Never say good bye

Posted: September 5, 2010 in Teenager

Rio adalah teman terbaik yang pernah kumiliki. Sayang, dia tidak ada lagi disampingku. Kehidupan bersama kami berakhir ketika hendak masuk ke tingkat SMA. Teman yang selalu menghiburku, menemaniku, teman yang selalu cemburu padaku ketika aku bermain dengan temanku yang lain, teman yang usil, teman yang perhatian, semua itu adalah Rio.
Rio yang kukenal sejak aku TK, tak akan kulupakan sampai aku tua dan mati nanti. Sekarang aku sudah berumur 26 tahun dan bekerja. Dihari minggu yang hujan ini, sambil meminum cokelat panas, aku membuka album fotoku dan mengenang kembali kenanganku dengan Rio.
Suatu hari di masa SMP-ku, di senin pagi yang cerah ini, kubuka pintu jendela kamarku yang berada dilantai dua rumahku. “BUUK!!” sandal tipe laki-laki ini tiba-tiba melayang ke mukaku.
“Aduh!” aku meringis kesakitan. “Rioooo..!” aku memanggil namanya. Aku sudah tahu pasti ini ulah tetanggaku itu.
“BRAAK.” Pintu kamarku dibuka kasar.
“Apa!!?” seseorang berkata dari belakangku. Aku berbalik.
“Rio! Pasti itu ulahmu! Kenapa sih ?” tanyaku.
“Nanya segala lagi. Ayo kesekolah.” Ujar Rio. Dia sudah mengenakan seragam lengkap dengan tas sekolahnya.
“Tapi, ini masih jam 6 pagi!!? Kamu mau sekolah bareng kambing, ya??” ucapku kesal.
“Bodoh, nungguin kamu tuh lebih lama dari pada nungguin nenekku jalan dari pasar kerumah. Ini! Cepat mandi.” Rio melemparkan handuk padaku.
“Dasar. Selalu saja begini tiap hari.” Cetusku.
Jam setengah 7 aku meluncur kesekolah bersamanya dengan sepeda menjengkelkannya. Bagaimana tidak? Punya sepeda tidak ada boncengannya. Sudah modelnya sepeda laki-laki begini, terpaksa aku duduk didepan di batang besi ini. Sungguh menyakitkan!
“Mukamu jangan cemberut begitu dong tiap hari.” Seru Rio lalu menunjukan senyumnya yang aneh itu.
“Gimana enggak, kamu sudah kubilangin pasangin boncengan untuk sepedamu, tapi kamu gak pernah dengar! Sakit tahu harus duduk dengan gaya seperti ini.” Ujarku dengan jengkel.
“iya, nanti.” Jawabnya singkat.
“nanti-nanti sampai kapan? Huh.”
“Cerewet.” Ucapnya. Tiba-tiba dia melajukan sepedanya.
“Hei! Waa… pelan-pelan.” Aku berpegangan padanya ketika dia melajukan sepedanya. Tubuhku terasa bergerak-gerak mau jatuh.
“Hahahahaha… rasain tuh. Pegangan yang kuat.” Ujarnya. Tiba-tiba dia menambah lagi laju sepedanya
“Waaa…!!!” aku berpegangan kuat padanya.
Sesampainya disekolah kami langsung menuju kekelas kami. Tadi sungguh perjalanan yang ekstrim untukku. Kelasku dan dia sama yakni kelas 2-2. tempat duduk kami juga bersampingan. Kadang, senang juga bisa duduk bersampingan dengannya. Tapi ada juga gak enaknya, karena sering dijahili.
Sejak pertama kali aku mengenalnya, dia memang sudah nakal begitu. Dia memang suka menjahili orang. Aku juga sering dijahilinya. Tapi, anehnya bila aku dijahili oleh orang lain selain dirinya, Rio akan segera memarahi orang itu. Setelah itu membawaku ke UKS dan menanyakan keadaanku. Sungguh aneh sekali.
“Minggu depan aku mau jalan-jalan ke pusat kota. Aku ada urusan penting. Kupikir lebih baik segera kulakukan sebelum ulangan kenaikan kelas.” Ujar Rio kepadaku saat kami pulang sekolah bersama. Dia mendorong sepedanya, kami berjalan melewati gang kecil menuju rumah kami. “Mau ikut?” tanyanya.
“Mau!” sahutku.
“Dasar, kalau masalah jalan-jalan pasti kamu mau. Tapi, kalau masalah belajar, yaahh.” Ejeknya.
“Dasar kamu! Ya udah aku gak jadi ikut!” seruku lalu berjalan lebih cepat meninggalkannya.
“Aini!” panggilnya lalu berjalan menyusulku. “Aini, maaf deh. Ayo, ku bonceng dengan sepedaku.”
“Gak mau. Gak nyaman.” Jawabku.
“Lihat nih.” Dia menunjuk kearah bola belakang sepedanya. Aku menoleh. “Aku pasang ini.”
Dia memasang tempat injakan.
“Itu dari mana?” tanyaku.
“Kudapat dari temanku. Ayo! Mungkin lebih nyaman dari yang semula.” Ujarnya.
Kami meluncur dengan sepedanya. Lumayan nyaman tapi lumayan mengerikan juga. Aku kelihatan tinggi sekali. Padahal kakiku hanya sekitar 40 cm dari aspal.
1 minggu berlalu, sekarang hari minggu dan saatnya kami jalan-jalan kepusat kota. Kami berangkat pukul 10 pagi pada hari minggu dengan bus way.
“Kemana?”Tanyaku padanya.
“Aku mau ke tempat pengiriman barang.” Jawabnya.
“Oh, lalu habis itu kemana?” tanyaku lagi.
“Ke mall, gimana?”
“Oke.”
Kami turun dari bus way dan pergi ketempat pengiriman barang. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Benda itu terlihat seperti kotak kecil dan dibungkus dengan kertas kado warna-warni. Aku penasaran apa isinya.
“Kamu mengirim apa dan buat siapa?” tanyaku setelah kami keluar dari tempat pengiriman barang.
“Bukan apa-apa dan bukan untuk siapa-siapa.” Jawabnya.
“Hah? Kok bisa?” aku bingung dengan jawabannya.
“Nanti kamu juga tahu.” Ujarnya.
Kami pergi kemall yang berada dekat dari lokasi yang pertama kami tujui. Kami singgah makan di restoran siap saji. Untung, aku ditraktir Rio. Karena aku tidak membawa uang.
“Setelah ini kita ketoko CD. Aku mau membeli CD barunya Super Junior.”
“Super Junior? Emang dijual disini?” tanyaku.
“Ya iyalah. Ayo!!!” serunya.
Ia mengajakku pergi dari restoran. Kami menuju sebuah toko CD yang berada dilantai 3 mall ini. Kami memasuki toko itu dan menanyakan letak CD yang kami cari.
“Ini CD asli?” tanyaku setelah kami keluar dari toko itu.
“Ya iyalah. Kalau tidak, mengapa aku harus mengeluarkan uang tiga ratus ribuku ini, hah!!?” serunya.
“Oh…”
Kami pulang kerumah. Dia mengajakku kerumahnya.
“Buat kamu.” Ujarnya sambil memberikan CD yang ia beli.
“Apa kamu gila? Ini kan kamu yang beli.” Aku kaget ketika dia mengatakan hal itu.
“Kamukan suka Super Junior.” Ujarnya.
“Tapi..”
“Aku masih punya satu. Aku beli dua kok.” Dia tersenyum.
“Terima kasih.” Jawabku.
Malam tiba dan aku sedang mengerjakan PR-ku dimeja belajar.
“Selesai juga!” aku mengatur bukuku kedalam tas.
Tiba-tiba aku teringat tentang CD yang Rio berikan padaku siang tadi. Aku mengambil CD itu dari dalam lemariku. Aku memasukkannya dalam tape-ku. Kunikmati lagunya sambil membaca komik ditempat tidurku. Lagu berjudul Marry U ini sungguh bagus. Tapi sayang, aku tidak tahu artinya, karena lagu ini berbahasa Korea.
Aku ketiduran sementara lagu ini tetap dimainkan tape-ku hingga pagi.
Paginya aku kaget dengan keadaan ini. Kalau ibuku tahu, aku sudah di marahinya.

Seminggu berlalu, sekarang saat ulangan kenaikan kelas sudah tiba. Aku sudah mempersiapkan diriku dengan baik. Sekarang, aku siap bertempur!
Aku tertawa dalam hati melihat wajah Rio yang tegang sekali. Sepertinya dia tertekan sekali saat ini. Aku mendatanginya.
“Santai aja.” Ujarku padanya sambil menepuk bahunya.
“Ya.” Jawabnya singkat.
Aku menjawab soal dengan pelan-pelan sementara keringatku mengalir deras.
“Sabar…” ucapku pelan.
“Gimana?” tanyaku pada Rio ketika kami pulang sekolah.
“Lumayan.” Jawabnya.
“Semangat dong! Kalo gak nanti kamu gak naik kelas!!” seruku.
“iya.. iya..”
Kami meluncur dengan sepedanya. Cukup mengerikan juga menaiki sepedanya ini dengan posisi seperti ini. Tapi lebih nyaman dari sebelumnya.
Aku merasa sangat tidak bersemangat untuk belajar. Padahal ulangan masih berlanjut. Ah… malas.
Kubuka CD Super Junior dari Rio dan kuputar di tape-ku. Aku merasa lebih enak mendengar lagu mereka. Aku pun tertidur dengan lelap sore ini dan terbangun pukul 10 malam. Aku kaget sekali ketika bangun. Belum ada 1 lembar buku yang kubaca. Aduh, aku jadi kalang kabut. Kubaca isi buku pelajaran itu hanya bagian yang penting-penting saja. Lalu, kuatur buku-bukuku.
Mataku masih terasa melek. Aku tidak bisa kembali tidur. Akupun menghibur diri dengan online internet. Kudownload video-video super junior yang terbaru beserta parody-parody mereka. Aku memang penggemar Super Junior sejak kelas 6 SD. Saat itu mereka masih cukup baru.

Seminggu berlalu dan waktu ulangan sudah berakhir. Sungguh lega perasaanku tapi cukup was-was juga mengenai nilai-nilaiku. Mudah-mudahan bagus-bagus semua. Amin.
“Aduh, gimana ya nilai ulanganku.” Aku merasa deg-degan. Hari ini hasil ulangan akan dibagikan dalam bentuk raport. Semua wajah teman-teman sekelasku kelihatan tegang. Sama seperti akan menghadapi ulangan. Ya Tuhan mudah-mudahan aku naik kelas, amin.
“Tenang saja. Pasti naik.” Rio menjawab.
“Iya, tapi nilainya kaya’ mana??” tanyaku.
“Itu sih, tergantung kamu.” Ujarnya.
“Aaahhh…”
Wali kelas masuk kekelas kami.
“Baik anak-anak, bapak akan membagikan hasil ulangan. Murid-murid yang nilainya dibawah standar harus menghadap bapak.” Jelas pak guru.
Buku Rapor dibagikan satu persatu. Aku merasa deg-degan dan tak sabar menunggu buku rapor dibagikan.
Aku segera membuka raporku saat punyaku dibagikan.
Betapa senang perasaanku ketika melihat nilaiku yang membanggakan. Aku naik dari peringkat 8 menjadi peringkat 4 dari 39 murid dikelasku. Sungguh kemajuan yang besar! Padahal aku malas belajar, tapi bisa seperti ini!
“Lihat rapormu dong, Ni.” Rio datang padaku yang memojok di sudut kelas
“Nih. Aku lihat punyamu juga dong.” Pintaku. Rio menyodorkan buku rapornya padaku.
Kami saling melihat rapor kami. Ternyata Rio masih diposisi 2. diakan anaknya pintar. Dia makan apa sih kok bisa sampai pintar begitu? Kadang aku merasa iri dengan prestasinya itu.
“Wah, empat nih..” goda Rio.
“Ah, pamer nih, dua…” ejekku.
“Dasar.” Kata Rio.
“Oh ya, aku punya sesuatu untuk kamu.” Rio memberiku sesuatu.
Aku menerima benda yang ia berikan itu.
“permen?” tanyaku.
“iya, hadiah karena prestasimu.” Jawabnya.
“ah, Cuma permen.”
“mau lebih?” goda Rio
“Apa?” tanyaku.
“Nih..” Rio mencubit pipiku. “Enak,kan?”
“Ampun, mbaaahhh..” aku meringis kesakitan.
Pulang sekolah aku memberitahukan hal bahagia ini pada ibuku. Ibuku merasa senang.
“Hebat.” Puji ibuku sambil membersihkan meja makan setelah makan siang.

Malam tiba, aku merasa sangat mengantuk padahal waktu masih menunjukkan pukul 9 malam. Ini bukan waktu yang tepat untuk tidur, karena sekolah kami sudah libur kenaikan kelas dan kami masuk bulan depan. Aku bisa main sepuasnya sekarang. Tapi sekarang, aku tergeletak dengan keadaan loyo karena ngantuk. Mataku serasa ditaruh lem besi agar tidak bisa terbuka. Akupun tertidur dibuai angin malam yang masuk dari jendela kamarku yang tidak sempat kututup karena malas.
Pagipun tiba, aku terbangun dengan keadaan tidak enak. Badanku sakit semua. Pasti ini gara-gara aku tidur terlalu cepat dari biasanya.
“Aini!” seseorang memanggil namaku dari luar kamar.
“Ya!” aku menyahut.
“Tolong belikan sayur ya ditoko diblok sebelah.” Ibuku masuk sambil memegang beberapa lembar uang.
“Baiklah.” Aku menjawab.
Aku segera mencuci muka dan menyikat gigiku setelah itu langsung pergi membeli sayur sesuai perintah ibuku.
Disana ternyata ada Rio sedang membeli sayur-sayuran.
“Borong nih. Kayaknya sup?” godaku saat menghampirinya.
“Hah?” Rio bingung.
“Kamukan beli daun sop.” Jawabku.
“Mungkin.” Rio mengangkat bahunya.
Kami pulang bareng dari toko sayur.
“Untung sudah libur, ya.” Ujar Rio
“Hahahahahaha” aku tertawa.
“Kenapa kamu?” Rio menyerngitkan dahi melihatku tertawa terbahak-ba

Comments are closed.