aku terus membuka halaman demi halaman. Begitu banyak foto-foto diriku ketika masih bayi. Aku senyam-senyum sendiri melihat wajahku yang masih polos dan begitu lucu waktu itu.
“apa yang kau lakukan?” tiba-tiba eomma datang.
“oh ini.. album foto.” Jawabku.
“cepatlah, eomma akan segera menutup pintu gudang. Bersih-bersih kita lanjut besok. Hari sudah mulai gelap.” Ujar eomma.
“ne. eomma, aku boleh membawa gardus ini?” tanyaku.
“apa isinya?”
“album-album foto..”
“terserah.. ayo cepat. eomma belum menyiapkan makan malam.”
Aku keluar sambil menggendong gardus berat ini. aku membawanya kekamarku. Aku segera membuka gardus itu dan mengeluarkan semua album foto didalamnya dengan tidak sabaran.
Satu persatu album foto mulai habis ku amati. Kebanyakan berisi foto-fotoku dan dongsaengku. Tiba akhirnya tersisa sebuah album foto yang tipis, kecil dan berwarna hijau. Aku mulai membuka halaman pertama. Ternyata disini hanyalah foto-foto ulang tahunku. Aku melihat tanggal yang tertera di foto yang menunjukkan tahun 2000, berarti foto-foto ini diambil waktu ulang tahun ku yang kelima.
Aku terperangah dengan sebuah foto. Disitu ada aku dengan gaun hitam-pink dan memakai bando. Aku duduk diatas kursi yang ada diatas sebuah podium sambil memegang boneka Minnie Mouse. Aku sedang menatap seorang namja yang kira-kira sebaya denganku yang hendak memberi salam dengan tangan kanannya. Ia memakai kemeja kuning dan celana Jeans. Ia memegang topi pesta ulang tahun berwarna hijau di tangan kiri. Dan yang membuatku menyukai foto ini adalah wajah namja itu yang begitu lucu dan ia menatap ku dengan begitu polos. Aku tertarik dengan namja kecil difotoku ini. aku penasaran siapa kah dia. tapi kusadari ini sudah foto sebelas tahun yang lalu. Aku sudah tidak ingat apa-apa. Kenangan masa kecil ku seolah sudah ditelan oleh waktu. Begitu banyak kenangan-kenangan manis di masa lalu yang terlupakan oleh ku. Aku ingin bertemu namja itu sekarang ini. semoga saja ia masih hidup dan sudah tumbuh besar menjadi namja yang keren.
Aku mengeluarkan selembar foto kenangan itu dari album. Aku menyelipkannya di buku harian kecil yang selalu kebawa kemana saja. Buku harian ini selalu kutulisi dengan berbagai macam keadaan hatiku setiap harinya. Buku harian ini sudah seperti buku curhatku.
Esok hari tiba. Siang hari ini aku baru saja pulang dari sekolah. cuaca mulai dingin karena sudah memasuki musim gugur. Seragam yang kupakai berbeda dengan seragam musim panas yang kupakai beberapa waktu lalu. Aku berjalan kaki menelusuri jalan demi jalan menuju rumah.
“Buuk~!” aku menabrak sesuatu dan terlempar jatuh ke tanah dengan keras.
Aku hanya memerhatikan jalan ketika berbelok ketikungan kecil ini dan tidak memerhatikan kedepan.
“a.. mianhae!” ujar seseorang. “mari kubantu.”
Aku menatap seseorang yang berdiri di depanku sambil menjulurkan tangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena silau matahari. Aku meraih tangannya dan ia membantuku berdiri. kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Seorang namja. Aku melihat ia memakai seragam yang sama seperti punya ku. Tapi aku belum pernah melihat dia sebelumnya di sekolah.
“aa…” aku terbata-bata. “kam.. sahamnida!”
Namja itu tersenyum.
“gwaenchana, itu salahku..” ujarnya lagi.
Aku terdiam. Lalu mengangguk. Aku bingung harus bicara apa lagi.
“a.. aku.. harus..” aku terus bicara terbata-bata sambil menunjuk kebelakang. Aku bermaksud untuk segera pergi.
“tunggu!” serunya. Aku kaget.
“ne?”
Aku kaget karena tangannya mulai bergerak ke arahku. Aku agak menghindar. Ternyata ia mengambil sesuatu di atas kepalaku.
“nih, ada daun gugur..” ujarnya sambil menunjukkan selembar daun layu berwarna oranye kecoklatan yang ternyata tadi jatuh diatas kepalaku.
Aku mengambil daun itu.
“kamsahamnida!” aku segera berlari meninggalkannya.
Aku tiba dirumah dengan selamat. Aku berlari menuju ke kamarku dan segera berbaring dikasur. Aku mengingat kembali kejadian dijalan tadi. Baru kali ini aku melihat namja itu. Apa lagi ia begitu cute. Aku suka sekali melihat senyumnya. Membuatku berdebar-debar.
“myung dae?? Kamu kenapa?” tanya eomma tiba-tiba membuka pintu kamarku.
“mwo?” tanyaku.
“kenapa kamu berlari kencang tadi? Kamu bisa merobohkan rumah tua ini tahu!” seru eomma.
“ne~ ne.. mianhae!” seruku.
“nanti malam kita di undang tetangga sebelah untuk makan malam.” Ujar eomma.
“hah? tumben nyonya Lee yang galak itu mengajak makan malam?” tanyaku menunjuk ke sebelah kiri.
“aniyo. Bukan yang itu tapi tetangga yang disitu..” jawab eomma sambil menunjuk kesebelah kanan.
“hah.. maksud eomma…”
“ne.” potong eomma. “keluarga Kim baru saja kembali dari Amerika.”
“jinjja??”
“iya. Jadi jangan jalan-jalan kemana-mana !”
“ah eomma! Aku mau jalan kemana emangnya??” seruku.
Eomma keluar dari kamarku. Aku jadi teringat dengan Keluarga Kim yang tadi eomma bicarakan. Keluarga Kim terdiri dari 4 orang. Pak Kim, menjalani sebuah bisnis Internasional. Bu Kim dan dua orang anaknya, Jenny dan Eli Kim. Mereka pindah ke USA sejak aku baru duduk di kelas 1 SD. Mereka pindah kesana karena Pak Ki sukses dengan bisnisnya. Dulu mereka tetangga ku. Mereka sangat baik padaku dan keluargaku. Aku dan anak bungsu keluarga itu, yaitu Eli Kim adalah teman bermain yang seumuran. Kami juga berada dalam TK yang sama. tapi dia tidak sempat menjalani SD di Korea karena sudah pindah. Ah, aku penasaran sekali untuk bertemu dengannya. sudah lama sekali tidak bertemu. Aku bahkan sudah agak lupa dengan wajah nya. Yang aku ingat dia dulu hanya suka bermain denganku disbanding teman-teman namjanya yang lain.
Jam 7 malam. Kami sekeluarga sudah berdandan rapi. Eomma, appa, aku dan Seo Ri dongsaengku. Kami pergi bersama-sama kerumah keluarga Kim. Didepan pintu, kami sudah disambut hangat oleh Pak Kim dan istrinya. Mereka selalu saja ramah sejak dulu. Kami masuk kedalam rumah. Ruangan belum sepenuhnya tertata. Tapi ruangan-ruangan yang vital seperti kamar tidur dan dapur kulihat sudah rapi. Kami berkumpul di meja makan panjang. Disitu ada Jenny-eonni , anak sulung mereka. Jenny eonni terlihat cantik dan berbeda waktu ia masih kelas 1 SMP dulu.
Ayah dan eomma tampak asyik ngobrol dengan Pak Kim. Aku bingung mau ngobrol dengan siapa.
“kamu sudah kelas berapa?” tiba-tiba Jenny-eonni mengajakku bicara.
“aku sudah kelas 3 SMA.” Jawabku.
“oh iya, aku baru ingat kamu sama seperti Eli.” Ujarnya.
Aku mengangguk.
“kamu masih ingat Eli, kan? Dia selalu bermain denganmu dulu.”
“ne, tentu aku masih mengingatnya.”
“kukira kamu lupa..”
“sepertinya kita bisa memulai makan malam..” tiba-tiba Bu Kim datang bersama sepiring besar makanan yang dapat tercium aroma harumnya dari sini.
“asyik~” ujar Jenny-eonni.
“oh ya, Eli dimana?” tanyaku.
“oh, tadi ia menelpon ku katanya ia sedang ketoko CD dengan teman-teman barunya disekolah. Mungkin sebentar lagi ia pulang.” Jelas Bu Kim.
“oh ya, Myung Dae, kamu sudah tahu kalau ia sudah bersekolah di sekolah yang sama denganmu?” tanya Pak Kim tiba-tiba.
“mwo? Benarkah? Aku tidak pernah melihatnya.”
“kurasa kamu bukan tidak pernah melihatnya, tapi kamu lupa dengan wajahnya.” Sambung appa.
Tiba-tiba 2 orang itu tertawa. Yang lain ikut tertawa begitu juga aku.
Makan malam ini terasa agak mengecewakan. Karena Eli tidak ikut berpartisipasi. Pokoknya besok aku harus bisa bertemu dengan nya. Aku benar-benar penasaran!
Esok hari tiba. Aku sedang berjalan menuju kesekolah pagi ini.
“hey!” tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil dari belakang. Aku berhenti dan menoleh. Eh, itu kan namja cakep yang kemarin itu. Ia memanggilku? Aku menoleh kanan kiri tapi tak ada siapa-siapa. Berarti ia memang memanggilku. Aku masih dalam keadaan tidak percaya ketika ia sampai di depanku.
“Myung Dae-ya!” panggilnya.
“mwo?” aku bingung karena ia mengenal ku.
“ini aku.. Eli !” serunya sambil tersenyum. “kamu lupa padaku?”
“hah? Eli??” seruku tercengang. Ia mengangguk.
“Eli!!” aku memeluknya. Sungguh tak percaya ternyata aku memang telah melihatnya. Namja cakep kemarin itu ternyata Eli sendiri.
“Eli-ya~ neomu bogoshipo~” ujarku sambil melepas pelukanku.
“me too.. neomu bogoshipo.” Ujarnya dengan logat setengah Amerika.
“sudah lama kita tidak bertemu. Aku jadi tidak mengenalmu.” Ujarku.
“aku juga, kemarin aku hampir tidak mengenali mu. Nanti setelah aku mengingat-ingat lagi baru aku sadar bahwa itu kamu.”
“haha~ sudahlah. Lupakan hal bodoh yang kemarin itu. Kamu benar-benar berbeda.”
“tentu saja, aku berangkat ke Amerika saat kita masih TK dan sekarang kita sudah SMA. Sudah berapa masa yang terlewat, hah…”
“kamu benar.” Ujarku. “begitu banyak masa yang terlewat yang tidak kita jalani bersama.”
“hah~ sudahlah. Aku baru tahu gaya bicaramu menggelikan seperti itu.”
“Eli-ya! apa maksudmu!” seruku sambil mendorongnya.
“haha~”
Kami berjalan bersama menuju sekolah. disekolah kami terus mengobrol berdua saat jam istirahat pertama dan kedua. Kami hanya mengobrol saat jam istirahat karena kelas kami terpisah.
Sepulang sekolah kami menyempatkan diri disebuah taman kecil yang memiliki sebuah pancuran kecil. taman ini tetap bertahan dari aku kecil hingga sekarang. Kami duduk di sebuah bangku taman sambil menikmati gulali yang kami beli.
“hey, kau tahu?” tanya Eli. “aku menemukan ini jatuh dari tas mu saat kita baru keluar dari gerbang tadi.”
Aku melihat apa yang dia pegang.
“ehh!??” aku segera mengambilnya. “kok bisa jatuh!?”
“entahlah. Tapi itu kamu kan?” tanyanya.
“ne. saat ulang tahunku yang kelima.”
“berarti ini ulang tahun terakhir sebelum aku ke Amerika.” Ujar Eli.
Aku mengangguk.
“tapi, ini foto lama. Kenapa kamu masih menyimpannya?” tanya Eli.
“hehe.. ini rahasia..” ujarku.
“ayolah.. “ bujuk Eli.
“ya sudah. Begini, kamu lihat namja yang memakai baju kuning ini?” tanyaku sambil menunjuk foto.
“ne..” jawabnya sambil mengangguk.
“menurutku dia lucu.. hihi~”
“lalu..? kamu menyukainya.” Tanya Eli.
“yah, begitulah.” Jawabku.
“ihh.. ..” Eli mengerutkan alisnya.
“hah? kamu kenapa!” seruku.
“kamu menyukai anak kecil ini?”
“bukan begitu. Maksudku, dia ini masih kecil saja udah cakep, pasti sekarang ia lebih cakep lagi dong!” seruku.
“oh ya? wah wah~”
“kenapa kamu?” tanya ku bingung melihat Eli senyam senyum.
“aniyo.. betul juga pemikiranmu..”
“tentu saja. Ayo pulang! Sudah senja!” ajakku.
Kami pulang kerumah. Aku melihat didepan rumah Eli banyak sekali kendaraan diparkir. Sepertinya sedang ada acara pikirku.
Aku masuk kedalam rumahku. Didalam tidak ada siapa-siapa. Diatasa meja ada catatan yang mengatakan eomma sedang kerumah Eli. Mungkin eomma diundang. aku berjalan pelan kekamarku. Merapikan buku-bukuku. Aku baru ingat besok aku harus mengikuti tes Matematika. Dan aku belum belajar sama sekali.
Aku belajar semalaman dan tertidur.
Esok harinya aku segera buru-buru menuju kesekolah.
“Myung Dae!!” panggil eomma tiba-tiba.
“ada apa eomma! Aku buru-buru nih! Ada tes Matematika!” seruku sambil memakai sepatu.
“duduk lah dulu dan dengar kan eomma sambil sarapan!” ujar eomma.
“mian, eomma! Aku buru-buru. Aku makan disekolah saja ya! daaghh~” aku segera meluncur keluar. Hari ini test dimulai jam pertama dan aku tidak boleh terlambat. Lagian aku belum belajar sepenuhnya.
Aku melihat Eli sedang berjalan pelan-pelan. Aku melambatkan langkah.
“Eli!” seruku mengagetkannya sambil menepuk dahunya.
“Waaa~” ia tercengang.
“haha~”
“Myung Dae-ya~ kamu mengagetkanku.”
“mianhae… kok kamu terlihat lesu?” tanyaku.
“begini.. ada yang aku bicarakan padamu.” Ujar Eli pelan.
“mwo?”
“ah, nanti saja saat pulangan supaya bisa lebih lama. Lagian sekarang kau tampak tergesa-gesa.” Ujar Eli lagi.
“hehe, sebenarnya jam pertama ini kelas ku mengadakan tes matematika.” Jawabku.
“oh.. kamu tidak segera kesekolah!?” tanyanya.
“mau balapan denganku?” tanyaku.
“memangnya kamu yakin bisa mengalahkanku dalam berlari?” tanyanya.
“aku sudah didepanmu!” seruku yang sudah berlari duluan.
“hey~ kau curang!!” seru Eli lalu segera mengejarku.
Kegiatan disekolah berjalan lancar dan aku dapat menjalani tes dengan baik. Sepulang sekolah seperti kemarin kami berdua duduk di taman.
“kamu bawa fotomu kemarin?” tanya Eli.
“ne, waeyo?” tanyaku sambil merogoh tasku. “ini..”
“kamu kemarin bilang, kamu menyukai anak dalam foto ini kan?”
Aku mengangguk.
“ehmm, bagaimana kalau ternyata ia juga menyukai mu..?” tanya Eli. Aku kaget tapi agak tidak mengerti.
“hah?”
“yah, ini..” ia menunjukkan ku selembar foto kecil yang ia ambil dari dompetnya.
“ini..”
“ne, sebenarnya anak dalam foto mu dan anak dalam foto ini adalah orang yang sama. ia memakai baju yang sama dan berfoto pada hari yang sama, namja itu adalah aku.” Ungkap Eli.
“ka.. kamu??” ujarku tak percaya.
Ia mengangguk. Seketika pipiku memerah. Aku benar-benar malu. Ternyata orang yang kucari selama ini sudah lama aku temui. Aku merasa senang sekaligus malu.
“aku ingat, pada waktu itu ulang tahunmu yang kelima. Dan aku melihat mu memakai gaun itu dan yang aku pikirkan waktu itu adalah ‘ Myungdae-ssi tampak cantik sekali’. Yah sejujurnya, itu yang aku pikirkan saat itu.”
“hehe~” aku tersipu.
“aku juga menyukaimu..” ujar Eli. “nado johahae..”
Eli mencium ku dipipi dan ia menggenggam tanganku. Tangannya yang besar dan hangat. Aku tak pernah merasa sesenang dan begitu berdebar-debar seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba Eli melingkarkan tangannnya dileherku. Dan aku memeluknya.
Hari sudah senja. Kami berjalan bergandengan tangan menuju kerumah. Kami berdua tampak tersipu.
Kami tiba didepan rumahku yang ada disebelah rumahnya.
“terima kasih sudah mengantarku.” Ujarku.
“yah, gwaenchana. lagian rumah kita hanya bersebelahan.” Ujar Eli.
“oh iya ya… hehe~”
“yah.. sampai jumpa.” Ujarnya.
Aku melepas genggamannya. Padahal aku masih ingin berduaan dengan ia lebih lama lagi. aku masuk ke dalam rumahku.
Aku masuk kedalam rumahku. Diruang tamu sudah ada eomma, appa dan Seo Ri.
“aku pulang..”
“Myung Dae, kenapa kamu belum berkunjung?” tanya eomma.
“berkunjung ke siapa, eomma?” tanyaku.
“kerumah keluarga Kim.” Ujar eomma.
“ada apa?”
“kamu sih, tadi gak mau di kasih tahu.” Ujar eomma.
“ada apa eomma?”
“melayat.”
“Haah? Melayat??” tanyaku kaget sekaligus bingung.
“anak mereka, Eli. Sudah 2 hari meninggal dan kamu belum mengunjungi mereka.” Ujar eomma lagi.
“APA!?” seruku kaget. Seperti petir yang begitu keras menghantam batinku. Aku benar-benar kaget mendengar apa yang barusan diucapkan eomma. Apa aku salah dengar?
“apa aku salah dengar?” tanya ku.
“aniyo. Eli kemarin lusa meninggal tertabrak mobil saat ia baru pulang bersama teman-temannya.” Sambung ayah serius.
“APA? HAH~!? INI BOHONG, KAN!?” seruku sambil menatap appa dan eomma. Air mataku mulai jatuh.
“Myung Dae..” eomma mencoba menenangkan.
“lalu siapa yang selalu berjalan dengan ku setiap pagi? Lalu dengan siapa aku mengobrol tiap jam istirahat? Dengan siapa aku pulang? Jelas-jelas itu Eli !” seruku.
“mungkin bukan Eli. Ia meninggal di hari pertama ia bersekolah di sekolah mu!” seru appa.
“ti…” aku tak dapat melanjutkan kata-kataku. Air mata tak dapat ku bending lagi. aku segera berlari tanpa alas kaki menuju rumah keluarga Kim. Ternyata benar, sebuah peti mati terbentang dengan sebuah foto didepannya. Foto Eli.
Aku terhenti didepan peti mati. Aku menangis begitu kencang. Itu memang Eli yang selalu kutemui. Eli yang selalu menemaniku. Eli yang tadi sore menyatakan cinta padaku.
“sudah lah nak.. dia sudah pergi..” ujar Bu Kim.
“aniyo.. dia belum pergi! Dia belum pergi !” seruku sambil menangis tersedu-sedu.
“sudah nak..”
“dia belum pergi! Ajuh..mma…” tiba-tiba aku pingsan.
Aku terbangun di pagi hari. Aku berada di dalam kamarku. Masih memakai seragam. Kulihat jam weker disebelahku menunjukkan jam 8 pagi. Tiba-tiba aku teringat Eli. Aku segera bangkit. Aku berlari keluar rumah.
“Myung Dae!” aku mendengar eomma memanggilku tapi aku tak memerhatikannya.
Aku berlari ke taman. Aku yakin ia pasti ada disitu. Ia tidak akan kemana-mana lagi. aku kembali menangis. aku menangis sambil berlari. Aku tiba di taman. Aku melihat sosoknya. Duduk di bangku yang biasa kami duduki. Aku berlari.
Aku tiba didepannya. Ia berdiri mendekatiku.
“jadi kamu sudah tahu..” ujarnya.
“Eli-ya.. katakan ini bohong!” seruku.
“mianhae, Myung Dae.. maaf aku tidak mengatakannya padamu. Aku bahkan kaget ketika mengetahuinya.” Jelas Eli. Aku lihat mukanya sedih.
“Eli…”
“ah, maaf.. aku menangis.” ujar Eli sambil mengucek matanya.
“Eli!” aku segera memeluknya. Kami seketika menagis begitu kencang berdua.
“kamu tahu, orang-orang menganggap mu aneh yang berbicara sendiri di taman ini.” ujar Eli.
“Eli…” ujar ku memanggil namanya.“siang saat kita pertama kali bertemu. Kamu mengambil daun yang aa diatas kepalaku..”
“saat itu aku masih hidup….” Ujar Eli sambil terisak. “lalu aku berjalan bersama teman-teman baruku disekolah. Aku menolong seorang temanku yang hampir tertabrak mobil tapi malah aku yang tertabrak..” ungkap Eli.
“Eli-ya… kenapa kamu tidak mengatakannya padaku.” Ujarku.
Eli melepas pelukan. Ia menatapku.
“maafkan aku..” ujarnya. Kulihat matanya merah karena menangis.
“Eli.. aku menyukaimu! Jeongmal johahae!” seruku.
“nado jeongmal johahae, Myung Dae- ya..” ujar Eli. Sekali lagi air mataku makin tertumpah.
“saat aku pulang kerumah,orang-orang rumah tak dapat melihatku lalu aku melihat diriku sendiri ada di peti mati.” Ujar Eli.
Aku masih menangis.
“lalu tiba-tiba aku melihat sebuah pintu. Aku bisa membuka pintu itu. Di dalam nya ada sebuah ladang bunga luas yang begitu indah. Ada pelangi berwarna-warni. Udaranya begitu segar. Lalu ada seorang anak mengajakku masuk. Tiba-tiba aku merasa berat untuk melangkah. Aku belum siap untuk kesana. Aku merasa masih ada hal yang harus kulakukan. Lalu aku berbalik. Dan ternyata hal yang waktu itu membuat ku tidak siap adalah kamu. Ada satu hal yang belum kulakukan tapi sudah kulakukan sekarang, yaitu mengakui bahwa aku menyukaimu. Kau tahu, aku selalu menyukaimu sejak dulu.” Jelas Eli.
“Eli ya! jadi kamu akan meninggalkanku?” tanyaku.
“aku sudah bebas sekarang. Maafkan aku begitu tiba-tiba. Aku baru saja kembali dari Amerika tapi aku harus pergi untuk kedua kalinya, untuk selamanya..” ujar Eli.
“tidak.. tolong.. jangan pergi.. Eli !” pintaku.
“Myung Dae aku mencintaimu..” Eli perlahan melangkah menjauhi ku.
“Eli-ya! kembali! Aku bilang kamu kembali!” seruku.
“maaf Myungdae..”
Tiba-tiba Eli berlari di balik semak. Aku mengejarnya. Tapi ia tidak ada sama sekali disitu. Aku terus membongkar semak-semak itu. Antara percaya dan tidak percaya, masih saja membongkar semak-semak itu berharap ia hanya bersembunyi. Aku benar-benar tidak bisa menerima ini.
*satu tahun berlalu*
Satu tahu berlalu semenjak Eli meninggalkan aku di taman itu. Ia sudah benar-benar tidak ada lagi di dunia ini. aku terus mencari tapi ternyata ia memang tidak ada.
Sekarang, aku sudah kuliah. Tapi Eli masih tak dapat kulupakan. Aku masih berharap ia akan datang untuk menemuiku meski hanya sekali.
“Buuuk!” hidungku sakit. Aku menabrak seseorang.
“ah, mianhae! Kamu tidak apa-apa?” tanya orang itu.
Aku melihat orang itu. Hah? Eli?
THE END

Attention !!!!

Posted: June 6, 2011 in Uncategorized
Tags:

Annyeong !! selaku Admin blog ini.. saya mau minta tolong kepada readers yang nyempetin baca FF saya..
Sebelumnya terima kasih telah mengunjungi blog saya ini..
setelah itu, saya mau tanya, bagaimana menurut kalian FF saya ini? tolong komentar disini, terus kalo ada yang ingin di tanyakan atau apalah gitu mengenai salah satu FF, silahkan tanya aja.. bisa di sini.
setelah itu, saya mohon tidak ada bashing. kritik boleh, asal jangan bashing.. Jebal.. please.. tolong…
sekian, Gomapseumnida… ^^

Tiffany

Play A Guitar For Me

Posted: April 27, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Play a guitar for me
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Kim Jun Su 2PM as Kim Jun Su
Me [Tiffany Elfuty Armstrong] as me
Note : sebenarnya mau bikin FF orderan. Cuma, karena lagi males, aku pengen nya pake tokoh utamanya aku. Lalu, aku make Jun Su 2PM coz cocok sama perannya menurutku. Kalau pake yayang Chan Sung yeobo chagiya bla bla blah.. gak cocok.. hehe~ met menikmati. Sori kalo FF nya aneh, gak jelas, gila, dll sebagainya.. hehe~ hehe~ hehe~
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“tolong jaga adik sepupu mu itu ya. Aku mau pergi belanja sebentar. Kasihan dia sendiri di sana.”
“ne..” Myung Dae mengangguk mendengar permintaan ajuhmanya.
“Cuma kamu yang bisa di harapkan.” Sambung ajuhmanya. “suamiku sedang bekerja.”
“ne, aku akan menjaganya.” Ujar Myung Dae. “tapi kamarnya di mana?”
“di lantai 3.” Jawab ajuhmanya.
“nomor kamarnya?”
“oh, kalau tidak salah nomor 328.” Jawab ajuhmma nya yang berambut keriting itu.
“tidak salah?”
“kamu cek saja. Sudah ya, obralnya sebentar lagi di buka!” seru ajuhma nya lekas-lekas pergi.
Mereka berdua berpisah di depan rumah sakit. Myung Dae berjalan masuk ke gedung rumah sakit.
“kamar Kim Jun Su, dimana?” Tanya Myung Dae.
“Kim Jun Su?” Tanya resepsionis rumah sakit tersebut.
Myung Dae mengangguk.
“Kim Jun Su ada di kamar nomor 328?” jawab resepsionis.
“kamsahamnida.” Myung Dae mengangguk lalu pergi. Ajuhmanya tidak salah kali ini, karena Myung Dae tahu ajuhma nya itu pelupa.
Myung Dae naik lift menuju ke lantai tiga. Ia mencari-cari dan akhirnya menemukan kamar bernomor 328. Tapi Myung Dae bingung karena ia mendengar bunyi gitar dari kamar adik sepupunya itu. Myung Dae yang penasaran membuka pintu yang tidak terkunci itu. Ia masuk kedalam ruangan. Di dalam terasa agak dingin karena AC
“Jun Su?” panggil Myung Dae. Ia mendengar seseorang bermain gitar dari arah sebelah dalam ruangan. Myung Dae yang penasaran terus berjalan masuk untuk memastikan apakah ia salah ruangan. Suara gitar sudah berhenti.
Myung Dae berjalan kea rah jendela.
“ya! Siapa kamu!?” seseorang mengagetkan Myung Dae . Ia menyadari ada seorang namja tidak di kenal di belakang nya duduk di sebuah kursi. Myung Dae tidak menyadari orang itu karena tempat duduknya terhalang dinding tadi. Namja itu memegang sebuah gitar. Matanya agak sayu.
“Ah!??” Myung Dae kalang kabut. “saya.. salah kamar..” Myung Dae langsung membungkuk lalu segera pergi keluar dari kamar. Ia segera turun ke lantai bawah untuk menanyakan kamar Jun Su sepupunya yang sebenarnya.
“Ah, mianhamnida. Saya kira tuan Kim Jun Su..” ujar resepsionis sambil membungkuk.
“animnida, sepupu saya ini masih berumur 6 tahun.”
“Saya lupa memberitahu kalau ada nama yang sama yang bersebelahan kamar.”
“gwaenchana, kalau begitu, kamar sepupu saya?” Tanya Myung Dae.
“kamarnya nomor 329.” Jawab resepsionis itu.
Myung Dae naik kembali ke lantai tiga. Ia melewati satu nomor dari kamar yang salah tadi. Kali ini ia benar-benar menemui sepupunya yang asli.
“ya.. nuna.. kamu lama sekali..” ujar sepupunya.
“hhehhe.. mianhaeyo, Jun Su-ah..” ujar Myung Dae senyam senyum.
“nuna, belikan aku minuman di luar…” pinta Jun Su sepupu laki-lakinya itu.
“kamu mau minum apa?” Tanya Myung Dae.
“apa saja deh, bir juga boleh..” canda sepupunya.
“mwo?” Myung Dae kaget.
“ah, nuna serius banget sekali sih. Sudah, cepat belikan aku minuman!” seru sepupu kecilnya itu.
Myung Dae segera beranjak dari kamar.
Ketika ia keluar ia melihat Jun Su dari kamar 328 juga sedang keluar dari kamarnya sambil membawa gitar. Myung Dae merasa agak malu, dia cepat-cepat berjalan duluan dari Jun Su.
Myung Dae baru masuk di dalam lift. Ia hendak membeli minuman di lantai bawah. Tiba-tiba tangan seseorang menahan lift tersebut. Dan masuk lah Kim Jun Su yang lebih besar, Kim Jun Su dari kamar 328. Myung Dae hanya bisa menunduk. Sementara dengan tampang biasa-saja, Jun Su hanya melirik Myung Dae yang seperti nya ingin cepat-cepat keluar.
Lift terbuka, Myung Dae langsung melesat pergi. Ia segera menuju ke tempat mesin penjual minuman yang ia lihat pada saat pertama ke rumah sakit ini. untung saja ia tidak lagi berpapasan dengan Jun Su yang itu. Myung Dae membeli sekotak susu stroberi dan sekaleng minuman untuk Jun Su sepupunya dan untuk dia sendiri. Saat hendak balik lagi menuju ke atas, dari kaca-kaca jendela yang transparan, Myung Dae melihat Jun Su sedang duduk di kursi bawah pohon yang rindang dan teduh.
Tiba-tiba muncul niat Myung Dae untuk menghampiri namja itu. Myung Dae ingin mendengar permainan gitarnya.
Myung Dae mengendap-endap perlahan-lahan dari belakang. Ia mendengar petikan-petikan senar gitar yang di mainkan Jun Su. Terdengar juga suara nya yang agak pelan sedang menyanyi.
Suara gitar berhenti.
“aku tahu kamu disitu.” Ujar Jun Su tiba-tiba. Myung Dae sangat kaget. Apa kah dirinya yang di maksudkan oleh Jun Su.
“ne, kamu, siapa lagi!?” ujar Jun Su lagi seolah mengetahui isi hati Myung Dae.
“aku!?” Tanya Myung Dae.
“aniyo, aku berkata pada yeoja dengan rambut pendek bergelombang, memakai terusan berwarna maroon dan tas kecil berwarna hitam yang tadi salah masuk ke kamarku.” Jelas Jun Su.
Myung Dae sadar kalau dirinya lah yang di maksudkan Jun Su. Myung Dae berjalan ke depan Jun Su. Jun Su menatapnya dengan muka datar.
“mianhamnida! Aku tidak bermaksud mengganggu mu.” Ujar Myung Dae sambil membungkuk-bungkuk.
“jangan menghalangi pandanganku.” Ujar Jun Su. Myung Dae bergeser kea rah kanan sedikit.
“babo. Duduklah.” Ujar Jun Su.
“mwo? Aku duduk? Dimana?” Tanya Myung Dae.
“itu disana..” ujar Jun Su menunjuk kea rah bangku yang ada di depan gedung rumah sakit.
“jauh sekali…” ujar Myung Dae.
“huh, tentu saja di sini.” Ujar Jun Su menunjuk ke bangku panjang yang ia duduki.
“ohh.. baiklah..” Myung Dae duduk di bangku panjang tersebut, berjarak dari Jun Su.
“ya.. memangnya wajahku menakutkan sekali ya!?” seru Jun Su. “lebih dekatlah. Aku tak akan memakanmu.”
“me..makan??” gumama Myung Dae.
Jun Su memetik-metik gitar perlahan-lahan tapi ia tidak benar-benar memainkannya. Mereka berdua terdiam disitu.
“kamu tidak memainkannya seperti tadi?” Tanya Myung Dae.
“aku di bayar berapa untuk melakukan itu?” Tanya Jun Su.
Myung Dae agak kesal dengan cara bicara Jun Su yang ketus.
“baya..”
“kenapa kamu sampai bisa salah kamar seperti tadi? Kamu baru pertama kali ke rumah sakit ini?” potong Jun Su.
Myung Dae mengangguk. “habisnya, namamu mirip dengan nama adik sepupuku.”
“oh ya? Namanya Kim Jun Su juga?”
Myung Dae mengangguk.
“sepertinya resepsionis itu salah.”
“bagaimana kamu tahu kalau resepsionis itu salah?”
“karena kamu bertanya padanya sebelum naik.”
“kalau ia menjawab benar?” Tanya Myung Dae.
“berarti kamu yang sengaja.” Ujar Jun Su.
“ah, aniyo. Itu kesalahan resepsionis itu!”
“kamu sudah mengatakannya.” Ujar Jun Su.
Myung Dae melihat susu dan minuman kaleng yang ia bawa. Ia jadi teringat harus mengantarkannya pada adiknya.
“ah, aku baru ingat.” Ujar Myung Dae. Jun Su menatapnya. “aku harus mengantarkan ini pada adikku.”
“Kamu tidak ingin mendengar aku memainkan gitar?” Tanya Jun Su pada Myung Dae yag sudah bangkit dari tempat duduk.
Myung Dae terdiam.
“cepat sana, dia sudah menunggu.” Ujar Jun Su.
“ah, ne. aku pergi dulu ya.”
“jreng..” Jun Su memainkan tangannya di atas gitar sambil mengangguk.
“Datang saja besok.” Ujar Jun Su.
Myung Dae mendengar kalimat terakhir Jun Su tadi. Apakah itu berarti, ia bisa menemui Jun Su?
Myung Dae segera naik ke kamar adikknya. Ajuhmanya belum datang, dan adik sepupunya sudah memasang wajah kesal nya. Myung Dae hanya senyam senyum.
“hmmmm!”
“hehe~ mianhaeyo, Jun Su.” Ujar Myung Dae. “ini, aku bawakan susu.”
“tidak mau!” seru Jun Su.
“ah? Waeyo?”
“nuna sudah membuatku kesal!” seru Jun Su.
“ah, tadi aku ketemu temanku.”
“maksud nuna, namjachingu?” Tanya Jun Su. “yang duduk di pohon itu!?” Jun Su menunjuk ke luar. Myung Dae kaget, sepupunya mengetahui ia kemana tadi. Myung Dae tak bisa berkata apa-apa kali ini.
“Jun Su.. maafkan aku.” Ujar Myung Dae.
“huh..” Jun Su menunjukkan muka sombongnya.
“baiklah, kamu bisa ambil minuman ku juga.” Rayu Myung Dae.
“huh.” Jun Su masih memainkan muka sombongnya.
“baiklah, aku akan beli lebih banyak lagi..”
“huh..”
“Ah, Jun Su-ah? Kamu tidak memaafkan ku?” Tanya Myung Dae dengan wajah serius.
“hmph! Hahahaha!” tiba Jun Su tertawa.
“mwo?” Myung Dae bingung.
“nuna lucu sekali!” seru Jun Su.
“kamu mempermainkan aku!?” seru Myung Dae.
“ah, aniyo. Nuna jangan serius begitu. Aku hanya bercanda kok.” Ujar Jun Su.
“kalau begitu kamu mau ambil?” Myung Dae menawarkan susu kotak pada Jun Su.
“aku mau ini.” Jun Su mengambil minuman kaleng milik Myung Dae.
“ah itu punyaku.” Seru Myung Dae.
“kamu lebih cocok minum susu.” Ujar Jun Su.
“ah! Kembalikan padaku!” Myung Dae memegang minuman kaleng itu mencoba merebutnya dari Jun Su.
“Anak-anak!” tiba –tiba ajuhma datang. Jun Su pun berhasil mempertahankan minuman kaleng tersebut.
“eomma!” seru Jun Su.
“kalian akur sekali ya..” ujar Ajuhmma.
“begitulah.” Jawab Myung Dae pura-pura tersenyum.
“Myung Dae-ah, aku bawa ini untuk mu.” Ajuhma memberikan beberapa bungkus makanan ringan.
“ah, eomma! Punya ku mana!??” seru Jun Su.
“aniyo. Nanti alergimu kambuh lagi.” ujar ajuhma. Myung Dae menjulurkan lidah pada Jun Su. Jun Su terlihat kesal.
“gomawo telah menjaga Jun Su. Sekarang kamu bisa pulang.” Ujar ajuhma seraya tersenyum.
“ne, ajuhma. Annyeong haseyo.” Myung Dae membungkuk. Ia keluar dari kamar.
Dari luar kamar ia mendengar ajuhmanya memarahi Jun Su gara-gara minuman kaleng tadi. Sudah kubilang kan, pikir Myung Dae. Myung Dae senyam senyum di luar kamar.
Myung Dae segera pulang kerumahnya. Ia tidak menemui Jun Su lagi, karena ia ingat Jun Su mengatakan, ia bisa datang besok.
Dirumah Myung Dae membayangkan kejadian nya tadi, ia pertama kali bertemu namja itu. Ia senyam-senyum mengingat kesalahan nya tadi. Myung Dae membayang wajah Jun Su. Wajahnya cakep, rambut lurusnya, matanya, tangannya yang bermain gitar, Myung Dae jadi suka padanya, meskipun ia tahu sifat Jun Su yang cuek.
***
Esok harinya Myung Dae datang lagi kerumah sakit. Ia mencoba mencari-cari Jun Su tapi tidak menemukannya. Akhirnya ia mendapati Jun Su sedang mengintip di sebuah ruangan. Di ruangan itu ada beberapa orang perawat dan pasien. Jun Su tampak sangat memperhatikan.
“siapa yang kamu lihat?” Tanya Myung Dae.
“WAAHH!!!” pekik Jun Su kaget karena Myung Dae tiba-tiba ada di sampingnya.
“pacarmu?” Tanya Myung Dae.
“huh, sok tahu.”
“lalu siapa?”
“bukan siapa-siapa.” Ujar Jun Su lalu beranjak pergi. “kamu sedang apa disini?”
“lho? kemarin kamu sudah janji akan memainkan gitar untukku.”
“oh ya? Sepertinya aku sudah lupa.” Ujar Jun Su.
“ah, kamu memang berjanji kok!”
Myung Dae terus memaksa kan kehendaknya. Tiba-tiba, saat mereka sudah sampai di depan kamar Jun Su, Jun Su menyandarkannya di pintu.
“kalau aku tak mau?”
“kamu.. kan sudah janji..”
“kenapa kamu begitu ingin mendengar aku bermain gitar?” Tanya Jun Su lagi. Myung Dae terdiam.
“kamu menyukai ku kan?” Tanya Jun Su.
Myung Dae kaget sekaligus tersipu. Ia malu. Tapi, Myung Dae sebenarnya memang sudah menyukainya.
“kalau iya?” Tanya Myung Dae.
Jun Su menggeser Myung Dae dari pintu dan masuk ke kamarnya. Myung Dae mengikutinya.
“aku hanya ingin kamu menepati janji.”
“janji? Dengan orang tak di kenal seperti aku? Kamu tak takut aku mengapa-apai mu disini?”
Mereka terdiam. Jun Su tiba-tiba mendekat.
“Ah, mianhae.. aku tak bermaksud..” Belum sempat Jun Su meminta maaf Myung Dae sudah berlari keluar dari kamar.
Jun Su duduk di kursi. Ia berpikir, mungkin saja yeoja itu hanya mencoba akrab dengan ku. Lagian aku tahu, aku sudah berjanji padanya. Kenapa aku bisa sejahat itu?
Sementara itu Myung Dae yang berlari , tak henti-hentinya mengatakan babo. Jun Su betul, kenapa ia bisa bertingkah seperti itu di depan orang yang tak ia kenal sama sekali?
Beberapa hari berlalu. Myung Dae tak datang-datang lagi di rumah sakit. Myung Dae sedang mencoba melupakan cinta first sight nya itu. Myung Dae sedang berbaring di kasur di kamarnya kemudian hapenya bergetar.
“Yoboseyo? Ajuhma? Ada apa?”
“Myung Dae-ah.. please.. untuk hari ini saja lagi. tolong jaga Jun Su. Aku sedang sibuk hari ini..” terdengar suara ajuhma nya dari seberang.
“ah, aniyo. Aku tidak bisa.”
“please, nak.. aku benar-benar sibuk. Obral kali ini lebih murah.”
“huh, obral lagi obral lagi..” keluh Myung Dae.
“ayolah, keluarga yang ku sayang Cuma kamu nak..”
“ajuhma, bilang saja kalau Cuma aku yang punya banyak waktu luang.”
“hehe.. begitulah..” ajuhma terkekeh. “bagaimana? Kamu mau kan..?”
“hmm..” Myung Dae menghela napas. “baiklah..”
“ah, saranghae! Kamu keponakan yang paling kusayang deh.”
“ih, ajuhma, hentikan bicara seperti itu. Aku merasa aneh.”
“ya sudah. Cepat ya. Jun Su tidak suka menunggu!”
Myung Dae dengan terpaksa pergi kembali kerumah sakit itu. Padahal ia tidak mau lagi kesana. Ia tidak tahu lagi mau di taruh di mana mukanya kalau bertemu Jun Su lagi.
Myung Dae sampai di lantai tiga rumah sakit. Ia berjalan perlahan-lahan. Myung Dae lega karena kamar Jun Su tertutup. Ia segera masuk ke kamar Jun Su kecil, sepupunya.
“Nuna, ini..” Jun Su menyerahkan sebuah kertas.
“apa ini? dari siapa?” Tanya Myung Dae.
“siapa ya? Entahlah. Ini sudah lama sekali.” Jawab Jun Su.
“kamu tidak mengenal wajahnya?”
“hmm.. namja..waktu itu dia bawa gitar.”
Jun Su! Pekik Myung Dae dalam hati. Myung Dae segera membuka kertas yang di lipat itu.
“MIANHAMNIDA. TEMUI AKU DI BAWAH POHON YANG WAKTU ITU.” Itulah kalimat yang tertera di dalam kertas itu.
“kamu mengenalnya kan? Habis, itu orang yang waktu itu bersama kamu di bawah pohon itu.” Jun Su menunjuk lagi kearah jendela, kea rah sebuah pohon.
“Jun Su-ah, gomawoyo..” ujar Myung Dae lalu segera keluar.
“belikan aku minuman!” seru Jun Su.
Myung Dae segera menuju kearah pohon yang waktu itu. Ia lagi-lagi mengendap dari belakang. Di situ ada Jun Su yang sedang memegang gitar.
“hobi mu seperti ini ya?” tiba-tiba Jun Su berbicara. Myung Dae kaget. Apa ia memang berbicara padaku?
“cepat keluar dari belakang pohon, kamu menginjak kotoran kucing.”
“waa! Mana!?” pekik Myung Dae sambil mengecek kakinya. Ternyata itu hanya bohong.
“haha~” Jun Su tertawa
“huh.!” Ketus Myung Dae. Ia masih berdiam di tempat tadi.
“kenapa kamu tidak datang kemari?” Tanya Jun Su. Myung Dae tidak menjawab. Tiba-tiba Jun Su bangkit menghampirinya. Jun Su meraih tangan Myung Dae dan membawa nya. Myung Dae kaget dengan apa yang di lakukan Jun Su ini.
Mereka berdua duduk di bangku panjang tersebut. Tapi mereka masih terdiam. Myung Dae hanya menunduk.
“siapa nama mu?” Tanya Jun Su. Myung Dae masih belum menjawab karena malu.
“aku bertanya padamu..” ujar Jun Su.
“Kang Myung Dae…” jawab Myung Dae pelan.
“oh, Myung Dae, kurasa kamu sudah tahu namaku.” Ujar Jun Su. Myung Dae hanya terdiam membuat Jun Su jadi kesal.
“Mianhamnida.” Ujar Jun Su. “maafkan perkataanku waktu itu. Aku hanya sedang tidak enak badan.”
Myung Dae masih terdiam.
“aku tahu, harus nya aku bersikap lebih baik. Apalagi pada seseorang yang ingin berteman dengan ku.”
“hmm..” Myung Dae menggumam.
“aku janji aku tak akan begini lagi. tolong maafkan aku.” Ujar Jun Su.
“kamu janji..?” Tanya Myung Dae.
“ya, karena kita teman sekarang.” Ujar Jun Su.
“oh ya!?” Myung Dae tampak riang.
Jun Su mengangguk.
“kalau begitu, kamu akan bermain gitar untukku??” Tanya Myung Dae.
“ah, kalau yang ini aku tidak bisa.” Ujar Jun Su.
“kenapa? Kita kan teman..”
“mianhaeyo..” Jun Su hanya tersenyum.
“ ya sudah, aku yang akan bermain gitar untukmu.” Ujar Myung Dae sambil merebut gitar Jun Su.
“jreengg! Jreeng jreeng jreeeng~~” Myung Dae memainkan gitar tidak jelas.
“haha~ babo. Nanti gitar ku rusak!”
Myung Dae dan Jun Su menjadi akrab.
keesokan harinya Myung Dae datang lagi kerumah sakit. Myung Dae membawa sebuah kamera digital.
“sebentar saja!” ujar Myung Dae.
“aniyo. Rambutku berantakan.” Elak Jun Su.
“satu foto saja! Please..”
“huh, ya sudah. Aku tidak tanggung kalau hasilnya jelek.” Ujar Jun Su.
“kamu jangan pasang pose jelek dong!” ketus Myung Dae.
“terserah dong!”
“JEPRET~~~”
“hmm, lumayan.” Ujar Myung Dae.
“lumayan katamu? Itu gaya terkerenku.”
“gaya terkerenmu jelek sekali.”
“apa katamu!? Enak saja.”
“haha~” Myung Dae hanya ketawa.
“Kamu kenapa selalu disini?” Tanya Jun Su.
“kamu tidak suka ya?” ujar Myung Dae pura-pura beranjak.
“aniyo. Maksudku, kamu tidak sekolah atau lain sebagainya..”
“aku masih SMA..” jawab Myung Dae. “bagaimana dengan mu? Kenapa kamu selalu di sini?”
Jun Su terdiam.
“ah mianhaeyo..” ujar Myung Dae.
“gwaechana.” Ujar Jun Su. “sebenarnya, aku tidak ingat.”
“tidak ingat? Kenapa?” Tanya Myung Dae.
“menurutmu?”
“hmm… entahlah.. mungkin kamu hilang ingatan.”
“sepertinya memang begitu..” ujar Jun Su murung.
“ah, mianhae.. aku tidak bermaksud..”
“gwaenchana..” potong Jun Su
Mereka terdiam.
“ah, hentikan seperti ini! aku benci memikirkan hal ini!” seru Jun Su.
“Ya sudah, kita fotoan lagi..”
“ah, sudah ku bilang, rambutku berantakan, babo!!”
Myung Dae merasa bingung dengan Jun Su. kenapa ia mengatakan tidak bisa ingat tentang dirinya sendiri.
Dirumah, Myung Dae melihat hasil foto-foto mereka berdua. Banyak sekali foto yang mereka hasilkan. Myung Dae segera memindahkan foto-foto hasil jepretan nya bersama Jun Su tersebut ke laptopnya. Ia juga membuat folder khusus untuk foto-foto itu. JunDae.
Esok harinya, ketika Myung Dae berkunjung lagi ke rumah sakit, ia melihat seorang perawat dengan tergesa-gesa keluar dari kamar Jun Su. Myung Dae merasa bingung. Ia segera masuk kedalam kamar Jun Su.
“ada apa?” Tanya Myung Dae pada Jun Su yang menatap ke jendela.
Jun Su tidak menjawab.
“Jun Su?” Myung Dae melihat Jun Su meneteskan air mata.
“Jun Su kamu kenapa?” Tanya Myung Dae.
“ah, kamu..” Jun Su segera menghapus air matanya dengan baju.
“ada apa? Apa yang terjadi??” Tanya Myung Dae khawatir. “siapa perawat tadi.?”
“entahlah..”
Myung Dae kaget. Kenapa ia menangis setelah perawat itu keluar kalau ia memang tidak mengenal perawat itu.
“aku tidak tahu apa-apa..”
“lalu kenapa kalian..”
“entahlah, aku merasa aku dan dia pernah dekat.” Potong Jun Su.
“oh ya? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Myung Dae.
“bukan hal yang penting..” jawab Jun Su.
“apa yang dia bilang?”
“ah, sudahlah dia hanya mengatakan hal yang tidak aku ketahui..” ujar Jun Su kesal.
“tapi kamu menangis…”
“ah, sudah! Sudah!”
Myung Dae terdiam. Ia merasa Jun Su sedang menyipan sebuah rahasia. Tapi JunSu sendiri bilang, kalau ia tidak tahu apa-apa.
“kamu kenapa? Masih berpikir?” Tanya JunSu.
“ah, aniyo!”
“ya sudah, aku mau tidur..” ujar Jun Su. “kamu jangan mengapa-apai aku ya!”
“ih, enak saja.” Seru Myung Dae. “aku tidak mungkin melakukannya.
Jun Su berbaring di kasur. Membelakangi Myung Dae. Myung Dae masih berpikir tentang hal tadi. Ia benar-benar ingin tahu.
Myung Dae menghampiri Jun Su yang tertidur. Ia berdiri tepat di depan wajah Jun Su yang menutup mata. Myung Dae memperhatikan wajah Jun Su. wajah Jun Su yang kelihatan murung. Rambut Jun Su menutupi mata nya yang terpejam. Myung Dae berniat menggesernya.
“apa yang kamu lakukan hah!??” ujar Jun Su tiba-tiba.
“waa!” Myung Dae spontan kaget. “ma—maafkan aku!”
“sudah kubilang jangan mengapa-apai aku!”
“aku tidak bermaksud seperti itu kok!”
“lalu? Kenapa kamu ada di depanku? Kenapa tadi tanganmu akan menyentuh wajahku?” Tanya Jun Su
“ukh! Cerewet! Enak saja main tuduh!” seru Myung Dae lalu keluar dari kamar Jun Su.
Jun Su merasa lucu dengan sikap Myung Dae. Ia tertawa kecil.
Myung Dae pulang ke rumahnya. Ia merasa sangat malu. Myung Dae sepertinya benar-benar suka dengan Jun Su.
Esok harinya, Myung Dae mendapat ‘panggilan tugas’ dari ajuhma nya seperti biasa. Ia tidak mampir ke kamar Jun Su yang besar kali ini.
“Nuna!” seru Jun Su pada Myung Dae yang baru masuk ke kamar. Myung Dae kaget karena di dalam ada Jun Su dari kamar sebelah. Ia sedang bermain gitar. Mereka berdua bertatapan. Myung Dae merasa malu. Ia mengalihkan pandangan.
“ini, untuk mu.” Myung Dae menyerahkan sebuah bungkusan berisi buah-buahan apel.
“asyik! Gomawoyo nuna!” seru Jun Su kecil riang.
Myung Dae berjalan kea rah sebuah meja yang ada di sebelah Jun Su yang besar yang sedang memetik gitar. Myung Dae merasa agak deg-degan. Ia meletakkan barang-barang lain pesanan ajuhma nya diatas meja tersebut.
“nuna, ini namjachingu nya nuna kan?” Tanya Jun Su senyum-senyum.
Myung Dae kaget. Ia merasa agak tersipu.
“dia monyet ku.” Ujar Jun Su besar tiba-tiba. Myung Dae kaget mendengar Jun Su berkata itu.
“hah? Monyet?” Jun Su kecil bingung.
“ne.” jawab Jun Su besar singkat.
Myung Dae merasa di permalukan. Ia seger keluar dari kamar.
“hyung, sepertinya nuna tidak suka di panggil monyet.”
“dia suka kok.”
Myung Dae lari kea rah pohon yang biasa mereka duduki. Ia duduk di bangku panjang itu. Ia merasa kesal dengan Jun Su.
“hhahh.. entahlah, sejak aku bertama monyet bodoh bernama Myung Dae ini, kurasa aku jatuh cinta pada nya..” ujar Jun Su tiba-tiba muncul dari belakang Myung Dae.
PESSH~ Myung Dae kaget sekaligus tersipu malu. Sepertinya Jun Su baru saja menembaknya.
“Haha~ kamu percaya?” Tanya Jun Su tiba-tiba sambil duduk di sebelahnya.
“mwo?” ekspresi Myung Dae langsung berubah. “kamu mempermainkan aku ya!?”
“haha~” Jun Su hanya tertawa.
“huh~ kamu sama saja seperti Jun Su sepupuku itu.” Ketus Myung Dae.
“aku tidak mempermainkan mu kok.” Ujar Jun Su lagi tiba-tiba.
“aku tidak percaya.”
“kamu tidak percaya padaku? Padahal aku malu sekali sudah mengatakan hal ini. apalagi pada monyet bodoh seperti mu!” seru Jun Su.
“ah! Aku bukan monyet bodoh!” Myung Dae memukul dada Jun Su.
“haha~ kamu monyetku!” Jun Su melingkarkan tangan nya di leher Myung Dae. “yang bodoh!”
“apa!!??”
Hari-hari berlalu dan rasa cinta diantara mereka berdua makin tumbuh. Tapi di balik itu Myung Dae masih menyimpan rasa ingin tahu yang besar.
Beberapa hari kemudian, Myung Dae datangke rumah sakit ke kamar Jun Su yang besar. Jun Su kecil sudah keluar dari rumah sakit. Myung Dae tidak menemukan Jun Su, ia mencari nya di tempat yang biasa mereka kunjungi tapi juga tidak ada. Myung Dae akhirnya menemukan Jun Su di depan sebuah ruangan yang sepi. Bersama seorang perawat. Mereka tampak serius berbicara.
Myung Dae meperhatikan mereka dari kejauhan. Ia bersembunyi di balik sebuah rak. Myung Dae yang penasaran memperhatikan mereka, menjadi kaget karena mereka berdua berciuman. Myung Dae tambah bingung, Jun Su bilang ia tidak tahu apa-apa. Apakah Jun Su sengaja membohongi dirinya?
Myung Dae berlari meninggalkan mereka berdua. Ia merasa kesal. Ia marah kepada Jun Su yang sudah membohongi dirinya. ia mengambil tas yang sebelumnya dititipkan di kamar Jun Su.
Ketika akan keluar dari kamar Jun Su, ia berpapasan di depan Jun Su didepan pintu.
“Myung Dae? Kamu datang?” Tanya Jun Su.
“huh!” Myung Dae berjalan menghindari Jun Su.
“Tunggu!” Jun Su menahan tangan Myung Dae.
“lepaskan!” seru Myung Dae.
“kamu kenapa?” Tanya Jun Su. Myung Dae yang kesal tidak menjawab apa-apa.
“katakana pada ku ada apa..” ujar Jun Su melingkarkan tangannya di leher Myung Dae.
Jun Su merasakan tetesan air di lengannya.
“Myung Dae? Kamu menangis?” Tanya Jun Su kaget.
“kenapa kamu membohongiku!?”
“maksudmu?”
“sebaiknya kita akhiri hubungan kita.” Ujar Myung Dae lalu pergi meninggalkan Jun Su yang hanya terdiam.
Beberapa hari Myung Dae tidak menemui Jun Su lagi. ia betul-betul masih marah dan kesal.
Hari ini Myung Dae baru pulang sekolah. Ia menyadari di depan gerbang sekolahnya ada Jun Su ia sedang memainkan gitar. Hal ini membuat Jun Su jadi bahan tontona anak-anak sekolah. Myung Dae kaget bukan main. Tapi, Myung Dae yang masih memendam marah, tidak memperdulikannya.
“Myung Dae!” Jun Su meraih tangan Myung Dae. Myung Dae terhenti.
“kenapa kamu tidak menemuiku lagi?” Tanya Jun Su. Myung Dae hanya diam.
“Kenapa kamu meminta mengakhiri hubungan kita?” Tanya Jun Su lagi.
“kenapa kamu berciuman dengan perawat itu?” Tanya Myung Dae kesal.
“chu~”
“Kamu salah paham.” Ujar Jun Su.
“maksudmu!?” Tanya Myung Dae.
“sini, ikut aku. Tidak enak mengobrol di keramaian seperti ini..” ujar Jun Su lalu menarik tangan Myung Dae.
Mereka pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat tadi. Jun Su menceritakan tentang dirinya. dirinya yang sebenarnya hilang ingatan setelah kecelakaan karena tertabrak mobil karena menyelematkan perawat itu. Dan perawat itu jadi suka padanya, tapi Jun Su tidak menyukainya. Jadi sebagai permintaan terakhir, perawat itu memintanya menciumnya. Dan Jun Su mencumnya di pipi, bukan di bibir. Myung Dae salah lihat waktu itu. Ingatan Jun Su telah pulih kembali dan ia sudah menemukan keluarganya. Sebenarnya Jun Su sudah pulih ingatannya sejak lama, tapi karena bertemu dengan Myung Dae waktu itu, ia jadi ingin berlama-lama di rumah sakit. Untung saja biaya rumah sakitnya ditanggung pemerintah karena ia belum menemukan keluarganya waktu itu. Kini Jun Su sudah tidak lagi tinggal di rumah sakit.
Jun Su mulai memetik-metik gitar dan mulai menyanyi
“Geudae ol ddaegaji gidaril ge Cuz I can’t forget your love
Nunmuli heureul geot gata geudae saenggakman hamyeon
Galsurok gipeomanga I can’t stop thinkin’ about your love
Ijeul su eobseul geot gata heudae modeun-geol
Mideul su eobseul geot gata geudae dolaondamyeon
I can’t forget your love
Eonjeggajirado nan geudae ol ddaeggaji gidarilge
I can’t forget your love
Eonjeggajirado gidarilge
Cuz I can’t…. I can’t forget your love”
“akhrnya kamu memainkannya untukku.” Ujar Myung Dae.
“sebenarnya terpaksa.”
“uh?”
“haha~ aniyo…” ujar Jun Su sambil melingkarkan tangannya di leher Myung Dae.
:: THE END ::

[One Shoot] CUIMD

Posted: April 19, 2011 in Teenager
Tags: , ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : See You In My Dream
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
 Kim Si Young as You
 Lee Jun Ho 2PM as Jun Ho
 Hwang Chan Sung 2PM as Chan Sung
Note :
Dalam membaca FF ini di butuhkan imajinasi kalian dalam membayangkan penggambaran latar, waktu, ekspresi, kostum, dan suasana, agar cerita benar-benar bisa berjalan baik dan tidak terasa membosankan. Kamsahamnida. ^-^
***
“Aku masih di kantor ku.
Ini sudah malam, lebih baik kamu segera tidur.”

“ne, kamu juga lebih baik segera pulang.”

“aku tahu.
Pekerjaanku sebentar lagi selesai.”

“selamat malam .”

“selamat malam.
CUIMD.  ”

“CUIMD juga.  ”
***
“hari ini kami rapat.
Tapi untunglah sudah selesai.”

“oh ya? Kamu di mana sekarang?”

“aku sudah di rumah. Aku lelah sekali, ingin segera tidur.”

“kalau begitu segeralah tidur.
Aku juga akan segera tidur.”

“baiklah, selamat malam.
CUIMD.  ”

“selamat malam.
CUIMD juga.  “
***

“Chan Sung?” Si Young menyadari itu pacarnya.
“Hah? Si Young. Ini sudah malam. Kamu belum tidur?”
“siapa wanita itu? Kenapa kamu bersama nya? Katanya kamu sedang ada di kantor?” Tanya Si Young.
“ah, begini..”
“Sebentar, Chan Sung!” potong Si Young. “jangan bilang kalau kamu…”
“Sayang, ini siapa?” Tanya wanita yang bersama Chan Sung.
“Si Young, ikut aku.” Ujar Chan Sung menarik tangan Si Young. “Mi Hee, kamu tunggu sebentar ya.”
Chan Sung membawa Si Young keluar. Si Young yang kesal dan marah mencoba melepaskan diri.
“Chan Sung! Lepaskan aku!”
ChanSung melepaskan genggamannya. Mereka sudah berada agak jauh dari tempat tadi. Mereka terdiam.
“Chan Sung.. kamu tidak membohongi ku , kan?” Tanya Si Young sambil menatap Chan Sung dalam-dalam.
Chan Sung memejamkan matanya sebentar.
“Si Young, mianhae..”
“mianhae? Ada apa?”
“kurasa lebih baik kita putus.”
“pu.. putus….?”
“sekali lagi mianhae..” Chan Sung akan segera pergi tapi di tahan Si Young.
“Chan Sung!? Waeyo?” Tanya Si Young yang sudah menetes kan air mata. Chan Sung hanya diam memejamkan mata sambil menghela napas.
“waeyo? Kenapa secepat ini?” Tanya Si Young lagi. “Waeyo!”
Chan Sung melepaskan lengannya dan segera pergi tanpa menjawab.
Si Young hanya bisa menangis. ia tak menyangka hubungannya dengan Chan Sung akan berakhir dengan cara seperti ini. cara yang menyakitkan. Padahal, yang ia tahu sebelum hal itu terjadi, mereka masih baik-baik saja. Tadi siang, mereka masih berkomunikasi lewat hape dengan baik. Meski mereka jarang bertemu, tapi mereka masih baik-baik saja. Si Young tak menyangka, pacarnya tega membohonginya.
Si Young yang menjadi lemas karena shock, tak mampu lagi melanjutkan perjalanan. Ia jatuh pingsan.
“Waaaa!”
Ia Jatuh menimpa seseorang yang sedang mengendarai sepeda. Mereka berdua terjatuh bersama. Orang itu kalang kabut sendiri karena bingung. Jalanan sudah agak sepi karena ini sudah hampir tengah malam.
***
“na..”
“nona..”
“hmm…” Si Young mulai tersadar dari pingsan.
“nona!”
Si Young yang baru tersadar kaget. Ia menyadari ia sedang berada di pangkuan seorang namja yang tak dikenal. Si Young segera berundur tanpa bicara apa-apa. Ia menyadari ia masih berada di jalanan. Ia ingat akan kejadian yang baru di alami nya tadi, mengenai Chan Sung. Ia mencoba bangkit berdiri tapi ia merasa kaki kanannya sakit sekali hingga ia susah berdiri.
“nona.. kamu tidak apa-apa?” Tanya namja itu.
“kenapa aku masih di sini? Kenapa aku bersama kamu? Kenapa kaki ku sakit sekali??” Si Young tampak bingung.
“tenang nona. Kakimu kan sakit, duduklah dulu, biar saya jelaskan.” Ujar namja itu.
Si Young duduk kembali. Didepan namja yang tak dikenalnya itu. Mereka duduk di pinggiran jalan. Didekat mereka terparkir sepeda namja itu.
“apa yang terjadi?”
“entahlah nona, tapi tadi kamu tiba-tiba pingsan.” Ujar namja itu.
“pingsan?”
“ne, dan tepat mengenaiku yang sedang mengendarai sepeda.” Tambah nya. “itulah sebabnya mengapa kakimu sakit.”
“karena sepeda itu?” Tanya Si Young.
“hmm..” namja itu mengangguk. “kaki ku juga sakit karena itu.”
“ah, mianhae. Maafkan aku..”
“hmm, gwaenchana..” namja itu tersenyum kepada Si Young. “ini pakai minyak ini.” namja itu menyerahkan sebotol kecil minyak urut.
“untuk..?”
“kakimu.” Tambahnya. Si Young memakaikan minyak itu di kakinya yang terasa sakit.
“nona, biarkan saya mengantarmu pulang.”
“ah..?”
“kamu pasti akan kesulitan kalau sendirian.”
Si Young menerima tawaran dari namja tak dikenal itu dengan terpaksa karena kakinya sakit. Namja itu mengantarnya dengan sepeda, sesuai arahan Si Young. Mereka sampai dirumah Si Young.
“kamsahamnida..” ujar Si Young membungkuk.
“ne, gwaencahana.”
“baiklah, sampai jumpa.”
“nona, ini rumahmu sendiri?” Tanya namja itu tiba-tiba sambil menatap rumah Si Young yang berlantai dua dan lumayan besar itu.
“ne. ini rumahku. Waeyo?”
“ah, gwaencahana.. sampai jumpa.” Ujar namja itu tersenyum. Ia segera pergi dengan sepedanya. Si Young segera masuk kedalam.
Ia masuk kedalam kamar dan segera berbaring di kasurnya. Ia tak dapat menahan air matanya lagi. ia menangis mengingat apa yang dialaminya tadi.
Tadi, Ia baru pulang dari ruko milik temannya yang baru dibuka yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Tapi, di perjalanan ia melihat Chan Sung sedang berada di sebuah restoran. Si Young masuk kedalam restoran untuk memastikan apakah itu Chan Sung atau bukan. Tapi, sesuai dugaannya itu memang Chan Sung, dan ia sedang bersama wanita lain. Dan di saat itulah, Chan Sung membawanya keluar dan segera memutuskannya. Mengakhiri hubungan.
Si Young bingung sekaligus kesal. Chan Sung yang ia kenal, tidak seperti itu. Ia tidak menyangka Chan Sung yang biasanya romantis dan baik hati, memiliki wanita selain dia. Chan Sung yang selalu meng-smsi nya tiap malam, ternyata asyik membohonginya.
Si Young memukul-mukul bantal. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ini semua telah terjadi.
:: FLASHBACK ::
“haha..” Si Young memukulkan bantal ke kepala Chan Sung.
“kamu!” seru Chan Sung. “sini kamu!”
“haha..” Si Young berlari disekeliling kamar.
Chan Sung berhasil menyergap Si Young dengan kedua tangannya dan menjatuhkannya ke kasur.
“kya!”
“kamu yang memukul kepala ku, kan!?” seru Chan Sung sambil menggelitik Si Young.
“hahahaha.. Kya! Ha~ ampun..” Si Young melepaskan kedua tangan Chan Sung.
Chan Sung ikut berbaring di samping Si Young. Mereka berdua bertatapan, saling tersenyum.
“Si Young-ah, neomu nado saranghae..”
“ah? Buktikan!”
“kamu mau bukti?!?” seru Chan Sung mulai menggelitik lagi.
“haha~ ampun!”
“ini buktinya!”
Chan Sung mendaratkan bibirnya ke bibir Si Young. Si Young kaget, tapi ia sudah terbawa dengan ciuman Chan Sung yang begitu lembut.
“Si Young-ah, kamu akan selalu di sini..” ujar Chan Sung. Ia meletakkan tangan Si Young di dadanya.
Si Young tersenyum.
“di hatiku…”
:: END OF FLASHBACK ::
Si Young tambah kesal. Mencintaiku? akan selalu di hatinya? Pikir Si Young. Ia lalu menjatuhkan sebuah bingkai foto di meja di samping tempat tidur. Di bingkai itu ada foto nya bersama Chan Sung. Foto saat mereka berdua jalan-jalan ke Busan saat musim panas. Dalam foto itu, Chan Sung memakai t-shirt ungu, dan Si Young memakai t-shirt yang warna nya sama dengan Chan Sung. Chan Sung melingkarkan tangannya di leher Si Young dan Si Young memegang tangannya itu.
Ia melihat SMS hapenya. SMS nya yang kebanyakan antara ia dan Chan Sung. SMS yang hanya tiap malam datang. SMS yang di terakhirnya selalu ada kata CUIMD. See You in my dream. Sms yang sebenarnya hanya tipu belaka dari Chan Sung, itulah yang di pikirkan sekarang oleh Si Young. Tapi, Si Young tak tega menghapus SMS itu. Karena, dalam hatinya, ia amat-sangat mencintai Chan Sung, dan belum berakhir hingga sekarang. Ia tidak bisa benar-benar membenci Chan Sung dan melupakannya begitu saja. Ia tidak ingin hubungan mereka yang sudah 5 tahun berjalan itu, berhenti dalam semalam. Si Young berharap Chan Sung akan datang kembali padanya untuk meminta maaf.
Si Young terlelap. Tangisannya itu membuat ia mengantuk. Masih dengan pakaian jalan yang ia kenakan dari tadi, ia terlelap malam itu.
***
“Nona?” seseorang menyapa Si Young di sebuah rumah makan, saat jam makan siang. Si Young mengenal orang itu, namja tadi malam yang mengantarnya pulang.
“ah, kamu kan..”
“ne, yang kemarin.” Ujar namja itu.
Mereka berdua makan di restoran itu bersama.
“nona..”
“jangan panggil aku nona, itu bukan namaku.” Ujar Si Young.
“ah, ne. Kita belum berkenalan.” Ujar namja itu. “aku Lee Jun Ho. Panggil saja aku Jun Ho.” Ujarnya lagi lalu tersenyum.
“hmm, aku Kim Si Young. Panggil aja Si Young. Tanpa ‘nona’.”
“haha~ ne..” Jun Ho tertawa kecil
“jadi, Jun Ho-sshi, kamu kerja apa?” Tanya Si Young
“aku seorang fotografer.”
“fotografer? Menarik.” Ujar Si Young.
“tapi, itu Cuma pekerjaan karena hobi.” Ujar Jun Ho.
“maksudnya?”
“untuk menghidupi diriku, aku juga bekerja di supermarket.”
“oh ya?”
“hmm, jadi SPG.” Tambah nya sambil tersenyum. “kalau kamu?”
“ah aku, jurnalis.”
“jurnalis?” Tanya Jun Ho dengan nada tercengang. “keren.”
“keren?” Si Young setengah tertawa.
Pembicaraan mereka selesai setelah selesai makan, ketika Si Young harus kembali ke tempat kerjanya. Si Young mendapatkan nomor hape Jun Ho. Tapi, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan nomor itu.
Di perjalanan kembali menuju kantor, ia melihat dengan Chan Sung. Chan Sung menyetir mobil, di sampingnya ada yeoja berambut pendek, yeoja yang waktu itu di restoran. Yeoja itu tampak lebih tua. Apakah Chan Sung selingkuh dengan tante-tante? Pikir Si Young. Ia kesal sekali, Chan Sung memutuskan dia demi seorang ajuhma keriput seperti itu.
“Bruuk!”
tiba-tiba Si Young terjatuh. Ia melihat hak sepatunya patah. ia jadi tambah kesal.

“Si Young-sshi?” seseorang memanggilnya dari belakang. Si Young menoleh dan mendapati itu adalah Jun Ho. “kamu belum pergi kerja?” Tanya Jun Ho .
“sepatuku patah.” ujar Si Young agak kesal.
“mau kubantu?” Jun Ho menawarkan tangannya. Si Young memegang tangan Jun Ho dan dan mencoba berdiri. tapi kakinya sakit sekali karena keseleo.
“kenapa?” Tanya Jun Ho.
“kaki ku…” ujar Si Young merintih memegang mata kakinya yang sakit.
“hmmpph!” Jun Ho segera membopoh badan Si Young.
“ah!?” Si Young tampak kaget.
“biar ku bantu. Kita cari tempat duduk.”
“kamu tidak terlambat kerja??” Tanya Si Young.
“Gwaencahana, itu gampang.”
Jun Ho membopong Si Young ke pinggiran sebuah toko dan mendudukinya ke sebuah bangku.
“Kamu mau pakai sepatu ku? Yah, untuk sementara sampai kamu medapatkan sepatu lain.” tawar Jun Ho.
“Nanti kamu pakai apa??”
“oh, tenang, aku tidak butuh. Aku kan naik sepeda.”
“tapi kan…”
“gwaenchana, kasihan kamu.” Ujar Jun Ho. Ia melepas sepatu sportnya dan memberikannya kepada Si Young.
Si Young mencoba memakainya tapi kaki nya masih terasa sakit.
“kakimu masih terasa sakit?” Tanya Jun Ho.
Si Young mengangguk.
“kalau begitu, kamu tidak bisa bekerja.”
“aku tahu..”
“ya sudah, aku akan mengantarmu ke rumahmu.” Tawar Jun Ho.
“tapi kan kamu..”
“sudah.” Potong Jun Ho. “sekarang kakimu yang lebih penting.”
Jun Ho mengantar nya kerumah Si Young.

Jun Ho juga harus membantunya masuk kedalam rumah karena kaki Si Young masih terasa sakit.
“disitu saja.” Si Young menunjuk ke sofa.
Jun Ho membantunya duduk ke sofa.
“duduklah dulu, kamu pasti capek.” Ujar Si Young.
Jun Ho duduk. Matanya menatap kesegala arah mengamati rumah Si Young.
“kamu kenapa?” Tanya Si Young.
“ah, aniyo. Rumahmu bagus sekali.”
“sebenarnya ini rumah orang tua ku.”
“lalu, di mana mereka?”
“mereka sudah meninggal.”
“ah, mianhae…”
“gwaenchana, itu sudah lama sekali kok.” Potong Si Young
“mian, aku tidak bisa menyajikan minuman untuk mu.” Ujar Si Young.
“ne, aku mengerti. Kaki mu kan sakit.”
“my baby boo… my love is tr…”
“Yoboseyo?” Si Young mengangkat hapenya yang berbunyi.
“di mana toiletnya?” tanya Jun Ho dengan suara pelan.
Si Young menunjuk ke belakangnya. Jun Ho pergi ke arah yang di tunjuk Si Young. Ia masuk kedalam toilet.
Jun Ho keluar dari toilet. Ia melihat beberapa pecahan kaca di depan pintu sebuah kamar. Pecahan tersebar di dalam ruangan. Jun Ho masuk untuk mengamati. Ia curiga kalau ada pencuri. Ia menemukan sebuah bingkai berukuran sedang jatuh di lantai. Ia membalikkan bingkai itu. Ia melihat sebuah foto. Didalamnya ada Si Young bersama namja yang tak di kenalnya.
“Jun Ho-sshi?” tiba-tiba Si Young muncul di depan pintu.
“ah, Si Young-sshi, kamu sudah bisa berdiri?” jun Ho bangkit.
“sedang apa kamu di kamarku?”
“ah, ini kamarmu ya?” Tanya Jun Ho. “tadi aku melihat pecahan-pecahan kaca ini. ku kira ada pencuri masuk.”
“lalu, kenapa kamu memegang bingkai itu?”
“ah, mianhae, aku hanya..” tiba-tiba Si Young merebut bingkai itu dengan kasar membuat Jun Ho kaget.
“pulang lah..”
“hah?”
“aku minta kamu pulang.” Ujar Si Young sinis.
“ah, baiklah. Maafkan aku.” Ujar Jun Ho lalu keluar dari kamar.
Dengan agak susah Si Young berjalan ke arah lemari. Ia meletakkan bingkai itu di atas lemari. Ia lalu berbaring di kasur.
ia merasa kesal telah mengundang Jun Ho ke rumahnya. Ia tidak ingin rahasia nya di ketahui siapa pun.
Berhari-hari berlalu. Si Young menghindari agar ia tidak bertemu Jun Ho. Ia merasa tak ingin mengenal Jun Ho lagi karena takut Jun Ho akan tahu semua rahasia nya.
Suatu hari saat Si Young sedang berbelanja di sebuah supermarket ia melihat Chan Sung bersama dengan pacarnya sedang berbelanja juga. Si Young merasa sedih dan marah. Ia mendatangi mereka berdua. Dia mendorong pacar Chan Sung itu hingga jatuh.
“Si Young! Apa yang kamu lakukan!” seru Chan Sung. Suasana berubah ‘mencekam’ bagi Si Young karena kemarahan Chan Sung. Ternyata Chan Sung lebih memilih untuk melindungi yeoja itu dari pada dirinya.
“katamu aku akan selalu di hatimu! Mana buktinya!?” seru Si Young.
“pergi dari sini!” seru Chan Sung.
“tidak mau! Katamu kamu mencintai ku!!??”
“diam!” ujar Chan Sung hendak menampar Si Young. Tapi tiba-tiba Chan Sung berhenti.
“wae? Ayo tampar aku! Aku baru tahu ternyata kamu adalah serigala berbulu domba.” Ujar Si Young.
Chan Sung hendak melanjutkan tapi tiba-tiba seseorang menahan tangannya. Ternyata itu Jun Ho.
“tolong jangan berkelahi di supermarket kami.” Ujar Jun Ho. Chan Sung segera berbalik pergi membawa pacar nya.
Jun Ho membawa Si Young menangis pergi ke ruang karyawan.
Mereka terdiam disitu. Tapi Jun Ho langsung angkat bicara.
“kamu tidak apa-apa?”
Si Young hanya mengangguk bisu.
“aku tahu namja itu.” Ujar Jun Ho lagi. Si Young menatap Jun Ho.
“yang di foto..” sambung Jun Ho. Tiba-tiba tangis Si Young menjadi lagi.
Jun Ho memegang bahu Si Young.
“Jun..”
“jangan menangis lagi.” ujar Jun Ho.
“aku tahu kamu tersiksa karena dia. lupakan dia.” ujar Jun Ho lagi.
Dalam hati Si Young berkata, tidak mungkin melupakan dia, tidak mudah menghilangkan Chan Sung dari pikiran ku, aku masih mencintainya. Aku akan sangat senang kalau aku bisa menemukan cara untuk melupakan dia. tapi, aku masih belum menemukan cara itu.
Setelah agak tenang Si Young pergi dari supermarket tempat Jun Ho bekerja. Dia kembali ke rumah. Dia masuk ke kamar. Duduk di pinggir kasur dan menangis. tiba-tiba ia langsung memporak-poranda isi kamar. Kasur, meja, lemari, bingkai-bingkai foto dan lukisan, semua menjadi berantakan. Emosi nya sungguh tak tertahan kan. Ia kesal sekali. Sungguh Shock. Ia merasa ini semua terlalu cepat untuk di alami.
Esok harinya, pagi-pagi sekali, saat jam dinding Si Young menunjukkan pukul 6 pagi, sebuah panggilan masuk di hape Si Young. Si Young kalang kabut karena suasana kamar yang berantakan telah menyembunyikan hapenya. Si Young menemukan hapenya ada di kolong kasur. Ia segera mengambil hapenya.
“uhuk.. uhuk..” Si Young terbatuk-batuk. Di bawah kasur sangat berdebu.
Ia melihat panggilan hapenya. Itu panggilan dari Jun Ho. Ia kaget Karena ini pertama kalinya Jun Ho menelponnya.
“Yoboseyo?
“Si Young-sshi?” Tanya Jun Ho.
“ne, ini aku.” Jawab Si Young agak lesu. “wae?”
“lihat lah ke luar jendela.” Ujar Jun Ho.
Dengan lesu, Si Young berjalan menuju ke jendela yang menghadap ke depan.
“Jun Ho?” Si Young kaget karena di depan rumah ada Jun Ho. Memakai jaket hijau. Ia tampak bersih dan rapi.
“ada apa?” Tanya Si Young di telepon.
“ayo kita jogging. Lekas lah bersiap-siap!” seru Jun Ho bersemangat.
“aniyo. Aku capek.”
“ayolah, aku sudah datang jauh-jauh ke rumah mu dan kamu mau mengecewakan aku??” ujar Jun Ho.
“ya sudah, tunggu aku..”
Si Young meletakkan hapenya di meja. Ia langsung menuju toilet. Mencuci muka dan menyikat gigi. Ia kembali ke kamar. Mengganti baju nya dengan t-shirt, celana training, dan jaket.
Ketika keluar Jun Ho sedang lompat-lompat. Ia tampak berkeringat.
“ah, selamat pagi, Si Young-sshi!” seru Jun Ho dengan napas terengah-engah.
“ayo pergi.”
Si Young segera pergi bersama Jun Ho. Mereka berkeliling di sekitar perumahan Si Young. Di perjalanan mereka juga asyik ngobrol.
“ah, aku capek berlari dari tadi.” Ujar Si Young lalu berhenti. Napasnya terengah-engah.
“Kamu haus?” Tanya Jun Ho yang ikut berhenti.
Si Young mengangguk.
“ini, aku bawa air kok.” Jun Ho menyerahkan sebuah botol berisi air mineral. Si Young meraih minuman itu lalu meminumnya tanpa menyentuh bibir botol.
“kita jalan kaki saja.” Ujar Jun Ho. “kita sudah berlari selama 30 menit.”
“ini, gomawo.” Ujar Si Young mengembalikan minuman Jun Ho.
Mereka meneruskan jogging dengan jalan kaki. Mereka tiba di sebuah taman dan duduk di sebuah kursi panjang. Di taman ada beberapa anak-anak dan orang dewasa yang juga sedang jogging.
“Si Young-sshi, kamu sudah tidak apa-apa kan?” Tanya Jun Ho.
“hmm? Waeyo?” Si Young menatap Jun Ho.
“yang kemarin.. ah mianhae, aku membicarakan hal itu.”
“Jun Ho, gomawoyo.” Ujar Si Young. Ia tersenyum.
“wae?”
“pagi tadi kepala ku terasa berat karena semalaman menangis. tapi, setelah kamu mengajak ku jogging, aku merasa segar.” Ungkap Si Young.
“ah, gwaenchana. Aku hanya merasa aku..” Jun Ho berhenti.
“merasa apa?”
“aehh… aniyo. Hehe.. ku harap kamu tidak memecahkan bingkai lagi.” ujar Jun Ho mengubah pembicaraan.
“haha..” Si Young tertawa.
“yah, sebenarnya aku telah memporak porandakan kamarku.” Ujar Si Young.
“astaga!?”
“aku akan merapikan nya kok.” Ujar Si Young.
“Si Young-sshi.” Ujar Jun Ho. Ia mendekat ke Si Young.
“mwo?”
“kamu tak usah bersedih lagi. aku akan menjadi teman mu. Kamu bisa menceritakan segalanya padaku. Aku akan jadi teman yang baik untuk mu.” Ujar Jun Ho.
Si Young menatap Jun Ho yang penuh PD. Si Young hanya tertawa menanggapi apa yang di katakan Jun Ho.
“waeyo?”
“baiklah, aku juga mau menjadi teman mu.” Ujar Si Young tersenyum.
“oke! Chingu, aku akan selalu ada untuk mu!” ujar Jun Ho.
“hmm!”
Akhirnya , Si Young dan Jun Ho menjalin hubungan pertemanan. Dengan hubungan ini, Si Young makin lama makin bisa melupakan Chan Sung. Si Young mulai tak cemburu lagi bila melihat Chan Sung bersama pacarnya. Si Young akhirnya menemukan ‘obat’ yang selama ini ia cari. Yaitu Jun Ho.
Si Young dan Jun Ho tampak begitu akrab. Si Young sering menemui Jun Ho, begitu juga dengan Jun Ho. Mereka sering mengunjungi beberapa tempat bersama. Meluangkan waktu bersama, layak nya teman SMA. Berfoto bersama, makan bersama, mereka berdua benar-benar bahagia.
suatu Pagi di hari minggu, Jun Ho berkunjung ke rumah Si Young. Meskipun sudah akrab menjadi teman yang saling menghibur satu sama lain, tapi masih ada rasa malu saat itu. Ini pertama kali nya Jun Ho berkunjung ke rumah Si Young. Tapi, mereka berdua tampak berusah mengubah atmosfer menjadi lebih ceria, tapi bagaimana pun, rasa canggung masih ada.
Si Young sedang membuat makanan untuk mereka berdua. Ia hendak membuat kan omelette sebagai sarapan. Si Young asyik memotong sayur-sayur yang akan di campur dalam menu sarapan mereka, omelette.
“Si Young, biarkan aku membantu mu.” Ujar Jun Ho yang tiba-tiba datang ke dapur tempat Si Young berada. Sebelumnya ia sedang menonton tv di ruang keluarga.
“ah, gwaenchanayo , ini sudah mau selesai kok.”
“kamu masak apa?” Tanya Jun Ho.
“omelet.” Jawab Si Young.
“biar aku yang meletakkan telur nya di pinggan.”
“aniyo, kamu tunggu saja kalau sudah selesai.”
“ah, aku ingin membantu…” Jun Ho merengek. Ia memonyongkan bibirnya.
“baiklah, kamu boleh membantu ku.”
“yes! Yes!” Jun Ho kegirangan.
“Adauwww~” tiba-tiba Si Young meringis. Jarinya berdarah. Terkena pisau.
“wah!? Jari mu terkena pisau!?” Tanya Jun Ho kaget.
“aku akan mencucinya.” Ujar Si Young. Ia mencuci jari nya dengan air dari keran di wastafel.
“aku punya plester.” Ujar Jun Ho. “ada di tas ku.”
“tolong ambilkan. Aku minta satu.” Ujar Si Young yang sedang menutup luka.
Jun Ho pergi dan kembali dengan membawa selembar plester luka. Ia membalutkan nya di jari telunjuk Si Young yang terluka.
“haha.. plester nya kok imut sekali..” ujar Si Young.
“cocok untuk mu, bukan?” ujar Jun Ho seraya tersenyum.
“ne, gomawoyo..” Si Young balas tersenyum.
Akhirnya makanan buatan Si Young dan Jun Ho jadi. Mereka berdua menikmati omelette buatan mereka pagi itu. Si Young juga membuatkan dua gelas kopi untuk mereka berdua.
“aku tidak biasa minum kopi pagi hari..” ujar Jun Ho.
“tapi, kopi nya habis juga.”
“aku suka…”
“ah? Kopinya? Gomawoyo.” Ujar Si Young tersenyum.
“aniyo..”
“hah?” Si Young bingung.
“maksud ku bukan kopinya.” Ujar Jun Ho.
“lalu…?” tanya Si Young.
“aduh.. kamu telmi ya.” Ujar Jun Ho.
“hah!? Maksud mu apa sih!??” Si Young agak kesal.
“maksudku, aku menyukai mu!” seru Jun Ho.
Si Young terdiam karena Jun Ho tiba-tiba berkata seperti itu. Ia kaget. Tapi ia merasa agak senang, entah kenapa.
“kamu mau menerima aku?” Tanya Jun Ho.
“Jun.. Ho…”
“sudah lama aku merasa kan debaran ini dan aku tahu ini karena mu.” Ungkap Jun Ho. “aku mencoba menyembunyikan, tapi tidak bisa.”
“Jun Ho.” Panggil Si Young. Ia tersenyum.
Jun Ho bangkit menuju ke tempat Si Young yang berada di depannya.
Jun Ho mencium Si Young. Ciuman yang lembut. Ciuman yang lebih lembut dari Chan Sung. Ciuman yang tulus dari hati. Ciuman lembut berasa kopi. Si Young menetes kan air mata. Ia juga menyukai Jun Ho.
***
“Si Young.” Seseorang memanggil nya dari belakang. Si Young sedang berada di depan rumahnya. Ia baru pulang dari tempat kerja malam ini.
“Chan Sung?” Si Young menyadari itu adalah Chan Sung. Ia tampak babak belur. Mata sebelah nya biru, jas dan seragamnya robek-robek, rambut nya acak-acakan. “kamu kenapa!??”
“tolong aku.”
“BRUUK~” tiba-tiba Chan Sung jatuh pingsan.
Si Young yang khawatir segera membawa masuk Chan Sung ke dalam rumahnya.
Ia membaringkannya di sofa ruang tamu. Ia segera mengkompres mata Chan Sung. Mengelap badannya yang kotor. Si Young bingung ada apa yang terjadi dengan Chan Sung.
Ia membiarkan Chan Sung tidur di sofa untuk malam itu, sementara ia tidur di kamarnya.
Paginya, Si Young segera memasakkan makanan untuk Chan Sung. Chan Sung sudah ganti baju dengan baju milik ayah Si Young. Ia memasakkan Chan Sung nasi goreng. Ia sengaja melebihkan porsi Chan Sung karena ia tahu Chan Sung pasti kelaparan.
Mereka makan dengan membisu hingga selesai.
“Si Young.” Ujar Chan Sung setelah meneguk segelas air. Si Young menengadah.
“gomawo.”
“cheonmanae..” jawab Si Young singkat.
“Si Young, mianhaeyo..” ujar Chan Sung lagi. “aku bodoh sekali. Aku melepas mu demi yeoja pencuri itu.”
“pencuri..?”
“ne, ia merampas semua milikku.” Ujar Chan Sung. “mobilku juga.”
Si Young kaget.
“Si Young, mianhaeyo. Tapi kamu mau menerima ku kembali..?” Tanya Chan Sung.
Si Young kaget. Ia merasa kesal. Kenapa setelah terjadi hal seperti ini baru dia akan kembali. Si Young merasa dia hanya akan di manfaatkan. Tapi, Si Young masih menyimpan rasa suka meskipun kecil terhadap Chan Sung. Ia pernah berharap Chan Sung akan memintanya kembali, dan hal itu terjadi. Tapi di saat ia telah menemukan Jun Ho. Si Young merasa bingung. Tap, satu hal yang ia yakin, ia tidak akan tertipu dua kali lagi oleh serigala berbulu domba ini.
“miahae Chan Sung.” Ujar Si Young sambil menunduk. Ia tak mampu menatap Chan Sung. Ia takut ia akan terbawa oleh wajah Chan Sung yang meminta di kasihani itu.
“Si Young?” Tanya Chan Sung kaget.
“aku minta kamu pulang ke rumah mu.” Ujar Si Young.
“pulang kemana? Rumahku juga telah di ambil nya.” Ujar Chan Sung.
Si Young merasa begitu kasihan terhadap Chan Sung. Ia ingin sekali menangis. ia ingin sekali memeluk Chan Sung yag begitu memprihatinkan. Ia bahagia masih melihat Chan Sung masih hidup. Ia bersyukur hanya harta yang diambil, bukan nyawa. Tapi, Si Young takut saat Chan Sung kembali sukses, ia akan meninggalkannya untuk yang ke dua kali. Lagipula, ia telah bersama Jun Ho, dan Si Young tak ingin mengecewakan Jun Ho yang sudah begitu tulus mencintainya.
“pergi! Keluar dari rumahku!” bentak Si Young.
“Si…” Chan Sung yang sudah menjadi lemah, tak dapat melawan lagi. ia bangkit, keluar dari rumah Si Young. Si Young memandangnya pergi dari jendela. Ia menangis. sebenarnya, ia tak ingin berbuat seperti ini pada Chan Sung. Si Young duduk di lantai di bawah jendela. Ia menangis tersedu-sedu.
“mianhae Chan Sung..” itulah kata yang terus terucap di hati Si Young.
Jun Ho yang baru sampai di rumah Si Young kaget melihat Chan Sung yang baru keluar dari rumah Si Young. Ia melihat Chan Sung yang tampak begitu sedih rasanya ingin menangis. Jun Ho tak jadi menegurnya. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah Si Young. Ia mendapati Si Young yang sedang menangis tersedu.
Jun Ho segera memeluk Si Young. Mengusap-usap belakangnya, mencoba menenangkannya. Jun Ho mengerti apa yang di alami Si Young.
“Si Young..” ujar Jun Ho.
“mianhae Chan Sung..” isak Si Young.
“Si Young sudah lah.” Ujar Jun Ho. Ia mengelap air mata Si Young dengan tangannya. “kamu telah melakukan hal yang benar.”
“tapi aku telah begitu jahat padanya!” ujar Si Young masih terisak.
“tapi, ia telah lebih jahat kepadamu sebelumnya. Maka dari itu, kamu telah melakukan hal yang benar.” Jelas Jun Ho.
“Jun Ho…” ujar Si Young sambil menatap Jun Ho. “gomawoyo..”
Jun Ho memeluk Si Young. “sekarang hanya ada aku. Lupakan dia.”
Jun Ho berhasil menenangkan Si Young. Tapi Si Young pingsan tiba-tiba. Jun Ho membaringkannya di kasur di kamar Si Young. Jun Ho terus berada di samping Si Young sampai ia bangun.
“Jun Ho..?” tiba-tiba Si Young terbangun. “kamu masih disini?”
“ne, aku akan selalu ada di samping mu.” Ujar Jun Ho. Ia menaruh tangannya di pipi Si Young.
“Jun Ho..” Si Young memegang tangan Jun Ho yang terasa hangat itu.
***
Si Young kembali bersemangat setelah nya. Karena ia telah bahagia bersama Jun Ho. Mereka melewatkan waktu bersama dengan baik. Si Young sudah 100 persen melupakan Chan Sung. Ia sudah menyerap kata-kata Jun Ho waktu itu dengan sangat baik. Si Young tidak tahu dimana Chan Sung berada dan ia sudah tidak perduli lagi. ia mau menjadi pengemis, dia menjadi kaya lagi, atau dia bunuh diri, Si Young benar-benar tak memikirkannya lagi. di hatinya hanya ada Jun Ho. Jun Ho yang serius mencintai nya.
Sore hari Bulan agustus hari ke empat belas. Jun Ho dan Si Young sedang jalan-jalan bersama di sebuah taman. Mereka memakai hoodie hijau yang model nya sama.
“Si Young-ah..” panggil Jun Ho.
“hhm? Waeyo?” Tanya Si Young.
Jun Ho memainkan trik sulap. Ia seolah sedang mengambil sesuatu dari telinga Si Young dan memberinya kepada Si Young. Sebuah cincin emas putih dengan buah berlian kecil di tengahnya.
“waah?? Apa ini?” Tanya Si Young kaget.
“ini? ini cincin.” Ujar Jun Ho.
“aku tahu. Tapi untuk apa??”
“begini Si Young…”
“hmm?”
“aduh, aku jadi malu..”
“kenapa? Hari ini bukan hari ulang tahun ku.” Ujar Si Young.
“aku tahu kok.”
“lalu..?”
“kamu mau em.. me.. eh..”
“emmeeh?” Si Young bingung.
“aniyo! Bukan itu maksud ku!” seru Jun Ho.
“lalu..?”
“ehemm! Baiklah aku akan mengatakannya dengan serius.” Ujar Jun Ho.
Si Young yag tak tahu apa-apa hanya diam.
“Kim Si Young. Mau kah kamu menikah denganku?” Tanya Jun Ho sambil memakaikan cincin berlian itu.
Si Young kaget bukan main. Perasaannya senang sekali. Jun Ho melamarnya.
“Bagaimana Kim Si Young, apa kamu bersedia menerima Lee Jun Ho menjadi suamimu?” Tanya Jun Ho.
“hmm! Aku bersedia.” Jawab Si Young.
Jun Ho yang kegirangan segera memeluk Si Young sambil berputar-putar. Mereka berdua senang bukan main. Terutama Si Young, akhirnya ia bisa menemukan pengganti yang lebih baik dari Chan Sung.
***
Contact name : Chan Sung <3
Are you sure want to delete this contact number?
YES
Number Deleted
***
:: THE END ::

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Tak Akan Pernah Menghilang
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Lee Ki Yeon as You
Cho Kyu Hyun Super Junior as Kyu Hyun
Other Cast
*************************************************************************************
“Cho Kyu Hyun?” Tanya ibu Park wali kelas kami. Ia sedang mengabsen murid pagi ini.
“Tidak masuk.” Ujar seorang murid.
“hmmm.. “
Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini. setiap bulan ia selalu tidak masuk minimal satu minggu per bulan. Guru-guru tidak memberitahu ada apa yang terjadi dengan dia. Kyu Hyun juga tidak memberitahu apa yang ia lakukan ketika tidak masuk sekolah. Setiap ia masuk, ia selalu kelihatan pendiam. Kelihatan lesu, tak bersemangat. Banyak anak murid yang mengatakan ia itu preman. Ada juga yang mengatakan ia tidak niat sekolah. Tapi, aku tahu ia orang yang baik. Ia sering tersenyum padaku. Entahlah, mungkin karena aku tak pernah menghinanya. Matanya tampak begitu sendu. Aku kadang merasa kasihan dengannya. Ia begitu misterius. Aku ingin sekali mengamati apa yang ia lakukan.
Jam istirahat aku kumpul bersama 2 orang teman sekelas ku di kantin. Menikmati bekal kami.
“Kyu Hyun itu kenapa ya?” tanyaku.
“entahlah…” ujar temanku.
“kurasa ia sakit.” Ujar temanku yang satunya.
“hah?” aku kaget.
“kamu lihat, badannya lemah dan kurus.”
“hmm..” aku hanya mengangguk.
Pulang sekolah aku sedang melihat-lihat majalah di sebuah kedai majalah. Melihat-lihat wajah-wajah artis yang begitu ganteng dan cantik. Aku menyadari, seorang anak laki-laki disampingku mirip dengan Kyu Hyun. Memakai kaos putih dengan celana panjang putih. Ia sedang melihat-lihat majalah juga. Aku merasa ingin menyapanya. Tapi aku takut salah orang.
“BRUUK!” tiba-tiba ia rebah disampingku. Aku kaget dan segara menahannya. Orang-orang disekelilingku tampak kaget juga. Beberapa ikut mengerumuni. Aku sadar, ini memang Kyu Hyun teman sekelasku. Aku bingung ia tiba-tiba pingsan begini.
“seseorang tolong panggilkan taksi! Temanku pingsan!” seruku.
Beberapa orang memanggil taksi. Beberapa membantuku membawakannya ketaksi. Di perjalanan aku meraba keningnya. Badannya dingin sekali dan ia tampak pucat. Sepertinya ia memang sakit. Aku , membawa kyu Hyun ke rumahku. Ibuku kaget. Tapi, setelah kujelaskan semuanya ia langsung mengerti. Aku segera membaringkannya dikasur dikamarku. aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin saja ia terkena demam. Aku segera menutup badannya dengan selimut tebalku.
Tiba-tiba Kyu Hyun membuka matanya. Ia tampak kaget. Ia menatapku.
“Kyu Hyun-ssi? Kamu sudah bangun.” Ujar ku.
“dimana aku? Siapa kamu?” tanyanya.
“Lho? Ini aku, Lee Ki Yeon teman sekelasmu. Kamu tadi pingsan jadi ku bawa kerumahku.” Jelasku.
“teman sekelasku?” Tanya Kyu Hyun lagi.
“Ye.” Aku mengangguk.
“hah!?” ia bangkit.
“jangan bergerak dulu. Kamu sakit.” Ujarku.
“aku memang sakit kok.”
“hah?” aku bingung. Mungkin makudnya, ia sudah tahu kalau ia sakit. Kalau dia sakit, kenapa ia jalan-jalan tadi?
Badannya tampak berkeringat. Aku jadi bingung kenapa ia begitu berkeringat padahal kamarku tidak begitu terasa panas.
“aku mau pulang.” Ujarnya.
“rumahmu dimana? Biar aku yang mengantarmu ya?”
“aniyo, aku bisa pulang sendiri.”
“lho? kamu kan lagi sakit..”
“gwaenchanayo, aku sudah terbiasa.” Kyu Hyun berdiri. tapi ketika berjalan, badannya jadi miring-miring. Ia terlihat agak pusing. Jadi aku segera menopangnya.
“biar aku yang mengantarmu pulang dengan sepedaku. “ujarku menawarkan.
Aku memboncengnya dengan sepedaku. Ia menunjukkan setiap arah. Kami tiba disebuah rumah yang ditutup gerbang yang tinggi. ia masuk kedalam rumah itu.
“yah, aku lupa bilang sampai jumpa..” ujarku dalam hati.
Esok harinya Kyu Hyun belum juga masuk sekolah. Mejanya kosong. Aku jadi bingung, sebenarnya ia sedang sakit apa?
Pulang sekolah aku segera mengambil sepedaku. Aku berniat pergi kerumahnya. Ibuku menitipkan kue untuknya. Aku ingin tahu ada apa dengan dia. Aku tiba didepan rumahnya. Rumahnya tak terlihat karena dtutup gerbang kayu yang tinggi. aku memakirkan sepedaku. Aku menekan bel di depan pintu gerbang. Seorang yeoja membukakan pintu.
“dengan siapa?” Tanya yeoja itu.
“saya ingin bertemu Cho Kyu Hyun. Saya temannya.” Jawabku. aku melirik kedalam. Didalam tampak sangat alami karena banyak tumbuhan.
Tiba-tiba yeoja itu menutu pintu. Aku jadi bingung. Mungkin aku tak diterima.eh, ternyata beberapa saat kemudian yeoja itu membuka pintu lagi.
“nona, anda hanya punya waktu 30 menit sebelum tuan rumah pulang.” Ujar Yeoja itu.
“ya sudah. Aku Cuma sebentar kok.” Jawabku. aku jadi bingung. Kenapa ada penentuan waktu seperti itu ya?
Aku masuk kedalam. Di halaman banyak sekali tumbuhan, bunga dan pohon yang berwarna-warni. Rumahnya seperti rumah-rumah jaman dulu. Rumah ini tampak seperti rumah adat. Yeoja itu mengantarku ke sebuah ruangan. Dia membuka pintu.
“tuan, ada tamu.” Ujar yeoja itu. Aku masuk kedalam. Yeoja itu meninggalkan kami.
“kamu…” ujar Kyu Hyun.
“aku Lee Ki Yeon. Yang kemarin.”
“mau apa kemari?” tanyanya.
Aku menyerahkan kue yang kubawa. “aku Cuma ingin tahu..”
“tahu apa?” tanyanya sinis.
“kenapa kamu tidak masuk beberapa hari ini?” tanyaku. “kenapa setiap bulan pasti selalu ada waktu bolos mu? Apa yang kamu lakukan?”
“bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Aku jadi agak kesal dengan sifatnya yang seperti itu.
“anak-anak jadi salah paham. Dan aku ingin tahu kebenarannya.”
“aku tak mau memberitahumu.”
“oh ya? Bagaimana dengan kejadian kemarin? Kamu tiba-tiba pingsan seperti itu.”
“kamu memberitahu teman-temanmu?” tanyanya.
“bukan urusanmu.” Jawabku ikut sinis.
“jawab!” tegasnya
“Jangan GR dulu. Untuk apa juga kuberitahu.”
“baguslah.”
“sepertinya aku ingin memberitahu teman-temanku. Habisnya kamu menyebalkan sekali.” Ujarku lalu pergi keluar meninggalkannya dengan kesal.
“tunggu!” ia mengejarku. Ia menahan tanganku. Tiba-tiba aku merasa deg-degan. Aku kaget. Ini pertama kalinya kami berpegangan tangan.
“kalau begitu ceritakan..” ujarku.
“aku tidak bisa..” ujarnya.
“kalau begitu aku mau pulang. Ini sudah lewat 30 menit.” Ujarku. Aku betul-betul pergi sekarang. Aku tak menghiraukannya yang memanggilku. Aku ingin berlama-lama, memaksanya menjawab pertanyaanku, tapi waktu yang kumiliki sudah habis, lagian untuk apa pakai waktu penentu seperti itu sih? Emangnya ini pertandingan basket???
Esok harinya lagi aku mencoba menemuinya, tapi kata yeoja yang kemarin, untuk seminggu ini ia tidak ada dirumah. Jadi aku tak mengunjunginya lagi. sampai suatu hari, ia masuk sekolah. Muncul lagi niatku untuk bertanya padanya.
Jam istirahat ia hanya duduk dikelas. Murid-murid lain keluar jadi tinggal kami didalam kelas. Aku mendatanginya. Sepertinya ia ketiduran.
“Kyu Hyun.” Panggilku. Ia terbangun.
“kamu Ki Yeon?” Tanya nya.
“syukurlah kamu sudah mengenalku.” Jawabku.
“waeyo?” tanyanya agak lesu.
“aku ingin kamu menjawab pertanyaanku kemarin..” ujarku.
“hei, kamu di lihat teman-temanmu tuh. Kamu gak malu?” tanyanya.
“malu? Wae? Aku sedang berbicara dengan kamu kok.” Jawabku.
“ya sudah, kalau begitu hari ini datanglah kerumahku.” Ujarnya.
Mwo? Aku diajak kerumahnya? Akhirnya, ia mau bicara juga.
Aku keluar meninggalkannya. Ia kembali tidur.
“Ki Yeon? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya temanku.
“tidak ada. Aku mencoba bertanya tapi ia tidak mau menjawab.” Jawabku bohong.
“yah, kurasa dia memang seperti itu.”
Pulang sekolah aku segera ganti baju dan menuju rumahnya denga sepedaku. Aku di beri waktu banyak karena katanya tuan rumah sedang dinas. Syukurlah, aku jadi punya waktu banyak.
“Kyu Hyun-ssi..” panggilku. Ia sedang duduk disamping jendela.
“Ki Yeon?” tanyanya.
“Ye.”
Aku masuk kekamarnya.
“Kamu tahu?” tiba-tiba Kyu Hyun angkat bicara.
“mwo?”
“sejak dulu, Cuma kamu satu-satu nya orang yang berani mendatangiku” ujarnya.
“kok bisa?” tanyaku.
“entahlah.”
“kurasa, karena sikapmu yang pendiam dan terlihat lesu itu.” Jawabku.
“Aku memang seperti itu..”
“Kyu Hyun, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi padamu?” tanyaku.
“mian…”
“waeyo?” tanyaku.
“aku merasa berat.” Jawabnya.
“waeyo?”
“aku akan segera menghilang..”
“Ah, apa maksudmu? Aku tidak mengerti..” ujarku.
“aku memang akan menghilang..” ujarnya lagi.
“ah, sudahlah. Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.” Aku bangkit hendak pulang. Aku bosan, ia belum menceritakan yang sebenarnya.
“Ki Yeon.” Kyu Hyun menahan tanganku. Ini sudah yang kedua kalinya.
“aku ingin kamu disini..” ujarnya. Aku kaget dengan apa yang ia katakan. Ia ingin aku disini?
“aku ingin kamu datang terus. Aku senang sekali, kamu orang pertama yang mau berbicara begitu akrab denganku..” jelas Kyu Hyun.
“kamu minta aku menjadi temanku?”
“Ne.” Ia mengangguk. “sampai aku menghilang.”
Aku kaget dengan kalimat terakhirnya itu. “sampai aku menghilang”. Apa maksudnya?
“Ah, Kyu Hyun, hari mulai sore, sebaiknya aku pulang.”
“ne, gomawoyo telah menemaniku hari ini..” ia tersenyum. Senyumnya begitu indah.
Aku pergi meninggalkannya. Diperjalanan aku terus memikirkan, “sampai aku menghilang”. Sebelumnya ia mengatakan “aku akan segera menghilang” . aku tidak mengerti arti ‘menghilang ‘itu baginya. Apa kah itu maksudnya ‘meninggal’ ?
Hari ini berlalu. Tiba hari minggu.
Hari ini sekolah libur. Aku datang kerumah Kyu Hyun ketika hari sudah agak siang. Dia sedang menggambar dikamarnya.
“apa yang kamu gambar?” Tanya ku.
“aku menggambar bunga itu.” Kyu Hyun menunjuk pada sebuah bungan di luar jendela. Ia menunjukkan gambar nya. Ia menggambar bunga itu mirip dengan aslinya.
“kamu bisa menggambar wajahku?” tanyaku.
“tentu saja.”
“kalau begitu gambar aku sekarang..”
“tapi, tidak bisa jadi hari ini. aku kecapean menggambar bunga hari ini.” ujarnya.
“ya sudah. Akan ku tunggu.”
“oke. Bagaimana kalau kita bermain di luar?” ajak Kyu Hyun.
“ayo!”
Kami pergi ke halaman luar yang luas. Bermain-main dengan tanaman-tanaman yang begitu banyak dan berwarna-warni. Disini udara terasa segar sekali. Suasana alami sangat terasa disini. Apalagi rumahnya ini terletak di atas bukit.
“sebentar, Kyu Hyun.” Ujarku. Aku mengeluarkan hape kameraku. Aku ingin sekali memotret suasana disini. Hal seperti ini sudah jarang di temui di daerah perkotaan.
“hape?” tanyanya.
“kita foto-an yuk!” ajakku.
“denganku? Aniyo! Aku kelihatan kusut!” ujar Kyu Hyun menolak.
“gwaencanayo. Kamu ingin menolak permintaan temanmu?” tanyaku.
“ne, baiklah..”
Kami berdua berfoto bersama. Tetapi di antara berbagai foto yang kami ambil bersama, hanya satu yang hasilnya bagus. Habisnya, Kyu Hyun banyak bergerak.
“kamu jangan sering menutup matamu kalau lagi berfoto!” keluhku.
“iya deh…”
Minggu-minggu berlalu. Sudah lebih dari 15 kali aku datang ke rumahnya. Kali ini, saat akan menemuinya, katanya ia sedang keluar. Dan ini untuk seminggu. Seperti waktu itu ini sudah kedua kalinya. Apa yang ia lakukan?
Setelah seminggu tak bertemu dengannya. akhirnya Kyu Hyun kembali juga. Tapi, ketika menemuinya ia tampak sangat muram dan lesu. Ia hanya berbaring di kasur.
“Ki Yeon..” Ujar Kyu Hyun seraya tersenyum.
“gwaenchananika?” tanyaku.
“Ki Yeon, mianhaeyo..” ujar Kyu Hyun.
“Waeyo?”
“aku minta kamu jangan menemuiku lagi..”
“mwo? Waeyo?” tanyaku kaget.
“gwaenchanayo..”
“jawab aku, Kyu Hyun!” tegasku.
“Ki Yeon, aku akan segera menghilang.”
“ukh!” aku kesal sekaligus kaget dan sedih. “maksudmu apa? Menghilang?”
“Ki Yeon, aku akan selalu mengingatmu. Aku tak akan pernah melupakanmu.”
“Kyu Hyun. Maksudmu apa?” tanyaku. Air mataku menetes.
“Ki Yeon… gomawoyo.” Kyu Hyun tersenyum.
Pikiranku jadi bingung bercampur aduk. Aku segera meninggalkannya. Aku kembali kerumahku. Aku sungguh tidak mengerti dengan nya. Aku merasa dia memang akan pergi. Tapi, kenapa begitu? Ia belum menceritakan yang sesungguhnya.
Beberapa hari Kyu Hyun tidak masuk. Aku masih tidak berani menemui dia. Suatu pagi disekolah sebelum pelajaran dimulai, aku menerima sebuah surat yang ditujukan untukku. Di amplop surat tertera nama Cho Kyu Hyun. Aku membaca surat itu.
LEE KI YEON
ANNYEONG HASEYO? KAMU MASIH INGAT AKU?
CHO KYU HYUN.
MAAFKAN AKU YANG TELAH MEMBUAT MU MENANGIS WAKTU ITU. AKU TAK BERMAKSUD SEPERT ITU. AKU HANYA MEMBERI TAHU APA YANG SEBENARNYA AKAN TERJADI PADAKU. SAAT KAMU MENERIMA SURAT INI, AKU SUDAH TIDAK ADA. AKU HANYA INGIN BERTERIMAKASIH KEPADAMU ATAS SEGALA KEBAIKANMU. KAMU ADALAH SAHABAT PERTAMAKU. AKU SENANG SEKALI SAAT BERSAMAMU. SEGALA BEBAN DIPIKIRANKU MENGHILANG SAAT ADA KAMU. KAMU ADALAH PENERANG HATIKU. DISAAT AKU MULAI KEHILANGAN CAHAYA SEMANGATKU, KAMU DATANG DENGAN LENTERA HATIMU YANG TULUS ITU SEHINGGA AKU BISA KEMBALI BERCAHAYA. AKU BISA MENIKMATI HARI-HARI TERAKHIRKU DENGAN BAIK. AKU BAHAGIA TELAH HIDUP DIDUNIA INI MESKI HANYA SEBENTAR KARENA ADA KAMU. DAN AKU INGIN KAMU TAHU, AKU MENYUKAIMU.
TERSENYUMLAH
SAHABATMU
CHO KYU HYUN
Air mata sungguh telah membanjiri saat aku membaca surat ini. aku tak menyangka ini akan terjadi. Au tidak tega kehilangan Kyu Hyun. Kenapa aku terlambat berteman dengannya? kenapa tidak dari dulu? Padahal aku sudah mengenalnya sejak dahulu. Kenapa aku begitu lamban? Andaikan aku mengenalnya lebih cepat, aku tak harus merasa kehilangan begitu cepat seperti ini. mungkin, kalau aku mengenalnya lebih cepat, aku bisa menerima kehilangannya.
Aku membalikkan kertas. Di situ ada gambarku. Aku sedang duduk didekat jendela memegang setangkai bunga. Aku ingat bunga ini. bunga ini, bunga yang ia gambar waktu itu. Kyu Hyun, aku tak akan melupakanmu. Aku juga ingin kamu tahu, bahwa aku juga menyukai. Aku bodoh sekali. Kenapa rasa ini baru muncul sekarang.
“Ki Yeon…? Kamu kenapa?” Tanya temanku. Aku tak sadar. Teman-temanku mengerumuniku.
“kalian tahu..” ujarku sambil menangis. “Kyu Hyun meninggal?”
Teman-temanku tampak kaget mendengar hal ini. tapi, mereka akan sekedar kaget saja karena mereka tidak begitu mengenal Kyu Hyun yang sebenarnya.
Aku berlari meninggalkan teman-temanku, meninggalkan kelas, meninggalkan sekolah, untuk gerbang belum tertutup. Aku keluar. Berlari dan berlari meski kelelahan meski menempuh jarak jauh. Aku pergi kerumah Kyu Hyun. Aku masuk kedalam rumah nya. Baju seragamku basah. Rambutku acak-acakkan. Mataku bengkak karena dari tadi menangis. Aku berlari kearah sebuah peti mati yang terdapat foto Kyu Hyun. Disitu ada beberapa orang mungkin saja itu keluarga Kyu Hyun.mereka melihatku. Aku tidak mengenal mereka.
Aku mendekat kearah peti. Aku sungguh-sungguh syok. Aku tak menyangka ini benar-benar terjadi. Ini bukan bohongan. Ini sungguh-sungguh terjadi.
“Kyuhyun..” panggilku. Bodoh sekali aku. Mana mungkin ia akan mendengarku. Aku keluar lagi dari ruangan itu. Aku tahu, Kyu Hyun tidak ada lagi disitu. Aku tahu jiwa Kyu Hyun yang sebenarnya, masih tersisa di kamarnya.
Aku berjalan menuju kamarnya. Aku menemukan beberapa lembar kertas di meja yang ternyata semuanya adalah gambar wajahku. Semuanya gambarku, dengan berbagai ekspresi.
Aku mengambil kertas-kertas itu. Aku duduk di bangku di samping jendela tempat ia biasa duduk. Aku menemukan setangkai bunga tereletak dijendela. Bunga yang sudah kering. Bunga yang itu, bunga yang ia gambar.
“Ki Yeon..” aku seolah mendengar suara Kyu Hyun. Aku mendiamkan diriku. Mendengar suara jiwa Kyu Hyun yang masih tersisa diruangan ini.
“aku tak pernah menghilang…”
THE END

Love You Like Crazy

Posted: April 1, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae

Title : Love You Like Crazy

Category : PG-15, Teenager, One Shoot

Genre : Comedy Romantic

Cast :

Kim Chi Yeon

Choi Si Won Super Junior as Si Won
Other cast:

———————————————————————————————————

“Kita putus.”
Putus. Pergi. Ini sudah ke dua belas kalinya aku diputusi pacarku. Ya Tuhan! Apa yang salah dengan ku? Aku ganteng, tinggi, macho, pintar, kaya, udah gitu aku ini pemegang sabuk hitam taekwondo. Aku juga orang yang setia dan romantis pada wanita. Tapi kenapa semua kisah percintaanku selalu gagal !? lebih sialnya lagi, mereka yang memutuskanku!!! Tuhan! Kalau memang aku belum menemukan seseorang yang tepat, tolong kirimkan aku seseorang yang tepat untukku! Sekarang juga!!
“BUUK!” seseorang menabrakku dari samping. Mengganggu saja! Aku lagi berdoa nih.
“Maaf.” Ujar orang itu sambil menunduk.
“Huh.” Keluhku kesal.
“Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Ujar orang itu. Dia mengangkat kepalanya dan….
Oh My God!! Cantiknya! Siapa wanita ini? Aku belum pernah melihat gadis secantik ini. Luar biasa! Tuhan, kalau dia memang orang yang tepat yang kau berikan padaku, tolonglah buat aku lebih dekat dengannya.
Sungguh, aku hanya bisa bengong memandangnya. Tuhan, inilah pertama kalinya aku percaya bahwa keajaiban itu memang ada. Thanks God!
“Ehmm.. Permisi.” Ujar gadis itu.
“Ah!” aku tersadar dari khayalanku.
“Maaf ya, kak!”
“Ah.. iya! Tidak apa-apa kok!” jawabku.
“Terima kasih. Saya pergi dulu ya.” Ujarnya lalu pergi meninggalkanku disini yang tak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Oh, senyumnya yang manis, indah, oh.. getaran yang kurasakan ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku merasa sangat nyaman. Tuhan! Semoga aku bisa bertemu lagi dengannya. Oh, tidak! Aku lupa minta nomor hp-nya. Bodoooh~

Aku Choi Si Won. lelaki muda yang menawan tapi selalu gagal dalam kisah percintaannya. Semua pacarku, maksudku mantan-mantanku hanya menyukai fisik dan uang yang kumiliki untuk dipamerkan. Setelah bosan aku akan dibuang. Wanita memang kejam. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ya, karena aku merasa aku belum menemukan yang tepat. Tetapi, kejadian yang kualami sore tadi sungguh suatu keajaiban. Rambut panjang lurus, mata yang indah, senyum tulus, inilah keajaiban yang aku dapatkan. Tapi sialnya aku melewatkan satu kesempatan besar yang kumiliki yaitu meminta nomor hp-nya. Ya, dengan itu aku bisa menghubunginya, PDKT dengannya dan memenangkan hatinya. Tuhan~ Tolong aku!
Malam berlalu tiba dengan pagi yang disambut cerah matahari. Saatnya memulai aktivitasku menuntut ilmu di SMA Hansae. Kubuka pintu kelas dan melangkah masuk. Segera menuju ketempat dudukku dan meletakkan tasku. Kusandarkan badan dikursi dan.. hey? Sejak kapan aku duduk berdua disini? Dalam satu meja. Yang aku tahu, aku duduk disini, dikursi paling belakang, paling sudut dan sendiri. Sejak kapan aku punya teman sebangku? Apa ini hantu disudut kelas? Haha! Takhyul!
Lebih baik kupastikan sekarang. Seorang gadis berambut panjang lurus lagi terlelap disebelahku. Ok, aku akan mulai mencoleknya pelan-pelan.
“Hmm, permisi..”
“Ah!” orang itu kaget. Ia segera merapikan rambutnya yang acak-acakan.
“Maafkan aku.” Ujarku.
“Ah, maafkan aku juga…” ujarnya sambil mengalihkan wajahnya pada ku.
HAAH!!!?? I… inikan gadis yang kemarin sore berpapasan denganku! Gadis dengan senyuman manis itu! Thanks God! Kamu selalu mengabulkan permohonanku. Baiklah, aku akan mengambilkan kesempatan kali ini. Si Won! Fighting!
“Hai. Selamat pagi.” Sapaku.
“Selamat pagi juga.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
Ups! Sepertinya aku akan segera mimisan. Ayo lanjut, Si Won!
“Hmm. Anak baru ya?” tanyaku.
“Oh iya. Kenalkan saya Chi Yeon. Kim Chi Yeon.” Ujarnya.
“Sa.. saya Choi Si Won.”
“Saya baru pindah kekota ini kemarin. Ngomong-ngomong, saya boleh duduk disini kan?” tanyanya.
“Oh, begitu… gak apa-apa kok.” Jawabku. Tentu saja boleh. Aku malah senang tahu! Tuhan! Aku harus mendapatkan hatinya!
Aktivitas disekolah terasa sangat menyenangkan. Chi Yeon anak yang baik dan ramah, dan juga selalu tersenyum. Dia benar-benar cantik. Bel pulang sekolah berbunyi bertanda aktivitas di sekolah pada hari ini telah berakhir. Tapi tidak dengan ku karena aku masih harus menyelesaikan tugas essayku yang harus dikumpul hari ini. Aku lupa mengerjakannya kemarin jadi harus buru-buru sekarang deh.
“Ah~ selesai deeh..”
Ku bereskan barang-barangku dan beranjak menuju pintu keluar.
“Kreek!” pintu kubuka.
“Waaaaa!” aku kaget sekali karena tiba-tiba ada orang didepanku.
“Haii..” ternyata itu Kim Chi Yeon.
“Wah, kamu bikin kaget aku aja..”
“Hehe.. maafkan aku Si Won-ssi.”
“Gak apa kok.” Jawabku.
“oh ya, Si Won-ssi ngapain disini sendirian?” Tanya Chi Yeon.
“Oh aku lagi ngenyelesaikan tugasku. Kalo kamu, ngapain didepan pintu kelas sendirian?”
“Aku mau ngambil buku-ku yang ketinggalan didalam laci.” Jawab nya.
“oh, begitu. Kutungguin deh..” ujarku.
Chi Yeon segera menuju ketempat duduknya yang berada disamping tempat dudukku.
“Ini dia.”
“Kenapa bisa ketinggalan?” Tanya ku.
“hehe.. begitulah.”” Jawabnya.
“jadi, sekarang kamu mau pulang?” tanyaku.
“Iya. Emangnya kenapa?” tanyanya balik.
“ya, kurasa lebih baik aku menemanimu pulang. Inikan sudah sore..”
“apa rumah kita tidak berlawanan arah?” tanyanya.
“rumahku lima blok dari sekolah.” Jawabku.
“lho? Benarkah?” tanyanya.
“kenapa?”
“berarti blok kita bersebelahan. Aku empat blok dari sini..” jelasnya.
“kalau begitu, ayo kutemani..”
“terima kasih. Ayo!”
Senang sekali rasanya berhasil mengajak nya pulang bersama. Sore ini sungguh terasa sangat special. Kami tiba didepan rumah Chi Yeon.
“Ini rumahku..” ujarnya.
“Oh…” rumah yang bagus. Catnya juga tampak nyaman.
“Hmm, Si Won-ssi.. terima kasih sudah mengantarku.”
“Ya, sama-sama…” balasku.
“Sampai jumpa.” Chi Yeon masuk kedalam halaman rumahnya.
“Daaa..”
Oh Tuhan! Aku gak bakal ngelupain hari menyenangkan ini. Thanks God! Aku jingkrak-jingkrak didepan rumah Chi Yeon.

Esok harinya disekolah..
“Si Won-ssi..” panggil Chi Yeon.
“Ya?” tanyaku.
“Hari ini ayah ibuku mengadakan pesta dirumah untuk merayakan kepindahan kami..” jelas Chi Yeon.
“Oh ya?”
“Ya. Kamu mau datang?”
“aku diundang? Wah.. boleh.” Jawabku.
“Oke. Jam 5 sore ya.”
“Siip!”
Jam setengah enam aku baru datang ke rumah Chi Yeon. Aku merasa agak malu untuk masuk kedalam rumah. Disana banyak orang. Jadi aku memutuskan untuk duduk di ayunan tamannya saja.
“Si Won-ssi!” Chi Yeon mengagetkanku dari belakang.
“Ah, Chi Yeon. Bikin kaget aja.” Ujarku.
“Tidak berniat masuk kedalam?” Tanya Chi Yeon sambil menawarkan minuman dan kue.
“Gak usah..” jawabku sambil menerima apa yang dibawakannya itu padaku.
“Si Won-ssi.. kau tahu?”
“Apa?” Tanya ku.
“Kamu teman ku yang pertama di kota ini..” ungkapnya.
“Hehe… benarkah?”
“Ya.”
“Kurasa aku sudah tahu akan hal ini.” Ujarku.
“Oh ya? Bagaimana bisa?” tanyanya.
“Sejak pertemuan pertama kali kita waktu itu kamu menabrakku di depan sebuah restoran.” Jelasku.
“benarkah?? Oh iya. Itu kamu ya!”
“hehe~ masa gak sadar sih..”
“habis mukamu terlihat lebih menakutkan waktu itu.”
“apaa!!??”
“bercanda kok. Aku juga sudah tahu itu kamu.” Ujarnya sambil tertawa kecil.
“kamu…!!” seruku pura-pura marah.
“haha~ ampun om..”
“om? Kamu bilang aku om? Gak salah?” tanyaku.
“kalau waktu itu aku pantas memangilmu om bukannya ‘kak’.” Jelasnya.
“Kalau sekarang?” tanyaku.
“kalau sekarang sudah bukan.” Jawab Chi Yeon.
“hehe.. so pasti.” Ucapku.

Hubungan kami menjadi akrab. Suatu siang saat sedang pulang bareng, Chi Yeon mengajakku kerumahnya.
“Si Won-ssi, mau kerumahku?” Tanya Chi Yeon.
“Hah? Ngapain?” tanyaku.
“Begini, aku harus membereskan gudang hari ini.”
“Lho, kok kamu?” Tanya ku.
“Iya, ayah-ibuku sibuk mengurus kepindahan kerja mereka. Jawab Chi Yeon.
“Kamu gak menyewa pekerja?”
“ngapain ngeluarin duit untuk menyewa pekerja kalo aku bisa minta tolong kepada teman baikku?” ujar Chi Yeon.
“Oh, oke deh. Nanti aku balik lagi.” Ujar ku setuju.
“Oke!”
“Sampai jumpa!”
Setelah ganti baju dan makan siang aku segera kerumah Chi Yeon. Ternyata Chi Yeon sudah ada di gudang di samping rumahnya. Didalam gudang banyak sekali kardus-kardus bertumpukan dan berantakan. Chi Yeon tampak mulai merapikannya.
“Chi Yeon.” Sapaku sambil masuk kedalam gudang.
“Eh, Si Won-ssi. Sini, bantu aku ngerapikan kardus-kardus ini.” Panggilnya.
“oke.”
Kami berdua mulai merapikan kardus-kardus ini satu persatu. Akhirnya tersisa satu kardus yang harus dirapikan.
“Wah, gak ada tempat lagi.” Ujarku.
“Ada kok..” potong Chi Yeon.
“Dimana?” tanyaku.
“Tuuh~” Chi Yeon menunjuk kearah atas sebuah lemari yang tinggi.
“Tingginya…..” keluhku.
“Yah, dimana lagi?”
“Ya udah. Tapi bagaimana naruh nya? Tinggi banget.” Ucapku.
“hmm.. begini aja!” tiba-tiba Chi Yeon mendapat ide.
“Bagaimana?”
“Kamu menggendong aku lalu aku menaruh kardus ini diatas sana. Bagaimana?” usul Chi Yeon.
“Ide bagus. Ayo kita coba.” Ucapku.
Kami mulai melakukan ide yang disusulkan Chi Yeon. Aku mulai menggendong Chi Yeon pelan-pelan.
“Oke…. Pelan-pelan..” ujar Chi Yeon.
“Kamu jangan banyak bergerak ya…”
“ya.. aku hampir berhasil. Lebih tinggi lagi.” Ucap Chi Yeon. Dia mulai menaruh Kardus diatas lemari. Aku mulai menggendongnya lebih tinggi.
“Yaa.. yaa…”
“Si Won-ssi lebih tinggi lagi..” Chi Yeon berkata.
“Ya…”
“Yaa… “ Kardus mulai diletakkan. Chi Yeon mendorong kardus agar lebih masuk.
“Yaaa..”
“Ya!! Berhasil!!” kamipun berhasil meletakkan kardus itu dengan rapi.
“Waaaa~” tiba-tiba keadaan kami mulai tidak seimbang dan sepertinya kami akan jatuh.
“BUUKKH!!” Aku dan Chi Yeon terbanting kelantai. Chi Yeon menimpaku. Kepalaku terasa sakit sekali.
“Si Won-ssi, tidak apa-apa?” Tanya Chi Yeon.
“Sakit nih. Kamu?”
“Ya aku sih jelas gak apa-apa.. kan ada bantalan, yaitu kamu.”
“Ah~ kamu. Sakit nih badan ku, udah gitu berat ditindih kamu.”
“habis kamu sih, tiba-tiba bergerak.” Ujar Chi Yeon.
“Heh, kok malah nyalahin aku…” ujar ku kesal.
“ya dong, emangnya siapa lagi??” seru Chi Yeon.
“Itu pasti kamu. Kalo kamu bergerak dikit aja, langsung gak seimbang.”
“enak aja! Kamu yang salah!” seru Chi Yeon kesal.
“Kamu, bodoh!”
“Kamu!” seru Chi Yeon lalu mencubit kedua pipiku.
“Adaww~ kamu!!” balasku mencubit kedua pipinya.
“aww~”
Dan terjadilah pertarungan sengit saling mencubit pipi antara aku dan Chi Yeon.
“Aduh~ sakit..” keluh Chi Yeon bangun sambil mengelus-elus pipinya.
“kamu sih, duluan!” aku ikut bangun.
“apa!!??” seru Chi Yeon. “Kamu, yaa!!” Chi Yeon memukul-mukul dadaku.
“Aw! Aw! Sakit, bodoh!” seru ku. Aku segera menahan kedua tangannya.
Tiba-tiba kami berdua terdiam. Mulutku seperti terkunci tiba-tiba. Kami saling berpandangan. Wajah kami dalam jarak yang sangat dekat. Benar-benar dekat. Entah kenapa, wajahku terasa bergerak sendiri mendekatinya. Makin dekat, mendekat, dan..
“Ah!” aku segera menyadarkan diriku.
“Ah..” Chi Yeon tampak ikut kaget.
Astaga Si Won! apa yang akan kamu lakukan barusan!!??? Lebih baik aku segera pulang sekarang.
“Chi Yeon-ssi, kurasa aku mau pulang sekarang nih. Udah ya, daah..” ujarku. Perasaanku tidak tenang, jantungku deg-degan, pikiranku mulai gak jelas.
“Lho? Kamu gak mau minum jus dulu?” Tanya Chi Yeon.
“Ah, gak usah. Sampai jumpa..” “BUUKK!”
“Aduuuhh!” kepalaku kejedut pinggiran pintu ketika aku berbalik.
“Si Won-ssi, gak apa-apa?” Tanya Chi Yeon. Ia tampak bingung denganku.
“Aku gak apa-apa kok. Daah~” aku segera menuju kerumahku. Berlari sekencang-kencangnya. Setiba dirumah aku segera mengunci pintuku rapat-rapat. Aku merasa sangat aneh. Benar-benar aneh. Esok harinya aku tidak bercerita dengan Chi Yeon. Saling menyapa pun tidak. Maafkan aku Chi Yeon, aku hanya sedang merasa aneh. Aku harap kamu mengerti dan aku harap ini segera berakhir.
Aku duduk termenung di meja guru. Sekarang sudah jam pulang. Murid-murid sudah pulang, hanya aku yang belum. aku mencoba menafsirkan apa yang tengah kurasakan ini. Tuhan, jangan bilang kalau aku telah
“JATUH CINTA..” jangan bilang aku telah benar-benar jatuh cinta padanya. Aku memang menyukai dia, mencintai dia, tapi yang barusan ini kurasa ini memang REAL. Tuhan, bagaimana cara aku menyatakan perasaanku ini padanya?
Aku membuka-buka buku daftar siswa mencoba mencari ide. Kulihat biodata Chi Yeon.
“18 JULI??” hah? Ulang tahunnya tanggal 18 juli. 18 juli kan, 2 hari lagi. Apa? Ulang tahunnya 2 hari lagi? Kenapa aku sampai bisa gak tahu ulang tahunnya sendiri?? Tuhan, inikah cara yang kau berikan padaku agar aku dapat menyatakan perasaanku ini padanya?
Kalau memang iya, aku akan menjalankannya karena aku yakin pasti berhasil. Thanks God! Thanks a lot!!

“sehari lagi…” aku terus memikirkan rencana ku ini. Apa hadiah yang pantas kuberikan padanya? Bunga? Simple banget, boneka? Gak seru, buku? Kayak teman SD, i-pod? Pamer banget sih, cincin? Emangnya mau kawin? Kalung? Ah! Iyaaa!! Kalung. Pas sekali. Baiklah, aku akan membelikannya kalung. Tapi, kalung apa? Emas? Kayak tante-tante, kalung biasa? Murahan banget, kalung mutiara? Gak cocok. Aduh! Aku bingung. Ya udah, pulangan ini aku ketoko perhiasan saja.
“Si Won-ssi.” Chi Yeon menghampiriku didepan pintu gerbang sekolah.
“Chi Yeon… “ Oh.. My.. God! Jantungku deg-degan. Perasaan ini mulai lagi. Aku harus pergi sekarang kalau tidak aku akan pingsan disini.
“Si..”
” Chi Yeon-ssi! Maaf ya! Aku ada urusan sebentar! Bye!” aku segera berlari meninggalkan dia.
Aku pergi ketoko perhiasan. Banyak sekali jenis kalung disana. Aku jadi bingung memilihnya. Seorang pramuniaga menghampiriku.
“Permisi, sedang mencari apa?” Tanya pramuniaga itu padaku.
“Ssst! Begini, aku mau memberikan sebuah kalung untuk ulang tahun pacarku tapi aku tak tahu memilih kalung.” Bisikku pada wanita pramuniaga itu.
“oh, begitu. Saya bisa memberikan saran.” Ujarnya.
“Oh ya?”
Pramuniaga itu membuka lemari pajangan itu. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink berukuran tidak terlalu kecil.
“ini…” dia membuka kotak itu. Sebuah untaian kalung menyilaukan mataku.
“waw..” aku tercengang. Bagus sekali.
“rantainya terbuat dari emas putih, liontinnya terbuat dari berlian asli.” Jelasnya.
Aku mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. Kupegang liontinnya yang berbentuk hati itu. Tampak cahaya-cahaya menyilaukan dari berlian.
“Aku beli ini.” Ujarku. Ini pas sekali untuknya!
“Terima kasih.”

Esok hari nya aku mulai merasa sedikit lega. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Bagaimana kalau saat pulangan sekolah? Siip! Hari ini ulang tahun Chi Yeon, teman-teman memberi ucapan. Beberapa dari mereka ada yang memberi kado. Chi Yeon tampak senang sekali hari ini.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera mencari Chi Yeon. Dia tak ada dimana-mana. Kata temannya dia sudah pulang duluan. Pasti ia merasa sedih karena aku tak menegurnya beberapa hari ini. Lebih baik aku segera mengejarnya.
“Chi Yeon!” panggilku. Ia hendak membuka pintu pagar ketika aku menemukannya. Ia menatapku.
“Ada apa?” tanyanya.
“maafkan aku karena aku tidak menegurmu beberapa hari ini dan aku tahu ini terasa lain bagimu. Tapi aku ingin jujur..”
“apa?”
“kamu membuatku gila.”
“hah??” dia bingung.
“bukan begitu. Maksudku, kamu membuatku tak bisa berhenti memikirkan mu. Selalu dan selalu.. memikirkanmu.” Jelasku. Aku segera merogoh kantong celanaku untuk mengambil kado yang akan kuberikan padanya.
“AKU SUKA KAMU.” Ucapku sambil membuka kotak dan menunjukkan kalung ini padanya.
“Haaahh????” Chi Yeon tampak sangat kaget.
“kamu bisa menjawab kapan saja. Oh ya, selamat ulang tahun.” Aku menyerahkan kalung itu padanya. “sampai jumpa..” aku pergi meninggalkan dia yang hanya terpaku melihat kado yang kuberikan. Hehe, aku senang sekali. Thanks God! I did it!!

Esok harinya saat sedang bosan-bosannya mendengarkan penjelasan guru Chi Yeon menyerahkanku sepucuk kertas.
“AKU JUGA” bacaku dalam hati.
Apa?? Maksudnya dia juga menyukaiku? Aku menatapnya. Ternyata ia juga sedang menatapku sambil tersenyum. Aku tersenyum padanya. Yes! Yes! Si Won! kamu telah mendapatkan hatinya!! Yippie!!
Hari-hari berlalu. Sekarang kami telah menjadi sepasang kekasih. Tapi kami belum pernah kencan layaknya yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Akupun mulai memberitahukan ide ini padanya. Ternyata ia sangat senang dengan ide ini. Hari minggu ini kami akan jalan-jalan kepusat kota.
Hari minggu tiba dan aku sedang dalam perjalanan untuk menemui nya. Kami janji akan ketemu ditempat waktu pertama kali kami bertemu. Didepan sebuah restoran. Didepan restoran itu merupakan tempat yang sangat berarti bagi kami berdua jadi kami memutuskan untuk berjanji temu disana saja.

“Si Won!” panggil Chi Yeon yang baru datang.
“Chi Yeon-ah..” panggilku juga yang sudah menunggu disini dari tadi.
“Ayo pergi!” ajaknya. Ia segera menggaet lenganku. Ups! Aku kaget sekali dia tiba-tiba menggaet lenganku ini.
“Ayo…” jawabku gak tersipu.
Kami berjalan bersama seharian mengunjugi berbagai tempat. Kami mengunjungi pusat perbelanjaan, taman hiburan dan berbagai tempat asyik lainnya. Sekarang kami sedang berada di rumah makan siap saji. Sedang menikmati makanan kami. Tiba-tiba seseorang memegang pundakku.
“SiWon-ah!??” seorang gadis peranakan barat berambut panjang bergelombang menghampiri kami. Aku coba memikirkan siapa kah dia.
“Jennifer ya?” tanyaku.
“Ah, tentu saja! Bagaimana kamu bisa lupa!” ujarnya.
Jadi betul. Dia ini Jennifer atau nama Hangulnya Kang Myung Dae, putri dari teman ayahku yang berasal dari Amerika Serikat. Ayahnya adalah pemilik sebuah grup terkenal di Korea Selatan ini, dan ibunya yang asli sini adalah orang penting Korea Selatan. Aku sudah mengenal dia dari kecil karena ayahnya sering membawanya kerumahku. Anak ini sangat manja, nakal, susah diatur, keras kepala, dan suka memaksakan kehendaknya. Aku sangat membencinya. Aku senang mendengar dia sudah ke AS untuk sekolah disana, tapi kenapa dia kembali lagi kesini dan harus berpapasan denganku disini?
“Kamu ngapain disini?” tanyanya seraya duduk disampingku.
“Kamu gak liat, aku lagi makan?” cetusku.
“Oh, by the way, siapa nih? Your girlfriend?” tanyanya dengan sok logat inggris.
“Iya, emang kenapa?”
Jennifer menghampiri Chi Yeon. Dia memperhatikan Chi Yeon sedetail mungkin membuat Chi Yeon tampak kesal. Aku segera menariknya menghindari Chi Yeon.
“Beautiful..” ujar Jennifer.
“Udah deh, kamu ngapain disini?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“lho? Kamu gak tahu? Aku pindah sekolah kesini.” Jawabnya.
“Hah? Kenapa?”
“I miss you, baby…” ujar nya manja.
Bodoh! Apa yang dia katakan sih? Tahu-tahu aku lagi sama pacarku.
“Apaan sih. Chi Yeon, kamu udah selesai makan?” tanyaku ingin segera keluar dari sini.
“hmm, sudah.”
“Kalo begitu ayo pergi..” aku beranjak dari kursi.\
“Lho? Kok cepat sekali!?” Jennifer kaget.
“Bukan kami yang cepat, tapi karena kamu yang lambat datang.” Jawabku kesal. “Ayo Chi Yeon.
Aku meraih tangan Chi Yeon dan membawanya keluar meninggalkan Jennifer sendirian.
“Chi Yeon, masalah tadi gak usah dipikirkan ya?” ujar ku.
“Oh iya, gak apa-apa kok. Ngomong-ngomong siapa dia?” Tanya Chi Yeon.
“Yah~ dia putri teman ayahku dari Los Angeles. Dan aku sangat membencinya.” Jawabku terus terang.
“lho kenapa?” Tanya Chi Yeon.
“Habis nya dia menyebalkan sekali.” Jawabku.
“kalian sudah saling kenal dari dulu?”
“Iya. Ah, sudah ah ngebahas orang itu. Kita kemana sekarang?” Aku mengalihkan perhatian agar tidak membuat Chi Yeon kepikiran mengenai orang bodoh itu.
Huh, kenapa dia harus muncul disaat kami sedang bersama sih!
“Kita nonton bioskop yuk!” ajakku.
“Hmm, nonton apa?” Tanya Chi Yeon.
“Makanya, kita lihat dulu yuk!”
“Ayo.”
Aku dan Chi Yeon melanjutkan kencan kami.
***
Di depan rumah Chi Yeon.
“SiWon-ssi, terima kasih sudah mengantarku.” Ujar Chi Yeon tersenyum manis diterangi lampu jalan yang ada di samping kami.
“ya, sama-sama..” jawabku. Kami saling bertatapan.
Sebuah ciuman singkat selamat malam ku daratkan dibibir Chi Yeon yang kecil dan lembut.
“selamat malam.” Ujar Chi Yeon tersenyum sambil menggenggam kedua tanganku.
“selamat malam.” Jawabku tersenyum. Ia melepas genggamannya dan membuka pagar lalu masuk kedalam lingkungan rumahnya.
SiWon.. ini kencan terindah pertama kalinya dalam hidupmu! Tuhan! Terima kasih banyak! Benar-benar terima kasih Tuhan!

Memulai pagi ini dengan kegiatan belajar di SMA HANSAE. Kukira awalnya akan tenang-tenang saja. Tidak, setelah Jennifer pindah kesekolahku. Sialan! Kenapa dia datang lagi menggangu hidupku!? Cukup sudah sepanjang kehidupan sekolah dasarku kuhabiskan dengan gangguannya itu. Tuhan! Kenapa harus diulang lagi? Lagian apa tujuan nya pindah kesekolahku? Dia kan bisa bersekolah ditempat lain yang lebih cocok dengan standar anak-anak peranakan barat seperti dia. Tapi untunglah ia beda kelas dengan ku. Tapi dia tetap saja menggangu. Aku yakin! Pasti dia akan menggangguku!

“SiWon!!” panggil Jennifer ketika aku dan Chi Yeon sedang berada di kantin.
“Apa kubilang..” ujarku dalam hati.
“Chi Yeon, ayo pergi.” Aku mengajak Chi Yeon pergi.
“Lho, SiWon-ah mau kemana??” Tanya Jennifer.
Begini hari-hari kami setiap didatangi Jennifer. Chi Yeon angkat bicara karena bosan melarikan diri seperti ini terus.
“Kenapa kamu tidak mau ngobrol baik-baik dengannya?” Tanya Chi Yeon.
“bukannya tidak mau..” jawabku.
“tapi?”
“Ya, aku hanya takut dia akan mengganggu hubungan kita. Itu aja kok.” Jawabku
“apa dia pernah mengganggu hubunganmu dengan orang lain sebelumnya?” Tanya Chi Yeon.
“Aduh Chi Yeon, bukan begitu. Tapi dia itu suka mengganggu aku sejak dulu. Aku takut kali ini ia akan mengganggu hubungan kita..” jelasku.
“begitu.. tapi kasihan juga dia kamu jauhin begitu..”
“gak apa. Habis nyeselin banget sih!” ketusku kesal.
“ya udah, ayo masuk udah bel.”

Beberapa hari ini aku tak mendengar suara Jennifer yang mencari-cariku. Tiba-tiba, saat sedang pulang sekolah sendirian karena Chi Yeon sedang sibuk dengan kegiatan ekskulnya aku dicegat Jennifer di gerbang sekolah.
“Hai SiWon-aahhh..” panggilnya manja.
“ada apa sih!?” ketusku.
“ih, kamu. Kok jahat sama aku… ngomong-ngomong mana pacarmu itu?” tanyanya.
“emangnya apa urusanmu sama dia?” tanyaku.
“Nothin, just asking.” Ujar Jennifer. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan seuatu.
“Do you know who is this?” Tanya Jennifer. Ia menunjukan selembar foto yang tidak kukenal padaku.
“siapa?” Tanyaku bingung tampak seperti seseorang yang kukenal.
“sayang sekali, this is your girlfriend.” Ujarnya. Tidak mungkin, gendut, jelek, jerawatan itu adalah Kim Chi Yeon.
“Maksudmu Chi Yeon?”
“Iya, emang kamu punya pacar berapa?”
“bohong!” seruku.
“kamu tak percaya? Ya sudah.” Ujarnya enteng.
“yang serius!” seruku.
“kamu sih, gak percaya.Comon, kamu tahu siapa aku kan? Aku bisa mencari informasi dengan begitu cepat. Aku bisa mencari dengan cepat dimana sekolahmu,kan? Begitu juga dengan masa lalu Chi Yeon. Itu mudah sekali bagiku. Kamu gak mau foto ini disebarkan, right?”
“apa maumu menyebarkannya!?” aku mulai naik darah dengannya.
“hihihi. Just a little thing.” Ujarnya.
“apa?”
“kamu, menjauh darinya dan jadi pacarku.” Ujarnya. “atau tidak, foto ini menyebar luas diseluruh penjuru sekolah ini.” Ia meninggalkan aku yang terpaku disini.
Bagaimana ini? Apakah itu benar-benar Chi Yeon? Apa yang harus kulakukan? Terima begitu saja persyaratannya? tapi, bagaimana dengan perasaan Chi Yeon? Aku tak ingin melukai perasaannya tapi aku juga tak mau rahasia ini tersebar. Tuhan, tolong beri jalan padaku.
***

“baiklah aku terima.” Ujarku pada Jennifer. Kami tengah berada diatap sekolah. Udara segar berhembus menerpa rambutku.
“Wah, SiWon-ah baik deh. Mulai sekarang, you are mine~” grrr! Bikin kesal aja deh. Milikku-milikku apaan!!? Tipikal wanita seperti ini yang sangat tidak kusukai. Ah~ sabar.. sabar.. SiWon.. ini Cuma cobaan yang diberikan Tuhan padamu. Fighting SiWon!!

Kurasa aku jangan dulu memberitahu Chi Yeon agar masalah tidak makin rumit. Maaf Chi Yeon, aku harus menyimpan rahasia dari mu yang kedua kalinya. Sungguh, aku tak bermaksud seperti ini padamu. Aku tak ingin ada rahasia diantara masing-masing. Aku ingin kita berdua bisa terbuka satu sama lain. Tapi, kali ini aku benar-benar minta maaf. Setelah ini tak ada lagi rahasia diantara kita. Aku yakin. Tapi Chi Yeon, kali ini tolong bertabahlah sedikit.
Aku memandang handphoneku aku jadi terpikir, akankah ia mengangkat telepon jika aku menelponnya saat dia tahu aku bersama wanita lain? Akankah ia menelponku? Akan masih adakah namaku di list contact personnya? Masih adakah?
Ah, SiWon, jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi. Siapa tahu besoknya, Jennifer berubah pikiran. Ah, sepertinya gak mungkin atau tiba-tiba ia kehilangan fotonya? Atau bisa saja file-file computernya temakan virus. Semoga saja!

“Honey, lihat deh. Lucu,kan gambarnya?” Jennifer menunjukkan sebuah buku padaku.
Kami berdua sedang duduk di sebuah bangku disamping taman sekolah. Sekarang jam istirahat dan aku berharap hal ini tidak diketahui oleh Chi Yeon. Ah~ pasti akan ketahuan…
“iya.. iya bagus.” Jawabku kesal.
“ih, Honey. Kok kasar gitu sih.. kusebarin nih..” ancam Jennifer dengan nada manja.
“iya.. bagus.” Jawabku dengan nada pelan. Huh! Dasar licik.
Aku masih belum bisa mengatakan alasanku padanya. Bagaimana perasaannya nanti? Kalau aku menolak permintaan Jennifer dan foto itu tersebar?

“Astaga!” aku menyadari ternyata Chi Yeon sedang melihatku. Aku meletakkan buku yang ditunjukkan Jennifer dan melepas genggamannya. Tak kusadari ternyata ia sedang mengamatiku dari jendela kelasnya yang mengarah ke taman tempat kami berada.
“Ada apa, SiWon-ah…” ujar Jennifer.
“Ah, gak ada apa-apa..” aku mencoba bersikap biasa kepada Jennifer. Bisa gawat kalau dia marah. Aku memandang kearah Chi Yeon dengan perasaan galau. Maaf ChiYeon. Maaf.

Seminggu berlalu. Hari ini Chi Yeon masih tidak masuk sekolah. Sudah 3 hari ini ia tidak masuk sekolah. Apa jangan-jangan ia sakit? Apakah aku bisa menjenguknya?
“permisi..” aku menyapa beberapa anak perempuan yang biasa akrab dengan Chi Yeon.
“kamu tahu kemana Chi Yeon beberapa hari ini?” tanyaku.
“lho? Dia, bukannya dia pindah?” ujar seseorang dari mereka.
“Hah? Benarkah?” aku tercengang. “pindah sekolah?”
“tidak hanya itu, ia juga pindah rumah. Katanya ia pindah ke rumahnya dulu karena ayahnya dipekerjakan kembali ditempat semula.” Jelas anak itu.
“ah? Kapan ia pindah?”
“katanya hari ini baru mereka pindah. Tapi barang-barang mereka sudah diangkut duluan.”
“haah??”
“lho? Kamu pacarnya, kan? Kok tidak tahu, sih?”
Aku hanya terdiam.
“oh iya, kulihat sebelum ia tidak masuk, ia terlihat sangat sedih selama beberapa hari? Apa kalian bertengkar?” Tanya yang lain.
“ah, begitulah..”
“lebih baik kau menyusulnya sekarang..”
“ah, terima kasih banyak.” Aku segera meninggalkan mereka. Aku harus pergi menemuinya. Kurasa ini saatnya ini aku memberitahunya yang sebenarnya.
“SiWon. Ada apa terburu-buru?” Tanya Jennifer menghampiriku.
“menemui Chi Yeon.” Jawabku.
“lho? Kita kan sudah janji. Atau kamu mau foto ini disebarkan?” Tanya Jennifer sambil menunjukkan foto Chi Yeon.
“ah!” Jennifer kaget karena tiba-tiba merebut foto itu. Dengan segera kurobek foto itu hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.
“foto ini asli atau tidak, tapi kalau kamu berani menyebarkannya, KUBUNUH KAMU!” ujarku penuh serius.
Jennifer terdiam mendengar ancamanku. Kesempatan ini kuambil dengan melanjutkan perjalananku kerumah Chi Yeon. Melalui pintu belakang aku keluar dari sekolah. Berlari sekuat tenaga menuju rumah Chi Yeon. Aku harap ia belum pindah atau aku akan menyesal seumur hidupku.

“Bruum..” kulihat sebuah mobil sedan yang kutahu milik ayah Chi Yeon sudah melaju meninggalkan rumahnya. Pintu dan jendela rumah mereka tertutup dan didepan tampak kosong. Oh, tidak. Mereka sudah pergi.

“Chi Yeon!” Aku mencoba mengejar mobil itu.

“ah~ uh~ Chi Yeon!”

“Chi Yeon!”

Mobil itu terus melaju meninggalkanku. Aku tak mampu mengejarnya. Aku berhenti.

Ah~ Tuhan. Maafkan atas segala kebodohanku selama ini. selamat tinggal Chi Yeon. Aku terduduk dijalan meratapi perginya mobil itu.
Selamat tinggal Chi Yeon. Dimanakah aku harus mencari mu sekarang??
Tak terasa air mataku menetes.

Chi Yeon..

“SiWon?” seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku kaget karena sepertinya aku tahu suara siapa ini. aku menoleh kebelakang.
“Chi Yeon!!??” seruku kaget. Chi Yeon memakai baju biasa dan memegang payung.
“Apa yang…”
“Chi Yeon!” aku segera memeluk Chi Yeon. Betapa senang diriku karena ternyata Chi Yeon belum pergi.

“SiWon-ssi? Apa yang kamu lakukan panas-panas begini didepan disini? Kamu gak pergi sekolah?” tanyanya.
“Tidak. Chi Yeon, maafkan aku. Sungguh aku tak maksud berbuat begini. Aku diancam oleh Jennifer untuk menjauhi mu supaya…” aku terhenti. Aku tak sanggup melanjutkan.
“supaya?” Tanya Chi Yeon tampak penasaran.
“Su.. supaya ia tidak menyebarkan fotomu..” jawabku jujur.
“fotoku? Foto apa?” tanyanya bingung.
“begini..” aku menceritakan keseluruhan kejadian kepadanya. Aku tak mau lagi berbohong padanya atau kisah cinta ku kali ini benar-benar akan hancur.

“benarkah begitu?” Tanya Chi Yeon kaget sesudah mendengar kesuluruhan ceritaku.
“ya, maafkan aku juga telah melihat wajahmu yang dulu tapi tenang saja..”
“SiWon..” potong Chi Yeon.
“a.. ya?”
“kamu masih menyukaiku, kan?” tanyanya tampak serius.
“a.. tentu saja!” seruku. “kau tahu, bagaimanapun kamu, akan selalu menjadi yang paling cantik bagiku. Dan aku akan tetap menyukai. Aku cinta kamu.”
Bssh~ pipiku terasa hangus terbakar. Aku tak pernah jujur seperti ini sebelumnya. Aku malu sekali.
“percayalah!” ujarku.
“aku percaya kok.” Jawab Chi Yeon tersenyum.
“benarkah?” tanyaku.
“iya. Aku percaya. Buktinya, mukamu sampai memerah tuh..” ujar Chi Yeon seraya tertawa kecil.
“Ah, Chi Yeon~” aku merasa malu. “pipimu juga memerah kok.”
Ah, SiWon, kamu memalukan sekali.

Chi Yeon memelukku. Kami saling berpandangan. Kami saling tesenyum. Ditutupi payung, kami berciuman.

THE END

# Side Story

Seminggu sejak hari itu. Jennifer pindah lagi ke Amerika Serikat karena takut dengan ancamanku waktu itu. Pagi ini pelajaran belum dimulai. Aku hanya duduk terdiam dibangkuku sendirian. Tak ada Chi Yeon disampingku. Aku duduk sendiri dipojokan kelas seperti dulu. menjalani hubungan jarak jauh ternyata kurang menyenangkan.
Ah, SiWon. Jangan cengeng begini dong. Kamu kan sering menelponnya tiap malam.
Bel berbunyi. Semua murid masuk kekelasnya masing-masing.

Bapak wali kelas kami masuk.
“Selamat pagi. Hari ini kita kedatangan murid baru. Sungguh tiba-tiba padahal sebentar lagi ulangan kenaikan kelas.” Ujar Bapak itu.
“wah, bagus. Setidaknya aku akan ada teman disampingku.” Pikirku dalam hati.
“tapi murid baru ini sudah pernah bersekolah disini beberapa waktu lalu. Juga didalam kelas ini.” sambung bapak lagi.

dikelas ini? siapa? Jangan-jangan…

“Kim Chi Yeon, silahkan masuk.” Ujar bapak itu.

APA!? Kim Chi Yeon!!?? Aku tercengang.
Ternyata benar. Itu Chi Yeon ku. Tapi kenapa diaa….??

Dia menatapku sambil tersenyum. Aku yang kaget hanya bisa tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Bukannya dia sudah pindah? Kok balik lagi?? Kenapa dia tidak memberitahuku sebelumnya?

“Chi Yeon, kamu duduk ditempat mu dulu ya.” Ujar wali kelas.
Chi Yeon duduk menghampiriku. Ia tersenyum padaku. Wajah yang sangat kukenal. Senyum yang sangat kukenal. Ini benar-benar dia.

“WUHOOO~!!!” tiba-tiba semua murid bersorak. “Yeee!!”

Ada apa? Aku bingung dengan mereka. Mereka semua melihat padaku dan Chi Yeon. Ada yang mengancungkan jempol padaku. Aku jadi benar-benar bingung.

“kenapa kalian menyoraki ku tadi?” tanyaku pada temanku saat jam istirahat.
“kamu belum tahu?’ Tanya temanku itu.
“apa?” aku bingung.
“sebentar” ia memencet-mencet handphonenya dan menunjukkan sebuah video padaku.
“nonton nih.”

“WAAH~” bukan main tercengangnya aku ternyata itu rekaman video saat aku bertemu dan meminta maaf pada Chi Yeon sebelum dia pindah.

Dia akhir rekaman ada sebuah tulisan “By : Jennifer”

“Jennifer!” seruku kesal. “jadi ini ulah mu ya!!??”

***

[Jennifer’s P.O.V]

“foto ini asli atau tidak, tapi kalau kamu berani menyebarkannya, KUBUNUH KAMU!” ujar SiWon penuh serius.
Aku terdiam mendengar ancamannya. Seumur hidup SiWon-ah tidak pernah sekasar ini padaku. Sepertinya kali ini dia benar-benar serius. Ia merobek foto itu. Padahal itu foto yang terakhir. File foto itu kusimpan di dalam flashdiskku dan sudah termakan virus tanpa kusadari.

Dia berlari meninggalkanku. Karena penasaran akupun mengikutinya. Huh, capek sekali harus mengejarnya. Larinya sungguh kencang sekali. Dari dulu SiWon-ah memang jago lari. Bajuku sampe berantakan ngejar dia karena takut kehilangan jejak.

Aku melihat SiWon berhenti didepan sebuah rumah menatap sebuah mobil pergi. Ia mengejar mobil itu sambil meneriakkan nama Chi Yeon. Huh! Ternyata ia mengejar Chi Yeon yang sudah pergi. Apa bagus nya sih, anak itu?
Lebih baik kurekam saja kejadian ini. lucu nih, kayaknya.
Aku mulai merekam mereka dengan handphoneku.
Eh, SiWon-ah kok duduk di jalan kotor? Bangun!
Eh, siapa itu yang pake payung warna biru? Ia mendekati SiWon-ah ku!
“Chi Yeon!?” SiWon-ah tampak memeluk orang didalam payung. Apa? Chi Yeon? Itu Chi yeon? Bukannya dia sudah pergi?

Huh lama banget sih. Mereka ngobrol apa? Panas-panas begini. Sialan! Bodoh sekali aku mengintip mereka. Eh? Mereka ngapain itu? Kok jadi rapat sekali? Apa mereka BERCIUMAN!!??

Ah!! Tidak! SiWon milikku!!
Aku berlari meninggalkan mereka.
Sialan kamu SiWon-ah. Telah menghancurkan perasaanku.
Huh, aku akan menyebarkan rekaman ini pada teman-temanmu biar kamu malu.
Lalu aku akan kembali ke L.A lagi dan tidak akan mengganggu mu lagi. Puas kamu!?
Apa ini? air mata? Aku menangis? Bodoh~
Ah, lebih baik aku balik kesekolah sekarang. Aku jadi tambah kesal melihat mereka.

***