[OneShot] Invisible Romance

Posted: April 10, 2012 in Uncategorized
Tags: ,

Annyeong haseyo ^^
saya kembali dengan FF baru …
FF ini sebenarnya saya masukkan untuk lomba, tapi gak menang T^T
FF ini juga ada di FB saya : Tiffany TeukhaeElfuty Armstrong.. #promosi

selamat membaca
WARNING : TYPO :p

Author : Tiffany TeukhaeElfuty Armstrong a.k.a Tiffany a.k.a Kang Myung Dae

Title : Invisible Romance

Lenght : Oneshot

Genre : Romance, Teenager

Cast :

Doojun B2ST as Doojun.
Park Hyun Ah

Other cast :

Dong Woon B2ST as Dong Woon

=====================================================================================

“omo~ seperti biasa, dia kelihatan cantik sekali hari ini.” ujar Doojun dalam hati.

Sambil melayani pembayaran di kasir di cafe tempat ia bekerja, sesekali ia menatap yeoja yang selalu datang di café ini. sudah hampir sebulan Doojun mengamati yeoja itu. yeoja yang berambut panjang dan selalu memakai pakaian one piece dan SELALU pergi ke café itu tiap hari. Doojun tidak tahu mengapa yeoja itu selalu kesini. Mungkin saja ini menjadi tempat nongkrong yeoja itu untuk melepas stress.

Doojun menyukai yeoja itu saat pertama perjumpaan mereka. Saat yeoja itu datang ke café ini. Dan sejak itu Doojun tidak pernah melepas pandangan nya dari yeoja yang sangat cantik itu. tapi, Doojun tidak pernah mendengar suara yeoja itu. menyapa nya saja ia tidak pernah karena malu. Lagipula yeoja itu tidak bicara apa-apa saat membayar di kasir. Ia hanya tersenyum. Senyumnya sangat indah dan membuat Doojun jatuh hati.

Esok harinya, seperti biasa Doojun melakukan tugas nya sebagai kasir dicafe. Tentu saja sambil menoleh-noleh kekaca untuk melihat yeoja itu datang. Tapi, sudah hampir dua puluh menit yeoja itu tidak datang. Padahal ini sudah jadwal biasanya yeoja itu datang kesini. Doojun tetap optimis dan menunggu yeoja itu. ia berpikir, mungkin saja yeoja itu terlambat datang karena ada urusan penting. Karena ini pertama kali yeoja itu seperti ini.

Malam hari. Doojun baru saja selesai dari pekerjaannya. Ia akan segera pulang sekarang. Ia cukup kecewa karena yeoja itu tidak datang hari ini. padahal doojun sangat ingin melihatnya hari ini meski sebentar saja. Ia berharap semoga besok tidak seperti ini lagi. semoga dia baik-baik saja.

Doojun menyebrangi jalan di perempatan untuk pergi ke halte bus. saat berjalan menuju ke halte, ia melihat seorang yeoja berdiri di pinggir jalan tidak jauh dari zebra cross di perempatan. Doojun melihat dengan seksama yeoja itu sambil berjalan. Tiba-tiba ia kaget karena yeoja itu melangkah kan kaki menyeberangi jalan yang sangat ramai itu.

Dengan segera Doojun berlari mengejar yeoja itu untuk menyelamatkan nya.

“hei! Apa yang kamu lakukan!” seru Doojun sambil menarik yeoja itu ke pinggir jalan lagi.

“ah?” yeoja itu menatap Doojun. Bukan main kaget nya doojun melihat ternyata itu yeoja yang selalu datang ke café itu. dengan segera ia melepas tangannya yang sedang menggenggam lengan yeoja itu.

“siapa kamu?” tanya yeoja itu. doojun mengerutkan kening.

“itu tidak penting untuk mengetahui siapa aku. tapi yang akan kamu lakukan itu benar-benar berbahaya!” seru Doojun. “kamu mau bunuh diri!?”

“bunuh diri?” tanya yeoja itu bingung. Yeoja itu melihat dirinya sendiri.

“bukannya aku sudah mati?” tanya yeoja itu lagi. doojun merasa aneh dengan perkataan yeoja itu. sudah mati? Padahal jelas-jelas dia masih hidup.

“nona, mungkin kamu mabuk. Mari kuantar pulang.” Ujar Doojun sambil menarik tangan yeoja itu.

“tu..tunggu!” ujar yeoja itu.

“dimana rumahmu?” tanya doojun tidak memedulikan ucapan yeoja itu barusan.

“di.. di Chungmuro *nama jalan di Seoul*” ujar yeoja itu.

“baiklah, aku akan mengantarmu kesana naik bis.” Ujar Doojun. “itu bisnya datang! Ayo!”

Dengan segera Doojun membawa yeoja itu naik bis untuk mengantarnya pulang. Yeoja itu hanya mengikuti kemauan Doojun. Padahal kalau yeoja lain sudah mengira doojun ini orang jahat karena memaksa.

Doojun duduk dengan tenang didalam bis bersama hyun ah. Tapi ia merasa aneh saat itu karena orang-orang menatapnya. Tapi doojun mengacuhkan mereka.

Beberapa lama kemudian, mereka sampai. Yeoja itu memberitahu kalau ia tinggal di apartemen didekat situ. Doojun segera membawanya kesana.

“nah, sekarang pergi masuklah. Dan jangan mengulanginya. Bahaya bila seorang yeoja berjalan-jalan malam hari, apalagi sambil mabuk.” Ujar Doojun.

“tapi aku tidak tahu dimana kunciku.” Ujar nya

“hah? Bagaimana bisa?” tanya Doojun bingung. Yeoja itu hanya mengangkat bahu.

“ya sudah, kita minta bantuan pekerja itu saja.” Ujar Doojun melihat seorang pekerja yang sedang memperbaiki pintu yang rusak.

“ja.. jangan!” seru yeoja itu tampak khawatir.

“kenapa?” tanya Doojun bingung.

“itu.. aku.. tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu..” ujar yeoja itu.

“gwaenchana.. dari pada aku harus mendobraknya? Nanti pintunya rusak.” Ujar Doojun.

Doojun membawa yeoja itu menemui pekerja itu.

“permisi.. bisa anda menolong kami?” tanya Doojun.

“ada apa?” tanya nya.

“yeoja ini kehilangan kunci kamarnya. Apa anda bisa membuka kannya?” tanya Doojun sambil menunjuk yeoja disebelahnya.

“ah? Yeoja mana?” tanya namja itu.

“ini yang disebelahku.” Ujar Doojun.

“yang sebelah mana? Tidak ada siapa-siapa.” Jawabnya lagi. Doojun menoleh ke arah yeoja disebelahnya sambil mengangkat alis bingung. Yeoja itu kemudian hanya menunduk.

“maaf, tolong jangan bercanda.” Ujar Doojun.

“aku tidak bercanda. Disebelahmu tidak ada siapa-siapa kan?” jawab pekerja itu. “tapi, aku bisa membantu mu untuk membuka pintu apartemenmu kalau terkunci.”

Doojun semakin bingung. Ia menoleh ke arah yeoja itu. ternyata dia sudah berjalan meninggalkan Doojun.

“bagaimana?” tanya pekerja itu lagi.

Doojun tidak menghiraukan dan mengejar yeoja itu. ia tidak mengerti ada apa sebenarnya dengan yeoja itu.

“aku kan sudah bilang jangan..” ujar yeoja itu.

Sekarang Doojun sedang berada didepan apartemen bersama yeoja itu. dan doojun sedang mencari tahu ada apa dengannya.

“tapi aku tidak mengerti tadi, kenapa ia tidak bisa melihatmu..” ujar Doojun.

“aku juga tidak mengerti. Yang aku ingat terakhir kali, kemarin malam aku sedang menyebrangi jalan menuju ke apartemen ini. lalu orang-orang tidak bisa melihatku.”

“tapi aku bisa melihatmu?” tanya Doojun.

“aku tidak tahu.” Ujar yeoja itu.

Mereka terdiam disitu.

Tiba-tiba yeoja itu pergi meninggalkan Doojun.

“aku mau membantumu.” Ujar Doojun.

Yeoja itu menghentikan langkah.

“maksudmu?” tanyanya sambil menoleh.

“aku mau membantumu mencari tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya.” Ujar Doojun.

Doojun sedang berada di rumahnya sekarang. Lebih tepatnya, didalam kamarnya. Dan sekarang ia bersama yeoja itu. keluarganya tak ada yang bisa melihat yeoja itu jadi ia masuk ke sana. Tadi, yeoja itu menuruti kemauan Doojun untuk membantunya dan Doojun membawanya pulang karena tidak ada tempat lain untuk yeoja ini karena kamar apartemennya terkunci.

“jadi, kamu sering melihatku?” tanya yeoja itu sambil duduk manis mengamati Doojun dengan seksama yang sedang menulis sesuatu.

“bagaimana tidak? Kamu selalu datang ke cafe.” Ujar Doojun sambil mengatur buku-bukunya dalam tas.

“ne.. Doojun ssi kenapa kamu bekerja disitu?” tanya nya lagi.

“untuk ini.” ujar Doojun menunjukkan bukunya. “untuk kuliahku.”

Mereka sudah banyak bercerita saat Doojun membawanya pulang. Mereka bahkan sudah berkenalan. Yeoja itu namanya Park Hyunah.

“Doojun-ssi.. kenapa kamu mau membantuku?” tanya hyunah.

“karena aku menyukaimu..” ujar Doojun. “eh.. maksudku.. karena aku menyukai hal-hal yang ‘berbau’ aneh seperti ini.”

Hyunah heran dengan perkataan Doojun.

“maksudmu aku aneh?” tanya nya.

“ah.. anio.. maksudku.. hal-hal yang misterius seperti ini..”

“ohh.. jadi aku misterius?”

“ah.. aniyo.. bukan seperti itu.. aku..”

Tiba-tiba hyunah tertawa terbahak-bahak. Ia merasa lucu melihat Doojun yang kebingungan seperti itu.

“hahahaha.. mianhae, aku hanya bercanda.” Ujar hyunah sambil menjulurkan lidah.

Doojun membulatkan bibirnya.

“aku mau tidur..” ujarnya.

“ah, kamu marah padaku?” tanya hyunah sambil menghampiri Doojun.

“aniyo.” Jawab Doojun.

“lalu kenapa kamu mau tidur? Kamu marah kan?” tanya hyunah.

“kubilang tidak.”

“pasti marah..” ujar hyunah cemberut. “aku kan sudah minta maaf.”

Doojun menghela napas dan berbalik menatap hyunah.

“aku tidak marah,hyunah ssi.” Ujar Doojun lembut. Membuat hyun ah terdiam dan tidak cemberut lagi.

“nah, sekarang aku mau tidur.”

Doojun naik ke kasurnya. Hyunah mendekatinya.

“sekarang apa?” tanya Doojun.

“aniyo.” Jawabnya.

“kamu tidak mengantuk?” tanya Doojun.

Hyunah menggeleng-geleng.

“aku tidak pernah merasa mengantuk lagi sejak hal ini menimpa ku.” Ujar hyunah. Doojun hanya diam.

Doojun ingin segera tidur karena sangat mengantuk. tapi, pengalaman hari ini masih belum bisa ia lupakan. Ia tak menyangka akan jadi sedekat ini dengan yeoja yang ia sukai. Apalagi mengetahui, ternyata yeoja ini lucu sekali. Cara bicaranya juga. Doojun merasa sangat beruntung dan sangat senang.

“doojun ssi. Kamu harus membantuku besok.” Ujar hyunah.

“ne.” jawab Doojun yang sudah diambang tidur.

“aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tiba-tiba saja seperti ini. apa aku sudah mati?” tanya hyunah.

“doojun ssi?” tanya hyunah lagi karena tidak ada jawaban dari Doojun.

Ia mencolek lengan Doojun.

“yah.. dia tidur..”

..

“hooooaaaammmmmm…” doojun menguap lebar. Ia baru terbangun pagi ini.

Ia mengucek-ucek matanya.

“waaa!” doojun kaget setengah mati ketika ia membuka matanya.

“selamat pagi!” seru hyunah. Yeoja itu ada didepannya dan sedang menatapnya membuat Doojun kaget.

“ne. tapi kamu mengagetkanku..” ujar Doojun.

“hehehehe..” hyunah hanya senyum-senyum.

Doojun pun hanya tersenyum dengan tingkahnya yang menggemaskan itu.

“lebih baik aku tidak mengikutimu. Kalau tidak orang-orang bisa merasa aneh melihatmu berbicara dengan ku. Aku kan tidak terlihat.” Ujar hyunah.

“gwaenchana, asalkan kamu tidak berbicara dan menganggu.” jawab Doojun.

“mana bisa seperti itu.??” tanya hyunah.

“aku bercanda.” Ujar Doojun. “ikut saja kalau mau.”

“gwaenchana. Aku mau disini saja.” Ujar hyunah.

“betul? Tidak bosan?”

“aniyo. Aku bisa jalan-jalan sendiri kalau bosan.”

“ne.”

Doojun segera mandi setelah itu dan pergi untuk kuliah. Sorenya ia melanjutkan dengan kerja sebagai cashier man di café.

“Doojun ssi!” tiba-tiba Doojun mendengar seseorang berteriak memanggil namanya dari luar. Doojun sedang bekerja di café sore ini. ia menoleh ke kaca. Ternyata itu hyunah. Doojun keluar dari café. tidak apa, karena belum ada yang membayar di kasir.

Ia mengajak hyunah ke samping café agar tidak dilihat pengunjung café.

“hyunah ssi? Waeyo?” tanya Doojun.

“seperti nya aku sudah tahu apa yang terjadi denganku.” Ujar hyunah murung.

“hah? Bagaimana bisa?” tanya Doojun lagi.

“gampang sekali.” Ujar hyunah. “dari koran yang ada dirumahmu.”

Doojun ingat hyungnya yang berlangganan koran.

“koran? Koran mana?” tanya doojun.

“kamu bisa cari sendiri.” Ujar hyunah.

“ayo, kita liat sama-sama korannya.” Ujar Doojun.

“sekarang?” tanya hyunah.

“ne.”

“tapi kan, kamu sedang bekerja.” Ujar hyunah.

“ya, aku akan minta digantikan sebentar.” Ujar Doojun

Ia pergi ke café. tidak lama kemudian Ia kembali lagi. mereka pergi kesebuah tempat penjualan koran. Sampai disana, hyunah menunjuk ke salah satu berita. Disalah satu berita di halaman depan itu adalah mengenai kasus tabrakan. Sebuah mobil menabrak seorang yeoja yang sedang menyeberang jalan.

“ini..” ujar Doojun. “kamu kan?”

“ne.”

“disini tertulis rumah sakit yang membawa mu untuk dirawat.” Ujar Doojun. “ayo kesana.”

“ne.”

Doojun dan hyunah pergi kerumah sakit seperti yang tertulis diberita. Sesampainya disana, doojun bertanya pada resepsionis untuk menanyakan di mana tempat hyunah berada sekarang. Setelah itu mereka berjalan ke tempat yang telah diberi tahu oleh resepsionis.

Mereka tiba didepan sebuah ruangan. Doojun melihat dari kaca, disitu ada hyunah yang sedang tertidur. Tiba-tiba keluar seorang perawat dari dalam kamar.

“permisi.” Ujar Doojun pada perawat itu.

“ne?”

“ini benar pasien yang bernama park hyunah ?” tanya Doojun.

“ne. dia sudah koma sejak dibawa kesini. Dia mengalami benturan cukup keras saat tabrakan sehingga membuat dia tak sadarkan diri.” Jelas perawat itu.

“apa dia baik-baik saja? Apa dia terluka?” tanya Doojun.

“tidak ada luka luar yang serius, hanya luka goresan dikepala dan sedikit memar ringan.”

Doojun terlihat lega. Tapi sepertinya hyunah masih terlihat khawatir.

“ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya perawat.

“ah, tidak. Terimakasih.” Ujar Doojun.

“kalau mau melihat, silahkan. Tapi saya harus pergi sebentar.”

“ne, gwaenchana. Kamsahamnida.” Ujar Doojun.

Perawat itu pergi. Hanya tinggal Doojun dan hyun ah yang saling bertatapan.

Doojun menggenggam tangan hyunah. Hyunah tampak masih murung.

“kamu akan baik-baik saja.” Ujar Doojun.

“hmm.. aku lega aku belum meninggal. Tapi aku khawatir bisa meninggal.” Ujar nya.

“tenang saja. Tidak ada yang serius. Hanya benturan di kepala yang membuat mu koma. Sebentar lagi kamu pasti bangun.” Ujar Doojun.

“Doojun ssi.. bagaimana caranya agar aku bisa sadar kembali?”

“hmm..”

Doojun dan hyunah masuk kedalam kamar. Disitu ada tubuh hyunah yang terbaring memakai infus. Hyunah mencoba menempelkan badannya ke tubuhnya itu. tapi ia tidak bisa menyatu dengan tubuhnya.

“aku tidak bisa menyatu dengan tubuhku.” Ujar hyunah.

“kurasa tidak semudah itu.” ujar Doojun.

“lalu seperti apa? kalau aku bisa masuk sekarang pasti aku akan segera sadar.” Ujar hyunah.

“nanti kita cari cara lain.” Ujar Doojun.

“bagaimana?” tanya Hyunah.

“kita akan coba berbagai cara nanti.” Jawab Doojun.

“cara seperti apa!?” seru Hyunah. Hyunah meneteskan air mata.

Doojun datang dan memeluk hyunah untuk menenangkannya. Hyunah menyandarkan kepalanya didada doojun.

“mianhe Doojun ssi. Aku hanya terlalu khawatir dengan diriku.” Ujar Hyunah.

“aku tahu. Itu karena kamu baru mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dengan dirimu.”

“kamu benar.” Ujar hyunah. “gomawo Doojun ssi..”

“ne, nanti kita akan mencari cara nya bersama-sama..”

“hmm..”

Doojun dan hyunah kembali pulang kerumah setelah itu.

Doojun sedang duduk didepan tivi bersama hyunah sekarang. Menonton action movie kesukaan doojun.

“kamu suka nonton film seperti ini?” tanya Doojun.

“tidak. Aku lebih suka menonton film komedi romantis.” Ujar hyunah.

“ahh.. dasar perempuan.” Ujar Doojun.

“apa maksudmu ‘dasar perempuan’??” seru hyunah.

“aniyo.” Ujar Doojun sambil menjulurkan lidah.

“apa maksudmu hah!?” hyunah memukul-mukul doojun.

“aww.. hentikan..!” ujar Doojun.

Hyunah berhenti dan mereka bertatapan. Mereka terdiam sekejap.

“week..” Doojun menjulurkan lidah nya lagi.

“huh!” hyunah beranjak dari kursi meninggalkan doojun.

“hyunah ssi! Tunggu!” Doojun mengejar hyunah.

Doojun mengejar hyunah yang berjalan dan menembusi kamar.

“aku tidak bermaksud mengejek kok.” Ujar Doojun dari luar kamar. Tapi tak ada jawaban apa-apa dari kamar. Ia berpikir mungkin hyunah menangis. Doojun membuka pintu kamar.

“BAAA!” seru hyunah yang tiba-tiba ada didepan pintu ketika doojun membuka pintu kamar.

“Woo~!” Doojun kaget setengah mati.

“haha~ satu kosong! Aku berhasil menipumu!” seru hyunah.

“kamu..” ujar Doojun geram. Dia tampak marah. Hyunah yang melihat Doojun marah tidak jadi tertawa dan terdiam takut.

“Doojun ssi.. aku..”

“WAA!”seru Doojun sambil tertawa.

“waa!!” hyunah kaget dan berlari.

“sini kau! Beraninya kamu menipu ku! Doojun berlari mengejar hyunah.

Karena ruangan Doojun yang tidak terlalu lebar, ia berhasil menangkap hyunah.

“kyaa~” pekik hyunah.

“buuk..” mereka berdua jatuh dikasur Doojun.

“Doojun ssi! Sakit sekali!”ujar hyunah.

“itu pembalasanku. Sekarang kita satu sama, kan?” ujar Doojun.

“hihi..” hyunah tertawa dan menjulurkan lidahnya. “week!”

Mereka terdiam sejenak menyadari posisi mereka yang begitu dekat seperti ini.

Doojun mendekatkan wajahnya. Mencium hyunah begitu lembut. Sebuah kecupan yang ringan dan singkat.

Setelah itu mereka saling tersipu. Dan mereka saling tersenyum.

Hari minggu, doojun dan hyunah sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit naik bus way. Mereka berniat untuk mencoba cara baru yang Doojun temukan di internet semalam. Mereka berharap cara ini bisa berhasil membuat arwah hyunah kembali ketubuhnya.

“doojun ssi.. janji ya, habis ini kita jalan-jalan..” ujar hyunah.

“tapi ini sudah termasuk jalan-jalan bukan..?” tanya doojun.

Hyun ah terdiam.

“ah? Aku bercanda.. iya, habis ini kita jalan-jalan kemana saja kamu mau.”

“hihi~ gomawo..” hyunah memeluk lengan Doojun dan menempelkan kepalanya di bahu Doojun.

“Doojun ssi, sepertinya kamu tidak merasa malu..” ujar Hyunah.

“mwo? Kenapa malu?” tanya Doojun agak heran.

“ya.. kamu kan tahu orang-orang tidak bisa melihat ku.” Ujar Hyunah.

“lalu?” tanya Doojun lagi.

“huh! Doojun ssi! Kamu kok gak ngerti? Apa kamu tidak merasa aneh orang-orang melihatmu berbicara sendiri!?” tanya hyunah.

“aniyo. Untuk apa malu? Aku kan tidak benar-benar berbicara sendiri.” Jawab Doojun santai.

“tapi bagi mereka kamu itu aneh..” ujar hyunah.

“aku tidak peduli.” Jawab Doojun lagi dengan nada santai.

Hyunah terdiam. Tapi ia tidak menyanggah lagi. baginya perkataan Doojun itu romantis.

Beberapa lama kemudian, dua orang itu tiba dirumah sakit tempat ‘tubuh’ hyunah terbaring koma. Mereka pergi kekamar tempat tubuh hyunah itu berada.

Sesampainya disana, ternyata ada seorang namja yang ada didalam kamar. Berdiri disamping ranjang tempat hyunah berbaring. Namja itu terlihat memegang seikat bunga. Doojun tak berniat mengganggu orang yang didalam kamar itu. makanya ia masih menunggu diluar.

“hyunah ssi, siapa itu?” tanya Doojun.

“itu…”

“kriieett..” tiba-tiba pintu kamar hyunah terbuka memotong pembicaraan mereka. Namja yang tadi didalam kamar keluar.

Doojun menatap namja itu. tinggi, cakep dan terlihat lebih muda darinya. Mukanya tampak seperti blasteran Arab atau Kroasia bahkan Eropean. Namja itu tidak bicara apa-apa, hanya tersenyum. Doojun membalas senyumnya. Setelah itu namja itu pergi meninggalkan Doojun, dan Hyunah.

“ayo masuk.” Ujar Doojun. Doojun melihat hyunah agak murung ,tapi ia tidak terlalu memerdulikannya. Mereka masuk ke dalam kamar.

“bunganya indah sekali.” Ujar Doojun. Ia menyentuh bunga itu. bunga yang berwarna-warni dan mengembang itu. Doojun mengambil setangkai bunga dan memakaikannya ke telinga di tubuh hyunah yang koma.

“babo..” ujar hyunah.

“gwaenchana.. kan lebih cantik.” Ujar Doojun.

Tiba-tiba Doojun kaget karena hyunah menggenggam tangannya. Doojun menatap hyunah dengan heran. Tapi tiba-tiba hyunah mencium bibir Doojun. Doojun yang masih tidak mengerti, menerima saja ciuman itu.

“Doojun-ssi..” hyunah menyandarkan kepalanya di bahu Doojun yang ada disebelahnya.

“saranghaeyo..” ujar hyunah.

“nado saranghaeyo..” ujar Doojun lembut.

“oh ya, bagaimana kalau kita mencoba cara itu?” tanya hyunah.

“oh iya, ayo!” ujar Doojun lalu merogoh tas selempang yang ia pakai kemari.

Doojun mengeluarkan sebuah buku tebal. Sebenarnya itu adalah kumpulan kertas yang isinya berisi metode-metode gaib yang ia print dari internet. Metode itu akan mereka coba untuk membuat hyunah kembali.

Menurut dari blog dimana Doojun mendapatkannya, metode itu adalah metode tradisional masyarakat Jepang untuk mengembalikan arwah yang tidak sengaja keluar dari tubuh arwah tersebut. Hal ini tidak ada jauh bedanya dengan apa yang dialami hyunah. Hanya saja arwah hyunah keluar karena kecelakaan.

Doojun memakaikan selembar kain kekepala hyunah yang terbaring di kasur. Ia menuliskan huruf kanji disitu. Agak sulit, karena Doojun tidak pernah menulis dengan kanji, tentu saja, karena dia orang Korea. Setelah itu ia memegang tangan hyunah yang sedang tertidur dan tangan hyunah yang ‘arwah’.

Doojun mulai membaca mantra-mantra aneh dan tidak jelas. Mulut nya komat kamit dengan bahasa aneh yang ia baca dari buku metode yang ia pegang itu. keduanya tampak serius menjalankan upacara aneh itu.

“bonmun ilbon yuryeong suikeul jumun…” Doojun mengucapkan mantra dengan lancar dan serius. Kali ini ia tidak membaca buku lagi karena mantranya singkat dan mudah dihapal. Doojun mengucapkannya sambil menutup mata.

Tiba-tiba Doojun terdiam. Ia tidak berkomat kamit lagi. suasana tiba-tiba menjadi hening. Hyunah yang tadi juga ikut serius langsung merasa aneh karena suasana menjadi mencekam. Ia mengira mantra nya bekerja. Semenit dua menit mereka masih menunggu. Makin lama hyunah merasa capek. Akhirnya sudah 10 menit mereka terdiam tak bergerak sama sekali.

“hyunah ssi..” bisik Doojun.

“mwo?” tanya hyunah dengan berbisik juga.

“apa mantra nya berhasil?” tanya Doojun.

“entahlah, aku belum membuka mataku. Tapi sepertinya aku tidak merasa apa-apa.” ujar Hyunah.

“aku juga..” ujar Doojun. “aku merasa masih memegang dua tanganmu.”

“bagaimana kalau kita membuka mata?” tanya Hyunah.

“baiklah.”

Mereka membuka mata perlahan-lahan.

“lho?” ujar Doojun dan hyunah bersamaan.

Mereka saling bertatapan aneh.

“sepertinya tidak berhasil?” tanya hyunah.

“aku juga yakin sepertinya begitu.” Ujar Doojun. “padahal ini sudah sesuai metode.”

Mereka melihat tidak ada yang berubah. Arwah hyunah masih berada diluar tubuhnya. Sepertinya upacara mereka gagal. Mereka hanya saling menatap malu karena upacara aneh itu tidak membuahkan apa-apa.

Doojun dan hyunah sedang dalam perjalanan keluar dari area rumah sakit. setelah upacara aneh itu tidak berhasil mereka memutuskan untuk pulang saja.

“jadi sekarang kita kemana?” tanya Doojun.

“emm.. sepertinya lebih baik kita pulang saja.” Jawab hyunah.

“hhmm? Waeyo? Bukankah kita sudah sepakat habis ini kita jalan-jalan?” tanya Doojun heran.

“ne.. tapi aku merasa ingin pulang.” Ujar hyunah.

“hmm.. ya sudah. Kita pulang saja.” Jawab Doojun menuruti permintaan Hyunah. Sepertinya terjadi perubahan mood hyunah, dan Doojun tahu hal ini makanya ia hanya menuruti perkataan hyunah. Mereka kembali naik bis untuk langsung pulang kerumah.

Satu hari berlalu. Esok hari tiba. Doojun dan hyunah sedang berada didalam kamar. Doojun sedang duduk didepan PC nya sambil membuka situs pencarian untuk mencari cara baru untuk mengembalikan hyunah ketubuhnya yang sedang koma. Sedangkan hyunah sedang duduk diam di pinggir kasur sambil mengamati Doojun.

“Doojun ssi..” ujar Hyunah.

“ne?” tanya Doojun sambil menoleh hyunah.

Hyunah tak berkata apa-apa lagi. Doojun yang mengerti dengan keadaan hyunah yang sepertinya masih ‘badmood’ , mendekati yeoja itu dan duduk disebelahnya.

“ada.. yang harus kubicarakan..” ujar Hyunah pelan.

“hmm? Tentang apa?” tanya Doojun.

“ah.. tapi aku tidak enak mengatakannya padamu.” Ujar hyunah.

“tidak enak? Memangnya makanan?” tanya Doojun.

“Doojun ssi.. bukan itu.”

“haha.. ne, gwaenchana, ceritakan saja.” Ujar Doojun meyakinkan.

“jangan marah ya..”

“ne..”

“sebenarnya.. aku akan menikah.” Ujar Hyunah.

Doojun terdiam sambil menatap hyunah kaget. Ia kaget mendengar apa yang baru diucapkan hyunah.

“menikah?” tanya Doojun.

“mi..mianhae Doojun ssi.. aku..”

“ceritakan.” Potong Doojun.

“namja tadi.. yang kita temui di rumah sakit. itu Dongwoon, dia anak dari sahabat appa ku dari luar negeri. Appa ku dan appa Dongwoon mentunangkan aku dan dia tahun lalu. Dan sebenarnya, minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan.” Ungkap hyunah.

“ah.. benarkah?” tanya Doojun. Ia melihat hyunah mengangguk.

Doojun tersenyum kecut. Doojun bangkit berdiri dan berjalan keluar pintu. Hyunah hanya berdiam ditempatnya berdiri.

“tapi aku tidak menyukainya.. percayalah..” seru hyunah. Doojun tidak menghiraukan dan terus berjalan.

“Doojun ssi! Doojun ssi!” panggil hyunah. Ia mencoba mengejar Doojun.

“BLAM!” pintu ditutup kasar oleh Doojun. Hyunah menghentikan langkahnya. Tidak jadi mengejar Doojun.

Doojun keluar dari rumah setelah pembicaraan yang menyakitkan hati itu. ia benar-benar terpukul dan sedih. Ia tak menyangka Hyunah sudah akan menikah. Doojun berpikir, andaikan hyunah memberitahu lebih awal, ia pasti tidak akan jatuh cinta pada hyunah karena ia sudah tahu kalau hyunah sudah memiliki calon suami.

“praang!” Doojun menendang tong sampah di pinggir jalan hingga jatuh dan isinya berkeluaran.

“ahh..” Doojun kaget melihat sampahnya berserakan karena ulahnya. Ia segera berlari sebelum di lihat orang.

Doojun duduk termenung di dalam sebuah restoran di pinggir jalan tidak jauh dari rumahnya. Ia termenung sambil memainkan sedotan didalam minuman yang ia pesan sedari tadi. Pikirannya tidak karuan. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Sudah hampir tiga jam ia disini terus.

Ia begitu kesal karena mengetahui hal pernikahan hyunah yang ternyata tinggal seminggu lagi. tapi ia tidak bisa menyalahkan hyunah. Mereka baru saling mengenal, sedangkan hyunah dan calon suaminya sudah setahun bahkan sudah sejak dulu saling kenal.

“tapi aku tidak menyukainya.. percayalah..”

Tiba-tiba ucapan hyunah tadi terngiang di pikiran Doojun. Ia berpikir apakah ucapan hyunah itu memang benar atau tidak.

“hei! Apa yang kamu lakukan!”

“bukannya aku sudah mati?”

“maksudmu?”

“aku mau membantumu mencari tahu apa yang terjadi padamu sebenarnya.”

“hahahaha.. mianhae, aku hanya bercanda.”

“doojun ssi. Kamu harus membantuku besok.”

“selamat pagi!”

“saranghaeyo..”

“nado saranghaeyo..”

Pikiran doojun memutar kembali kenangan-kenangan mereka. Doojun tiba-tiba bangkit dari tempat ia duduk. Ia keluar dari restoran. Ia sadar. Tak seharusnya ia marah. Ia ingin meminta maaf pada hyunah. Doojun mempercepat langkahnya. Ia berlari menuju rumah. Ia ingin segera menemui hyunah.

“hyunah ssi!” Doojun membuka pintu kamarnya.

Tidak ada siapa-siapa disitu. Doojun membuka pintu lemarinya, pintu kamar mandi,ia mencari disetiap sudut-sudut rumahnya tapi hyunah tetap tidak ada. Doojun berlari keluar dari rumah. Mungkin saja hyunah pergi keluar dari rumah dan bersembunyi disuatu tempat.

Doojun berlari menyusuri jalan. mencoba mencari hyunah di tempat manapun. Hari sudah malam dan ia agak kesulitan memerhatikan jalan.

“brukh!” tiba-tiba sepatunya tersandung lobang dan ia terjatuh.

“uhh..” Doojun mencoba bangkit kembali sambil mencoba mengatur kembali napasnya yang sudah tidak karuan. ia kembali berlari.

“Grroooo~”

Doojun menatap keatas. Langit malam tampak sangat mencekam. Ia yakin hujan akan segera turun.

“GYUUURR~”

Tebakannya benar. Tak lama setelah guntur itu, hujan yang deras tiba-tiba turun mengguyurnya. Doojun kalang kabut, tapi ia terus mencari hyunah.

Doojun tiba didepan café. café masih buka. Ia berteduh di depannya dari hujan. Tiba-tiba matanya terperangah pada sesuatu yang ada di pinggir jalan. seperti sosok seseorang yang sedang berdiri.

Doojun mendekat ke sosok itu. makin lama makin jelas. Sosok seorang yeoja berambut panjang.

“hyunah?” Doojun menarik lengan yeoja itu dengan pelan.

“Doojun ssi?” benar. Itu hyunah.

“hyunah, apa yang kamu lakukan disini?” tanya Doojun. “aku mencari-carimu.”

“kamu tahu, ini tempat pertama kali kamu menyapaku.” Ujar hyunah. “malam itu kamu datang dan menuduhku akan bunuh diri. Setelah itu kamu mengantarku pulang dan akhirnya kamu tahu ternyata orang-orang tidak bisa melihatku.”

“hyunah ssi.. apa maksudmu?” tanya Doojun heran. “Sedang apa kamu disini?”

“hmm, aku hanya ingin mengenang saat-saat indah itu.” ujar hyunah.

Doojun memeluk hyunah.

“hyunah ssi, mianhae. Aku tidak bermaksud..”

“araseo..” potong hyunah. “akulah yang salah karena tiba-tiba menceritakan hal itu. mianhaeyo..”

Doojun memeluk hyunah makin erat. Ia merasa bersalah telah menyakiti hati hyunah.

“sudahlah, kita lupakan saja itu..” ujar Doojun sambil melepaskan pelukan. Tapi tiba-tiba ia tercengang.

“hmm, benar.” Ujar hyunah seraya tersenyum manis.

“hyunah, ka.. kamu…” ujar Doojun terbata-bata.

“hah? Waeyo?” tanya hyunah.

Ia melihat dirinya dan ia ikut tercengang.

“kenapa aku…… pudar?” tanya hyunah bingung.

Arwah hyunah makin lama makin terlihat memudar dan makin tembus pandang.

“Doojun ssi.. ada apa ini!?” seru hyunah.

“ah!? Mo.. molla..!” jawab Doojun yang terlihat makin khawatir.

Doojun mencoba memegang tangannya. Tapi tangan hyunah makin tidak terasa. Doojun seolah mulai tidak bisa memegangnya kembali.

“doojun ssi, maafkan aku..” ujar hyunah.

“hyun.. hyunah!!” seru Doojun karena melihat hyunah seakan makin menghilang.

“saranghaeyo..” tiba-tiba hyunah menghilang. Seperti ditelan hujan. Doojun kaget setengah mati melihat hyunah tiba-tiba lenyap dari pandangannya.

“HYUN AH !!” seru Doojun.

Tapi hyunah tak muncul-muncul lagi. Doojun yakin pasti arwah hyunah sudah masuk lagi dalam tubuhnya. Ia jadi bersemangat untuk pergi kerumah sakit melihat hyunah siuman. Ia berlari menyebrangi jalan.

“Piiiiiiiiiipppp !!” suara klakson mobil mengagetkan Doojun. Ia tertabrak mobil di malam hujan itu.

“Doojun ssi~ saranghaeyo!”

“ne, nado saranghaeyo…hyunah ssi.”

**

“hu’uhkh!” Doojun merasakan seperti ada sengatan listrik mengalir ditubuhnya yang mengagetkannya. Doojun membuka matanya. Ia melihat sebuah cahaya terang menyinarinya membuat matanya sakit. di sekelilingnya ada beberapa orang memakai pakaian aneh seperti jubah berwarna biru dan bermasker.

“dia selamat!” ujar seseorang di antara orang-orang berpakaian aneh itu.

“ya! dia selamat!”

Orang-orang di sekeliling Doojun tampak kegirangangan. Sementara Doojun masih mengkhayal apa dia sedang ada di surga ataukah neraka saat ini.

**

Esok harinya Doojun sadar ternyata ia sedang ada dirumah sakit. tadi malam ia tertabrak mobil. Ia mendapat beberapa luka serius yang terus mengeluarkan darah lalu segera dilarikan kerumah sakit ini. di tubuhnya banyak sekali luka dan tangannya di gips karena patah. Dokter berkata, untung saja dia selamat padahal ini kecelakaan yang sangat berbahaya dan biasanya korban bisa langsung meninggal ditempat.

Doojun yang sudah sadar dikamar pasien, sangat ingin melihat keadaan hyunah apakah ia memang sudah sadar atau belum. Tapi badannya sakit semua sehingga ia masih belum kuat untuk berjalan. Berdiri saja masih terasa sakit.

Makin lama, Doojun makin tidak sabar. Ia benar-benar ingin melihat hyunah. Akhirnya dengan semua tekad yang ia miliki, ia memaksa untuk menuju ke kamar hyunah meski kakinya terasa sangat sakit untuk berjalan.

“ah? Nona Park Hyunah sudah keluar tadi pagi.” Ujar perawat. “keluarganya langsung meminta dipulangkan tadi pagi setelah ia siuman tadi malam.”

“ah? Benarkah?” tanya Doojun agak lega. “kira-kira mereka pulang kemana?”

“mianhamnida. Kalau untuk itu, saya tidak tahu.” Ujar perawat itu lagi.

“hmm.. gomapseumnida..” ujar Doojun. Perawat itu lalu pergi meninggalkan Doojun sendiri.

Doojun masuk kekamar pelan-pelan. Ia duduk di ranjang tempat hyunah terbaring dulu. Dalam hati ia berpikir, pasti hyunah sedang dalam persiapan pernikahannya. Pasti ia akan terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang panjang dan berjalan membawa seikat bunga cantik dan harum.

Doojun meneteskan air mata. Ia menangis tanpa suara. Ia berpikir, ia benar-benar sudah terlambat.

Satu minggu kemudian.

Doojun sedang bekerja di café. tapi ia masih belum bisa bekerja optimal karena kakinya masih terasa sakit dan tangannya belum pulih.

“hey hyung! Kalau belum sanggup kerja, lebih baik beristirahatlah dulu.” Ujar seorang pelayan pada Doojun.

“gwaechana, aku baik-baik saja! Jangan khawatirkan aku!” seru Doojun.

“pincang begitu bisa dibilang baik-baik saja!??” tiba-tiba terdengar suara lain ditelinga Doojun dari arah samping. Doojun menoleh.

“hyunah ssi!?” seru Doojun terkejut. Yeoja itu hanya tersenyum manis.

“ka.. kamu.. baik-baik saja?” tanya Doojun.

“ne, aku baik-baik saja. Sangat sehat.” Ujar hyunah. “malam itu aku langsung sadar.”

“ohh..” Doojun hanya mengangguk. Setelah itu mereka terdiam.

“aku tidak jadi menikah.” Ujar hyunah tiba-tiba.

“hah?” Doojun tercengang. “bukannya kalian sudah..”

“kami berdua membatalkannya..” potong hyunah.

“kok bisa?”

“aku hanya mengatakan padanya kalau aku sudah memiliki orang yang aku cintai. Dan ternyata, ia berkata seperti apa yang aku katakan. Lalu kami sepakat untuk mengatakan ‘tidak bersedia’ saat upacara pernikahan.” Jelas hyunah.

“dan kalian mengatakannya?” tanya Doojun.

“tentu saja.”

Doojun dan hyunah saling bertatapan dan saling tersenyum. Hyunah mendekat kearah Doojun.

“dan kau tahu siapa orang yang aku cintai itu?” tanya Hyunah.

“hemmm.. aku?” tanya Doojun sambil menggenggam tangan halus hyunah.

“tepat sekali!” jawab hyunah.

“tentu saja.” Ujar Doojun.

Doojun mencium Hyunah. Memainkan bibirnya dengan lembut. Tiba-tiba pecahlah tepukan dari para pengunjung yang menyaksikan pembicaraan mereka. Doojun berhenti mencium hyunah karena merasa malu. Mereka berdua hanya senyum-senyum karena orang-orang tengah menonton mereka. Beberapa dari mereka terlihat terharu.

“Aw! Hyunah ssi! Kamu menyenggol kakiku! Sakit sekali!” seru Doojun.

“yaa~ mana? Mianhae.. aku tidak sengaja! memangnya ada apa dengan kaki mu?” tanya Hyunah.

“aniyo.. hanya kecelakaan kecil.”

Tak perlu khawatir karena mereka benar-benar akan menjalani kisah mereka secara nyata mulai sekarang.

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s