Feel the Marsmallow

Posted: April 1, 2011 in general
Tags: , , ,

Author : GAA Tiffany a.k.a Kang Myung Dae

CAST:

Diiryeo”woon a.k.a Lee Hyun Jee

Son Dong Woon –B2ST

Kim Ryeo Wook ¬¬ –SUPER JUNIOR

*************

“Letnan Kim! Apa yang terjadi!!?”

“kapal selam kami menabrak terumbu karang dan sepertinya masuk kedalam sebuah lubang!!” terdengar suara dari alat komunikasi.

“jangan-jangan memasuki lubang terlarang!?”

“Sepertinya begitu. Kami membutuhkan bantuan sekarang! Oksigen sudah mulai berkurang dan air mulai memasuki kapal!”

“baiklah.” Orang itu mengakhiri komunikasi. Ia segera menugaskan beberapa orang untuk menyelamatkan kapal selam tersebut.

“Letnan Kim, perkiraan berapa lama oksigen dapat bertahan?” ia menyambung komunikasi.

“Sepertinya bisa 30 menit.”

“Baiklah.”

“Sebentar, kami telah menemukan dimana letak rudal yang jatuh itu! Ternyata ia memang jatuh di lubang ini!” ujar orang diseberang.

“benarkah!? Tapi kami akan menyelamatkan kapal selam kalian terlebih dahulu.”

“baiklah.”

“Kapal selam bantuan sudah menuju kesana. Bertahanlah kalian disana.”

“ya, pak…” tiba-tiba terdengar bunyi yang tidak jelas.

“Letnan Kim, ada apa!!?”

“Gawat, kapal kami makin tergelincir!”

“Bertahanlah!”

“Waa~ Waa~” bunyi tergelincir mulai lagi. Orang diseberang terdengar ribut.

“Letnan Kim!? Apa yang……!??”

“BUUUMMMMMM!!!!!~”

“ttssssssskkkkkk…~” komunikasi terputus.

*************
Aku Lee Hyun Ji, seorang wanita berumur 25 tahun yang menjabat disebuah rumah sakit besar sebagai seorang dokter internis. aku menjalin hubungan dengan seorang letnan angkatan laut bernama Kim Ryeo Wook. Aku mengenalnya sejak masih kuliah. Dia adalah adik dari salah seorang temanku. Saat itu dia sedang terburu-buru menuju kantornya setelah mengantar temanku ke kampus. Saking terburu-burunya dia, motor yang ia kendarai menyerempet sepeda yang kunaiki menuju kampus. Jadinya aku harus masuk ke rumah sakit selama 3 hari. Tapi, karena itulah aku bisa mengenal dia.. Kami menjadi akrab dan akhirnya kami bisa berpacaran hingga akan segera menikah sekarang.

Mengingat kenangan indah itu, sekarang aku akan segera menikah dengannya. Tepatnya 3 hari lagi. Akhirnya, hal yang sangat kutunggu-tunggu akan tiba juga. Persiapan pernikahan sudah disiapkan. Keluarga ku dan keluarganya sudah mempersiapkan nya sejak lama. Aku juga sempat ikut membantu. Sekarang, diruang kamar ku ini, aku sedang mencoba gaun pengantinku. Gaun yang begitu indah, gaun putih yang bersih dengan kemilau hiasan mutiara-mutiaranya. Aku jatuh cinta dengan gaun ini. aku memandang diriku didepan cermin panjang sehingga aku bisa melihat keseluruhan tubuhku. Aku tampak begitu indah memakai gaun ini. rasanya aku tak ingin melepas gaun itu. Disaat aku sedang asyik berlenggak-lenggok didepan cermin, tak sadar ibu ku telah masuk kekamarku. Dia tersenyum melihat tingkahku.

“i.. ibu!” aku merasa malu dilihat ibuku.

“wah, kamu cantik sekali memakai gaun ini.” ujar ibuku. Ia mendatangiku.

“benarkah?” aku tersenyum. Ibu ku meraih gaunku.

“ya, kamu pasti akan menjadi pengantin tercantik.” Ujar ibu.

“ah, ibu ada-ada aja.”

“dia pasti akan sangat senang melihat mu.”

“tentu saja.”

“jadi, Ryeo Wook akan pulang besok?” Tanya ibu.

“katanya, kalau tidak besok, mungkin lusa. Begitu yang ia katakan padaku.” Jelasku pada ibu.

“dia sedang tugas apa, sih?”

“katanya, ia ada tugas di perairan dengan kapal selam. Tapi tak tahu tugas apa.” Jawabku lagi.

“mudah-mudahan saja dia selamat.” Ujar ibu.

“tentu saja. Ia sudah janji saat sebelum pergi.” Ujarku mantap.

Tiba-tiba terdengar telepon berdering dari ruang keluarga.

“Ibu keluar mengangkat telepon dulu, ya. Mungkin itu ayahmu. dia selalu sibuk mengurus pernikahanmu.” Ibu keluar agak terburu-buru.

Aku tersenyum. Ayahku memang terlihat paling sibuk mengurus pernikahanku. Dia sangat setuju aku menikah dengan Ryeo Wook yang letnan itu. Hari ini ia sedang pergi mengambil pesanan undangan.

“Hyun ji!” panggil ibu dari luar. Tanpa melepas baju pengantin, aku keluar dari kamar.

“Ada apa, bu?” tanyaku.

“aduh, kenapa baju pengantinnya tidak dilepas dulu!?” ketus ibuku.

“iya, nanti aku lepas. Ada apa sih?”

“ini, ada telepon untukmu.” Ibu menyerahkan telepon padaku.

“ingat, habis nelpon langsung dilepas bajunya supaya tidak kotor.” Ujar ibuku lagi.

“iya.. iya..”

“Yoboseyo…” aku menyapa orang ditelepon.

“Yoboseyo? Dengan istrinya letnan Kim?” Tanya orang diseberang.

“Ya, Lebih tepatnya, calon istri.” Jawabku.

“Ya, maksud saya seperi itu..”

“ada apa?” tanyaku.

“Letnan Kim..” tiba-tiba orang itu berbicara dengan nada lebih rendah.

“Kenapa dengan dia?” tanyaku sedikit bingung.

“maafkan saya memberitahukan hal ini kepada anda..”

“Kenapa!?” aku berbicara dengan nada penasaran sekaligus khawatir.

“Dia meninggal…”

Deg! Tiba-tiba hati ku tersentak. Apa yang ia bilang?? Meninggal.? Candaan apa ini?

“Me.. ninggal…??”

“maafkan saya.. tap…”

“Anda pasti bercanda. Ryeo Wook, itu pasti kamu. Tolong jangan buat aku khawatir.” Ujarku tak percaya.

“Maaf nyonya, Letnan Kim memang telah meninggal dalam misinya.”

“APAAAA!!!!???~” pekikku. Aku menjatuhkan telepon. Air mata mulai mengaburkan pandanganku hingga tak terbendung lagi dan jatuh membasahi pipiku.

“Hyun Ji! Ada apa?” ibu segera datang setelah mendengarku berteriak.

“Kamu kenapa Hyun Ji?” ibu memelukku.

Aku hanya bisa menangis keras. Ibu ku meraih gagang telepon.

“sudah di tutup.” Ujar ibu lalu meletakkan telepon.

“ibu…” aku memeluk ibuku.

“ada apa!?” Tanya ibu dengan muka khawatir melihatku menangis terisak-isak.

“Ryeo Wook… hikss..” ujarku sambil menangis.

“Kenapa dengan dia?” Tanya ibuku penasaran.

“Dia meninggal…..”

***
3 hari berlalu. Hari dimana seharusnya aku dan Ryeo Wook sedang mengucap janji pernikahan harus berubah menjadi sebuah acara yang paling menyedihkan.
Aku tak bisa melihat dirinya untuk yang terakhir kalinya. Biarpun tidak melihatnya selagi hidup, tapi aku ingin melihat dia, tersenyum padanya yang dalam keadaan yang tertidur. Tertidur untuk selamanya. Tapi yang kulihat ini, hanyalah makam kosong. Makam yang dalamnya tidak ada apa-apa.

Kenapa ini harus terjadi? Kenapa dia harus pergi disaat hari yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi kami? Kenapa Tuhan begitu tega mengambil dia dariku?
Kalau seperti ini…
kami tak akan pernah mengucap janji bersamanya…
menjadi sepasang suami istri…
menjadi ayah dan ibu yang pertama kalinya..
kami tak akan pernah…
untuk selamanya…

“Ah!!~ Ryeo Wook!!!” aku berteriak sekeras mungkin. Air mataku terus menetes. Mataku sampai terasa pedih.

“Hyun Ji… ayo pulang.” Ibu ku datang. Ia membelai rambutku yang basah karena keringat.

“Tidak mau, bu. Biarkan aku disini. Aku bisa pulang sendiri.”

“tapi nak…” tiba-tiba ibuku berhenti bicara. “baiklah kalau begitu..” lanjutnya.
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ia berubah pikiran seperti itu. Aku tak mau memikirkan itu. Aku hanya ingin memandang makam ini. makam milik calon suamiku, Kim Ryeo Wook.

“Makam itu..” seseorang berkata padaku dari belakang. Suara yang tidak kukenal sebelumnya. Suara laki-laki yang lebih berat dari suara Ryeo Wook. Aku menoleh. Seorang laki-laki tinggi, cakep, dan tampak lebih muda menghampiriku. Ia mengenakan jas rapi. Ia ikut jongkok disebelahku. Ia memberikanku setangkai bunga.

“Apa ini?” tanyaku.

“taruh lah diatas makamnya.” Ujarnya.
Aku meletakkan bunga itu diatas makam Ryeo Wook.
Tiba-tiba air mataku mengucur lagi. Mengingat kepergian dia dengan cara yang tidak menyenangkan ini.

“Aku turut bersedih atas kepergian letnan Kim.” Ujarnya.

“a.. apa dia mengenalmu?” tanyaku yang juga tidak mengenal dia.

“ya, dia pimpinan kami di angkatan laut.” Jawabnya.

“Jadi, kamu juga marinir?” tanyaku.

“Ya.”

“Letnan Kim sosok yang baik hati tapi sangat tegas dan bertanggung jawab. Aku sangat menyukai dia.” Sambungnya mengungkapkan.

“Hiks..” air mata masih belum mau berhenti. Sekali lagi mengucur dengan deras. Mataku bengkak. Air mataku tidak dapat berhenti. Aku tidak bisa melupakan nya.

“Anda tidak apa-apa?” Tanya orang itu.

Aku hanya diam. Tidak menjawab pertanyaannya.

“makanlah ini.” ujarnya. Aku menoleh. Ia menawarkan sebuah permen ditangannya.

“permen apa itu?” tanyaku.

“ini, permen marsmallow. Ambillah.”

“tidak usah, terima kasih.”

“ambillah. Aku yakin permen ini akan mengurangi sedikit kesedihanmu.” Ujarnya.

Bukannya percaya dengan ia katakan tapi aku hanya mengambil permen itu. Aku membuka bungkusnya dan mengunyah permen itu. Lembut di mulut.

“rasanya manis dan lembut, kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

“rasa lembut permen ini membuat kita merasa nyaman dan melupakan kesedihan kita. Rasa manisnya memberi kita semangat agar kita dapat tetap menjalani hari-hari kita dengan baik. Coba pejamkan matamu, dan rasakanlah itu.” Jelasnya.

Aku hanya melakukan apa yang ia bilang. Menghayati permen ini baik-baik dalam mulutku. Mencoba merasakan seperti yang ia rasakan.

Ya, sepertinya yang ia bilang ada benarnya. Rasa lembutnya nyaman. Aku jadi sedikit tenang. Rasa manisnya seperti mengubah ekspresi wajahku dengan sendirinya. Aku tak menangis lagi. Aku tak berwajah murung lagi. Tapi juga tidak tersenyum. Setidaknya aku sudah tidak sedih berat seperti tadi, meski ada sedikit rasa sakit didadaku yang tak dapat diungkapkan, tapi entah mengapa, saat ini dapat tertahankan.

“bagaimana? Betul, kan?” tanyanya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk.

“kalau kamu mau, aku masih punya banyak.” Ujarnya seraya merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan beberapa buah permen marsmallow dan menyerahkannya ke tanganku.

“a…” aku berniat menolak.

“emutlah satu bila kamu merasa emosi tak dapat diberhentikan. Dan rasakanlah ketenangan yang diberikan padamu dari permen ini.” jelasnya.

Aku memegang permen-permen itu. Jumlahnya ada 5 buah.

“apa sebaiknya, kita tidak segera pulang?” tanyanya. “ hari sudah mulai sore.”

Aku berpikir mungkin aku lebih baik pulang sekarang. Aku memandang makam Ryeo Wook. Melihat ukiran namanya disitu. Dalam hati kuucap, selamat tinggal, Chagi.

“Baiklah.” Ujarku.

“kamu naik apa? Aku melihat ibumu sudah pergi tadi.” Ujarnya.

“aku bisa naik bus.” Jawabku.

“tapi, kamu masih harus jalan sekitar 100 meter kedepan untuk mendapat jalan raya. Belum lagi kamu harus jalan jauh mencari halte bus.” Ujarnya.

“ya…” aku tak tahu harus berkata apa. Memang betul yang ia katakan.

“bagaimana kalau ku antar? Aku bawa motor.” Ujarnya.

“baiklah. Terima kasih.”

Aku dan dia boncengan menaiki sepeda motor vespanya. Menempuh setiap jalan-jalan kota. Di perjalanan kami tidak mengobrol. Aku memikirkan tentang Ryeo Wook.

Aku mengingat saat ia memboncengku menuju tempat kuliah disaat hari ulangan kenaikan. Kami sangat terburu-buru waktu itu. Ia mendapat panggilan tugas di tempatnya, sedang aku buru-buru menuju kampus. Ban sepedaku kempes jadi dia menawarkan boncengan motornya padaku. Menempuh jalan-jalan kota. Rambutku yang panjang mengambang diudara diterpa angin. Melihat raut mukanya yang sangat serius dari kaca spion motor. Raut wajahnya yang lucu bagiku, tak terlupakan. Benar-benar tak terlupakan.

Tak terasa, air mata jatuh lagi. Jatuh lagi… hati yang semula tenang menjadi buyar. Membayangkan apa yang terjadi padanya. Pada Ryeo Wook ku. Ini terlalu cepat. Aku belum siap menerima semua ini..

“Ufffttt” aku menarik ingusku kedalam.

“Anda menangis?” tanyanya.

“ah.. ah.. tidak.” Jawabku bohong lalu segera menghapus air mataku.

“bertenanglah…”

Huh. Dia hanya bisa berkata seperti yang oranglain katakan padaku. Tak bisa kah ia berkata selain bertenanglah atau kata-kata seperti itu?

“menangisi yang sudah pergi sama saja kita menyerah. Kita hanya mau menjalani yang sudah berlalu berarti pikiran kita akan tetap berada di masa lalu, tidak akan maju. Seharusnya kita menerima nya. Karena kita harus bergerak maju kedepan. Menjadi seseorang yang lebih dewasa.” Nasehatnya.

Aku terdiam. Betul juga yang ia katakan. Tapi, apa begitu mudah aku harus melupakan Ryeo Wook? Ryeo Wook yang selama ini memberikan kehangatan padaku. Ryeo Wook yang selama ini mengisi hari-hariku dengan senyum dan tawanya. Menatap setiap ekspresi wajahnya, yang membuatku semangat menjalani kuliahku.

“tapi, tak salah bukan, kalau kita menangis?”

“betul, menangis menunjukkan kita ini normal. Menunjukkan perasaan sedih kita. Tapi jangan biarkan kesedihan menguasai pikiranmu dan membodohimu.” Jelasnya. Aku hanya mengangguk.

“Makanya kubilang, emutlah permen yang kuberikan itu setiap kali kamu merasa emosimu tidak dapat terkontrol.” Lanjutnya.

Aku tertawa kecil mendengar yang ia katakan.

“kamu tertawa?” tanyanya.

“ti.. tidak!”

“tidak apa-apa. Berarti kamu sudah tidak sedih lagi, bukan?” ujarnya.

“ya, begitulah.”

“ye~ aku berhasil menenangkanmu!” serunya.

“hah?” aku bingung.

“aku tidak suka melihat orang bersedih. Apalagi melihat seorang perempuan bersedih. Aku merasa… eh.. “

“merasa apa?”

“Ya~ aku merasa tidak tega..”

“benarkah?”

“ya. Aku merasa ingin menyenangkan nya. Menghibur nya. Selama ini, aku selalu membantu teman-temanku bila merasa sedih.”

“kamu baik sekali.”

“ya, bukannya pamer. Tapi, seperti yang kubilang, aku hanya.. tidak tega. Percayalah.”

“iya.. iya.. aku percaya.”

Akhirnya aku tiba didepan rumahku. Ia tampak mengamati rumahku. Rumahku yang tidak terlalu besar.
“rumahmu bagus sekali.” Ujarnya.

“terima kasih.”

“oh iya, kita belum berkenalan.” Ujarnya. “saya Son Dong Woon.”

“saya.. Lee Hyun Ji.” Ujarku.

“hmm, Lee Hyun Ji-nuna.. kalau begitu saya pulang ya.” Ujarnya.

“Ya, terima kasih sudah mengantarku.”

“Annyeong Haseyo.”

“Ne.. Annyeong Haseyo.”

Dia menyalakan motornya dan segera pergi meninggalkanku didepan rumah. Aku memandang dia sebentar dari belakangnya. Ternyata, aku bisa menjadi akrab dengan orang asing hanya dalam beberapa saat.
Melangkahkan kakiku kedalam rumah perlahan-lahan. Tanpa berbasa-basi aku langsung masuk ke dalam kamarku. Ku baringkan diriku dikasur. Kulihat gaunku yang masih tergantung rapi.
Kapan aku bisa memakainya? Memakainya disaat aku menikah.. kapan?
Aku tak mungkin melakukan ini dengan orang lain selain Ryeo Wook. Aku tak mau mengkhianati dia. Dia pasti akan merasa sedih.
Dia pasti akan merasa sedih… Ryeo Wook..
Tuhan. Apa ini ujian berat yang kau berikan padaku? Bagaimanakah aku bisa melewatinya? Bagaimana aku bisa tersenyum lagi? Sedangkan Ryeo Wookku sudah tidak ada. Apa dengan aku tersenyum, ia akan tersenyum juga?
Kubayangkan Ryeo Wook. Senyumnya yang begitu ikhlas. Senyumnya yang menemaniku setiap hari. Dia yang selalu menanyakan kabarku. Dia yang selalu ada untukku disaat aku senang ataupun sedih.. tapi kenapa, ia malah membuatku sedih tak tertahankan seperti ini??

“menangisi yang sudah pergi sama saja kita menyerah. Kita hanya mau menjalani yang sudah berlalu berarti pikiran kita akan tetap berada di masa lalu, tidak akan maju. Seharusnya kita menerima nya. Karena kita harus bergerak maju kedepan. Menjadi seseorang yang lebih dewasa.”

Ah, kenapa perkataan Dong Woon itu terngiang dikepalaku?
Tapi betul juga sih… aku memang tidak boleh menangisi apa yang sudah terlanjur terjadi. Dia betul, aku harus menerimanya dan tetap melangkah kedepan. Tapi.. kejanggalan dihati ini menambatkan semangatku untuk maju. Aku tak bisa tanpa Ryeo… tak bisa…

***

Seminggu sejak kejadian itu. Aku belum bisa melupakan Ryeo Wook. Setiap kenangan bersama kami selalu terngiang di pikiranku. Setiap senyum yang dia ungkapkan kepadaku. Tak terasa, kebersamaan kami berakhir.

“annyeong haseyo.” Seseorang menyapaku yang sedang menikmati kopi. Malam ini hujan. Aku tidak bisa pulang kerumah dari rumah sakit karena hujan turun deras diluar. Jadi aku singgah di kafe kecil ini untuk menghangatkan tubuhku yang merasa dingin ini.
“Dong Woon?”
“Ne, ini aku..” ujarnya. Ia duduk di kursi di depan ku. Ia kehujanan. Bajunya agak basah. Rambutnya juga basah dan airnya menetes-netes.
“aku punya handuk..” ujarku beriniat menawarkan.
“boleh aku pinjam?” tanyanya.
“Tentu saja.” Jawabku. Aku merogoh tasku yang berukuran agak besar dan mengambil selembar handuk kecil dan memberikannya pada Dong Woon.
“Terima kasih.” Ujarnya. “Bisa kupakai untuk mengelap rambut?” tanyanya lagi.
“Silahkan.”
Aku mengamati dia yang asik mengelap leher, rambut, wajah, dan tangannya yang basah.
“bisa ku bawa pulang? Aku akan mencucinya.”
“iya.” Jawabku singkat.
“hmm, jadi kamu juga tidak bisa pulang?” tanyanya seraya memasukkan handukku kedalam tas gendong yang ia pakai.
“ya..”
“aku juga ingin memesan minuman.” Ujarnya. ia memanggil pelayan untuk memesan minuman.
“kamu dari mana?” tanyaku.
“tadi kami ada latihan rutin..”
“kami?” aku bingung.
“ya.. maksudku aku dan teman-teman marinirku…”
“ohh…”
Dia merogoh sesuatu dari kantongnya. Ternyata itu permen marsmallow seperti yang ia berikan padaku. Ia membuka bungkusnya dan memakan permen itu.
“kamu mau?” tanyanya.
“ah, tidak. Punyaku masih ada.” Ujarku menolak.
“benarkah? Kalau aku, 10 bungkus permen bisa habis tidak sampai sehari..”
Aku tersenyum.
“anda manis sekali kalau tersenyum.” Ujarnya. “sungguh. Anda lebih baik tersenyum seperti ini terus.” Ujarnya lagi.

“anda lebih baik tersenyum seperti ini terus.” Aku mendengar yang ia katakan. Aku jadi ingat, kalimat seperti ini pernah dikatakan oleh… Ryeo Wook.

:: Flashback ::

“Oppa! Aku lulus ujian!” seruku sambil mendatanginya yang menunggu di gerbang kampus.
“hebat!” serunya.
“dan kamu tahu?”
“apa?”
“nilai ku semuanya A !” jawabku.
“wah! Aku bahkan sangat jarang mendapat nilai A kalau ujian.”
“oppa kan babo! Haha~” candaku.
“enak saja!”ia mencubit pipiku.
“aw~ ampun oppa!”
“saat akan menghadapi ujian, kamu terus bermuka masam.” Ujar Ryeo Oppa.
“Habisnya.. aku harus sungguh-sungguh belajar.”
“jadi, wajah seriusmu seperti itu??”
“memangnya kenapa?”
“aku lebih menyukai kamu yang ceria. Kamu lebih baik tersenyum.”
“benarkah, oppa?”
“ya, menurutku kamu lebih baik tersenyum seperti ini terus..”

:: End of flashback ::

“kamu kenapa?” tiba-tiba Dong Woon bertanya membuyarkan khayalanku.
“ah, aku tidak apa-apa.”
“kenapa mata mu berkaca-kaca? kamu menangis?” tanyanya.
“tidak.” Jawabku. “maaf, aku pergi duluan..” aku segera bangkit dan mulai melangkah menuju pintu keluar. Bodoh, kenapa air mataku harus keluar lagi!?
“Tunggu!” seru Dong Woon. Ia mengejarku sampai keluar. Hujan sudah tidak deras lagi. Hanya berupa titik-titik hujan.
“Nuna!” Dong Woon memegang pundakku. Ia membalikkan badanku.
“kamu menangis lagi!?” tanyanya. Aku hanya diam.
“sudahlah.” Ia mengelap air mataku dengan tangannya. Aku hanya menatapnya. Kenapa ia baik sekali kepadaku?
“ini.” ia memberi ku sebungkus permen marsmallow. Aku menerimanya. Ku buka bungkusnya dan kumasukkan dalam mulutku.
“sudah baikkan?” tanyanya.
“huhu~” aku tertawa kecil.
“kamu tertawa?”
“huhuhu~ kamu…”
“aku?” tanyanya bingung.
“kamu memberi permen ini, seolah ini adalah suplemen penghilang rasa sakit.”
“memang seperti itu gunanya, bukan?” tanyanya.
Aku tersenyum. “Ya, terima kasih.”
”jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada permen ini. ia yang telah menolongmu.”
“ya, betul juga. Terima kasih.” Ujarku.
“kamu sudah mau pulang?” tanyanya.
“ya..”
“kamu naik apa?” tanyanya.
“aku bawa mobil..” Ujarku.
“oh, begitu. Kalau begitu, berhati-hatilah dijalan.”
“Ne, terima kasih. Sampai jumpa.”
Kami berpisah malam ini. Aku segera masuk dan menyalakan mobilku. ia melambaikan tangannya. Aku tersenyum dan segera meninggalkannya disitu.

Di jalan, aku terus memikirkan kejadian tadi. Kenapa air mataku keluar lagi tadi? Aku merasa malu menangis seperti orang bodoh begini didepan dia. Tapi, kenapa ia selalu mengingatkan ku pada Ryeo? Tingkahnya, perkataannya selalu membuatku ingat akan Ryeo. Dia sengaja berniat menenangkanku atau dia memang orang yang humoris seperti itu? Dia membuatku tersenyum. perkataannya yang kadang bercanda, kadang serius, sungguh menarik.

“anda manis sekali kalau tersenyum.”
Ah, kenapa kalimat itu terngiang di kepalaku? Manis? Hmmpphh..~

:: Esok harinya ::

Malam harinya saat akan pulang ke rumah dari tempat praktek. Ternyata aku sudah ditunggu oleh Dong Woon.

“Dong Woon..?” tanyaku.

“Ya.”

“darimana kamu tahu….”

“aku mencari tahu tempat praktekmu..”

“ada apa?”

“begini.. besok aku akan pergi berlayar.”

“benarkah?”

“ya, ini tugas pertamaku dan aku masih merasa tidak enak. ” ujarnya.

Aku ingat saat Ryeo Wook berkata seperti ini.

“Dong Woon…” ujarku. “kurasa ini hal yang lazim di alami seorang marinir dalam tugas pertamanya. Aku yakin kamu bisa melewatinya.”

“hhmmm…”

“aku ingat…”

“apa?”

“hal seperti ini pernah di alami Ryeo.”

“Letnan Kim?”

“ya, dia juga mengalaminya.”

“Nuna..” ujar Dong Woon.

“Ya?”

“kamu tidak menangis lagi?”

“sepertinya begitu.”

“ya, anda memang tidak menangis.. lagi…”

“benarkah?” ujarku. Aku memang tidak menangis. Untuk pertama kalinya aku bisa melepas kepergian Ryeo Wook.

Ia tersenyum padaku.

“terima kasih..” ujarku padanya.

“kenapa?”

“aku tahu, ini berkat kamu. Kalau tidak, aku akan terus murung dan menyendiri.”

“ya, itu karena aku di bantu oleh rekanku, permen marsmallow..”

“huhu~”
Aku tertawa kecil. Dia tersenyum padaku.

“Nuna..” ujar Dong Woon. “aku menyukai mu…”

“hah?” aku kaget ia tiba-tiba berkata begitu.

“pasti kamu belum bisa betul-betul melupakan Letnan Kim. Tapi, aku akan selalu ada untuk mu. Karena aku telah menyukaimu.” Ujarnya.

Aku terdiam. Kami saling bertatapan.

“aku ingin kamu menyimpan ini..” ia menyodorkan selembar kertas kecil. Disitu tertera sebuah nomor telepon.

“ini..?”

“itu nomor hapeku.” Ujarnya.

“akan kusimpan..”

“terima kasih.” Ujarnya. “aku harus pergi sekarang. Aku tak punya waktu banyak.”

“Dong Woon..” panggilku.

“hmm?”

“hati-hati…” ujarku.

Kami berpisah malam itu.
Dirumah, aku belum bisa melupakan Dong Woon. Dong Woon yang menyukaiku. Apakah ia akan selalu ada untukku? Aku tak ingin kehilangan lagi. Kupandangi nomor hapenya sudah kusalin di hapeku. Untuk apa ia memberiku ini? apa aku bisa menelponnya?
Aku mencoba menelponnya.
“ttuutt. Tuuutt…”

Aku mematikan sambungan telepon. Aku merasa malu. Aku bodoh sekali menelponnya sekarang. Mungkin saja ia sedang sibuk sekarang.

Tiba-tiba sebuah SMS masuk.

“Nuna, apa itu kamu? Balas.”
Aku membalas SMS nya.

“Ne, ini aku. Maafkan aku menelpon selarut ini.”

“Tidak apa-apa. Aku masih belum tidur.”

“aku akan segera tidur.” Balasku di SMS

“selamat malam.”

Esok hari nya ketika sedang di rumah sakit, aku menerima sebuah SMS. SMS lagi dari Dong Woon.

“Aku sedang ada di kapal untuk pertama kalinya. Aku senang sekali!!”

Beberapa menit kemudian datang SMS yang juga darinya.

“Kuharap SMS ini bisa tiba. Karena sepertinya sinyal telepon mulai hilang. Aku ingin menelponmu.”

Aku tersenyum. Kuharap ia baik-baik saja.
***

“Chagi..” seseorang memanggilku dari belakang. Entah kenapa kusadari aku sedang berada disebuah padang bunga yang sangat indah.

“Oppa!?” kusadari ternyata itu Ryeo Oppa yang memanggilku. Aku berlari kepadanya. Memeluknya. Ku hirup aroma tubuhnya yang sangat kukenal itu.

“Oppa, aku kangen sekali padamu…”

“Chagi, kamu tambah kurus..” ujar Ryeo Wook oppa. Ia menatapku. Tatapan matanya yang terlihat sendu. Dia membelai rambutku.

“Oppa…”

“dia…” ujar Ryeo Wook oppa lagi. Ia tersenyum.

“dia? Siapa?” tanyaku bingung. Tiba-tiba kusadari Ryeo Wook oppa bergerak mundur seperti di tarik angin. Makin lama, makin jauh meninggalkanku.

“Oppa!” “Oppa!” “Tunggu!”

Aku berusaha mengejarnya. Ia malah makin menjauh. Di kejauhan, tetap tersenyum tiba-tiba menghilang.

“Oppa!!!”
tiba-tiba aku tersadar. Aku sedang berada di tempat tidurku. Ternyata tadi itu hanya mimpi. Tapi kusadari, air mata sudah membasahi wajahku. Segera ku hapus air mataku dengan selimut yang kukenakan.

Matahari sudah bersinar. Aku segera bangkit dari tempat tidur. Kubuka jendela kamar biar cahaya bisa masuk.

Di rumah sakit, di ruanganku, aku berpikir. Dalam mimpiku aku melihat Ryeo. Dia tersenyum begitu manis. Senyum yang begitu ikhlas, senyum tanpa beban. Senyum yang sangat aku rindukan.

“dia…”

Aku teringat yang Ryeo Oppa katakan. Siapakah yang dia maksud dengan “dia”? apakah itu… Dong Woon? Dong Woon?? Kalau memang dia, apa maksudnya Ryeo Oppa berkata seperti itu?

Dong Woon… sudah 3 hari ia belum kembali dari laut. Kuharap ia baik-baik saja.

“Tttrrrttt… tttrrrrttt….” Hapeku bergetar. Sebuah SMS masuk. Dari Dong Woon.

“Annyeong haseyo, Nuna. Aku merindukanmu. Aku sudah kembali hari ini dan aku ingin menemuimu.”

“Annyeong haseyo. Kamu ingin bertemu denganku?dimana?”

“Ne, bagaimana kalau di kafe yang kemarin dulu?”

“baiklah. Bagaimana kalau siang nanti?”

“ok. Sampai jumpa.”

Siangnya aku segera pergi kafe yang kudatangi kemarin. Disitu ada Dong Woon. Duduk di sudut. Masih mengenakan seragam marinirnya.

“aku kembali tadi pagi.” Ujarnya.

“oh ya? Apa yang kalian lakukan?” tanyaku.

“tim kami ditugaskan memata-matai kapal dari Korea Utara.” Ujarnya.

“kalian bertempur?” tanyaku.

“belum. tapi akan…” ujarnya.

Kami terdiam. Aku menatapnya. Sepertinya ia sedang menyimpan sebuah rahasia.
“Dong Woon? Kamu kenapa?” tanyaku.

“Nuna, maaf.” Ujarnya.

“Kenapa?”

“ini..” ia menyerahkan sesuatu. Sebuah untaian kalung dengan buahnya.

“ini, kalung yang wajib di pakai oleh marinir. Dan ini..”

“ini..?”

“milik Letnan Kim. Saat kami pulang, kami menemukan patahan-patahan kapal selam yang waktu itu meledak.”

“dari mana kamu tahu ini punya nya?”

“dari jaket….” Jawabnya.

Aku memandang kalung itu. Tampak usang. Tulisannya sudah tidak kelihatan lagi. Aku meremas kalung itu. Aku senang sekali. Setidaknya masih ada kenang-kenangan dari Ryeo Oppa.

“Terima Kasih Dong Woon..” aku tersenyum.

Dia tersenyum. Kami bertatapan. Ia memegang tanganku. Tangan yang lebih besar dariku. Seperti tangan Ryeo. Aku merasa sangat nyaman. Sangat tenang.

“Nuna, tolong ikut aku.” Ujarnya tiba-tiba.

“kemana?”

“aku akan mengajakmu kesuatu tempat. Tempat yang sangat indah. Tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya.” Jelasnya.

Kami pergi menaiki motor vespanya. Melewati jalan-jalan, keluar dari daerah perkotaan yang padat, kami menuju ke arah pantai. Kami tiba di sebuah bukit yang indah.

Aku turun dari motor. Aku melihat sebuah padang yang tampak indah. Berwarna-warni. Aku berlari mendekat. Aku seperti tahu tempat ini sebelumnya.

“dejavu?”

“bagaimana? Indah, bukan?” ujar Dong Woon.

“aku… sepertinya pernah kesini..”
“benarkah? ah, berarti aku salah. Kupikir kamu belum tahu tempat ini.” ujarnya.

“tidak, maksudku.. aku tidak tahu tempat ini.. tapi rasanya pernah kesini..” ujarku padanya. Kulihat dia yang tampak bingung.

“aku pernah melihat ini.. dalam mimpiku..” ujarku lagi.

“dalam mimpi?”

“ya, aku bermimpi bertemu Ryeo Wook disini.” Jawabku.

“Nuna..” tiba-tiba Dong Woon memelukku.

“Dong.. Woon…?” aku kaget.

“Nuna, bisakah aku menggantikan dia?” tanyanya. Dia menatapku.

Aku memandang wajah Dong Woon. Aku merasa nyaman bersamanya. Ia selalu membuatku bahagia. Aku menginginkannya. Tapi, apa bisa aku berbuat seperti ini? meninggalkan Ryeo Wook Oppa. Bisakah aku berbuat begini sementara ia tidak ada disini? Apa kah ia tahu?

“dia…”

Aku mendengar kembali kalimat yang diucapkan Ryeo Oppa dalam mimpi. Aku ingat ia tersenyum saat mengatakan itu. Oppa, apakah ini berarti aku bisa memiliki Dong Woon?

“Nuna.. saranghae…” ujar Dong Woon.

Air mataku menetes. Kalimat yang ia ucapkan. Terdengar sangat lembut di telingaku. Seperti angin sepoi-sepoi.

“Dong Woon…” panggilku. Aku mengangguk. Mengisyaratkan aku menerima cintanya. Hatiku telah terbuka untuknya. Dan ini hanya untuk Dong Woon.

“Saranghae…” bisikku.

Dia menatapku. dia tersenyum. Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Dia menciumku. Ciuman yang begitu nyaman. Aku merasa tenang. Aku merasa tenang bersamanya.

“Nuna, aku menemukan tempat ini saat aku sedang di kapal. Dari kejauhan aku melihat tempat ini.”

“benarkah?”

“ya, aku melihatnya dari arah sana.” Ia menunjuk kearah laut.

“indah sekali pemandangan dari sini.” ujarku.

“semua orang pasti akan sangat menyukai tempat ini. tapi tempat ini, ku spesialkan hanya kamu yang kuberitahu..” ujarnya.

Aku tersenyum padanya. Dia memetik sebatang bunga. Entah bunga apa namanya itu. tapi bunga itu begitu indah.

“bunga ini cantik.. seperti dirimu..” ujar Dong Woon. Ia memakaikannya di dekat telingaku.

Kami berpegangan tangan. Menatap indahnya pemandangan disini. di depan kami ada laut yang berkilauan seperti untaian mutiara. Di belakang kami ada lautan bunga yang begitu indah nya. Dong Woon benar-benar orang yang sangat romantis.

***
“Nuna, kamu tertidur!?” tiba-tiba Dong Woon membangunkanku.

“Filmnya sudah selesai?” tanyaku. Aku mengusap-usap mataku.

Malam ini kami pergi menonton movie di bioskop. Sialnya, aku malah ketiduran. Selalu saja begini.

“Iya, ayo kita pulang.”

Aku membereskan dandananku. Mengatur rambutku yang acak-acakan.

“Nuna, padahal filmnya bagus sekali.” Ujarnya. kami keluar dari gedung bioskop.

“ah, mianhae.. aku selalu saja begini..”

“sepertinya lebih baik kita menontonnya siang hari, bukan?”

“entahlah, sepertinya begitu.”

Udara malam hari ini sangat dingin. Baju yang kupakai bisa ditembus oleh dingin karena tipis. Tiba-tiba Dong Woon memakaikan jaketnya.

“maaf, jaketku agak tipis tapi aku tahu kamu kedinginan.”

“terimakasih.”

Dong Woon mengantarku sampai ketempat parkiran mobil dimana tempat mobilku berada.
“Sampai jumpa.” Ujarnya.

“Ya..” aku tersenyum. Aku pergi dengan mobilku. belum sempat keluar menuju jalan raya, tiba-tiba hapeku berdering. Dari Dong Woon?

“Dong Woon?” tanyaku bingung.

“Nuna, hati-hati.” Ujarnya diseberang telepon.

“Pabo. Kenapa tidak dari tadi mengucapkannya?”

“hehe~ mianhae, aku lupa..” ujarnya.

“Ya sudah, Gomawo..”

“Ne, cheonman..”

Sekarang sudah lebih dari satu minggu kami menjalin hubungan. Dong Woon selalu menelponku. Menanyakan kabarku setiap hari. Dalam sehari dia bisa menelponku lebih dari sekali kalau kami tidak sempat bertemu.

Ternyata Dong Woon lulusan akademi dan lebih muda 3 tahun dari ku. Meskipun lebih muda dariku, dia dapat menjadi seseorang yang dewasa di mataku. Dia selalu mengerti akan aku. Dia dapat memahami setiap emosiku. Dia dapat membuatku tenang saat aku menangis dan dia dapat membuatku tenang saat aku marah.

“Pemirsa, menurut laporan Korea Utara telah menembakkan sekitar 30 artileri peluru tidak jauh dari Baeknyeong, dan militer Korea Selatan menanggapinya dengan 100 tembakan peringatan.” Pembawa berita membacakan beritanya dari televisi. Aku tengah duduk menonton berita.

“dan pemirsa, militer Korea Utara mengancam serangan tak terduga terhadap Korea Selatan. Akibat ancaman ini, seluruh gabungan angkatan laut Korea Selatan dikerahkan untuk bersiap-siap di perbatasan untuk menghadapi nya.” Lanjut pembawa berita.

Aku sudah bisa menebak. Dong Woon pasti akan ikut berperang. Tentu saja, angkatan laut seperti dia pasti akan di taruh di barisan depan. Semoga saja dia baik-baik saja nanti.

Esok harinya Dong Woon menelponku.

“Nuna, begini..”

“Ya, aku sudah menontonnya di tv.”

“maaf karena ini aku tidak bisa menghubungimu lagi..

“Kenapa meminta maaf ? ini untuk Korea Selatan, bukan?”

“Ya, kami akan berangkat hari ini.” ujarnya.

“Dong Woon…”

“Hmmm?”

“hati-hati….”

“tenang saja, aku akan kembali dengan selamat!” serunya bersemangat.

“kamu janji?”

“aku janji!”

Janji seperti ini… pernah di ucapkan Ryeo Oppa. Apa kah Dong Woon bisa menepati janjinya? Aku tak ingin ada seperti ini lagi. Tapi, ini sudah kewajibannya sebagai angkatan laut. Tolong selamatkan dia, Tuhan. Aku tak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kali…

Seharian aku terus menonton berita di televisi. Menunggu berita baru dari mereka. Tak akan ku lewatkan satu berita sama sekali. Aku harus bertahan disini. di sofa. Di depan tv.

Ku coba menghubungi hape Dong Woon tapi sudah tidak aktif. Tentu saja, memangnya dia dimana sekarang? Di mall?

Huh, dengan lesu terus ku tonton berita di televisi. Menonton berbagai interview dengan orang-orang penting. Tapi bukan ini berita yang kuharapkan.

“BREAKING NEWS!”

Jam 10.30 malam aku di kejutkan dengan sebuah ‘ breaking news’ di televisi. Segera ku tanam mata dan telingaku didepan televisi agar tidak kehilangan satu gambaran dan suara sekalipun. Ini berita yang dari tadi siang kutunggu-tunggu.

“Pemirsa!” ujar orang pembawa berita. “berita terbaru yang kami dapat. Serangan tak terduga terjadi tadi pukul 10.20 malam di pulau YeonPyeong. Asap hitam membumbung dari pulau milik Korea Selatan tersebut. Hal ini diketahui di lakukan oleh Korea Utara.”

“Sebuah kapal angkatan laut juga ikut diledakkan. Kapal berkekuatan 1200 ton tersebut tenggelam. Penyelamat telah menyelamatkan setengah dari pelaut yang ada di dalam kapal sedang sekitar 40 lebih belum ditemukan.”

Dong Woon. Tiba-tiba aku teringat dengan Dong Woon. Apakah ia ada didalam kapal itu? Semoga saja tidak! Jangan secepat ini. jangan…
Serangan Korea Utara menjadi heboh hampir di seluruh dunia. Militer Amerika Serikat ikut membantu Korea Selatan dalam menghadapi Korea Utara. Perang saudara yang tak pernah berakhir ini, terjadi lagi sekarang. Semoga saja tidak menimbulkan banyak korban. Dan semoga saja Dong Woon bisa selamat. Aku tahu, setiap orang yang salah seorang keluarganya ikut dalam perang ini, khawatir seperti aku. Berdoa semoga bisa selamat. Berdoa agar masih dapat melihat wajahnya. Berdoa agar masih dapat menghubunginya, bercerita dengannya. Dan itu juga yang ku harapkan. Aku terus berdoa pada Tuhan agar dia menjaga Dong Woon ku.

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari berlalu. Makin lama keadaan makin aman. Sepertinya Korea Utara sudah berhenti menyerang. Atau tidak, aku berpikir mungkin mereka sengaja berbuat begini karena serangan tak terduga itu belum benar-benar di tunjukkan. Semoga saja yang aku pikirkan itu tidak terjadi. Semoga serangan tak terduga itu sudah tidak ada lagi.

“Yoboseyo?” aku mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal di hapeku.

“Nuna, ini aku Dong Woon..”

“Dong Woon!? Kamu tidak terluka!!??”

“Tenang nuna, aku baik-baik saja disini..”

“Syukurlah..” ujarku lega. “kamu dimana sekarang?”

“sekarang aku ada di pusat evakuasi di pulau Baeknyeong.”

“kapan kamu akan kembali?”

“entahlah. Nuna, maaf. Aku harus menutup telepon. Yang lain masih mengantri.”

“Ne. Dong Woon….”

“Hmm?”

“sekali lagi, hati-hati…”

“Ne, sampai jumpa, nuna..”

“sampai jumpa..”

Syukurlah ia baik-baik saja. Setidaknya aku agak semangat sekarang.

Esok harinya aku mulai menjalankan aktivitas seperti biasa di rumah sakit.

“Anda sudah tidak sedih seperti dulu lagi ya, Hyun Ji…”

“Ah, Dokter Choi. Terima kasih.” Aku tersenyum. Itu adalah Dokter Choi Jong Hun. Dia teman se-kampus saat aku kuliah dulu.

“aku turut berduka..”

“terima kasih.”

“sepertinya anda sudah bisa melepas kepergian nya.”

“ya, begitulah..”

“apakah anda sudah menemukan..”

“menemukan?”

“ah, tidak. Maksudku apakah anda sudah menemukan berkas yang aku minta tadi?”

“oh, ini.” aku menyerahkan sebuah map padanya.

“Gomawo..” Dokter Choi keluar dari ruanganku.

Aku curiga dengan nya. Sepertinya bukan itu yang akan dia katakan padaku. Ah, sudahlah. Aku tidak boleh berprasangka buruk.

Tiba-tiba hapeku bergetar. Sebuah SMS masuk di hapeku. Dari Dong Woon.

“Nuna, besok aku akan pulang. Temui aku di depan pelabuhan angkatan laut.”

“Ne.” aku membalas SMS dengan singkat.

Malam hari saat aku pulang dari tempat praktek, mobil yang kukendarai mogok. Aku terhenti di jalan yang sepi. Menunggu ada kendaraan yang bisa ku tumpangi tapi tak kunjung lewat. Akhirnya sebuah mobil sedan hitam berhenti didepan ku. Di dalamnya ada Dokter Choi.

“Hyun Ji? Kenapa?”

“mobilku mogok.”

“aku akan mengantarmu.”

“bagaimana dengan mobilku?”

“akan ku telepon jasa pengangkut.”

Akhirnya aku menumpangi mobil Dokter Choi Jong Hun hingga tiba di rumahku.

“Terima kasih..”

“Hyun Ji..”

“ya?”

“selamat malam.” Jong Hun pergi dengan mobilnya.

Aku masuk kerumahku. Ke dalam kamarku. Mengganti pakaian formalku dengan baju rumahan. Bergegas tidur agar besok tidak terlambat menemui Dong Woon.

:: Esok harinya ::

“Dong Woon!” aku menghampiri Dong Woon. Aku memeluknya. Aku senang sekali dapat berjumpa dengannya.

“aku merindukanmu…” ujar Dong Woon. Ia mengecup keningku.

Kami bertatapan. Ia tersenyum padaku.

“kamu ingin jalan-jalan?” ajak Dong Woon.

“tapi, bukankah kamu lelah?”

“entahlah, kalau melihat wajahmu lelahku jadi hilang.” Ujar Dong Woon.

“ah, jangan bercanda..” ujarku tersipu.

“aku serius.” Ujar Dong Woon. “ketika aku kesusahan di atas kapal. Aku jadi kembali bersemangat ketika membayangkan dirimu.” Sambungnya sambil tersenyum.

Kami pergi ke sebuah tepi laut tidak jauh dari pelabuhan angkatan laut. Angin sepoi-sepoi bertiup begitu segar rasanya.

“bagaimana kah rasanya menjadi seorang marinir?” tanyaku.

“asyik.”

“hanya itu?”

“dulu ayahku adalah seorang marinir. Dia tampak sangat keren. Dan ku pikir, aku ingin menjadi seorang marinir seperti ayah. Bisa menaiki kapal dan berperang, itu hal yang mengasyikkan bagiku.” Jelas Dong Woon.

“dan kamu sudah mendapatkan apa yang kamu impikan?”

“belum. aku ingin pertempuran yang luar biasa. Seperti pertepuran di Yellow Sea dulu.”

“semoga kamu mendapat apa yang kamu impikan itu.”

“terima kasih.” Ujarnya seraya tersenyum. “ kalau nuna? Mengapa kamu ingin menjadi dokter?”

“aku hanya ingin mengabulkan permintaan orang tua ku. Mereka mau aku menjadi seorang dokter. Dan itu tidak masalah bagiku.”

“Nuna, kapan pertama kali kamu mengenal Letnan Kim?”

“Hmm..”

“ah, maaf. Aku menyinggung tentang dia.”

“tidak apa-apa. Aku bertemu dia saat masih kuliah. Saat itu ia masih sepertimu.”

“oh ya?”

“ya. Ia pernah mengatakan, saat dia sudah memiliki kapal tempur sendiri. Dia akan mengajakku menaikinya. Tapi, hal itu tak pernah terjadi…”

“Nuna..” Dong Woon memegang tanganku.

“Hmm?”

“aku yang akan melakukannya.” Ujarnya. “aku akan melanjutkan apa yang Letnan Kim inginkan untukmu.”

“Dong Woon…”

“ya?”

“kamu janji!?” aku mengancungkan kelingking ku.

“aku janji!” ia mengaitkan kelingkingnya.

“Hahahahahha~”

Kami tertawa bersama.
***

“Nuna, saengil Chukahamnida. Maaf, aku tidak bisa menemuimu karena ada tugas.” Ujar Dong Woon dari seberang telepon.

“Ne. Gwaencana.. Gomawo..”

“tapi, aku janji aku akan membelikanmu hadiah kalau aku kembali! Kamu mau apa? permen marsmallow? Atau..”

“Ne. tidak ada hadiah juga tidak apa-apa kok.” Potongku.

“ah, tidak bisa begitu.”

“Ne. Aku tunggu.”

“sampai jumpa, nuna..”

“ne, sampai jumpa.”

Seminggu berlalu tapi Dong Woon tidak bisa menemuiku. Aku mengerti. Beberapa minggu ini ketegangan antara Korea Selatan dan Utara muncul lagi. Kurasa Dong Woon tak akan bisa menemuiku dalam minggu-minggu ini.

“Saengil Chukahamnida.”

“Ah, Dokter Choi. Terima kasih.”

“ini, untukmu..” Dokter Choi menyerahkan seikat bunga padaku.

“Terima kasih.” Aku tersenyum.

“Hyun Ji.. apa kamu sudah menemukan pengganti?” tanya Dokter Choi.

“Pengganti?” tanyaku agak bingung.

“Hyun Ji…” Dokter Choi mendekat padaku. Aku tersentak kaget dan bergerak mundur.

“Ma..u apa kamu?”

“Hyun Ji. Aku mencintaimu..” ujarnya.

“Terima kasih. Tapi maaf, aku tak bisa..” jawabku. Aku tak pernah berpikir akan menyukai Dokter Choi. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman. Dan lagian, aku tak mungkin mengkhianati Dong Woon. Itu tidak mungkin.

Dokter Choi tiba-tiba memegang kedua tanganku. Aku mencoba melepaskan.
“Hyun Ji..”

“Lepaskan! Mau apa kamu!?”

“Kenapa? Aku menyukai mu sejak dulu. Aku sudah lelah memendam perasaanku ini!”

“aku tak bisa!” seruku. Sekali lagi aku mencoba melepaskan tanganku. Tapi, tetap saja tidak bisa. Tangan-tangannya begitu kuat.

“kenapa tidak bisa!?” Dokter Choi mendekatkan wajahnya padaku.

“Ukhh!” aku mencoba menghindar dari wajahnya yang mulai mendekatiku.

“Nuna..!?” aku mendengar seseorang berkata.

Aku melihat kedepanku. Ternyata itu Dong Woon yang berdiri didepan pintu. Ia tampak kaget menatapku.

Tiba-tiba ia berlari meninggalkanku.

“ Dong Woon!” panggilku. “Lepaskan aku!” aku melepaskan tangan Dokter Choi. Kali ini dengan mudah kulepaskan genggamannya.

“Hyun Ji!” panggil Dokter Choi. Aku tak memperdulikannya. Aku mengejar Dong Woon yang meninggalkanku tadi.

Aku berlari mengejar Dong Woon sampai keluar gedung RS. Aku berhasil menahan bajunya.

“Lepaskan aku!” seru Dong Woon membuatku kaget.

“Dong Woon..”

“huh~ aku sengaja datang kesini untuk memberimu kejutan. Tapi..” ujar Dong Woon tersenyum terpaksa.

“maafkan aku Dong Woon.” Ujarku.

“tapi, yang kulihat malah adegan seperti itu..”

“itu hanya kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud seperti itu..”

“Sudahlah..” Dong Woon membalikkan badannya. Akan segera pergi.

“Tunggu! Dong Woon..” aku menahan lengannya.

“Lepaskan. Biarkan aku pergi.” Ujar nya seraya melepaskan tanganku. Wajahnya tampak serius.

Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya menatap belakangnya yang pergi menjauhiku. Ini semua salahku. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa, Meminta maaf dengan cara apa.

Beberapa hari berlalu. Hampir seminggu. Aku masih berdiam diri. Belum ada komunikasi sejak kejadian itu. Aku masih tak tahu caranya untuk meminta maaf. Aku masih belum menemukan waktu yang tepat. Hari-hari terasa membosankan tanpa telepon ataupun SMS darinya. Hampa. Itu lah kata yang lebih tepat. Inbox hapeku hanya SMS dari orang-orang yang tidak penting.

Aku melihat sebuah bungkus kosong permen marsmallow pemberian Dong Woon di depan tv. Sepertinya aku memakan ini saat menonton DVD kemarin. Ah, permen marsmallow ini membuatku makin mengingat Dong Woon. Dia pasti sekarang sedang merasa kesal. Habisnya, dia tidak mau mendengaran ku dulu. Mendengar penjelasanku. Ah, sudahlah. Aku merasa aku harus mendapatkan permen ini lagi. Dan, tempat yang menjual permen seperti ini, pasti swalayan.

***

Permen jahe, permen buah… dimana permen marsmallow nya?

Satu-persatu rak makanan ringan ku amati. Mencari dimana permen yang kucari-cari. Begitu banyak jenis permen yang berwarna-warni disini membuatku bingung.

Ah! Ini dia! Aku menemukan permen marsmallow seperti milik Dong Woon.

“Ah maaf!”

tangan seseorang berebut dengan tanganku ketika aku hendak mengambil se-pak permen marsmallow tersebut.

DONG WOON!!?

Aku kaget bukan main. Ternyata itu Dong Woon. Ia memakai jaket hitam panjang, celana jeans, fedora hitam dan headset ditelinganya. Wajahnya tampak muram.

“Dong Woon..”

“Nuna..”

Kami terdiam sejenak.

Aku mengambil permen marsmallow yang ada di rak dan berbalik hendak pergi.

“Nuna..” Dong Woon meraih tanganku.

“Dong Woon…” tiba-tiba air mataku menetes.

“Nuna…” Dong Woon langsung memelukku.

“Maafkan aku..” ujarku. Air mataku terus mengalir.

“Sudah, Nuna. Sebenarnya itu salahku juga.” Ujarnya.

Dong Woon melepaskan pelukan. Ia mengelap air mataku dengan kedua tangannya.

“maafkan aku yang tidak mau mendengar mu dulu.” Ujarnya. “aku baru tahu kalau kamu di paksa oleh Dokter itu.”

“kamu tahu dari mana?”

“waktu beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Dokter itu di restoran yang biasa kita pergi.” Jelas Dong Woon.

“Oh ya? Kalian bicara apa?”

“ia mengatakan kalau waktu itu ia memaksa menciummu.”

“ya..”

“Hampir saja aku menghajarnya waktu itu. Tapi tiba-tiba ia memotong dan berkata ; dia tampak sedih beberapa hari ini, lebih baik kamu menemuinya.” ungkap Dong Woon.

“Oh ya?”

“ya, hari ini rencananya aku akan menemuimu makanya aku membeli permen marsmallow ini..” aku Dong Woon.

“Makanya, kamu jangan berprasangka buruk dulu.” Ketus ku.

“habisnya, waktu itu aku kesal sekali. Kukira kamu sudah tidak menyukaiku.”

“itu tidak mungkin Dong Woon. Aku tak mungkin menyukai orang lain lagi..” ujarku. Hati ku sudah tertambat padanya. Tak akan ada seorang pun yang bisa menggantikan Dong Woon lagi.

“Oh ya? Kalau begitu…” Dong Woon merogoh kantong jaketnya. Fedora hitam yang ia kenakan menutupi wajahnya yang menunduk merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan sesuatu yang di genggamnya.

“Kalau begitu apa?” tanyaku.

“Kalau begitu kamu mau menikah denganku?” Dong Woon memakaikan sebuah cincin di jari manis kananku.

“Dong.. Woon!?” aku kaget mendengar apa yang ia katakan barusan. Aku menatap cincin yang ia pakaikan padaku. Cincin emas putih dengan buah berlian kecil ditengahnya.

“aku berniat memakaikan cincin kawin dijari itu..”

Dong Woon, aku tak menyangka ia berani mengatakan hal ini padaku. Aku senang sekali ketika ia mengatakan hal itu padaku. Ia benar-benar serius mencintaiku.

“Kamu mau menjadi istriku..?” kata-kata yang begitu lembut masuk terdengar di telingaku. Aku seperti merasa, inilah kata-kata yang sejak dulu ingin kudengar. Kudengar dari orang yang ku cintai dan mencintaiku.

“aku mau..” jawabku tersenyum.

Kami berpelukan. Aku tahu, perasaan Dong Woon pasti senang bukan main. Dan itu juga yang kurasakan.

“Nuna! Saranghae!” seru Dong Woon.

***

::3 Tahun Kemudian::

3 tahun berlalu sejak ia melamarku waktu itu. Dua bulan setelah ia melamarku, kami menikah. Hari bahagia yang sangat kuharapkan akhirnya datang juga. Kedua orang tuaku dan orang tua Dong Woon juga merestui perkawinan kami. Sekarang, kami baru pindah dirumah baru kami. Rumah yang sederhana. Dari rumah ibuku akhirnya aku bisa pindah dirumah milik sendiri. Rumah milik kami berdua, aku dan Dong Woon. Dan juga Son Mi Yung kecil, bayi perempuan kami yang masih berumur dua tahun dua bulan.

“Chagi! Angkatkan kardus ini.”

“di taruh dimana?” Tanya Dong Woon.

“di kamar. Didalamnya ada barang-barangku.”

“eomma…”

“eom…??” aku kaget. Aku dan Dong Woon saling bertatapan. Kami tersenyum kaget. Kami segera mendatangi Mi Yung kecil yang duduk di dikereta bayi. Ini pertama kalinya ia menyebut kata ‘eomma’ sejak ia lahir.

“Mi Yung, coba ulangi lagi..” ujarku.

“eomma…”

“Waah~ dia mengerti !!” ujarku kegirangan.

“Haha. Iya!” ujar Dong Woon.

Ternyata, usaha kami selama ini mengajarinya bicara, berhasil.

“eomma~ eomma~” panggil Mi Yung lagi. Ia tertawa begitu lucu. Dong Woon mengangkat nya dari kereta bayi.

“Mi Yung, coba panggil appa..” ujar Dong Woon.

“eomma..”

“bukan, tapi appa..” ujar Dong Woon lagi.

“eomma..”

“hahaha..” aku tertawa. Sepertinya dia baru bisa mengucapkan kata eomma.

Dong Woon mencium pipi Mi Yung yang tampak seperti apel merah dan gembung.

“kurasa dia tidak mau memanggil mu appa..” candaku.

“appa..?” tiba-tiba Mi Yung membuat kaget dengan apa yang barusan dikatakannya.

“Lihat, dia memanggilku appa!!” seru Dong Woon riang.

“hahaha~” kami tertawa.

“Mi Yung, kamu pintar sekali…” ujar Dong Woon.

Ryeo- oppa, aku sudah bahagia sekarang. Dan aku harap kamu juga ikut bahagia disana.
Oppa, kamu tak usah khawatir. Karena, Dong Woon, dengan begitu ikhlas mau menggantikanmu. Dia mau menggantikan semua kehangatan yang pernah kamu berikan padaku, ia mau melanjutkan senyuman manis dan ikhlas yang biasanya kau tujukan hanya untukku. Dia mau meneruskan impian yang kita impikan dari dulu. Ia juga berkata akan mengajakku naik kapal miliknya. Oppa, tersenyumlah sekarang. Aku tahu, kamu selalu tersenyum padaku. Bagaimanapun, kamu tak akan pernah kulupakan. Aku janji tak akan membagi cinta Dong Woon ini. Tapi, bagaimanapun, rasa cintaku padamu akan tetap ada untuk selamanya, sampai aku mati, sampai aku bertemu kembali denganmu.

Oppa, aku tahu kamu mendengar apa yang aku katakan ini.

THE END

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s