Love You Like Crazy

Posted: April 1, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae

Title : Love You Like Crazy

Category : PG-15, Teenager, One Shoot

Genre : Comedy Romantic

Cast :

Kim Chi Yeon

Choi Si Won Super Junior as Si Won
Other cast:

———————————————————————————————————

“Kita putus.”
Putus. Pergi. Ini sudah ke dua belas kalinya aku diputusi pacarku. Ya Tuhan! Apa yang salah dengan ku? Aku ganteng, tinggi, macho, pintar, kaya, udah gitu aku ini pemegang sabuk hitam taekwondo. Aku juga orang yang setia dan romantis pada wanita. Tapi kenapa semua kisah percintaanku selalu gagal !? lebih sialnya lagi, mereka yang memutuskanku!!! Tuhan! Kalau memang aku belum menemukan seseorang yang tepat, tolong kirimkan aku seseorang yang tepat untukku! Sekarang juga!!
“BUUK!” seseorang menabrakku dari samping. Mengganggu saja! Aku lagi berdoa nih.
“Maaf.” Ujar orang itu sambil menunduk.
“Huh.” Keluhku kesal.
“Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Ujar orang itu. Dia mengangkat kepalanya dan….
Oh My God!! Cantiknya! Siapa wanita ini? Aku belum pernah melihat gadis secantik ini. Luar biasa! Tuhan, kalau dia memang orang yang tepat yang kau berikan padaku, tolonglah buat aku lebih dekat dengannya.
Sungguh, aku hanya bisa bengong memandangnya. Tuhan, inilah pertama kalinya aku percaya bahwa keajaiban itu memang ada. Thanks God!
“Ehmm.. Permisi.” Ujar gadis itu.
“Ah!” aku tersadar dari khayalanku.
“Maaf ya, kak!”
“Ah.. iya! Tidak apa-apa kok!” jawabku.
“Terima kasih. Saya pergi dulu ya.” Ujarnya lalu pergi meninggalkanku disini yang tak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Oh, senyumnya yang manis, indah, oh.. getaran yang kurasakan ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku merasa sangat nyaman. Tuhan! Semoga aku bisa bertemu lagi dengannya. Oh, tidak! Aku lupa minta nomor hp-nya. Bodoooh~

Aku Choi Si Won. lelaki muda yang menawan tapi selalu gagal dalam kisah percintaannya. Semua pacarku, maksudku mantan-mantanku hanya menyukai fisik dan uang yang kumiliki untuk dipamerkan. Setelah bosan aku akan dibuang. Wanita memang kejam. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ya, karena aku merasa aku belum menemukan yang tepat. Tetapi, kejadian yang kualami sore tadi sungguh suatu keajaiban. Rambut panjang lurus, mata yang indah, senyum tulus, inilah keajaiban yang aku dapatkan. Tapi sialnya aku melewatkan satu kesempatan besar yang kumiliki yaitu meminta nomor hp-nya. Ya, dengan itu aku bisa menghubunginya, PDKT dengannya dan memenangkan hatinya. Tuhan~ Tolong aku!
Malam berlalu tiba dengan pagi yang disambut cerah matahari. Saatnya memulai aktivitasku menuntut ilmu di SMA Hansae. Kubuka pintu kelas dan melangkah masuk. Segera menuju ketempat dudukku dan meletakkan tasku. Kusandarkan badan dikursi dan.. hey? Sejak kapan aku duduk berdua disini? Dalam satu meja. Yang aku tahu, aku duduk disini, dikursi paling belakang, paling sudut dan sendiri. Sejak kapan aku punya teman sebangku? Apa ini hantu disudut kelas? Haha! Takhyul!
Lebih baik kupastikan sekarang. Seorang gadis berambut panjang lurus lagi terlelap disebelahku. Ok, aku akan mulai mencoleknya pelan-pelan.
“Hmm, permisi..”
“Ah!” orang itu kaget. Ia segera merapikan rambutnya yang acak-acakan.
“Maafkan aku.” Ujarku.
“Ah, maafkan aku juga…” ujarnya sambil mengalihkan wajahnya pada ku.
HAAH!!!?? I… inikan gadis yang kemarin sore berpapasan denganku! Gadis dengan senyuman manis itu! Thanks God! Kamu selalu mengabulkan permohonanku. Baiklah, aku akan mengambilkan kesempatan kali ini. Si Won! Fighting!
“Hai. Selamat pagi.” Sapaku.
“Selamat pagi juga.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
Ups! Sepertinya aku akan segera mimisan. Ayo lanjut, Si Won!
“Hmm. Anak baru ya?” tanyaku.
“Oh iya. Kenalkan saya Chi Yeon. Kim Chi Yeon.” Ujarnya.
“Sa.. saya Choi Si Won.”
“Saya baru pindah kekota ini kemarin. Ngomong-ngomong, saya boleh duduk disini kan?” tanyanya.
“Oh, begitu… gak apa-apa kok.” Jawabku. Tentu saja boleh. Aku malah senang tahu! Tuhan! Aku harus mendapatkan hatinya!
Aktivitas disekolah terasa sangat menyenangkan. Chi Yeon anak yang baik dan ramah, dan juga selalu tersenyum. Dia benar-benar cantik. Bel pulang sekolah berbunyi bertanda aktivitas di sekolah pada hari ini telah berakhir. Tapi tidak dengan ku karena aku masih harus menyelesaikan tugas essayku yang harus dikumpul hari ini. Aku lupa mengerjakannya kemarin jadi harus buru-buru sekarang deh.
“Ah~ selesai deeh..”
Ku bereskan barang-barangku dan beranjak menuju pintu keluar.
“Kreek!” pintu kubuka.
“Waaaaa!” aku kaget sekali karena tiba-tiba ada orang didepanku.
“Haii..” ternyata itu Kim Chi Yeon.
“Wah, kamu bikin kaget aku aja..”
“Hehe.. maafkan aku Si Won-ssi.”
“Gak apa kok.” Jawabku.
“oh ya, Si Won-ssi ngapain disini sendirian?” Tanya Chi Yeon.
“Oh aku lagi ngenyelesaikan tugasku. Kalo kamu, ngapain didepan pintu kelas sendirian?”
“Aku mau ngambil buku-ku yang ketinggalan didalam laci.” Jawab nya.
“oh, begitu. Kutungguin deh..” ujarku.
Chi Yeon segera menuju ketempat duduknya yang berada disamping tempat dudukku.
“Ini dia.”
“Kenapa bisa ketinggalan?” Tanya ku.
“hehe.. begitulah.”” Jawabnya.
“jadi, sekarang kamu mau pulang?” tanyaku.
“Iya. Emangnya kenapa?” tanyanya balik.
“ya, kurasa lebih baik aku menemanimu pulang. Inikan sudah sore..”
“apa rumah kita tidak berlawanan arah?” tanyanya.
“rumahku lima blok dari sekolah.” Jawabku.
“lho? Benarkah?” tanyanya.
“kenapa?”
“berarti blok kita bersebelahan. Aku empat blok dari sini..” jelasnya.
“kalau begitu, ayo kutemani..”
“terima kasih. Ayo!”
Senang sekali rasanya berhasil mengajak nya pulang bersama. Sore ini sungguh terasa sangat special. Kami tiba didepan rumah Chi Yeon.
“Ini rumahku..” ujarnya.
“Oh…” rumah yang bagus. Catnya juga tampak nyaman.
“Hmm, Si Won-ssi.. terima kasih sudah mengantarku.”
“Ya, sama-sama…” balasku.
“Sampai jumpa.” Chi Yeon masuk kedalam halaman rumahnya.
“Daaa..”
Oh Tuhan! Aku gak bakal ngelupain hari menyenangkan ini. Thanks God! Aku jingkrak-jingkrak didepan rumah Chi Yeon.

Esok harinya disekolah..
“Si Won-ssi..” panggil Chi Yeon.
“Ya?” tanyaku.
“Hari ini ayah ibuku mengadakan pesta dirumah untuk merayakan kepindahan kami..” jelas Chi Yeon.
“Oh ya?”
“Ya. Kamu mau datang?”
“aku diundang? Wah.. boleh.” Jawabku.
“Oke. Jam 5 sore ya.”
“Siip!”
Jam setengah enam aku baru datang ke rumah Chi Yeon. Aku merasa agak malu untuk masuk kedalam rumah. Disana banyak orang. Jadi aku memutuskan untuk duduk di ayunan tamannya saja.
“Si Won-ssi!” Chi Yeon mengagetkanku dari belakang.
“Ah, Chi Yeon. Bikin kaget aja.” Ujarku.
“Tidak berniat masuk kedalam?” Tanya Chi Yeon sambil menawarkan minuman dan kue.
“Gak usah..” jawabku sambil menerima apa yang dibawakannya itu padaku.
“Si Won-ssi.. kau tahu?”
“Apa?” Tanya ku.
“Kamu teman ku yang pertama di kota ini..” ungkapnya.
“Hehe… benarkah?”
“Ya.”
“Kurasa aku sudah tahu akan hal ini.” Ujarku.
“Oh ya? Bagaimana bisa?” tanyanya.
“Sejak pertemuan pertama kali kita waktu itu kamu menabrakku di depan sebuah restoran.” Jelasku.
“benarkah?? Oh iya. Itu kamu ya!”
“hehe~ masa gak sadar sih..”
“habis mukamu terlihat lebih menakutkan waktu itu.”
“apaa!!??”
“bercanda kok. Aku juga sudah tahu itu kamu.” Ujarnya sambil tertawa kecil.
“kamu…!!” seruku pura-pura marah.
“haha~ ampun om..”
“om? Kamu bilang aku om? Gak salah?” tanyaku.
“kalau waktu itu aku pantas memangilmu om bukannya ‘kak’.” Jelasnya.
“Kalau sekarang?” tanyaku.
“kalau sekarang sudah bukan.” Jawab Chi Yeon.
“hehe.. so pasti.” Ucapku.

Hubungan kami menjadi akrab. Suatu siang saat sedang pulang bareng, Chi Yeon mengajakku kerumahnya.
“Si Won-ssi, mau kerumahku?” Tanya Chi Yeon.
“Hah? Ngapain?” tanyaku.
“Begini, aku harus membereskan gudang hari ini.”
“Lho, kok kamu?” Tanya ku.
“Iya, ayah-ibuku sibuk mengurus kepindahan kerja mereka. Jawab Chi Yeon.
“Kamu gak menyewa pekerja?”
“ngapain ngeluarin duit untuk menyewa pekerja kalo aku bisa minta tolong kepada teman baikku?” ujar Chi Yeon.
“Oh, oke deh. Nanti aku balik lagi.” Ujar ku setuju.
“Oke!”
“Sampai jumpa!”
Setelah ganti baju dan makan siang aku segera kerumah Chi Yeon. Ternyata Chi Yeon sudah ada di gudang di samping rumahnya. Didalam gudang banyak sekali kardus-kardus bertumpukan dan berantakan. Chi Yeon tampak mulai merapikannya.
“Chi Yeon.” Sapaku sambil masuk kedalam gudang.
“Eh, Si Won-ssi. Sini, bantu aku ngerapikan kardus-kardus ini.” Panggilnya.
“oke.”
Kami berdua mulai merapikan kardus-kardus ini satu persatu. Akhirnya tersisa satu kardus yang harus dirapikan.
“Wah, gak ada tempat lagi.” Ujarku.
“Ada kok..” potong Chi Yeon.
“Dimana?” tanyaku.
“Tuuh~” Chi Yeon menunjuk kearah atas sebuah lemari yang tinggi.
“Tingginya…..” keluhku.
“Yah, dimana lagi?”
“Ya udah. Tapi bagaimana naruh nya? Tinggi banget.” Ucapku.
“hmm.. begini aja!” tiba-tiba Chi Yeon mendapat ide.
“Bagaimana?”
“Kamu menggendong aku lalu aku menaruh kardus ini diatas sana. Bagaimana?” usul Chi Yeon.
“Ide bagus. Ayo kita coba.” Ucapku.
Kami mulai melakukan ide yang disusulkan Chi Yeon. Aku mulai menggendong Chi Yeon pelan-pelan.
“Oke…. Pelan-pelan..” ujar Chi Yeon.
“Kamu jangan banyak bergerak ya…”
“ya.. aku hampir berhasil. Lebih tinggi lagi.” Ucap Chi Yeon. Dia mulai menaruh Kardus diatas lemari. Aku mulai menggendongnya lebih tinggi.
“Yaa.. yaa…”
“Si Won-ssi lebih tinggi lagi..” Chi Yeon berkata.
“Ya…”
“Yaa… “ Kardus mulai diletakkan. Chi Yeon mendorong kardus agar lebih masuk.
“Yaaa..”
“Ya!! Berhasil!!” kamipun berhasil meletakkan kardus itu dengan rapi.
“Waaaa~” tiba-tiba keadaan kami mulai tidak seimbang dan sepertinya kami akan jatuh.
“BUUKKH!!” Aku dan Chi Yeon terbanting kelantai. Chi Yeon menimpaku. Kepalaku terasa sakit sekali.
“Si Won-ssi, tidak apa-apa?” Tanya Chi Yeon.
“Sakit nih. Kamu?”
“Ya aku sih jelas gak apa-apa.. kan ada bantalan, yaitu kamu.”
“Ah~ kamu. Sakit nih badan ku, udah gitu berat ditindih kamu.”
“habis kamu sih, tiba-tiba bergerak.” Ujar Chi Yeon.
“Heh, kok malah nyalahin aku…” ujar ku kesal.
“ya dong, emangnya siapa lagi??” seru Chi Yeon.
“Itu pasti kamu. Kalo kamu bergerak dikit aja, langsung gak seimbang.”
“enak aja! Kamu yang salah!” seru Chi Yeon kesal.
“Kamu, bodoh!”
“Kamu!” seru Chi Yeon lalu mencubit kedua pipiku.
“Adaww~ kamu!!” balasku mencubit kedua pipinya.
“aww~”
Dan terjadilah pertarungan sengit saling mencubit pipi antara aku dan Chi Yeon.
“Aduh~ sakit..” keluh Chi Yeon bangun sambil mengelus-elus pipinya.
“kamu sih, duluan!” aku ikut bangun.
“apa!!??” seru Chi Yeon. “Kamu, yaa!!” Chi Yeon memukul-mukul dadaku.
“Aw! Aw! Sakit, bodoh!” seru ku. Aku segera menahan kedua tangannya.
Tiba-tiba kami berdua terdiam. Mulutku seperti terkunci tiba-tiba. Kami saling berpandangan. Wajah kami dalam jarak yang sangat dekat. Benar-benar dekat. Entah kenapa, wajahku terasa bergerak sendiri mendekatinya. Makin dekat, mendekat, dan..
“Ah!” aku segera menyadarkan diriku.
“Ah..” Chi Yeon tampak ikut kaget.
Astaga Si Won! apa yang akan kamu lakukan barusan!!??? Lebih baik aku segera pulang sekarang.
“Chi Yeon-ssi, kurasa aku mau pulang sekarang nih. Udah ya, daah..” ujarku. Perasaanku tidak tenang, jantungku deg-degan, pikiranku mulai gak jelas.
“Lho? Kamu gak mau minum jus dulu?” Tanya Chi Yeon.
“Ah, gak usah. Sampai jumpa..” “BUUKK!”
“Aduuuhh!” kepalaku kejedut pinggiran pintu ketika aku berbalik.
“Si Won-ssi, gak apa-apa?” Tanya Chi Yeon. Ia tampak bingung denganku.
“Aku gak apa-apa kok. Daah~” aku segera menuju kerumahku. Berlari sekencang-kencangnya. Setiba dirumah aku segera mengunci pintuku rapat-rapat. Aku merasa sangat aneh. Benar-benar aneh. Esok harinya aku tidak bercerita dengan Chi Yeon. Saling menyapa pun tidak. Maafkan aku Chi Yeon, aku hanya sedang merasa aneh. Aku harap kamu mengerti dan aku harap ini segera berakhir.
Aku duduk termenung di meja guru. Sekarang sudah jam pulang. Murid-murid sudah pulang, hanya aku yang belum. aku mencoba menafsirkan apa yang tengah kurasakan ini. Tuhan, jangan bilang kalau aku telah
“JATUH CINTA..” jangan bilang aku telah benar-benar jatuh cinta padanya. Aku memang menyukai dia, mencintai dia, tapi yang barusan ini kurasa ini memang REAL. Tuhan, bagaimana cara aku menyatakan perasaanku ini padanya?
Aku membuka-buka buku daftar siswa mencoba mencari ide. Kulihat biodata Chi Yeon.
“18 JULI??” hah? Ulang tahunnya tanggal 18 juli. 18 juli kan, 2 hari lagi. Apa? Ulang tahunnya 2 hari lagi? Kenapa aku sampai bisa gak tahu ulang tahunnya sendiri?? Tuhan, inikah cara yang kau berikan padaku agar aku dapat menyatakan perasaanku ini padanya?
Kalau memang iya, aku akan menjalankannya karena aku yakin pasti berhasil. Thanks God! Thanks a lot!!

“sehari lagi…” aku terus memikirkan rencana ku ini. Apa hadiah yang pantas kuberikan padanya? Bunga? Simple banget, boneka? Gak seru, buku? Kayak teman SD, i-pod? Pamer banget sih, cincin? Emangnya mau kawin? Kalung? Ah! Iyaaa!! Kalung. Pas sekali. Baiklah, aku akan membelikannya kalung. Tapi, kalung apa? Emas? Kayak tante-tante, kalung biasa? Murahan banget, kalung mutiara? Gak cocok. Aduh! Aku bingung. Ya udah, pulangan ini aku ketoko perhiasan saja.
“Si Won-ssi.” Chi Yeon menghampiriku didepan pintu gerbang sekolah.
“Chi Yeon… “ Oh.. My.. God! Jantungku deg-degan. Perasaan ini mulai lagi. Aku harus pergi sekarang kalau tidak aku akan pingsan disini.
“Si..”
” Chi Yeon-ssi! Maaf ya! Aku ada urusan sebentar! Bye!” aku segera berlari meninggalkan dia.
Aku pergi ketoko perhiasan. Banyak sekali jenis kalung disana. Aku jadi bingung memilihnya. Seorang pramuniaga menghampiriku.
“Permisi, sedang mencari apa?” Tanya pramuniaga itu padaku.
“Ssst! Begini, aku mau memberikan sebuah kalung untuk ulang tahun pacarku tapi aku tak tahu memilih kalung.” Bisikku pada wanita pramuniaga itu.
“oh, begitu. Saya bisa memberikan saran.” Ujarnya.
“Oh ya?”
Pramuniaga itu membuka lemari pajangan itu. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink berukuran tidak terlalu kecil.
“ini…” dia membuka kotak itu. Sebuah untaian kalung menyilaukan mataku.
“waw..” aku tercengang. Bagus sekali.
“rantainya terbuat dari emas putih, liontinnya terbuat dari berlian asli.” Jelasnya.
Aku mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. Kupegang liontinnya yang berbentuk hati itu. Tampak cahaya-cahaya menyilaukan dari berlian.
“Aku beli ini.” Ujarku. Ini pas sekali untuknya!
“Terima kasih.”

Esok hari nya aku mulai merasa sedikit lega. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Bagaimana kalau saat pulangan sekolah? Siip! Hari ini ulang tahun Chi Yeon, teman-teman memberi ucapan. Beberapa dari mereka ada yang memberi kado. Chi Yeon tampak senang sekali hari ini.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera mencari Chi Yeon. Dia tak ada dimana-mana. Kata temannya dia sudah pulang duluan. Pasti ia merasa sedih karena aku tak menegurnya beberapa hari ini. Lebih baik aku segera mengejarnya.
“Chi Yeon!” panggilku. Ia hendak membuka pintu pagar ketika aku menemukannya. Ia menatapku.
“Ada apa?” tanyanya.
“maafkan aku karena aku tidak menegurmu beberapa hari ini dan aku tahu ini terasa lain bagimu. Tapi aku ingin jujur..”
“apa?”
“kamu membuatku gila.”
“hah??” dia bingung.
“bukan begitu. Maksudku, kamu membuatku tak bisa berhenti memikirkan mu. Selalu dan selalu.. memikirkanmu.” Jelasku. Aku segera merogoh kantong celanaku untuk mengambil kado yang akan kuberikan padanya.
“AKU SUKA KAMU.” Ucapku sambil membuka kotak dan menunjukkan kalung ini padanya.
“Haaahh????” Chi Yeon tampak sangat kaget.
“kamu bisa menjawab kapan saja. Oh ya, selamat ulang tahun.” Aku menyerahkan kalung itu padanya. “sampai jumpa..” aku pergi meninggalkan dia yang hanya terpaku melihat kado yang kuberikan. Hehe, aku senang sekali. Thanks God! I did it!!

Esok harinya saat sedang bosan-bosannya mendengarkan penjelasan guru Chi Yeon menyerahkanku sepucuk kertas.
“AKU JUGA” bacaku dalam hati.
Apa?? Maksudnya dia juga menyukaiku? Aku menatapnya. Ternyata ia juga sedang menatapku sambil tersenyum. Aku tersenyum padanya. Yes! Yes! Si Won! kamu telah mendapatkan hatinya!! Yippie!!
Hari-hari berlalu. Sekarang kami telah menjadi sepasang kekasih. Tapi kami belum pernah kencan layaknya yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Akupun mulai memberitahukan ide ini padanya. Ternyata ia sangat senang dengan ide ini. Hari minggu ini kami akan jalan-jalan kepusat kota.
Hari minggu tiba dan aku sedang dalam perjalanan untuk menemui nya. Kami janji akan ketemu ditempat waktu pertama kali kami bertemu. Didepan sebuah restoran. Didepan restoran itu merupakan tempat yang sangat berarti bagi kami berdua jadi kami memutuskan untuk berjanji temu disana saja.

“Si Won!” panggil Chi Yeon yang baru datang.
“Chi Yeon-ah..” panggilku juga yang sudah menunggu disini dari tadi.
“Ayo pergi!” ajaknya. Ia segera menggaet lenganku. Ups! Aku kaget sekali dia tiba-tiba menggaet lenganku ini.
“Ayo…” jawabku gak tersipu.
Kami berjalan bersama seharian mengunjugi berbagai tempat. Kami mengunjungi pusat perbelanjaan, taman hiburan dan berbagai tempat asyik lainnya. Sekarang kami sedang berada di rumah makan siap saji. Sedang menikmati makanan kami. Tiba-tiba seseorang memegang pundakku.
“SiWon-ah!??” seorang gadis peranakan barat berambut panjang bergelombang menghampiri kami. Aku coba memikirkan siapa kah dia.
“Jennifer ya?” tanyaku.
“Ah, tentu saja! Bagaimana kamu bisa lupa!” ujarnya.
Jadi betul. Dia ini Jennifer atau nama Hangulnya Kang Myung Dae, putri dari teman ayahku yang berasal dari Amerika Serikat. Ayahnya adalah pemilik sebuah grup terkenal di Korea Selatan ini, dan ibunya yang asli sini adalah orang penting Korea Selatan. Aku sudah mengenal dia dari kecil karena ayahnya sering membawanya kerumahku. Anak ini sangat manja, nakal, susah diatur, keras kepala, dan suka memaksakan kehendaknya. Aku sangat membencinya. Aku senang mendengar dia sudah ke AS untuk sekolah disana, tapi kenapa dia kembali lagi kesini dan harus berpapasan denganku disini?
“Kamu ngapain disini?” tanyanya seraya duduk disampingku.
“Kamu gak liat, aku lagi makan?” cetusku.
“Oh, by the way, siapa nih? Your girlfriend?” tanyanya dengan sok logat inggris.
“Iya, emang kenapa?”
Jennifer menghampiri Chi Yeon. Dia memperhatikan Chi Yeon sedetail mungkin membuat Chi Yeon tampak kesal. Aku segera menariknya menghindari Chi Yeon.
“Beautiful..” ujar Jennifer.
“Udah deh, kamu ngapain disini?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“lho? Kamu gak tahu? Aku pindah sekolah kesini.” Jawabnya.
“Hah? Kenapa?”
“I miss you, baby…” ujar nya manja.
Bodoh! Apa yang dia katakan sih? Tahu-tahu aku lagi sama pacarku.
“Apaan sih. Chi Yeon, kamu udah selesai makan?” tanyaku ingin segera keluar dari sini.
“hmm, sudah.”
“Kalo begitu ayo pergi..” aku beranjak dari kursi.\
“Lho? Kok cepat sekali!?” Jennifer kaget.
“Bukan kami yang cepat, tapi karena kamu yang lambat datang.” Jawabku kesal. “Ayo Chi Yeon.
Aku meraih tangan Chi Yeon dan membawanya keluar meninggalkan Jennifer sendirian.
“Chi Yeon, masalah tadi gak usah dipikirkan ya?” ujar ku.
“Oh iya, gak apa-apa kok. Ngomong-ngomong siapa dia?” Tanya Chi Yeon.
“Yah~ dia putri teman ayahku dari Los Angeles. Dan aku sangat membencinya.” Jawabku terus terang.
“lho kenapa?” Tanya Chi Yeon.
“Habis nya dia menyebalkan sekali.” Jawabku.
“kalian sudah saling kenal dari dulu?”
“Iya. Ah, sudah ah ngebahas orang itu. Kita kemana sekarang?” Aku mengalihkan perhatian agar tidak membuat Chi Yeon kepikiran mengenai orang bodoh itu.
Huh, kenapa dia harus muncul disaat kami sedang bersama sih!
“Kita nonton bioskop yuk!” ajakku.
“Hmm, nonton apa?” Tanya Chi Yeon.
“Makanya, kita lihat dulu yuk!”
“Ayo.”
Aku dan Chi Yeon melanjutkan kencan kami.
***
Di depan rumah Chi Yeon.
“SiWon-ssi, terima kasih sudah mengantarku.” Ujar Chi Yeon tersenyum manis diterangi lampu jalan yang ada di samping kami.
“ya, sama-sama..” jawabku. Kami saling bertatapan.
Sebuah ciuman singkat selamat malam ku daratkan dibibir Chi Yeon yang kecil dan lembut.
“selamat malam.” Ujar Chi Yeon tersenyum sambil menggenggam kedua tanganku.
“selamat malam.” Jawabku tersenyum. Ia melepas genggamannya dan membuka pagar lalu masuk kedalam lingkungan rumahnya.
SiWon.. ini kencan terindah pertama kalinya dalam hidupmu! Tuhan! Terima kasih banyak! Benar-benar terima kasih Tuhan!

Memulai pagi ini dengan kegiatan belajar di SMA HANSAE. Kukira awalnya akan tenang-tenang saja. Tidak, setelah Jennifer pindah kesekolahku. Sialan! Kenapa dia datang lagi menggangu hidupku!? Cukup sudah sepanjang kehidupan sekolah dasarku kuhabiskan dengan gangguannya itu. Tuhan! Kenapa harus diulang lagi? Lagian apa tujuan nya pindah kesekolahku? Dia kan bisa bersekolah ditempat lain yang lebih cocok dengan standar anak-anak peranakan barat seperti dia. Tapi untunglah ia beda kelas dengan ku. Tapi dia tetap saja menggangu. Aku yakin! Pasti dia akan menggangguku!

“SiWon!!” panggil Jennifer ketika aku dan Chi Yeon sedang berada di kantin.
“Apa kubilang..” ujarku dalam hati.
“Chi Yeon, ayo pergi.” Aku mengajak Chi Yeon pergi.
“Lho, SiWon-ah mau kemana??” Tanya Jennifer.
Begini hari-hari kami setiap didatangi Jennifer. Chi Yeon angkat bicara karena bosan melarikan diri seperti ini terus.
“Kenapa kamu tidak mau ngobrol baik-baik dengannya?” Tanya Chi Yeon.
“bukannya tidak mau..” jawabku.
“tapi?”
“Ya, aku hanya takut dia akan mengganggu hubungan kita. Itu aja kok.” Jawabku
“apa dia pernah mengganggu hubunganmu dengan orang lain sebelumnya?” Tanya Chi Yeon.
“Aduh Chi Yeon, bukan begitu. Tapi dia itu suka mengganggu aku sejak dulu. Aku takut kali ini ia akan mengganggu hubungan kita..” jelasku.
“begitu.. tapi kasihan juga dia kamu jauhin begitu..”
“gak apa. Habis nyeselin banget sih!” ketusku kesal.
“ya udah, ayo masuk udah bel.”

Beberapa hari ini aku tak mendengar suara Jennifer yang mencari-cariku. Tiba-tiba, saat sedang pulang sekolah sendirian karena Chi Yeon sedang sibuk dengan kegiatan ekskulnya aku dicegat Jennifer di gerbang sekolah.
“Hai SiWon-aahhh..” panggilnya manja.
“ada apa sih!?” ketusku.
“ih, kamu. Kok jahat sama aku… ngomong-ngomong mana pacarmu itu?” tanyanya.
“emangnya apa urusanmu sama dia?” tanyaku.
“Nothin, just asking.” Ujar Jennifer. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan seuatu.
“Do you know who is this?” Tanya Jennifer. Ia menunjukan selembar foto yang tidak kukenal padaku.
“siapa?” Tanyaku bingung tampak seperti seseorang yang kukenal.
“sayang sekali, this is your girlfriend.” Ujarnya. Tidak mungkin, gendut, jelek, jerawatan itu adalah Kim Chi Yeon.
“Maksudmu Chi Yeon?”
“Iya, emang kamu punya pacar berapa?”
“bohong!” seruku.
“kamu tak percaya? Ya sudah.” Ujarnya enteng.
“yang serius!” seruku.
“kamu sih, gak percaya.Comon, kamu tahu siapa aku kan? Aku bisa mencari informasi dengan begitu cepat. Aku bisa mencari dengan cepat dimana sekolahmu,kan? Begitu juga dengan masa lalu Chi Yeon. Itu mudah sekali bagiku. Kamu gak mau foto ini disebarkan, right?”
“apa maumu menyebarkannya!?” aku mulai naik darah dengannya.
“hihihi. Just a little thing.” Ujarnya.
“apa?”
“kamu, menjauh darinya dan jadi pacarku.” Ujarnya. “atau tidak, foto ini menyebar luas diseluruh penjuru sekolah ini.” Ia meninggalkan aku yang terpaku disini.
Bagaimana ini? Apakah itu benar-benar Chi Yeon? Apa yang harus kulakukan? Terima begitu saja persyaratannya? tapi, bagaimana dengan perasaan Chi Yeon? Aku tak ingin melukai perasaannya tapi aku juga tak mau rahasia ini tersebar. Tuhan, tolong beri jalan padaku.
***

“baiklah aku terima.” Ujarku pada Jennifer. Kami tengah berada diatap sekolah. Udara segar berhembus menerpa rambutku.
“Wah, SiWon-ah baik deh. Mulai sekarang, you are mine~” grrr! Bikin kesal aja deh. Milikku-milikku apaan!!? Tipikal wanita seperti ini yang sangat tidak kusukai. Ah~ sabar.. sabar.. SiWon.. ini Cuma cobaan yang diberikan Tuhan padamu. Fighting SiWon!!

Kurasa aku jangan dulu memberitahu Chi Yeon agar masalah tidak makin rumit. Maaf Chi Yeon, aku harus menyimpan rahasia dari mu yang kedua kalinya. Sungguh, aku tak bermaksud seperti ini padamu. Aku tak ingin ada rahasia diantara masing-masing. Aku ingin kita berdua bisa terbuka satu sama lain. Tapi, kali ini aku benar-benar minta maaf. Setelah ini tak ada lagi rahasia diantara kita. Aku yakin. Tapi Chi Yeon, kali ini tolong bertabahlah sedikit.
Aku memandang handphoneku aku jadi terpikir, akankah ia mengangkat telepon jika aku menelponnya saat dia tahu aku bersama wanita lain? Akankah ia menelponku? Akan masih adakah namaku di list contact personnya? Masih adakah?
Ah, SiWon, jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi. Siapa tahu besoknya, Jennifer berubah pikiran. Ah, sepertinya gak mungkin atau tiba-tiba ia kehilangan fotonya? Atau bisa saja file-file computernya temakan virus. Semoga saja!

“Honey, lihat deh. Lucu,kan gambarnya?” Jennifer menunjukkan sebuah buku padaku.
Kami berdua sedang duduk di sebuah bangku disamping taman sekolah. Sekarang jam istirahat dan aku berharap hal ini tidak diketahui oleh Chi Yeon. Ah~ pasti akan ketahuan…
“iya.. iya bagus.” Jawabku kesal.
“ih, Honey. Kok kasar gitu sih.. kusebarin nih..” ancam Jennifer dengan nada manja.
“iya.. bagus.” Jawabku dengan nada pelan. Huh! Dasar licik.
Aku masih belum bisa mengatakan alasanku padanya. Bagaimana perasaannya nanti? Kalau aku menolak permintaan Jennifer dan foto itu tersebar?

“Astaga!” aku menyadari ternyata Chi Yeon sedang melihatku. Aku meletakkan buku yang ditunjukkan Jennifer dan melepas genggamannya. Tak kusadari ternyata ia sedang mengamatiku dari jendela kelasnya yang mengarah ke taman tempat kami berada.
“Ada apa, SiWon-ah…” ujar Jennifer.
“Ah, gak ada apa-apa..” aku mencoba bersikap biasa kepada Jennifer. Bisa gawat kalau dia marah. Aku memandang kearah Chi Yeon dengan perasaan galau. Maaf ChiYeon. Maaf.

Seminggu berlalu. Hari ini Chi Yeon masih tidak masuk sekolah. Sudah 3 hari ini ia tidak masuk sekolah. Apa jangan-jangan ia sakit? Apakah aku bisa menjenguknya?
“permisi..” aku menyapa beberapa anak perempuan yang biasa akrab dengan Chi Yeon.
“kamu tahu kemana Chi Yeon beberapa hari ini?” tanyaku.
“lho? Dia, bukannya dia pindah?” ujar seseorang dari mereka.
“Hah? Benarkah?” aku tercengang. “pindah sekolah?”
“tidak hanya itu, ia juga pindah rumah. Katanya ia pindah ke rumahnya dulu karena ayahnya dipekerjakan kembali ditempat semula.” Jelas anak itu.
“ah? Kapan ia pindah?”
“katanya hari ini baru mereka pindah. Tapi barang-barang mereka sudah diangkut duluan.”
“haah??”
“lho? Kamu pacarnya, kan? Kok tidak tahu, sih?”
Aku hanya terdiam.
“oh iya, kulihat sebelum ia tidak masuk, ia terlihat sangat sedih selama beberapa hari? Apa kalian bertengkar?” Tanya yang lain.
“ah, begitulah..”
“lebih baik kau menyusulnya sekarang..”
“ah, terima kasih banyak.” Aku segera meninggalkan mereka. Aku harus pergi menemuinya. Kurasa ini saatnya ini aku memberitahunya yang sebenarnya.
“SiWon. Ada apa terburu-buru?” Tanya Jennifer menghampiriku.
“menemui Chi Yeon.” Jawabku.
“lho? Kita kan sudah janji. Atau kamu mau foto ini disebarkan?” Tanya Jennifer sambil menunjukkan foto Chi Yeon.
“ah!” Jennifer kaget karena tiba-tiba merebut foto itu. Dengan segera kurobek foto itu hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.
“foto ini asli atau tidak, tapi kalau kamu berani menyebarkannya, KUBUNUH KAMU!” ujarku penuh serius.
Jennifer terdiam mendengar ancamanku. Kesempatan ini kuambil dengan melanjutkan perjalananku kerumah Chi Yeon. Melalui pintu belakang aku keluar dari sekolah. Berlari sekuat tenaga menuju rumah Chi Yeon. Aku harap ia belum pindah atau aku akan menyesal seumur hidupku.

“Bruum..” kulihat sebuah mobil sedan yang kutahu milik ayah Chi Yeon sudah melaju meninggalkan rumahnya. Pintu dan jendela rumah mereka tertutup dan didepan tampak kosong. Oh, tidak. Mereka sudah pergi.

“Chi Yeon!” Aku mencoba mengejar mobil itu.

“ah~ uh~ Chi Yeon!”

“Chi Yeon!”

Mobil itu terus melaju meninggalkanku. Aku tak mampu mengejarnya. Aku berhenti.

Ah~ Tuhan. Maafkan atas segala kebodohanku selama ini. selamat tinggal Chi Yeon. Aku terduduk dijalan meratapi perginya mobil itu.
Selamat tinggal Chi Yeon. Dimanakah aku harus mencari mu sekarang??
Tak terasa air mataku menetes.

Chi Yeon..

“SiWon?” seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku kaget karena sepertinya aku tahu suara siapa ini. aku menoleh kebelakang.
“Chi Yeon!!??” seruku kaget. Chi Yeon memakai baju biasa dan memegang payung.
“Apa yang…”
“Chi Yeon!” aku segera memeluk Chi Yeon. Betapa senang diriku karena ternyata Chi Yeon belum pergi.

“SiWon-ssi? Apa yang kamu lakukan panas-panas begini didepan disini? Kamu gak pergi sekolah?” tanyanya.
“Tidak. Chi Yeon, maafkan aku. Sungguh aku tak maksud berbuat begini. Aku diancam oleh Jennifer untuk menjauhi mu supaya…” aku terhenti. Aku tak sanggup melanjutkan.
“supaya?” Tanya Chi Yeon tampak penasaran.
“Su.. supaya ia tidak menyebarkan fotomu..” jawabku jujur.
“fotoku? Foto apa?” tanyanya bingung.
“begini..” aku menceritakan keseluruhan kejadian kepadanya. Aku tak mau lagi berbohong padanya atau kisah cinta ku kali ini benar-benar akan hancur.

“benarkah begitu?” Tanya Chi Yeon kaget sesudah mendengar kesuluruhan ceritaku.
“ya, maafkan aku juga telah melihat wajahmu yang dulu tapi tenang saja..”
“SiWon..” potong Chi Yeon.
“a.. ya?”
“kamu masih menyukaiku, kan?” tanyanya tampak serius.
“a.. tentu saja!” seruku. “kau tahu, bagaimanapun kamu, akan selalu menjadi yang paling cantik bagiku. Dan aku akan tetap menyukai. Aku cinta kamu.”
Bssh~ pipiku terasa hangus terbakar. Aku tak pernah jujur seperti ini sebelumnya. Aku malu sekali.
“percayalah!” ujarku.
“aku percaya kok.” Jawab Chi Yeon tersenyum.
“benarkah?” tanyaku.
“iya. Aku percaya. Buktinya, mukamu sampai memerah tuh..” ujar Chi Yeon seraya tertawa kecil.
“Ah, Chi Yeon~” aku merasa malu. “pipimu juga memerah kok.”
Ah, SiWon, kamu memalukan sekali.

Chi Yeon memelukku. Kami saling berpandangan. Kami saling tesenyum. Ditutupi payung, kami berciuman.

THE END

# Side Story

Seminggu sejak hari itu. Jennifer pindah lagi ke Amerika Serikat karena takut dengan ancamanku waktu itu. Pagi ini pelajaran belum dimulai. Aku hanya duduk terdiam dibangkuku sendirian. Tak ada Chi Yeon disampingku. Aku duduk sendiri dipojokan kelas seperti dulu. menjalani hubungan jarak jauh ternyata kurang menyenangkan.
Ah, SiWon. Jangan cengeng begini dong. Kamu kan sering menelponnya tiap malam.
Bel berbunyi. Semua murid masuk kekelasnya masing-masing.

Bapak wali kelas kami masuk.
“Selamat pagi. Hari ini kita kedatangan murid baru. Sungguh tiba-tiba padahal sebentar lagi ulangan kenaikan kelas.” Ujar Bapak itu.
“wah, bagus. Setidaknya aku akan ada teman disampingku.” Pikirku dalam hati.
“tapi murid baru ini sudah pernah bersekolah disini beberapa waktu lalu. Juga didalam kelas ini.” sambung bapak lagi.

dikelas ini? siapa? Jangan-jangan…

“Kim Chi Yeon, silahkan masuk.” Ujar bapak itu.

APA!? Kim Chi Yeon!!?? Aku tercengang.
Ternyata benar. Itu Chi Yeon ku. Tapi kenapa diaa….??

Dia menatapku sambil tersenyum. Aku yang kaget hanya bisa tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Bukannya dia sudah pindah? Kok balik lagi?? Kenapa dia tidak memberitahuku sebelumnya?

“Chi Yeon, kamu duduk ditempat mu dulu ya.” Ujar wali kelas.
Chi Yeon duduk menghampiriku. Ia tersenyum padaku. Wajah yang sangat kukenal. Senyum yang sangat kukenal. Ini benar-benar dia.

“WUHOOO~!!!” tiba-tiba semua murid bersorak. “Yeee!!”

Ada apa? Aku bingung dengan mereka. Mereka semua melihat padaku dan Chi Yeon. Ada yang mengancungkan jempol padaku. Aku jadi benar-benar bingung.

“kenapa kalian menyoraki ku tadi?” tanyaku pada temanku saat jam istirahat.
“kamu belum tahu?’ Tanya temanku itu.
“apa?” aku bingung.
“sebentar” ia memencet-mencet handphonenya dan menunjukkan sebuah video padaku.
“nonton nih.”

“WAAH~” bukan main tercengangnya aku ternyata itu rekaman video saat aku bertemu dan meminta maaf pada Chi Yeon sebelum dia pindah.

Dia akhir rekaman ada sebuah tulisan “By : Jennifer”

“Jennifer!” seruku kesal. “jadi ini ulah mu ya!!??”

***

[Jennifer’s P.O.V]

“foto ini asli atau tidak, tapi kalau kamu berani menyebarkannya, KUBUNUH KAMU!” ujar SiWon penuh serius.
Aku terdiam mendengar ancamannya. Seumur hidup SiWon-ah tidak pernah sekasar ini padaku. Sepertinya kali ini dia benar-benar serius. Ia merobek foto itu. Padahal itu foto yang terakhir. File foto itu kusimpan di dalam flashdiskku dan sudah termakan virus tanpa kusadari.

Dia berlari meninggalkanku. Karena penasaran akupun mengikutinya. Huh, capek sekali harus mengejarnya. Larinya sungguh kencang sekali. Dari dulu SiWon-ah memang jago lari. Bajuku sampe berantakan ngejar dia karena takut kehilangan jejak.

Aku melihat SiWon berhenti didepan sebuah rumah menatap sebuah mobil pergi. Ia mengejar mobil itu sambil meneriakkan nama Chi Yeon. Huh! Ternyata ia mengejar Chi Yeon yang sudah pergi. Apa bagus nya sih, anak itu?
Lebih baik kurekam saja kejadian ini. lucu nih, kayaknya.
Aku mulai merekam mereka dengan handphoneku.
Eh, SiWon-ah kok duduk di jalan kotor? Bangun!
Eh, siapa itu yang pake payung warna biru? Ia mendekati SiWon-ah ku!
“Chi Yeon!?” SiWon-ah tampak memeluk orang didalam payung. Apa? Chi Yeon? Itu Chi yeon? Bukannya dia sudah pergi?

Huh lama banget sih. Mereka ngobrol apa? Panas-panas begini. Sialan! Bodoh sekali aku mengintip mereka. Eh? Mereka ngapain itu? Kok jadi rapat sekali? Apa mereka BERCIUMAN!!??

Ah!! Tidak! SiWon milikku!!
Aku berlari meninggalkan mereka.
Sialan kamu SiWon-ah. Telah menghancurkan perasaanku.
Huh, aku akan menyebarkan rekaman ini pada teman-temanmu biar kamu malu.
Lalu aku akan kembali ke L.A lagi dan tidak akan mengganggu mu lagi. Puas kamu!?
Apa ini? air mata? Aku menangis? Bodoh~
Ah, lebih baik aku balik kesekolah sekarang. Aku jadi tambah kesal melihat mereka.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s