In Autumn

Posted: October 9, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany TeukhaeElfuty Armstrong
Title : In Autumn
Category : PG 15, Teenager, oneshot
Genre : Romantic
Cast :
1. me ( Tiffany ) as Kang Myung Dae.
2. Eli U-Kiss as Eli.

Note : Jeongmal Mianhae kalo FFnya rada aneh n gak jelas.. coz saya bikinnya pas lagi gak mood bikin FF.. terus, mian juga kalo banyak Typo coz ni FF saya bikin tadi malam n langsung aja di post pagi hari ini.  hehe~ Gomawo for the attention. ^^ *Tiffany*

Bulan oktober tiba. Disore hari yang dingin karena mulai musim gugur ini aku membantu eomma merapikan gudang yang biasa dibersihkan 6 bulan sekali ini. aku melihat sebuah gardus berukuran sedang dan begitu berdebu. Aku tidak pernah melihat gardus ini. aku menariknya. Gardus ini begitu berat. Karena penasaran aku segera membuka nya. Aku melihat begitu banyak album foto didalamnya. Aku mengambil sebuah album besar berwarna pink. Di covernya tertulis namaku dan aku tahu ini tulisan eomma. Kubuka halaman pertama. Disitu ada foto-foto waktu aku masih bayi yang terhias dan tersusun begitu baik. Aku terus membuka halaman demi halaman. Begitu banyak foto-foto diriku ketika masih bayi. Aku senyam-senyum sendiri melihat wajahku yang masih polos dan begitu lucu waktu itu.
“apa yang kau lakukan?” tiba-tiba eomma datang.
“oh ini.. album foto.” Jawabku.
“cepatlah, eomma akan segera menutup pintu gudang. Bersih-bersih kita lanjut besok. Hari sudah mulai gelap.” Ujar eomma.
“ne. eomma, aku boleh membawa gardus ini?” tanyaku.
“apa isinya?”
“album-album foto..”
“terserah.. ayo cepat. eomma belum menyiapkan makan malam.”
Aku keluar sambil menggendong gardus berat ini. aku membawanya kekamarku. Aku segera membuka gardus itu dan mengeluarkan semua album foto didalamnya dengan tidak sabaran.
Satu persatu album foto mulai habis ku amati. Kebanyakan berisi foto-fotoku dan dongsaengku. Tiba akhirnya tersisa sebuah album foto yang tipis, kecil dan berwarna hijau. Aku mulai membuka halaman pertama. Ternyata disini hanyalah foto-foto ulang tahunku. Aku melihat tanggal yang tertera di foto yang menunjukkan tahun 2000, berarti foto-foto ini diambil waktu ulang tahun ku yang kelima.
Aku terperangah dengan sebuah foto. Disitu ada aku dengan gaun hitam-pink dan memakai bando. Aku duduk diatas kursi yang ada diatas sebuah podium sambil memegang boneka Minnie Mouse. Aku sedang menatap seorang namja yang kira-kira sebaya denganku yang hendak memberi salam dengan tangan kanannya. Ia memakai kemeja kuning dan celana Jeans. Ia memegang topi pesta ulang tahun berwarna hijau di tangan kiri. Dan yang membuatku menyukai foto ini adalah wajah namja itu yang begitu lucu dan ia menatap ku dengan begitu polos. Aku tertarik dengan namja kecil difotoku ini. aku penasaran siapa kah dia. tapi kusadari ini sudah foto sebelas tahun yang lalu. Aku sudah tidak ingat apa-apa. Kenangan masa kecil ku seolah sudah ditelan oleh waktu. Begitu banyak kenangan-kenangan manis di masa lalu yang terlupakan oleh ku. Aku ingin bertemu namja itu sekarang ini. semoga saja ia masih hidup dan sudah tumbuh besar menjadi namja yang keren.
Aku mengeluarkan selembar foto kenangan itu dari album. Aku menyelipkannya di buku harian kecil yang selalu kebawa kemana saja. Buku harian ini selalu kutulisi dengan berbagai macam keadaan hatiku setiap harinya. Buku harian ini sudah seperti buku curhatku.
Esok hari tiba. Siang hari ini aku baru saja pulang dari sekolah. cuaca mulai dingin karena sudah memasuki musim gugur. Seragam yang kupakai berbeda dengan seragam musim panas yang kupakai beberapa waktu lalu. Aku berjalan kaki menelusuri jalan demi jalan menuju rumah.
“Buuk~!” aku menabrak sesuatu dan terlempar jatuh ke tanah dengan keras.
Aku hanya memerhatikan jalan ketika berbelok ketikungan kecil ini dan tidak memerhatikan kedepan.
“a.. mianhae!” ujar seseorang. “mari kubantu.”
Aku menatap seseorang yang berdiri di depanku sambil menjulurkan tangannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena silau matahari. Aku meraih tangannya dan ia membantuku berdiri. kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Seorang namja. Aku melihat ia memakai seragam yang sama seperti punya ku. Tapi aku belum pernah melihat dia sebelumnya di sekolah.
“aa…” aku terbata-bata. “kam.. sahamnida!”
Namja itu tersenyum.
“gwaenchana, itu salahku..” ujarnya lagi.
Aku terdiam. Lalu mengangguk. Aku bingung harus bicara apa lagi.
“a.. aku.. harus..” aku terus bicara terbata-bata sambil menunjuk kebelakang. Aku bermaksud untuk segera pergi.
“tunggu!” serunya. Aku kaget.
“ne?”
Aku kaget karena tangannya mulai bergerak ke arahku. Aku agak menghindar. Ternyata ia mengambil sesuatu di atas kepalaku.
“nih, ada daun gugur..” ujarnya sambil menunjukkan selembar daun layu berwarna oranye kecoklatan yang ternyata tadi jatuh diatas kepalaku.
Aku mengambil daun itu.
“kamsahamnida!” aku segera berlari meninggalkannya.
Aku tiba dirumah dengan selamat. Aku berlari menuju ke kamarku dan segera berbaring dikasur. Aku mengingat kembali kejadian dijalan tadi. Baru kali ini aku melihat namja itu. Apa lagi ia begitu cute. Aku suka sekali melihat senyumnya. Membuatku berdebar-debar.
“myung dae?? Kamu kenapa?” tanya eomma tiba-tiba membuka pintu kamarku.
“mwo?” tanyaku.
“kenapa kamu berlari kencang tadi? Kamu bisa merobohkan rumah tua ini tahu!” seru eomma.
“ne~ ne.. mianhae!” seruku.
“nanti malam kita di undang tetangga sebelah untuk makan malam.” Ujar eomma.
“hah? tumben nyonya Lee yang galak itu mengajak makan malam?” tanyaku menunjuk ke sebelah kiri.
“aniyo. Bukan yang itu tapi tetangga yang disitu..” jawab eomma sambil menunjuk kesebelah kanan.
“hah.. maksud eomma…”
“ne.” potong eomma. “keluarga Kim baru saja kembali dari Amerika.”
“jinjja??”
“iya. Jadi jangan jalan-jalan kemana-mana !”
“ah eomma! Aku mau jalan kemana emangnya??” seruku.
Eomma keluar dari kamarku. Aku jadi teringat dengan Keluarga Kim yang tadi eomma bicarakan. Keluarga Kim terdiri dari 4 orang. Pak Kim, menjalani sebuah bisnis Internasional. Bu Kim dan dua orang anaknya, Jenny dan Eli Kim. Mereka pindah ke USA sejak aku baru duduk di kelas 1 SD. Mereka pindah kesana karena Pak Ki sukses dengan bisnisnya. Dulu mereka tetangga ku. Mereka sangat baik padaku dan keluargaku. Aku dan anak bungsu keluarga itu, yaitu Eli Kim adalah teman bermain yang seumuran. Kami juga berada dalam TK yang sama. tapi dia tidak sempat menjalani SD di Korea karena sudah pindah. Ah, aku penasaran sekali untuk bertemu dengannya. sudah lama sekali tidak bertemu. Aku bahkan sudah agak lupa dengan wajah nya. Yang aku ingat dia dulu hanya suka bermain denganku disbanding teman-teman namjanya yang lain.
Jam 7 malam. Kami sekeluarga sudah berdandan rapi. Eomma, appa, aku dan Seo Ri dongsaengku. Kami pergi bersama-sama kerumah keluarga Kim. Didepan pintu, kami sudah disambut hangat oleh Pak Kim dan istrinya. Mereka selalu saja ramah sejak dulu. Kami masuk kedalam rumah. Ruangan belum sepenuhnya tertata. Tapi ruangan-ruangan yang vital seperti kamar tidur dan dapur kulihat sudah rapi. Kami berkumpul di meja makan panjang. Disitu ada Jenny-eonni , anak sulung mereka. Jenny eonni terlihat cantik dan berbeda waktu ia masih kelas 1 SMP dulu.
Ayah dan eomma tampak asyik ngobrol dengan Pak Kim. Aku bingung mau ngobrol dengan siapa.
“kamu sudah kelas berapa?” tiba-tiba Jenny-eonni mengajakku bicara.
“aku sudah kelas 3 SMA.” Jawabku.
“oh iya, aku baru ingat kamu sama seperti Eli.” Ujarnya.
Aku mengangguk.
“kamu masih ingat Eli, kan? Dia selalu bermain denganmu dulu.”
“ne, tentu aku masih mengingatnya.”
“kukira kamu lupa..”
“sepertinya kita bisa memulai makan malam..” tiba-tiba Bu Kim datang bersama sepiring besar makanan yang dapat tercium aroma harumnya dari sini.
“asyik~” ujar Jenny-eonni.
“oh ya, Eli dimana?” tanyaku.
“oh, tadi ia menelpon ku katanya ia sedang ketoko CD dengan teman-teman barunya disekolah. Mungkin sebentar lagi ia pulang.” Jelas Bu Kim.
“oh ya, Myung Dae, kamu sudah tahu kalau ia sudah bersekolah di sekolah yang sama denganmu?” tanya Pak Kim tiba-tiba.
“mwo? Benarkah? Aku tidak pernah melihatnya.”
“kurasa kamu bukan tidak pernah melihatnya, tapi kamu lupa dengan wajahnya.” Sambung appa.
Tiba-tiba 2 orang itu tertawa. Yang lain ikut tertawa begitu juga aku.
Makan malam ini terasa agak mengecewakan. Karena Eli tidak ikut berpartisipasi. Pokoknya besok aku harus bisa bertemu dengan nya. Aku benar-benar penasaran!
Esok hari tiba. Aku sedang berjalan menuju kesekolah pagi ini.
“hey!” tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil dari belakang. Aku berhenti dan menoleh. Eh, itu kan namja cakep yang kemarin itu. Ia memanggilku? Aku menoleh kanan kiri tapi tak ada siapa-siapa. Berarti ia memang memanggilku. Aku masih dalam keadaan tidak percaya ketika ia sampai di depanku.
“Myung Dae-ya!” panggilnya.
“mwo?” aku bingung karena ia mengenal ku.
“ini aku.. Eli !” serunya sambil tersenyum. “kamu lupa padaku?”
“hah? Eli??” seruku tercengang. Ia mengangguk.
“Eli!!” aku memeluknya. Sungguh tak percaya ternyata aku memang telah melihatnya. Namja cakep kemarin itu ternyata Eli sendiri.
“Eli-ya~ neomu bogoshipo~” ujarku sambil melepas pelukanku.
“me too.. neomu bogoshipo.” Ujarnya dengan logat setengah Amerika.
“sudah lama kita tidak bertemu. Aku jadi tidak mengenalmu.” Ujarku.
“aku juga, kemarin aku hampir tidak mengenali mu. Nanti setelah aku mengingat-ingat lagi baru aku sadar bahwa itu kamu.”
“haha~ sudahlah. Lupakan hal bodoh yang kemarin itu. Kamu benar-benar berbeda.”
“tentu saja, aku berangkat ke Amerika saat kita masih TK dan sekarang kita sudah SMA. Sudah berapa masa yang terlewat, hah…”
“kamu benar.” Ujarku. “begitu banyak masa yang terlewat yang tidak kita jalani bersama.”
“hah~ sudahlah. Aku baru tahu gaya bicaramu menggelikan seperti itu.”
“Eli-ya! apa maksudmu!” seruku sambil mendorongnya.
“haha~”
Kami berjalan bersama menuju sekolah. disekolah kami terus mengobrol berdua saat jam istirahat pertama dan kedua. Kami hanya mengobrol saat jam istirahat karena kelas kami terpisah.
Sepulang sekolah kami menyempatkan diri disebuah taman kecil yang memiliki sebuah pancuran kecil. taman ini tetap bertahan dari aku kecil hingga sekarang. Kami duduk di sebuah bangku taman sambil menikmati gulali yang kami beli.
“hey, kau tahu?” tanya Eli. “aku menemukan ini jatuh dari tas mu saat kita baru keluar dari gerbang tadi.”
Aku melihat apa yang dia pegang.
“ehh!??” aku segera mengambilnya. “kok bisa jatuh!?”
“entahlah. Tapi itu kamu kan?” tanyanya.
“ne. saat ulang tahunku yang kelima.”
“berarti ini ulang tahun terakhir sebelum aku ke Amerika.” Ujar Eli.
Aku mengangguk.
“tapi, ini foto lama. Kenapa kamu masih menyimpannya?” tanya Eli.
“hehe.. ini rahasia..” ujarku.
“ayolah.. “ bujuk Eli.
“ya sudah. Begini, kamu lihat namja yang memakai baju kuning ini?” tanyaku sambil menunjuk foto.
“ne..” jawabnya sambil mengangguk.
“menurutku dia lucu.. hihi~”
“lalu..? kamu menyukainya.” Tanya Eli.
“yah, begitulah.” Jawabku.
“ihh.. ..” Eli mengerutkan alisnya.
“hah? kamu kenapa!” seruku.
“kamu menyukai anak kecil ini?”
“bukan begitu. Maksudku, dia ini masih kecil saja udah cakep, pasti sekarang ia lebih cakep lagi dong!” seruku.
“oh ya? wah wah~”
“kenapa kamu?” tanya ku bingung melihat Eli senyam senyum.
“aniyo.. betul juga pemikiranmu..”
“tentu saja. Ayo pulang! Sudah senja!” ajakku.
Kami pulang kerumah. Aku melihat didepan rumah Eli banyak sekali kendaraan diparkir. Sepertinya sedang ada acara pikirku.
Aku masuk kedalam rumahku. Didalam tidak ada siapa-siapa. Diatasa meja ada catatan yang mengatakan eomma sedang kerumah Eli. Mungkin eomma diundang. aku berjalan pelan kekamarku. Merapikan buku-bukuku. Aku baru ingat besok aku harus mengikuti tes Matematika. Dan aku belum belajar sama sekali.
Aku belajar semalaman dan tertidur.
Esok harinya aku segera buru-buru menuju kesekolah.
“Myung Dae!!” panggil eomma tiba-tiba.
“ada apa eomma! Aku buru-buru nih! Ada tes Matematika!” seruku sambil memakai sepatu.
“duduk lah dulu dan dengar kan eomma sambil sarapan!” ujar eomma.
“mian, eomma! Aku buru-buru. Aku makan disekolah saja ya! daaghh~” aku segera meluncur keluar. Hari ini test dimulai jam pertama dan aku tidak boleh terlambat. Lagian aku belum belajar sepenuhnya.
Aku melihat Eli sedang berjalan pelan-pelan. Aku melambatkan langkah.
“Eli!” seruku mengagetkannya sambil menepuk dahunya.
“Waaa~” ia tercengang.
“haha~”
“Myung Dae-ya~ kamu mengagetkanku.”
“mianhae… kok kamu terlihat lesu?” tanyaku.
“begini.. ada yang aku bicarakan padamu.” Ujar Eli pelan.
“mwo?”
“ah, nanti saja saat pulangan supaya bisa lebih lama. Lagian sekarang kau tampak tergesa-gesa.” Ujar Eli lagi.
“hehe, sebenarnya jam pertama ini kelas ku mengadakan tes matematika.” Jawabku.
“oh.. kamu tidak segera kesekolah!?” tanyanya.
“mau balapan denganku?” tanyaku.
“memangnya kamu yakin bisa mengalahkanku dalam berlari?” tanyanya.
“aku sudah didepanmu!” seruku yang sudah berlari duluan.
“hey~ kau curang!!” seru Eli lalu segera mengejarku.
Kegiatan disekolah berjalan lancar dan aku dapat menjalani tes dengan baik. Sepulang sekolah seperti kemarin kami berdua duduk di taman.
“kamu bawa fotomu kemarin?” tanya Eli.
“ne, waeyo?” tanyaku sambil merogoh tasku. “ini..”
“kamu kemarin bilang, kamu menyukai anak dalam foto ini kan?”
Aku mengangguk.
“ehmm, bagaimana kalau ternyata ia juga menyukai mu..?” tanya Eli. Aku kaget tapi agak tidak mengerti.
“hah?”
“yah, ini..” ia menunjukkan ku selembar foto kecil yang ia ambil dari dompetnya.
“ini..”
“ne, sebenarnya anak dalam foto mu dan anak dalam foto ini adalah orang yang sama. ia memakai baju yang sama dan berfoto pada hari yang sama, namja itu adalah aku.” Ungkap Eli.
“ka.. kamu??” ujarku tak percaya.
Ia mengangguk. Seketika pipiku memerah. Aku benar-benar malu. Ternyata orang yang kucari selama ini sudah lama aku temui. Aku merasa senang sekaligus malu.
“aku ingat, pada waktu itu ulang tahunmu yang kelima. Dan aku melihat mu memakai gaun itu dan yang aku pikirkan waktu itu adalah ‘ Myungdae-ssi tampak cantik sekali’. Yah sejujurnya, itu yang aku pikirkan saat itu.”
“hehe~” aku tersipu.
“aku juga menyukaimu..” ujar Eli. “nado johahae..”
Eli mencium ku dipipi dan ia menggenggam tanganku. Tangannya yang besar dan hangat. Aku tak pernah merasa sesenang dan begitu berdebar-debar seperti ini sebelumnya. Tiba-tiba Eli melingkarkan tangannnya dileherku. Dan aku memeluknya.
Hari sudah senja. Kami berjalan bergandengan tangan menuju kerumah. Kami berdua tampak tersipu.
Kami tiba didepan rumahku yang ada disebelah rumahnya.
“terima kasih sudah mengantarku.” Ujarku.
“yah, gwaenchana. lagian rumah kita hanya bersebelahan.” Ujar Eli.
“oh iya ya… hehe~”
“yah.. sampai jumpa.” Ujarnya.
Aku melepas genggamannya. Padahal aku masih ingin berduaan dengan ia lebih lama lagi. aku masuk ke dalam rumahku.
Aku masuk kedalam rumahku. Diruang tamu sudah ada eomma, appa dan Seo Ri.
“aku pulang..”
“Myung Dae, kenapa kamu belum berkunjung?” tanya eomma.
“berkunjung ke siapa, eomma?” tanyaku.
“kerumah keluarga Kim.” Ujar eomma.
“ada apa?”
“kamu sih, tadi gak mau di kasih tahu.” Ujar eomma.
“ada apa eomma?”
“melayat.”
“Haah? Melayat??” tanyaku kaget sekaligus bingung.
“anak mereka, Eli. Sudah 2 hari meninggal dan kamu belum mengunjungi mereka.” Ujar eomma lagi.
“APA!?” seruku kaget. Seperti petir yang begitu keras menghantam batinku. Aku benar-benar kaget mendengar apa yang barusan diucapkan eomma. Apa aku salah dengar?
“apa aku salah dengar?” tanya ku.
“aniyo. Eli kemarin lusa meninggal tertabrak mobil saat ia baru pulang bersama teman-temannya.” Sambung ayah serius.
“APA? HAH~!? INI BOHONG, KAN!?” seruku sambil menatap appa dan eomma. Air mataku mulai jatuh.
“Myung Dae..” eomma mencoba menenangkan.
“lalu siapa yang selalu berjalan dengan ku setiap pagi? Lalu dengan siapa aku mengobrol tiap jam istirahat? Dengan siapa aku pulang? Jelas-jelas itu Eli !” seruku.
“mungkin bukan Eli. Ia meninggal di hari pertama ia bersekolah di sekolah mu!” seru appa.
“ti…” aku tak dapat melanjutkan kata-kataku. Air mata tak dapat ku bending lagi. aku segera berlari tanpa alas kaki menuju rumah keluarga Kim. Ternyata benar, sebuah peti mati terbentang dengan sebuah foto didepannya. Foto Eli.
Aku terhenti didepan peti mati. Aku menangis begitu kencang. Itu memang Eli yang selalu kutemui. Eli yang selalu menemaniku. Eli yang tadi sore menyatakan cinta padaku.
“sudah lah nak.. dia sudah pergi..” ujar Bu Kim.
“aniyo.. dia belum pergi! Dia belum pergi !” seruku sambil menangis tersedu-sedu.
“sudah nak..”
“dia belum pergi! Ajuh..mma…” tiba-tiba aku pingsan.
Aku terbangun di pagi hari. Aku berada di dalam kamarku. Masih memakai seragam. Kulihat jam weker disebelahku menunjukkan jam 8 pagi. Tiba-tiba aku teringat Eli. Aku segera bangkit. Aku berlari keluar rumah.
“Myung Dae!” aku mendengar eomma memanggilku tapi aku tak memerhatikannya.
Aku berlari ke taman. Aku yakin ia pasti ada disitu. Ia tidak akan kemana-mana lagi. aku kembali menangis. aku menangis sambil berlari. Aku tiba di taman. Aku melihat sosoknya. Duduk di bangku yang biasa kami duduki. Aku berlari.
Aku tiba didepannya. Ia berdiri mendekatiku.
“jadi kamu sudah tahu..” ujarnya.
“Eli-ya.. katakan ini bohong!” seruku.
“mianhae, Myung Dae.. maaf aku tidak mengatakannya padamu. Aku bahkan kaget ketika mengetahuinya.” Jelas Eli. Aku lihat mukanya sedih.
“Eli…”
“ah, maaf.. aku menangis.” ujar Eli sambil mengucek matanya.
“Eli!” aku segera memeluknya. Kami seketika menagis begitu kencang berdua.
“kamu tahu, orang-orang menganggap mu aneh yang berbicara sendiri di taman ini.” ujar Eli.
“Eli…” ujar ku memanggil namanya.“siang saat kita pertama kali bertemu. Kamu mengambil daun yang aa diatas kepalaku..”
“saat itu aku masih hidup….” Ujar Eli sambil terisak. “lalu aku berjalan bersama teman-teman baruku disekolah. Aku menolong seorang temanku yang hampir tertabrak mobil tapi malah aku yang tertabrak..” ungkap Eli.
“Eli-ya… kenapa kamu tidak mengatakannya padaku.” Ujarku.
Eli melepas pelukan. Ia menatapku.
“maafkan aku..” ujarnya. Kulihat matanya merah karena menangis.
“Eli.. aku menyukaimu! Jeongmal johahae!” seruku.
“nado jeongmal johahae, Myung Dae- ya..” ujar Eli. Sekali lagi air mataku makin tertumpah.
“saat aku pulang kerumah,orang-orang rumah tak dapat melihatku lalu aku melihat diriku sendiri ada di peti mati.” Ujar Eli.
Aku masih menangis.
“lalu tiba-tiba aku melihat sebuah pintu. Aku bisa membuka pintu itu. Di dalam nya ada sebuah ladang bunga luas yang begitu indah. Ada pelangi berwarna-warni. Udaranya begitu segar. Lalu ada seorang anak mengajakku masuk. Tiba-tiba aku merasa berat untuk melangkah. Aku belum siap untuk kesana. Aku merasa masih ada hal yang harus kulakukan. Lalu aku berbalik. Dan ternyata hal yang waktu itu membuat ku tidak siap adalah kamu. Ada satu hal yang belum kulakukan tapi sudah kulakukan sekarang, yaitu mengakui bahwa aku menyukaimu. Kau tahu, aku selalu menyukaimu sejak dulu.” Jelas Eli.
“Eli ya! jadi kamu akan meninggalkanku?” tanyaku.
“aku sudah bebas sekarang. Maafkan aku begitu tiba-tiba. Aku baru saja kembali dari Amerika tapi aku harus pergi untuk kedua kalinya, untuk selamanya..” ujar Eli.
“tidak.. tolong.. jangan pergi.. Eli !” pintaku.
“Myung Dae aku mencintaimu..” Eli perlahan melangkah menjauhi ku.
“Eli-ya! kembali! Aku bilang kamu kembali!” seruku.
“maaf Myungdae..”
Tiba-tiba Eli berlari di balik semak. Aku mengejarnya. Tapi ia tidak ada sama sekali disitu. Aku terus membongkar semak-semak itu. Antara percaya dan tidak percaya, masih saja membongkar semak-semak itu berharap ia hanya bersembunyi. Aku benar-benar tidak bisa menerima ini.
*satu tahun berlalu*
Satu tahu berlalu semenjak Eli meninggalkan aku di taman itu. Ia sudah benar-benar tidak ada lagi di dunia ini. aku terus mencari tapi ternyata ia memang tidak ada.
Sekarang, aku sudah kuliah. Tapi Eli masih tak dapat kulupakan. Aku masih berharap ia akan datang untuk menemuiku meski hanya sekali.
“Buuuk!” hidungku sakit. Aku menabrak seseorang.
“ah, mianhae! Kamu tidak apa-apa?” tanya orang itu.
Aku melihat orang itu. Hah? Eli?
THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s