Play A Guitar For Me

Posted: April 27, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Play a guitar for me
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Kim Jun Su 2PM as Kim Jun Su
Me [Tiffany Elfuty Armstrong] as me
Note : sebenarnya mau bikin FF orderan. Cuma, karena lagi males, aku pengen nya pake tokoh utamanya aku. Lalu, aku make Jun Su 2PM coz cocok sama perannya menurutku. Kalau pake yayang Chan Sung yeobo chagiya bla bla blah.. gak cocok.. hehe~ met menikmati. Sori kalo FF nya aneh, gak jelas, gila, dll sebagainya.. hehe~ hehe~ hehe~
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“tolong jaga adik sepupu mu itu ya. Aku mau pergi belanja sebentar. Kasihan dia sendiri di sana.”
“ne..” Myung Dae mengangguk mendengar permintaan ajuhmanya.
“Cuma kamu yang bisa di harapkan.” Sambung ajuhmanya. “suamiku sedang bekerja.”
“ne, aku akan menjaganya.” Ujar Myung Dae. “tapi kamarnya di mana?”
“di lantai 3.” Jawab ajuhmanya.
“nomor kamarnya?”
“oh, kalau tidak salah nomor 328.” Jawab ajuhmma nya yang berambut keriting itu.
“tidak salah?”
“kamu cek saja. Sudah ya, obralnya sebentar lagi di buka!” seru ajuhma nya lekas-lekas pergi.
Mereka berdua berpisah di depan rumah sakit. Myung Dae berjalan masuk ke gedung rumah sakit.
“kamar Kim Jun Su, dimana?” Tanya Myung Dae.
“Kim Jun Su?” Tanya resepsionis rumah sakit tersebut.
Myung Dae mengangguk.
“Kim Jun Su ada di kamar nomor 328?” jawab resepsionis.
“kamsahamnida.” Myung Dae mengangguk lalu pergi. Ajuhmanya tidak salah kali ini, karena Myung Dae tahu ajuhma nya itu pelupa.
Myung Dae naik lift menuju ke lantai tiga. Ia mencari-cari dan akhirnya menemukan kamar bernomor 328. Tapi Myung Dae bingung karena ia mendengar bunyi gitar dari kamar adik sepupunya itu. Myung Dae yang penasaran membuka pintu yang tidak terkunci itu. Ia masuk kedalam ruangan. Di dalam terasa agak dingin karena AC
“Jun Su?” panggil Myung Dae. Ia mendengar seseorang bermain gitar dari arah sebelah dalam ruangan. Myung Dae yang penasaran terus berjalan masuk untuk memastikan apakah ia salah ruangan. Suara gitar sudah berhenti.
Myung Dae berjalan kea rah jendela.
“ya! Siapa kamu!?” seseorang mengagetkan Myung Dae . Ia menyadari ada seorang namja tidak di kenal di belakang nya duduk di sebuah kursi. Myung Dae tidak menyadari orang itu karena tempat duduknya terhalang dinding tadi. Namja itu memegang sebuah gitar. Matanya agak sayu.
“Ah!??” Myung Dae kalang kabut. “saya.. salah kamar..” Myung Dae langsung membungkuk lalu segera pergi keluar dari kamar. Ia segera turun ke lantai bawah untuk menanyakan kamar Jun Su sepupunya yang sebenarnya.
“Ah, mianhamnida. Saya kira tuan Kim Jun Su..” ujar resepsionis sambil membungkuk.
“animnida, sepupu saya ini masih berumur 6 tahun.”
“Saya lupa memberitahu kalau ada nama yang sama yang bersebelahan kamar.”
“gwaenchana, kalau begitu, kamar sepupu saya?” Tanya Myung Dae.
“kamarnya nomor 329.” Jawab resepsionis itu.
Myung Dae naik kembali ke lantai tiga. Ia melewati satu nomor dari kamar yang salah tadi. Kali ini ia benar-benar menemui sepupunya yang asli.
“ya.. nuna.. kamu lama sekali..” ujar sepupunya.
“hhehhe.. mianhaeyo, Jun Su-ah..” ujar Myung Dae senyam senyum.
“nuna, belikan aku minuman di luar…” pinta Jun Su sepupu laki-lakinya itu.
“kamu mau minum apa?” Tanya Myung Dae.
“apa saja deh, bir juga boleh..” canda sepupunya.
“mwo?” Myung Dae kaget.
“ah, nuna serius banget sekali sih. Sudah, cepat belikan aku minuman!” seru sepupu kecilnya itu.
Myung Dae segera beranjak dari kamar.
Ketika ia keluar ia melihat Jun Su dari kamar 328 juga sedang keluar dari kamarnya sambil membawa gitar. Myung Dae merasa agak malu, dia cepat-cepat berjalan duluan dari Jun Su.
Myung Dae baru masuk di dalam lift. Ia hendak membeli minuman di lantai bawah. Tiba-tiba tangan seseorang menahan lift tersebut. Dan masuk lah Kim Jun Su yang lebih besar, Kim Jun Su dari kamar 328. Myung Dae hanya bisa menunduk. Sementara dengan tampang biasa-saja, Jun Su hanya melirik Myung Dae yang seperti nya ingin cepat-cepat keluar.
Lift terbuka, Myung Dae langsung melesat pergi. Ia segera menuju ke tempat mesin penjual minuman yang ia lihat pada saat pertama ke rumah sakit ini. untung saja ia tidak lagi berpapasan dengan Jun Su yang itu. Myung Dae membeli sekotak susu stroberi dan sekaleng minuman untuk Jun Su sepupunya dan untuk dia sendiri. Saat hendak balik lagi menuju ke atas, dari kaca-kaca jendela yang transparan, Myung Dae melihat Jun Su sedang duduk di kursi bawah pohon yang rindang dan teduh.
Tiba-tiba muncul niat Myung Dae untuk menghampiri namja itu. Myung Dae ingin mendengar permainan gitarnya.
Myung Dae mengendap-endap perlahan-lahan dari belakang. Ia mendengar petikan-petikan senar gitar yang di mainkan Jun Su. Terdengar juga suara nya yang agak pelan sedang menyanyi.
Suara gitar berhenti.
“aku tahu kamu disitu.” Ujar Jun Su tiba-tiba. Myung Dae sangat kaget. Apa kah dirinya yang di maksudkan oleh Jun Su.
“ne, kamu, siapa lagi!?” ujar Jun Su lagi seolah mengetahui isi hati Myung Dae.
“aku!?” Tanya Myung Dae.
“aniyo, aku berkata pada yeoja dengan rambut pendek bergelombang, memakai terusan berwarna maroon dan tas kecil berwarna hitam yang tadi salah masuk ke kamarku.” Jelas Jun Su.
Myung Dae sadar kalau dirinya lah yang di maksudkan Jun Su. Myung Dae berjalan ke depan Jun Su. Jun Su menatapnya dengan muka datar.
“mianhamnida! Aku tidak bermaksud mengganggu mu.” Ujar Myung Dae sambil membungkuk-bungkuk.
“jangan menghalangi pandanganku.” Ujar Jun Su. Myung Dae bergeser kea rah kanan sedikit.
“babo. Duduklah.” Ujar Jun Su.
“mwo? Aku duduk? Dimana?” Tanya Myung Dae.
“itu disana..” ujar Jun Su menunjuk kea rah bangku yang ada di depan gedung rumah sakit.
“jauh sekali…” ujar Myung Dae.
“huh, tentu saja di sini.” Ujar Jun Su menunjuk ke bangku panjang yang ia duduki.
“ohh.. baiklah..” Myung Dae duduk di bangku panjang tersebut, berjarak dari Jun Su.
“ya.. memangnya wajahku menakutkan sekali ya!?” seru Jun Su. “lebih dekatlah. Aku tak akan memakanmu.”
“me..makan??” gumama Myung Dae.
Jun Su memetik-metik gitar perlahan-lahan tapi ia tidak benar-benar memainkannya. Mereka berdua terdiam disitu.
“kamu tidak memainkannya seperti tadi?” Tanya Myung Dae.
“aku di bayar berapa untuk melakukan itu?” Tanya Jun Su.
Myung Dae agak kesal dengan cara bicara Jun Su yang ketus.
“baya..”
“kenapa kamu sampai bisa salah kamar seperti tadi? Kamu baru pertama kali ke rumah sakit ini?” potong Jun Su.
Myung Dae mengangguk. “habisnya, namamu mirip dengan nama adik sepupuku.”
“oh ya? Namanya Kim Jun Su juga?”
Myung Dae mengangguk.
“sepertinya resepsionis itu salah.”
“bagaimana kamu tahu kalau resepsionis itu salah?”
“karena kamu bertanya padanya sebelum naik.”
“kalau ia menjawab benar?” Tanya Myung Dae.
“berarti kamu yang sengaja.” Ujar Jun Su.
“ah, aniyo. Itu kesalahan resepsionis itu!”
“kamu sudah mengatakannya.” Ujar Jun Su.
Myung Dae melihat susu dan minuman kaleng yang ia bawa. Ia jadi teringat harus mengantarkannya pada adiknya.
“ah, aku baru ingat.” Ujar Myung Dae. Jun Su menatapnya. “aku harus mengantarkan ini pada adikku.”
“Kamu tidak ingin mendengar aku memainkan gitar?” Tanya Jun Su pada Myung Dae yag sudah bangkit dari tempat duduk.
Myung Dae terdiam.
“cepat sana, dia sudah menunggu.” Ujar Jun Su.
“ah, ne. aku pergi dulu ya.”
“jreng..” Jun Su memainkan tangannya di atas gitar sambil mengangguk.
“Datang saja besok.” Ujar Jun Su.
Myung Dae mendengar kalimat terakhir Jun Su tadi. Apakah itu berarti, ia bisa menemui Jun Su?
Myung Dae segera naik ke kamar adikknya. Ajuhmanya belum datang, dan adik sepupunya sudah memasang wajah kesal nya. Myung Dae hanya senyam senyum.
“hmmmm!”
“hehe~ mianhaeyo, Jun Su.” Ujar Myung Dae. “ini, aku bawakan susu.”
“tidak mau!” seru Jun Su.
“ah? Waeyo?”
“nuna sudah membuatku kesal!” seru Jun Su.
“ah, tadi aku ketemu temanku.”
“maksud nuna, namjachingu?” Tanya Jun Su. “yang duduk di pohon itu!?” Jun Su menunjuk ke luar. Myung Dae kaget, sepupunya mengetahui ia kemana tadi. Myung Dae tak bisa berkata apa-apa kali ini.
“Jun Su.. maafkan aku.” Ujar Myung Dae.
“huh..” Jun Su menunjukkan muka sombongnya.
“baiklah, kamu bisa ambil minuman ku juga.” Rayu Myung Dae.
“huh.” Jun Su masih memainkan muka sombongnya.
“baiklah, aku akan beli lebih banyak lagi..”
“huh..”
“Ah, Jun Su-ah? Kamu tidak memaafkan ku?” Tanya Myung Dae dengan wajah serius.
“hmph! Hahahaha!” tiba Jun Su tertawa.
“mwo?” Myung Dae bingung.
“nuna lucu sekali!” seru Jun Su.
“kamu mempermainkan aku!?” seru Myung Dae.
“ah, aniyo. Nuna jangan serius begitu. Aku hanya bercanda kok.” Ujar Jun Su.
“kalau begitu kamu mau ambil?” Myung Dae menawarkan susu kotak pada Jun Su.
“aku mau ini.” Jun Su mengambil minuman kaleng milik Myung Dae.
“ah itu punyaku.” Seru Myung Dae.
“kamu lebih cocok minum susu.” Ujar Jun Su.
“ah! Kembalikan padaku!” Myung Dae memegang minuman kaleng itu mencoba merebutnya dari Jun Su.
“Anak-anak!” tiba –tiba ajuhma datang. Jun Su pun berhasil mempertahankan minuman kaleng tersebut.
“eomma!” seru Jun Su.
“kalian akur sekali ya..” ujar Ajuhmma.
“begitulah.” Jawab Myung Dae pura-pura tersenyum.
“Myung Dae-ah, aku bawa ini untuk mu.” Ajuhma memberikan beberapa bungkus makanan ringan.
“ah, eomma! Punya ku mana!??” seru Jun Su.
“aniyo. Nanti alergimu kambuh lagi.” ujar ajuhma. Myung Dae menjulurkan lidah pada Jun Su. Jun Su terlihat kesal.
“gomawo telah menjaga Jun Su. Sekarang kamu bisa pulang.” Ujar ajuhma seraya tersenyum.
“ne, ajuhma. Annyeong haseyo.” Myung Dae membungkuk. Ia keluar dari kamar.
Dari luar kamar ia mendengar ajuhmanya memarahi Jun Su gara-gara minuman kaleng tadi. Sudah kubilang kan, pikir Myung Dae. Myung Dae senyam senyum di luar kamar.
Myung Dae segera pulang kerumahnya. Ia tidak menemui Jun Su lagi, karena ia ingat Jun Su mengatakan, ia bisa datang besok.
Dirumah Myung Dae membayangkan kejadian nya tadi, ia pertama kali bertemu namja itu. Ia senyam-senyum mengingat kesalahan nya tadi. Myung Dae membayang wajah Jun Su. Wajahnya cakep, rambut lurusnya, matanya, tangannya yang bermain gitar, Myung Dae jadi suka padanya, meskipun ia tahu sifat Jun Su yang cuek.
***
Esok harinya Myung Dae datang lagi kerumah sakit. Ia mencoba mencari-cari Jun Su tapi tidak menemukannya. Akhirnya ia mendapati Jun Su sedang mengintip di sebuah ruangan. Di ruangan itu ada beberapa orang perawat dan pasien. Jun Su tampak sangat memperhatikan.
“siapa yang kamu lihat?” Tanya Myung Dae.
“WAAHH!!!” pekik Jun Su kaget karena Myung Dae tiba-tiba ada di sampingnya.
“pacarmu?” Tanya Myung Dae.
“huh, sok tahu.”
“lalu siapa?”
“bukan siapa-siapa.” Ujar Jun Su lalu beranjak pergi. “kamu sedang apa disini?”
“lho? kemarin kamu sudah janji akan memainkan gitar untukku.”
“oh ya? Sepertinya aku sudah lupa.” Ujar Jun Su.
“ah, kamu memang berjanji kok!”
Myung Dae terus memaksa kan kehendaknya. Tiba-tiba, saat mereka sudah sampai di depan kamar Jun Su, Jun Su menyandarkannya di pintu.
“kalau aku tak mau?”
“kamu.. kan sudah janji..”
“kenapa kamu begitu ingin mendengar aku bermain gitar?” Tanya Jun Su lagi. Myung Dae terdiam.
“kamu menyukai ku kan?” Tanya Jun Su.
Myung Dae kaget sekaligus tersipu. Ia malu. Tapi, Myung Dae sebenarnya memang sudah menyukainya.
“kalau iya?” Tanya Myung Dae.
Jun Su menggeser Myung Dae dari pintu dan masuk ke kamarnya. Myung Dae mengikutinya.
“aku hanya ingin kamu menepati janji.”
“janji? Dengan orang tak di kenal seperti aku? Kamu tak takut aku mengapa-apai mu disini?”
Mereka terdiam. Jun Su tiba-tiba mendekat.
“Ah, mianhae.. aku tak bermaksud..” Belum sempat Jun Su meminta maaf Myung Dae sudah berlari keluar dari kamar.
Jun Su duduk di kursi. Ia berpikir, mungkin saja yeoja itu hanya mencoba akrab dengan ku. Lagian aku tahu, aku sudah berjanji padanya. Kenapa aku bisa sejahat itu?
Sementara itu Myung Dae yang berlari , tak henti-hentinya mengatakan babo. Jun Su betul, kenapa ia bisa bertingkah seperti itu di depan orang yang tak ia kenal sama sekali?
Beberapa hari berlalu. Myung Dae tak datang-datang lagi di rumah sakit. Myung Dae sedang mencoba melupakan cinta first sight nya itu. Myung Dae sedang berbaring di kasur di kamarnya kemudian hapenya bergetar.
“Yoboseyo? Ajuhma? Ada apa?”
“Myung Dae-ah.. please.. untuk hari ini saja lagi. tolong jaga Jun Su. Aku sedang sibuk hari ini..” terdengar suara ajuhma nya dari seberang.
“ah, aniyo. Aku tidak bisa.”
“please, nak.. aku benar-benar sibuk. Obral kali ini lebih murah.”
“huh, obral lagi obral lagi..” keluh Myung Dae.
“ayolah, keluarga yang ku sayang Cuma kamu nak..”
“ajuhma, bilang saja kalau Cuma aku yang punya banyak waktu luang.”
“hehe.. begitulah..” ajuhma terkekeh. “bagaimana? Kamu mau kan..?”
“hmm..” Myung Dae menghela napas. “baiklah..”
“ah, saranghae! Kamu keponakan yang paling kusayang deh.”
“ih, ajuhma, hentikan bicara seperti itu. Aku merasa aneh.”
“ya sudah. Cepat ya. Jun Su tidak suka menunggu!”
Myung Dae dengan terpaksa pergi kembali kerumah sakit itu. Padahal ia tidak mau lagi kesana. Ia tidak tahu lagi mau di taruh di mana mukanya kalau bertemu Jun Su lagi.
Myung Dae sampai di lantai tiga rumah sakit. Ia berjalan perlahan-lahan. Myung Dae lega karena kamar Jun Su tertutup. Ia segera masuk ke kamar Jun Su kecil, sepupunya.
“Nuna, ini..” Jun Su menyerahkan sebuah kertas.
“apa ini? dari siapa?” Tanya Myung Dae.
“siapa ya? Entahlah. Ini sudah lama sekali.” Jawab Jun Su.
“kamu tidak mengenal wajahnya?”
“hmm.. namja..waktu itu dia bawa gitar.”
Jun Su! Pekik Myung Dae dalam hati. Myung Dae segera membuka kertas yang di lipat itu.
“MIANHAMNIDA. TEMUI AKU DI BAWAH POHON YANG WAKTU ITU.” Itulah kalimat yang tertera di dalam kertas itu.
“kamu mengenalnya kan? Habis, itu orang yang waktu itu bersama kamu di bawah pohon itu.” Jun Su menunjuk lagi kearah jendela, kea rah sebuah pohon.
“Jun Su-ah, gomawoyo..” ujar Myung Dae lalu segera keluar.
“belikan aku minuman!” seru Jun Su.
Myung Dae segera menuju kearah pohon yang waktu itu. Ia lagi-lagi mengendap dari belakang. Di situ ada Jun Su yang sedang memegang gitar.
“hobi mu seperti ini ya?” tiba-tiba Jun Su berbicara. Myung Dae kaget. Apa ia memang berbicara padaku?
“cepat keluar dari belakang pohon, kamu menginjak kotoran kucing.”
“waa! Mana!?” pekik Myung Dae sambil mengecek kakinya. Ternyata itu hanya bohong.
“haha~” Jun Su tertawa
“huh.!” Ketus Myung Dae. Ia masih berdiam di tempat tadi.
“kenapa kamu tidak datang kemari?” Tanya Jun Su. Myung Dae tidak menjawab. Tiba-tiba Jun Su bangkit menghampirinya. Jun Su meraih tangan Myung Dae dan membawa nya. Myung Dae kaget dengan apa yang di lakukan Jun Su ini.
Mereka berdua duduk di bangku panjang tersebut. Tapi mereka masih terdiam. Myung Dae hanya menunduk.
“siapa nama mu?” Tanya Jun Su. Myung Dae masih belum menjawab karena malu.
“aku bertanya padamu..” ujar Jun Su.
“Kang Myung Dae…” jawab Myung Dae pelan.
“oh, Myung Dae, kurasa kamu sudah tahu namaku.” Ujar Jun Su. Myung Dae hanya terdiam membuat Jun Su jadi kesal.
“Mianhamnida.” Ujar Jun Su. “maafkan perkataanku waktu itu. Aku hanya sedang tidak enak badan.”
Myung Dae masih terdiam.
“aku tahu, harus nya aku bersikap lebih baik. Apalagi pada seseorang yang ingin berteman dengan ku.”
“hmm..” Myung Dae menggumam.
“aku janji aku tak akan begini lagi. tolong maafkan aku.” Ujar Jun Su.
“kamu janji..?” Tanya Myung Dae.
“ya, karena kita teman sekarang.” Ujar Jun Su.
“oh ya!?” Myung Dae tampak riang.
Jun Su mengangguk.
“kalau begitu, kamu akan bermain gitar untukku??” Tanya Myung Dae.
“ah, kalau yang ini aku tidak bisa.” Ujar Jun Su.
“kenapa? Kita kan teman..”
“mianhaeyo..” Jun Su hanya tersenyum.
“ ya sudah, aku yang akan bermain gitar untukmu.” Ujar Myung Dae sambil merebut gitar Jun Su.
“jreengg! Jreeng jreeng jreeeng~~” Myung Dae memainkan gitar tidak jelas.
“haha~ babo. Nanti gitar ku rusak!”
Myung Dae dan Jun Su menjadi akrab.
keesokan harinya Myung Dae datang lagi kerumah sakit. Myung Dae membawa sebuah kamera digital.
“sebentar saja!” ujar Myung Dae.
“aniyo. Rambutku berantakan.” Elak Jun Su.
“satu foto saja! Please..”
“huh, ya sudah. Aku tidak tanggung kalau hasilnya jelek.” Ujar Jun Su.
“kamu jangan pasang pose jelek dong!” ketus Myung Dae.
“terserah dong!”
“JEPRET~~~”
“hmm, lumayan.” Ujar Myung Dae.
“lumayan katamu? Itu gaya terkerenku.”
“gaya terkerenmu jelek sekali.”
“apa katamu!? Enak saja.”
“haha~” Myung Dae hanya ketawa.
“Kamu kenapa selalu disini?” Tanya Jun Su.
“kamu tidak suka ya?” ujar Myung Dae pura-pura beranjak.
“aniyo. Maksudku, kamu tidak sekolah atau lain sebagainya..”
“aku masih SMA..” jawab Myung Dae. “bagaimana dengan mu? Kenapa kamu selalu di sini?”
Jun Su terdiam.
“ah mianhaeyo..” ujar Myung Dae.
“gwaechana.” Ujar Jun Su. “sebenarnya, aku tidak ingat.”
“tidak ingat? Kenapa?” Tanya Myung Dae.
“menurutmu?”
“hmm… entahlah.. mungkin kamu hilang ingatan.”
“sepertinya memang begitu..” ujar Jun Su murung.
“ah, mianhae.. aku tidak bermaksud..”
“gwaenchana..” potong Jun Su
Mereka terdiam.
“ah, hentikan seperti ini! aku benci memikirkan hal ini!” seru Jun Su.
“Ya sudah, kita fotoan lagi..”
“ah, sudah ku bilang, rambutku berantakan, babo!!”
Myung Dae merasa bingung dengan Jun Su. kenapa ia mengatakan tidak bisa ingat tentang dirinya sendiri.
Dirumah, Myung Dae melihat hasil foto-foto mereka berdua. Banyak sekali foto yang mereka hasilkan. Myung Dae segera memindahkan foto-foto hasil jepretan nya bersama Jun Su tersebut ke laptopnya. Ia juga membuat folder khusus untuk foto-foto itu. JunDae.
Esok harinya, ketika Myung Dae berkunjung lagi ke rumah sakit, ia melihat seorang perawat dengan tergesa-gesa keluar dari kamar Jun Su. Myung Dae merasa bingung. Ia segera masuk kedalam kamar Jun Su.
“ada apa?” Tanya Myung Dae pada Jun Su yang menatap ke jendela.
Jun Su tidak menjawab.
“Jun Su?” Myung Dae melihat Jun Su meneteskan air mata.
“Jun Su kamu kenapa?” Tanya Myung Dae.
“ah, kamu..” Jun Su segera menghapus air matanya dengan baju.
“ada apa? Apa yang terjadi??” Tanya Myung Dae khawatir. “siapa perawat tadi.?”
“entahlah..”
Myung Dae kaget. Kenapa ia menangis setelah perawat itu keluar kalau ia memang tidak mengenal perawat itu.
“aku tidak tahu apa-apa..”
“lalu kenapa kalian..”
“entahlah, aku merasa aku dan dia pernah dekat.” Potong Jun Su.
“oh ya? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Myung Dae.
“bukan hal yang penting..” jawab Jun Su.
“apa yang dia bilang?”
“ah, sudahlah dia hanya mengatakan hal yang tidak aku ketahui..” ujar Jun Su kesal.
“tapi kamu menangis…”
“ah, sudah! Sudah!”
Myung Dae terdiam. Ia merasa Jun Su sedang menyipan sebuah rahasia. Tapi JunSu sendiri bilang, kalau ia tidak tahu apa-apa.
“kamu kenapa? Masih berpikir?” Tanya JunSu.
“ah, aniyo!”
“ya sudah, aku mau tidur..” ujar Jun Su. “kamu jangan mengapa-apai aku ya!”
“ih, enak saja.” Seru Myung Dae. “aku tidak mungkin melakukannya.
Jun Su berbaring di kasur. Membelakangi Myung Dae. Myung Dae masih berpikir tentang hal tadi. Ia benar-benar ingin tahu.
Myung Dae menghampiri Jun Su yang tertidur. Ia berdiri tepat di depan wajah Jun Su yang menutup mata. Myung Dae memperhatikan wajah Jun Su. wajah Jun Su yang kelihatan murung. Rambut Jun Su menutupi mata nya yang terpejam. Myung Dae berniat menggesernya.
“apa yang kamu lakukan hah!??” ujar Jun Su tiba-tiba.
“waa!” Myung Dae spontan kaget. “ma—maafkan aku!”
“sudah kubilang jangan mengapa-apai aku!”
“aku tidak bermaksud seperti itu kok!”
“lalu? Kenapa kamu ada di depanku? Kenapa tadi tanganmu akan menyentuh wajahku?” Tanya Jun Su
“ukh! Cerewet! Enak saja main tuduh!” seru Myung Dae lalu keluar dari kamar Jun Su.
Jun Su merasa lucu dengan sikap Myung Dae. Ia tertawa kecil.
Myung Dae pulang ke rumahnya. Ia merasa sangat malu. Myung Dae sepertinya benar-benar suka dengan Jun Su.
Esok harinya, Myung Dae mendapat ‘panggilan tugas’ dari ajuhma nya seperti biasa. Ia tidak mampir ke kamar Jun Su yang besar kali ini.
“Nuna!” seru Jun Su pada Myung Dae yang baru masuk ke kamar. Myung Dae kaget karena di dalam ada Jun Su dari kamar sebelah. Ia sedang bermain gitar. Mereka berdua bertatapan. Myung Dae merasa malu. Ia mengalihkan pandangan.
“ini, untuk mu.” Myung Dae menyerahkan sebuah bungkusan berisi buah-buahan apel.
“asyik! Gomawoyo nuna!” seru Jun Su kecil riang.
Myung Dae berjalan kea rah sebuah meja yang ada di sebelah Jun Su yang besar yang sedang memetik gitar. Myung Dae merasa agak deg-degan. Ia meletakkan barang-barang lain pesanan ajuhma nya diatas meja tersebut.
“nuna, ini namjachingu nya nuna kan?” Tanya Jun Su senyum-senyum.
Myung Dae kaget. Ia merasa agak tersipu.
“dia monyet ku.” Ujar Jun Su besar tiba-tiba. Myung Dae kaget mendengar Jun Su berkata itu.
“hah? Monyet?” Jun Su kecil bingung.
“ne.” jawab Jun Su besar singkat.
Myung Dae merasa di permalukan. Ia seger keluar dari kamar.
“hyung, sepertinya nuna tidak suka di panggil monyet.”
“dia suka kok.”
Myung Dae lari kea rah pohon yang biasa mereka duduki. Ia duduk di bangku panjang itu. Ia merasa kesal dengan Jun Su.
“hhahh.. entahlah, sejak aku bertama monyet bodoh bernama Myung Dae ini, kurasa aku jatuh cinta pada nya..” ujar Jun Su tiba-tiba muncul dari belakang Myung Dae.
PESSH~ Myung Dae kaget sekaligus tersipu malu. Sepertinya Jun Su baru saja menembaknya.
“Haha~ kamu percaya?” Tanya Jun Su tiba-tiba sambil duduk di sebelahnya.
“mwo?” ekspresi Myung Dae langsung berubah. “kamu mempermainkan aku ya!?”
“haha~” Jun Su hanya tertawa.
“huh~ kamu sama saja seperti Jun Su sepupuku itu.” Ketus Myung Dae.
“aku tidak mempermainkan mu kok.” Ujar Jun Su lagi tiba-tiba.
“aku tidak percaya.”
“kamu tidak percaya padaku? Padahal aku malu sekali sudah mengatakan hal ini. apalagi pada monyet bodoh seperti mu!” seru Jun Su.
“ah! Aku bukan monyet bodoh!” Myung Dae memukul dada Jun Su.
“haha~ kamu monyetku!” Jun Su melingkarkan tangan nya di leher Myung Dae. “yang bodoh!”
“apa!!??”
Hari-hari berlalu dan rasa cinta diantara mereka berdua makin tumbuh. Tapi di balik itu Myung Dae masih menyimpan rasa ingin tahu yang besar.
Beberapa hari kemudian, Myung Dae datangke rumah sakit ke kamar Jun Su yang besar. Jun Su kecil sudah keluar dari rumah sakit. Myung Dae tidak menemukan Jun Su, ia mencari nya di tempat yang biasa mereka kunjungi tapi juga tidak ada. Myung Dae akhirnya menemukan Jun Su di depan sebuah ruangan yang sepi. Bersama seorang perawat. Mereka tampak serius berbicara.
Myung Dae meperhatikan mereka dari kejauhan. Ia bersembunyi di balik sebuah rak. Myung Dae yang penasaran memperhatikan mereka, menjadi kaget karena mereka berdua berciuman. Myung Dae tambah bingung, Jun Su bilang ia tidak tahu apa-apa. Apakah Jun Su sengaja membohongi dirinya?
Myung Dae berlari meninggalkan mereka berdua. Ia merasa kesal. Ia marah kepada Jun Su yang sudah membohongi dirinya. ia mengambil tas yang sebelumnya dititipkan di kamar Jun Su.
Ketika akan keluar dari kamar Jun Su, ia berpapasan di depan Jun Su didepan pintu.
“Myung Dae? Kamu datang?” Tanya Jun Su.
“huh!” Myung Dae berjalan menghindari Jun Su.
“Tunggu!” Jun Su menahan tangan Myung Dae.
“lepaskan!” seru Myung Dae.
“kamu kenapa?” Tanya Jun Su. Myung Dae yang kesal tidak menjawab apa-apa.
“katakana pada ku ada apa..” ujar Jun Su melingkarkan tangannya di leher Myung Dae.
Jun Su merasakan tetesan air di lengannya.
“Myung Dae? Kamu menangis?” Tanya Jun Su kaget.
“kenapa kamu membohongiku!?”
“maksudmu?”
“sebaiknya kita akhiri hubungan kita.” Ujar Myung Dae lalu pergi meninggalkan Jun Su yang hanya terdiam.
Beberapa hari Myung Dae tidak menemui Jun Su lagi. ia betul-betul masih marah dan kesal.
Hari ini Myung Dae baru pulang sekolah. Ia menyadari di depan gerbang sekolahnya ada Jun Su ia sedang memainkan gitar. Hal ini membuat Jun Su jadi bahan tontona anak-anak sekolah. Myung Dae kaget bukan main. Tapi, Myung Dae yang masih memendam marah, tidak memperdulikannya.
“Myung Dae!” Jun Su meraih tangan Myung Dae. Myung Dae terhenti.
“kenapa kamu tidak menemuiku lagi?” Tanya Jun Su. Myung Dae hanya diam.
“Kenapa kamu meminta mengakhiri hubungan kita?” Tanya Jun Su lagi.
“kenapa kamu berciuman dengan perawat itu?” Tanya Myung Dae kesal.
“chu~”
“Kamu salah paham.” Ujar Jun Su.
“maksudmu!?” Tanya Myung Dae.
“sini, ikut aku. Tidak enak mengobrol di keramaian seperti ini..” ujar Jun Su lalu menarik tangan Myung Dae.
Mereka pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat tadi. Jun Su menceritakan tentang dirinya. dirinya yang sebenarnya hilang ingatan setelah kecelakaan karena tertabrak mobil karena menyelematkan perawat itu. Dan perawat itu jadi suka padanya, tapi Jun Su tidak menyukainya. Jadi sebagai permintaan terakhir, perawat itu memintanya menciumnya. Dan Jun Su mencumnya di pipi, bukan di bibir. Myung Dae salah lihat waktu itu. Ingatan Jun Su telah pulih kembali dan ia sudah menemukan keluarganya. Sebenarnya Jun Su sudah pulih ingatannya sejak lama, tapi karena bertemu dengan Myung Dae waktu itu, ia jadi ingin berlama-lama di rumah sakit. Untung saja biaya rumah sakitnya ditanggung pemerintah karena ia belum menemukan keluarganya waktu itu. Kini Jun Su sudah tidak lagi tinggal di rumah sakit.
Jun Su mulai memetik-metik gitar dan mulai menyanyi
“Geudae ol ddaegaji gidaril ge Cuz I can’t forget your love
Nunmuli heureul geot gata geudae saenggakman hamyeon
Galsurok gipeomanga I can’t stop thinkin’ about your love
Ijeul su eobseul geot gata heudae modeun-geol
Mideul su eobseul geot gata geudae dolaondamyeon
I can’t forget your love
Eonjeggajirado nan geudae ol ddaeggaji gidarilge
I can’t forget your love
Eonjeggajirado gidarilge
Cuz I can’t…. I can’t forget your love”
“akhrnya kamu memainkannya untukku.” Ujar Myung Dae.
“sebenarnya terpaksa.”
“uh?”
“haha~ aniyo…” ujar Jun Su sambil melingkarkan tangannya di leher Myung Dae.
:: THE END ::

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s