Posts Tagged ‘2PM’

Play A Guitar For Me

Posted: April 27, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Play a guitar for me
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Kim Jun Su 2PM as Kim Jun Su
Me [Tiffany Elfuty Armstrong] as me
Note : sebenarnya mau bikin FF orderan. Cuma, karena lagi males, aku pengen nya pake tokoh utamanya aku. Lalu, aku make Jun Su 2PM coz cocok sama perannya menurutku. Kalau pake yayang Chan Sung yeobo chagiya bla bla blah.. gak cocok.. hehe~ met menikmati. Sori kalo FF nya aneh, gak jelas, gila, dll sebagainya.. hehe~ hehe~ hehe~
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“tolong jaga adik sepupu mu itu ya. Aku mau pergi belanja sebentar. Kasihan dia sendiri di sana.”
“ne..” Myung Dae mengangguk mendengar permintaan ajuhmanya.
“Cuma kamu yang bisa di harapkan.” Sambung ajuhmanya. “suamiku sedang bekerja.”
“ne, aku akan menjaganya.” Ujar Myung Dae. “tapi kamarnya di mana?”
“di lantai 3.” Jawab ajuhmanya.
“nomor kamarnya?”
“oh, kalau tidak salah nomor 328.” Jawab ajuhmma nya yang berambut keriting itu.
“tidak salah?”
“kamu cek saja. Sudah ya, obralnya sebentar lagi di buka!” seru ajuhma nya lekas-lekas pergi.
Mereka berdua berpisah di depan rumah sakit. Myung Dae berjalan masuk ke gedung rumah sakit.
“kamar Kim Jun Su, dimana?” Tanya Myung Dae.
“Kim Jun Su?” Tanya resepsionis rumah sakit tersebut.
Myung Dae mengangguk.
“Kim Jun Su ada di kamar nomor 328?” jawab resepsionis.
“kamsahamnida.” Myung Dae mengangguk lalu pergi. Ajuhmanya tidak salah kali ini, karena Myung Dae tahu ajuhma nya itu pelupa.
Myung Dae naik lift menuju ke lantai tiga. Ia mencari-cari dan akhirnya menemukan kamar bernomor 328. Tapi Myung Dae bingung karena ia mendengar bunyi gitar dari kamar adik sepupunya itu. Myung Dae yang penasaran membuka pintu yang tidak terkunci itu. Ia masuk kedalam ruangan. Di dalam terasa agak dingin karena AC
“Jun Su?” panggil Myung Dae. Ia mendengar seseorang bermain gitar dari arah sebelah dalam ruangan. Myung Dae yang penasaran terus berjalan masuk untuk memastikan apakah ia salah ruangan. Suara gitar sudah berhenti.
Myung Dae berjalan kea rah jendela.
“ya! Siapa kamu!?” seseorang mengagetkan Myung Dae . Ia menyadari ada seorang namja tidak di kenal di belakang nya duduk di sebuah kursi. Myung Dae tidak menyadari orang itu karena tempat duduknya terhalang dinding tadi. Namja itu memegang sebuah gitar. Matanya agak sayu.
“Ah!??” Myung Dae kalang kabut. “saya.. salah kamar..” Myung Dae langsung membungkuk lalu segera pergi keluar dari kamar. Ia segera turun ke lantai bawah untuk menanyakan kamar Jun Su sepupunya yang sebenarnya.
“Ah, mianhamnida. Saya kira tuan Kim Jun Su..” ujar resepsionis sambil membungkuk.
“animnida, sepupu saya ini masih berumur 6 tahun.”
“Saya lupa memberitahu kalau ada nama yang sama yang bersebelahan kamar.”
“gwaenchana, kalau begitu, kamar sepupu saya?” Tanya Myung Dae.
“kamarnya nomor 329.” Jawab resepsionis itu.
Myung Dae naik kembali ke lantai tiga. Ia melewati satu nomor dari kamar yang salah tadi. Kali ini ia benar-benar menemui sepupunya yang asli.
“ya.. nuna.. kamu lama sekali..” ujar sepupunya.
“hhehhe.. mianhaeyo, Jun Su-ah..” ujar Myung Dae senyam senyum.
“nuna, belikan aku minuman di luar…” pinta Jun Su sepupu laki-lakinya itu.
“kamu mau minum apa?” Tanya Myung Dae.
“apa saja deh, bir juga boleh..” canda sepupunya.
“mwo?” Myung Dae kaget.
“ah, nuna serius banget sekali sih. Sudah, cepat belikan aku minuman!” seru sepupu kecilnya itu.
Myung Dae segera beranjak dari kamar.
Ketika ia keluar ia melihat Jun Su dari kamar 328 juga sedang keluar dari kamarnya sambil membawa gitar. Myung Dae merasa agak malu, dia cepat-cepat berjalan duluan dari Jun Su.
Myung Dae baru masuk di dalam lift. Ia hendak membeli minuman di lantai bawah. Tiba-tiba tangan seseorang menahan lift tersebut. Dan masuk lah Kim Jun Su yang lebih besar, Kim Jun Su dari kamar 328. Myung Dae hanya bisa menunduk. Sementara dengan tampang biasa-saja, Jun Su hanya melirik Myung Dae yang seperti nya ingin cepat-cepat keluar.
Lift terbuka, Myung Dae langsung melesat pergi. Ia segera menuju ke tempat mesin penjual minuman yang ia lihat pada saat pertama ke rumah sakit ini. untung saja ia tidak lagi berpapasan dengan Jun Su yang itu. Myung Dae membeli sekotak susu stroberi dan sekaleng minuman untuk Jun Su sepupunya dan untuk dia sendiri. Saat hendak balik lagi menuju ke atas, dari kaca-kaca jendela yang transparan, Myung Dae melihat Jun Su sedang duduk di kursi bawah pohon yang rindang dan teduh.
Tiba-tiba muncul niat Myung Dae untuk menghampiri namja itu. Myung Dae ingin mendengar permainan gitarnya.
Myung Dae mengendap-endap perlahan-lahan dari belakang. Ia mendengar petikan-petikan senar gitar yang di mainkan Jun Su. Terdengar juga suara nya yang agak pelan sedang menyanyi.
Suara gitar berhenti.
“aku tahu kamu disitu.” Ujar Jun Su tiba-tiba. Myung Dae sangat kaget. Apa kah dirinya yang di maksudkan oleh Jun Su.
“ne, kamu, siapa lagi!?” ujar Jun Su lagi seolah mengetahui isi hati Myung Dae.
“aku!?” Tanya Myung Dae.
“aniyo, aku berkata pada yeoja dengan rambut pendek bergelombang, memakai terusan berwarna maroon dan tas kecil berwarna hitam yang tadi salah masuk ke kamarku.” Jelas Jun Su.
Myung Dae sadar kalau dirinya lah yang di maksudkan Jun Su. Myung Dae berjalan ke depan Jun Su. Jun Su menatapnya dengan muka datar.
“mianhamnida! Aku tidak bermaksud mengganggu mu.” Ujar Myung Dae sambil membungkuk-bungkuk.
“jangan menghalangi pandanganku.” Ujar Jun Su. Myung Dae bergeser kea rah kanan sedikit.
“babo. Duduklah.” Ujar Jun Su.
“mwo? Aku duduk? Dimana?” Tanya Myung Dae.
“itu disana..” ujar Jun Su menunjuk kea rah bangku yang ada di depan gedung rumah sakit.
“jauh sekali…” ujar Myung Dae.
“huh, tentu saja di sini.” Ujar Jun Su menunjuk ke bangku panjang yang ia duduki.
“ohh.. baiklah..” Myung Dae duduk di bangku panjang tersebut, berjarak dari Jun Su.
“ya.. memangnya wajahku menakutkan sekali ya!?” seru Jun Su. “lebih dekatlah. Aku tak akan memakanmu.”
“me..makan??” gumama Myung Dae.
Jun Su memetik-metik gitar perlahan-lahan tapi ia tidak benar-benar memainkannya. Mereka berdua terdiam disitu.
“kamu tidak memainkannya seperti tadi?” Tanya Myung Dae.
“aku di bayar berapa untuk melakukan itu?” Tanya Jun Su.
Myung Dae agak kesal dengan cara bicara Jun Su yang ketus.
“baya..”
“kenapa kamu sampai bisa salah kamar seperti tadi? Kamu baru pertama kali ke rumah sakit ini?” potong Jun Su.
Myung Dae mengangguk. “habisnya, namamu mirip dengan nama adik sepupuku.”
“oh ya? Namanya Kim Jun Su juga?”
Myung Dae mengangguk.
“sepertinya resepsionis itu salah.”
“bagaimana kamu tahu kalau resepsionis itu salah?”
“karena kamu bertanya padanya sebelum naik.”
“kalau ia menjawab benar?” Tanya Myung Dae.
“berarti kamu yang sengaja.” Ujar Jun Su.
“ah, aniyo. Itu kesalahan resepsionis itu!”
“kamu sudah mengatakannya.” Ujar Jun Su.
Myung Dae melihat susu dan minuman kaleng yang ia bawa. Ia jadi teringat harus mengantarkannya pada adiknya.
“ah, aku baru ingat.” Ujar Myung Dae. Jun Su menatapnya. “aku harus mengantarkan ini pada adikku.”
“Kamu tidak ingin mendengar aku memainkan gitar?” Tanya Jun Su pada Myung Dae yag sudah bangkit dari tempat duduk.
Myung Dae terdiam.
“cepat sana, dia sudah menunggu.” Ujar Jun Su.
“ah, ne. aku pergi dulu ya.”
“jreng..” Jun Su memainkan tangannya di atas gitar sambil mengangguk.
“Datang saja besok.” Ujar Jun Su.
Myung Dae mendengar kalimat terakhir Jun Su tadi. Apakah itu berarti, ia bisa menemui Jun Su?
Myung Dae segera naik ke kamar adikknya. Ajuhmanya belum datang, dan adik sepupunya sudah memasang wajah kesal nya. Myung Dae hanya senyam senyum.
“hmmmm!”
“hehe~ mianhaeyo, Jun Su.” Ujar Myung Dae. “ini, aku bawakan susu.”
“tidak mau!” seru Jun Su.
“ah? Waeyo?”
“nuna sudah membuatku kesal!” seru Jun Su.
“ah, tadi aku ketemu temanku.”
“maksud nuna, namjachingu?” Tanya Jun Su. “yang duduk di pohon itu!?” Jun Su menunjuk ke luar. Myung Dae kaget, sepupunya mengetahui ia kemana tadi. Myung Dae tak bisa berkata apa-apa kali ini.
“Jun Su.. maafkan aku.” Ujar Myung Dae.
“huh..” Jun Su menunjukkan muka sombongnya.
“baiklah, kamu bisa ambil minuman ku juga.” Rayu Myung Dae.
“huh.” Jun Su masih memainkan muka sombongnya.
“baiklah, aku akan beli lebih banyak lagi..”
“huh..”
“Ah, Jun Su-ah? Kamu tidak memaafkan ku?” Tanya Myung Dae dengan wajah serius.
“hmph! Hahahaha!” tiba Jun Su tertawa.
“mwo?” Myung Dae bingung.
“nuna lucu sekali!” seru Jun Su.
“kamu mempermainkan aku!?” seru Myung Dae.
“ah, aniyo. Nuna jangan serius begitu. Aku hanya bercanda kok.” Ujar Jun Su.
“kalau begitu kamu mau ambil?” Myung Dae menawarkan susu kotak pada Jun Su.
“aku mau ini.” Jun Su mengambil minuman kaleng milik Myung Dae.
“ah itu punyaku.” Seru Myung Dae.
“kamu lebih cocok minum susu.” Ujar Jun Su.
“ah! Kembalikan padaku!” Myung Dae memegang minuman kaleng itu mencoba merebutnya dari Jun Su.
“Anak-anak!” tiba –tiba ajuhma datang. Jun Su pun berhasil mempertahankan minuman kaleng tersebut.
“eomma!” seru Jun Su.
“kalian akur sekali ya..” ujar Ajuhmma.
“begitulah.” Jawab Myung Dae pura-pura tersenyum.
“Myung Dae-ah, aku bawa ini untuk mu.” Ajuhma memberikan beberapa bungkus makanan ringan.
“ah, eomma! Punya ku mana!??” seru Jun Su.
“aniyo. Nanti alergimu kambuh lagi.” ujar ajuhma. Myung Dae menjulurkan lidah pada Jun Su. Jun Su terlihat kesal.
“gomawo telah menjaga Jun Su. Sekarang kamu bisa pulang.” Ujar ajuhma seraya tersenyum.
“ne, ajuhma. Annyeong haseyo.” Myung Dae membungkuk. Ia keluar dari kamar.
Dari luar kamar ia mendengar ajuhmanya memarahi Jun Su gara-gara minuman kaleng tadi. Sudah kubilang kan, pikir Myung Dae. Myung Dae senyam senyum di luar kamar.
Myung Dae segera pulang kerumahnya. Ia tidak menemui Jun Su lagi, karena ia ingat Jun Su mengatakan, ia bisa datang besok.
Dirumah Myung Dae membayangkan kejadian nya tadi, ia pertama kali bertemu namja itu. Ia senyam-senyum mengingat kesalahan nya tadi. Myung Dae membayang wajah Jun Su. Wajahnya cakep, rambut lurusnya, matanya, tangannya yang bermain gitar, Myung Dae jadi suka padanya, meskipun ia tahu sifat Jun Su yang cuek.
***
Esok harinya Myung Dae datang lagi kerumah sakit. Ia mencoba mencari-cari Jun Su tapi tidak menemukannya. Akhirnya ia mendapati Jun Su sedang mengintip di sebuah ruangan. Di ruangan itu ada beberapa orang perawat dan pasien. Jun Su tampak sangat memperhatikan.
“siapa yang kamu lihat?” Tanya Myung Dae.
“WAAHH!!!” pekik Jun Su kaget karena Myung Dae tiba-tiba ada di sampingnya.
“pacarmu?” Tanya Myung Dae.
“huh, sok tahu.”
“lalu siapa?”
“bukan siapa-siapa.” Ujar Jun Su lalu beranjak pergi. “kamu sedang apa disini?”
“lho? kemarin kamu sudah janji akan memainkan gitar untukku.”
“oh ya? Sepertinya aku sudah lupa.” Ujar Jun Su.
“ah, kamu memang berjanji kok!”
Myung Dae terus memaksa kan kehendaknya. Tiba-tiba, saat mereka sudah sampai di depan kamar Jun Su, Jun Su menyandarkannya di pintu.
“kalau aku tak mau?”
“kamu.. kan sudah janji..”
“kenapa kamu begitu ingin mendengar aku bermain gitar?” Tanya Jun Su lagi. Myung Dae terdiam.
“kamu menyukai ku kan?” Tanya Jun Su.
Myung Dae kaget sekaligus tersipu. Ia malu. Tapi, Myung Dae sebenarnya memang sudah menyukainya.
“kalau iya?” Tanya Myung Dae.
Jun Su menggeser Myung Dae dari pintu dan masuk ke kamarnya. Myung Dae mengikutinya.
“aku hanya ingin kamu menepati janji.”
“janji? Dengan orang tak di kenal seperti aku? Kamu tak takut aku mengapa-apai mu disini?”
Mereka terdiam. Jun Su tiba-tiba mendekat.
“Ah, mianhae.. aku tak bermaksud..” Belum sempat Jun Su meminta maaf Myung Dae sudah berlari keluar dari kamar.
Jun Su duduk di kursi. Ia berpikir, mungkin saja yeoja itu hanya mencoba akrab dengan ku. Lagian aku tahu, aku sudah berjanji padanya. Kenapa aku bisa sejahat itu?
Sementara itu Myung Dae yang berlari , tak henti-hentinya mengatakan babo. Jun Su betul, kenapa ia bisa bertingkah seperti itu di depan orang yang tak ia kenal sama sekali?
Beberapa hari berlalu. Myung Dae tak datang-datang lagi di rumah sakit. Myung Dae sedang mencoba melupakan cinta first sight nya itu. Myung Dae sedang berbaring di kasur di kamarnya kemudian hapenya bergetar.
“Yoboseyo? Ajuhma? Ada apa?”
“Myung Dae-ah.. please.. untuk hari ini saja lagi. tolong jaga Jun Su. Aku sedang sibuk hari ini..” terdengar suara ajuhma nya dari seberang.
“ah, aniyo. Aku tidak bisa.”
“please, nak.. aku benar-benar sibuk. Obral kali ini lebih murah.”
“huh, obral lagi obral lagi..” keluh Myung Dae.
“ayolah, keluarga yang ku sayang Cuma kamu nak..”
“ajuhma, bilang saja kalau Cuma aku yang punya banyak waktu luang.”
“hehe.. begitulah..” ajuhma terkekeh. “bagaimana? Kamu mau kan..?”
“hmm..” Myung Dae menghela napas. “baiklah..”
“ah, saranghae! Kamu keponakan yang paling kusayang deh.”
“ih, ajuhma, hentikan bicara seperti itu. Aku merasa aneh.”
“ya sudah. Cepat ya. Jun Su tidak suka menunggu!”
Myung Dae dengan terpaksa pergi kembali kerumah sakit itu. Padahal ia tidak mau lagi kesana. Ia tidak tahu lagi mau di taruh di mana mukanya kalau bertemu Jun Su lagi.
Myung Dae sampai di lantai tiga rumah sakit. Ia berjalan perlahan-lahan. Myung Dae lega karena kamar Jun Su tertutup. Ia segera masuk ke kamar Jun Su kecil, sepupunya.
“Nuna, ini..” Jun Su menyerahkan sebuah kertas.
“apa ini? dari siapa?” Tanya Myung Dae.
“siapa ya? Entahlah. Ini sudah lama sekali.” Jawab Jun Su.
“kamu tidak mengenal wajahnya?”
“hmm.. namja..waktu itu dia bawa gitar.”
Jun Su! Pekik Myung Dae dalam hati. Myung Dae segera membuka kertas yang di lipat itu.
“MIANHAMNIDA. TEMUI AKU DI BAWAH POHON YANG WAKTU ITU.” Itulah kalimat yang tertera di dalam kertas itu.
“kamu mengenalnya kan? Habis, itu orang yang waktu itu bersama kamu di bawah pohon itu.” Jun Su menunjuk lagi kearah jendela, kea rah sebuah pohon.
“Jun Su-ah, gomawoyo..” ujar Myung Dae lalu segera keluar.
“belikan aku minuman!” seru Jun Su.
Myung Dae segera menuju kearah pohon yang waktu itu. Ia lagi-lagi mengendap dari belakang. Di situ ada Jun Su yang sedang memegang gitar.
“hobi mu seperti ini ya?” tiba-tiba Jun Su berbicara. Myung Dae kaget. Apa ia memang berbicara padaku?
“cepat keluar dari belakang pohon, kamu menginjak kotoran kucing.”
“waa! Mana!?” pekik Myung Dae sambil mengecek kakinya. Ternyata itu hanya bohong.
“haha~” Jun Su tertawa
“huh.!” Ketus Myung Dae. Ia masih berdiam di tempat tadi.
“kenapa kamu tidak datang kemari?” Tanya Jun Su. Myung Dae tidak menjawab. Tiba-tiba Jun Su bangkit menghampirinya. Jun Su meraih tangan Myung Dae dan membawa nya. Myung Dae kaget dengan apa yang di lakukan Jun Su ini.
Mereka berdua duduk di bangku panjang tersebut. Tapi mereka masih terdiam. Myung Dae hanya menunduk.
“siapa nama mu?” Tanya Jun Su. Myung Dae masih belum menjawab karena malu.
“aku bertanya padamu..” ujar Jun Su.
“Kang Myung Dae…” jawab Myung Dae pelan.
“oh, Myung Dae, kurasa kamu sudah tahu namaku.” Ujar Jun Su. Myung Dae hanya terdiam membuat Jun Su jadi kesal.
“Mianhamnida.” Ujar Jun Su. “maafkan perkataanku waktu itu. Aku hanya sedang tidak enak badan.”
Myung Dae masih terdiam.
“aku tahu, harus nya aku bersikap lebih baik. Apalagi pada seseorang yang ingin berteman dengan ku.”
“hmm..” Myung Dae menggumam.
“aku janji aku tak akan begini lagi. tolong maafkan aku.” Ujar Jun Su.
“kamu janji..?” Tanya Myung Dae.
“ya, karena kita teman sekarang.” Ujar Jun Su.
“oh ya!?” Myung Dae tampak riang.
Jun Su mengangguk.
“kalau begitu, kamu akan bermain gitar untukku??” Tanya Myung Dae.
“ah, kalau yang ini aku tidak bisa.” Ujar Jun Su.
“kenapa? Kita kan teman..”
“mianhaeyo..” Jun Su hanya tersenyum.
“ ya sudah, aku yang akan bermain gitar untukmu.” Ujar Myung Dae sambil merebut gitar Jun Su.
“jreengg! Jreeng jreeng jreeeng~~” Myung Dae memainkan gitar tidak jelas.
“haha~ babo. Nanti gitar ku rusak!”
Myung Dae dan Jun Su menjadi akrab.
keesokan harinya Myung Dae datang lagi kerumah sakit. Myung Dae membawa sebuah kamera digital.
“sebentar saja!” ujar Myung Dae.
“aniyo. Rambutku berantakan.” Elak Jun Su.
“satu foto saja! Please..”
“huh, ya sudah. Aku tidak tanggung kalau hasilnya jelek.” Ujar Jun Su.
“kamu jangan pasang pose jelek dong!” ketus Myung Dae.
“terserah dong!”
“JEPRET~~~”
“hmm, lumayan.” Ujar Myung Dae.
“lumayan katamu? Itu gaya terkerenku.”
“gaya terkerenmu jelek sekali.”
“apa katamu!? Enak saja.”
“haha~” Myung Dae hanya ketawa.
“Kamu kenapa selalu disini?” Tanya Jun Su.
“kamu tidak suka ya?” ujar Myung Dae pura-pura beranjak.
“aniyo. Maksudku, kamu tidak sekolah atau lain sebagainya..”
“aku masih SMA..” jawab Myung Dae. “bagaimana dengan mu? Kenapa kamu selalu di sini?”
Jun Su terdiam.
“ah mianhaeyo..” ujar Myung Dae.
“gwaechana.” Ujar Jun Su. “sebenarnya, aku tidak ingat.”
“tidak ingat? Kenapa?” Tanya Myung Dae.
“menurutmu?”
“hmm… entahlah.. mungkin kamu hilang ingatan.”
“sepertinya memang begitu..” ujar Jun Su murung.
“ah, mianhae.. aku tidak bermaksud..”
“gwaenchana..” potong Jun Su
Mereka terdiam.
“ah, hentikan seperti ini! aku benci memikirkan hal ini!” seru Jun Su.
“Ya sudah, kita fotoan lagi..”
“ah, sudah ku bilang, rambutku berantakan, babo!!”
Myung Dae merasa bingung dengan Jun Su. kenapa ia mengatakan tidak bisa ingat tentang dirinya sendiri.
Dirumah, Myung Dae melihat hasil foto-foto mereka berdua. Banyak sekali foto yang mereka hasilkan. Myung Dae segera memindahkan foto-foto hasil jepretan nya bersama Jun Su tersebut ke laptopnya. Ia juga membuat folder khusus untuk foto-foto itu. JunDae.
Esok harinya, ketika Myung Dae berkunjung lagi ke rumah sakit, ia melihat seorang perawat dengan tergesa-gesa keluar dari kamar Jun Su. Myung Dae merasa bingung. Ia segera masuk kedalam kamar Jun Su.
“ada apa?” Tanya Myung Dae pada Jun Su yang menatap ke jendela.
Jun Su tidak menjawab.
“Jun Su?” Myung Dae melihat Jun Su meneteskan air mata.
“Jun Su kamu kenapa?” Tanya Myung Dae.
“ah, kamu..” Jun Su segera menghapus air matanya dengan baju.
“ada apa? Apa yang terjadi??” Tanya Myung Dae khawatir. “siapa perawat tadi.?”
“entahlah..”
Myung Dae kaget. Kenapa ia menangis setelah perawat itu keluar kalau ia memang tidak mengenal perawat itu.
“aku tidak tahu apa-apa..”
“lalu kenapa kalian..”
“entahlah, aku merasa aku dan dia pernah dekat.” Potong Jun Su.
“oh ya? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Myung Dae.
“bukan hal yang penting..” jawab Jun Su.
“apa yang dia bilang?”
“ah, sudahlah dia hanya mengatakan hal yang tidak aku ketahui..” ujar Jun Su kesal.
“tapi kamu menangis…”
“ah, sudah! Sudah!”
Myung Dae terdiam. Ia merasa Jun Su sedang menyipan sebuah rahasia. Tapi JunSu sendiri bilang, kalau ia tidak tahu apa-apa.
“kamu kenapa? Masih berpikir?” Tanya JunSu.
“ah, aniyo!”
“ya sudah, aku mau tidur..” ujar Jun Su. “kamu jangan mengapa-apai aku ya!”
“ih, enak saja.” Seru Myung Dae. “aku tidak mungkin melakukannya.
Jun Su berbaring di kasur. Membelakangi Myung Dae. Myung Dae masih berpikir tentang hal tadi. Ia benar-benar ingin tahu.
Myung Dae menghampiri Jun Su yang tertidur. Ia berdiri tepat di depan wajah Jun Su yang menutup mata. Myung Dae memperhatikan wajah Jun Su. wajah Jun Su yang kelihatan murung. Rambut Jun Su menutupi mata nya yang terpejam. Myung Dae berniat menggesernya.
“apa yang kamu lakukan hah!??” ujar Jun Su tiba-tiba.
“waa!” Myung Dae spontan kaget. “ma—maafkan aku!”
“sudah kubilang jangan mengapa-apai aku!”
“aku tidak bermaksud seperti itu kok!”
“lalu? Kenapa kamu ada di depanku? Kenapa tadi tanganmu akan menyentuh wajahku?” Tanya Jun Su
“ukh! Cerewet! Enak saja main tuduh!” seru Myung Dae lalu keluar dari kamar Jun Su.
Jun Su merasa lucu dengan sikap Myung Dae. Ia tertawa kecil.
Myung Dae pulang ke rumahnya. Ia merasa sangat malu. Myung Dae sepertinya benar-benar suka dengan Jun Su.
Esok harinya, Myung Dae mendapat ‘panggilan tugas’ dari ajuhma nya seperti biasa. Ia tidak mampir ke kamar Jun Su yang besar kali ini.
“Nuna!” seru Jun Su pada Myung Dae yang baru masuk ke kamar. Myung Dae kaget karena di dalam ada Jun Su dari kamar sebelah. Ia sedang bermain gitar. Mereka berdua bertatapan. Myung Dae merasa malu. Ia mengalihkan pandangan.
“ini, untuk mu.” Myung Dae menyerahkan sebuah bungkusan berisi buah-buahan apel.
“asyik! Gomawoyo nuna!” seru Jun Su kecil riang.
Myung Dae berjalan kea rah sebuah meja yang ada di sebelah Jun Su yang besar yang sedang memetik gitar. Myung Dae merasa agak deg-degan. Ia meletakkan barang-barang lain pesanan ajuhma nya diatas meja tersebut.
“nuna, ini namjachingu nya nuna kan?” Tanya Jun Su senyum-senyum.
Myung Dae kaget. Ia merasa agak tersipu.
“dia monyet ku.” Ujar Jun Su besar tiba-tiba. Myung Dae kaget mendengar Jun Su berkata itu.
“hah? Monyet?” Jun Su kecil bingung.
“ne.” jawab Jun Su besar singkat.
Myung Dae merasa di permalukan. Ia seger keluar dari kamar.
“hyung, sepertinya nuna tidak suka di panggil monyet.”
“dia suka kok.”
Myung Dae lari kea rah pohon yang biasa mereka duduki. Ia duduk di bangku panjang itu. Ia merasa kesal dengan Jun Su.
“hhahh.. entahlah, sejak aku bertama monyet bodoh bernama Myung Dae ini, kurasa aku jatuh cinta pada nya..” ujar Jun Su tiba-tiba muncul dari belakang Myung Dae.
PESSH~ Myung Dae kaget sekaligus tersipu malu. Sepertinya Jun Su baru saja menembaknya.
“Haha~ kamu percaya?” Tanya Jun Su tiba-tiba sambil duduk di sebelahnya.
“mwo?” ekspresi Myung Dae langsung berubah. “kamu mempermainkan aku ya!?”
“haha~” Jun Su hanya tertawa.
“huh~ kamu sama saja seperti Jun Su sepupuku itu.” Ketus Myung Dae.
“aku tidak mempermainkan mu kok.” Ujar Jun Su lagi tiba-tiba.
“aku tidak percaya.”
“kamu tidak percaya padaku? Padahal aku malu sekali sudah mengatakan hal ini. apalagi pada monyet bodoh seperti mu!” seru Jun Su.
“ah! Aku bukan monyet bodoh!” Myung Dae memukul dada Jun Su.
“haha~ kamu monyetku!” Jun Su melingkarkan tangan nya di leher Myung Dae. “yang bodoh!”
“apa!!??”
Hari-hari berlalu dan rasa cinta diantara mereka berdua makin tumbuh. Tapi di balik itu Myung Dae masih menyimpan rasa ingin tahu yang besar.
Beberapa hari kemudian, Myung Dae datangke rumah sakit ke kamar Jun Su yang besar. Jun Su kecil sudah keluar dari rumah sakit. Myung Dae tidak menemukan Jun Su, ia mencari nya di tempat yang biasa mereka kunjungi tapi juga tidak ada. Myung Dae akhirnya menemukan Jun Su di depan sebuah ruangan yang sepi. Bersama seorang perawat. Mereka tampak serius berbicara.
Myung Dae meperhatikan mereka dari kejauhan. Ia bersembunyi di balik sebuah rak. Myung Dae yang penasaran memperhatikan mereka, menjadi kaget karena mereka berdua berciuman. Myung Dae tambah bingung, Jun Su bilang ia tidak tahu apa-apa. Apakah Jun Su sengaja membohongi dirinya?
Myung Dae berlari meninggalkan mereka berdua. Ia merasa kesal. Ia marah kepada Jun Su yang sudah membohongi dirinya. ia mengambil tas yang sebelumnya dititipkan di kamar Jun Su.
Ketika akan keluar dari kamar Jun Su, ia berpapasan di depan Jun Su didepan pintu.
“Myung Dae? Kamu datang?” Tanya Jun Su.
“huh!” Myung Dae berjalan menghindari Jun Su.
“Tunggu!” Jun Su menahan tangan Myung Dae.
“lepaskan!” seru Myung Dae.
“kamu kenapa?” Tanya Jun Su. Myung Dae yang kesal tidak menjawab apa-apa.
“katakana pada ku ada apa..” ujar Jun Su melingkarkan tangannya di leher Myung Dae.
Jun Su merasakan tetesan air di lengannya.
“Myung Dae? Kamu menangis?” Tanya Jun Su kaget.
“kenapa kamu membohongiku!?”
“maksudmu?”
“sebaiknya kita akhiri hubungan kita.” Ujar Myung Dae lalu pergi meninggalkan Jun Su yang hanya terdiam.
Beberapa hari Myung Dae tidak menemui Jun Su lagi. ia betul-betul masih marah dan kesal.
Hari ini Myung Dae baru pulang sekolah. Ia menyadari di depan gerbang sekolahnya ada Jun Su ia sedang memainkan gitar. Hal ini membuat Jun Su jadi bahan tontona anak-anak sekolah. Myung Dae kaget bukan main. Tapi, Myung Dae yang masih memendam marah, tidak memperdulikannya.
“Myung Dae!” Jun Su meraih tangan Myung Dae. Myung Dae terhenti.
“kenapa kamu tidak menemuiku lagi?” Tanya Jun Su. Myung Dae hanya diam.
“Kenapa kamu meminta mengakhiri hubungan kita?” Tanya Jun Su lagi.
“kenapa kamu berciuman dengan perawat itu?” Tanya Myung Dae kesal.
“chu~”
“Kamu salah paham.” Ujar Jun Su.
“maksudmu!?” Tanya Myung Dae.
“sini, ikut aku. Tidak enak mengobrol di keramaian seperti ini..” ujar Jun Su lalu menarik tangan Myung Dae.
Mereka pergi ke sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat tadi. Jun Su menceritakan tentang dirinya. dirinya yang sebenarnya hilang ingatan setelah kecelakaan karena tertabrak mobil karena menyelematkan perawat itu. Dan perawat itu jadi suka padanya, tapi Jun Su tidak menyukainya. Jadi sebagai permintaan terakhir, perawat itu memintanya menciumnya. Dan Jun Su mencumnya di pipi, bukan di bibir. Myung Dae salah lihat waktu itu. Ingatan Jun Su telah pulih kembali dan ia sudah menemukan keluarganya. Sebenarnya Jun Su sudah pulih ingatannya sejak lama, tapi karena bertemu dengan Myung Dae waktu itu, ia jadi ingin berlama-lama di rumah sakit. Untung saja biaya rumah sakitnya ditanggung pemerintah karena ia belum menemukan keluarganya waktu itu. Kini Jun Su sudah tidak lagi tinggal di rumah sakit.
Jun Su mulai memetik-metik gitar dan mulai menyanyi
“Geudae ol ddaegaji gidaril ge Cuz I can’t forget your love
Nunmuli heureul geot gata geudae saenggakman hamyeon
Galsurok gipeomanga I can’t stop thinkin’ about your love
Ijeul su eobseul geot gata heudae modeun-geol
Mideul su eobseul geot gata geudae dolaondamyeon
I can’t forget your love
Eonjeggajirado nan geudae ol ddaeggaji gidarilge
I can’t forget your love
Eonjeggajirado gidarilge
Cuz I can’t…. I can’t forget your love”
“akhrnya kamu memainkannya untukku.” Ujar Myung Dae.
“sebenarnya terpaksa.”
“uh?”
“haha~ aniyo…” ujar Jun Su sambil melingkarkan tangannya di leher Myung Dae.
:: THE END ::

[One Shoot] CUIMD

Posted: April 19, 2011 in Teenager
Tags: , ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : See You In My Dream
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
 Kim Si Young as You
 Lee Jun Ho 2PM as Jun Ho
 Hwang Chan Sung 2PM as Chan Sung
Note :
Dalam membaca FF ini di butuhkan imajinasi kalian dalam membayangkan penggambaran latar, waktu, ekspresi, kostum, dan suasana, agar cerita benar-benar bisa berjalan baik dan tidak terasa membosankan. Kamsahamnida. ^-^
***
“Aku masih di kantor ku.
Ini sudah malam, lebih baik kamu segera tidur.”

“ne, kamu juga lebih baik segera pulang.”

“aku tahu.
Pekerjaanku sebentar lagi selesai.”

“selamat malam .”

“selamat malam.
CUIMD.  ”

“CUIMD juga.  ”
***
“hari ini kami rapat.
Tapi untunglah sudah selesai.”

“oh ya? Kamu di mana sekarang?”

“aku sudah di rumah. Aku lelah sekali, ingin segera tidur.”

“kalau begitu segeralah tidur.
Aku juga akan segera tidur.”

“baiklah, selamat malam.
CUIMD.  ”

“selamat malam.
CUIMD juga.  “
***

“Chan Sung?” Si Young menyadari itu pacarnya.
“Hah? Si Young. Ini sudah malam. Kamu belum tidur?”
“siapa wanita itu? Kenapa kamu bersama nya? Katanya kamu sedang ada di kantor?” Tanya Si Young.
“ah, begini..”
“Sebentar, Chan Sung!” potong Si Young. “jangan bilang kalau kamu…”
“Sayang, ini siapa?” Tanya wanita yang bersama Chan Sung.
“Si Young, ikut aku.” Ujar Chan Sung menarik tangan Si Young. “Mi Hee, kamu tunggu sebentar ya.”
Chan Sung membawa Si Young keluar. Si Young yang kesal dan marah mencoba melepaskan diri.
“Chan Sung! Lepaskan aku!”
ChanSung melepaskan genggamannya. Mereka sudah berada agak jauh dari tempat tadi. Mereka terdiam.
“Chan Sung.. kamu tidak membohongi ku , kan?” Tanya Si Young sambil menatap Chan Sung dalam-dalam.
Chan Sung memejamkan matanya sebentar.
“Si Young, mianhae..”
“mianhae? Ada apa?”
“kurasa lebih baik kita putus.”
“pu.. putus….?”
“sekali lagi mianhae..” Chan Sung akan segera pergi tapi di tahan Si Young.
“Chan Sung!? Waeyo?” Tanya Si Young yang sudah menetes kan air mata. Chan Sung hanya diam memejamkan mata sambil menghela napas.
“waeyo? Kenapa secepat ini?” Tanya Si Young lagi. “Waeyo!”
Chan Sung melepaskan lengannya dan segera pergi tanpa menjawab.
Si Young hanya bisa menangis. ia tak menyangka hubungannya dengan Chan Sung akan berakhir dengan cara seperti ini. cara yang menyakitkan. Padahal, yang ia tahu sebelum hal itu terjadi, mereka masih baik-baik saja. Tadi siang, mereka masih berkomunikasi lewat hape dengan baik. Meski mereka jarang bertemu, tapi mereka masih baik-baik saja. Si Young tak menyangka, pacarnya tega membohonginya.
Si Young yang menjadi lemas karena shock, tak mampu lagi melanjutkan perjalanan. Ia jatuh pingsan.
“Waaaa!”
Ia Jatuh menimpa seseorang yang sedang mengendarai sepeda. Mereka berdua terjatuh bersama. Orang itu kalang kabut sendiri karena bingung. Jalanan sudah agak sepi karena ini sudah hampir tengah malam.
***
“na..”
“nona..”
“hmm…” Si Young mulai tersadar dari pingsan.
“nona!”
Si Young yang baru tersadar kaget. Ia menyadari ia sedang berada di pangkuan seorang namja yang tak dikenal. Si Young segera berundur tanpa bicara apa-apa. Ia menyadari ia masih berada di jalanan. Ia ingat akan kejadian yang baru di alami nya tadi, mengenai Chan Sung. Ia mencoba bangkit berdiri tapi ia merasa kaki kanannya sakit sekali hingga ia susah berdiri.
“nona.. kamu tidak apa-apa?” Tanya namja itu.
“kenapa aku masih di sini? Kenapa aku bersama kamu? Kenapa kaki ku sakit sekali??” Si Young tampak bingung.
“tenang nona. Kakimu kan sakit, duduklah dulu, biar saya jelaskan.” Ujar namja itu.
Si Young duduk kembali. Didepan namja yang tak dikenalnya itu. Mereka duduk di pinggiran jalan. Didekat mereka terparkir sepeda namja itu.
“apa yang terjadi?”
“entahlah nona, tapi tadi kamu tiba-tiba pingsan.” Ujar namja itu.
“pingsan?”
“ne, dan tepat mengenaiku yang sedang mengendarai sepeda.” Tambah nya. “itulah sebabnya mengapa kakimu sakit.”
“karena sepeda itu?” Tanya Si Young.
“hmm..” namja itu mengangguk. “kaki ku juga sakit karena itu.”
“ah, mianhae. Maafkan aku..”
“hmm, gwaenchana..” namja itu tersenyum kepada Si Young. “ini pakai minyak ini.” namja itu menyerahkan sebotol kecil minyak urut.
“untuk..?”
“kakimu.” Tambahnya. Si Young memakaikan minyak itu di kakinya yang terasa sakit.
“nona, biarkan saya mengantarmu pulang.”
“ah..?”
“kamu pasti akan kesulitan kalau sendirian.”
Si Young menerima tawaran dari namja tak dikenal itu dengan terpaksa karena kakinya sakit. Namja itu mengantarnya dengan sepeda, sesuai arahan Si Young. Mereka sampai dirumah Si Young.
“kamsahamnida..” ujar Si Young membungkuk.
“ne, gwaencahana.”
“baiklah, sampai jumpa.”
“nona, ini rumahmu sendiri?” Tanya namja itu tiba-tiba sambil menatap rumah Si Young yang berlantai dua dan lumayan besar itu.
“ne. ini rumahku. Waeyo?”
“ah, gwaencahana.. sampai jumpa.” Ujar namja itu tersenyum. Ia segera pergi dengan sepedanya. Si Young segera masuk kedalam.
Ia masuk kedalam kamar dan segera berbaring di kasurnya. Ia tak dapat menahan air matanya lagi. ia menangis mengingat apa yang dialaminya tadi.
Tadi, Ia baru pulang dari ruko milik temannya yang baru dibuka yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Tapi, di perjalanan ia melihat Chan Sung sedang berada di sebuah restoran. Si Young masuk kedalam restoran untuk memastikan apakah itu Chan Sung atau bukan. Tapi, sesuai dugaannya itu memang Chan Sung, dan ia sedang bersama wanita lain. Dan di saat itulah, Chan Sung membawanya keluar dan segera memutuskannya. Mengakhiri hubungan.
Si Young bingung sekaligus kesal. Chan Sung yang ia kenal, tidak seperti itu. Ia tidak menyangka Chan Sung yang biasanya romantis dan baik hati, memiliki wanita selain dia. Chan Sung yang selalu meng-smsi nya tiap malam, ternyata asyik membohonginya.
Si Young memukul-mukul bantal. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ini semua telah terjadi.
:: FLASHBACK ::
“haha..” Si Young memukulkan bantal ke kepala Chan Sung.
“kamu!” seru Chan Sung. “sini kamu!”
“haha..” Si Young berlari disekeliling kamar.
Chan Sung berhasil menyergap Si Young dengan kedua tangannya dan menjatuhkannya ke kasur.
“kya!”
“kamu yang memukul kepala ku, kan!?” seru Chan Sung sambil menggelitik Si Young.
“hahahaha.. Kya! Ha~ ampun..” Si Young melepaskan kedua tangan Chan Sung.
Chan Sung ikut berbaring di samping Si Young. Mereka berdua bertatapan, saling tersenyum.
“Si Young-ah, neomu nado saranghae..”
“ah? Buktikan!”
“kamu mau bukti?!?” seru Chan Sung mulai menggelitik lagi.
“haha~ ampun!”
“ini buktinya!”
Chan Sung mendaratkan bibirnya ke bibir Si Young. Si Young kaget, tapi ia sudah terbawa dengan ciuman Chan Sung yang begitu lembut.
“Si Young-ah, kamu akan selalu di sini..” ujar Chan Sung. Ia meletakkan tangan Si Young di dadanya.
Si Young tersenyum.
“di hatiku…”
:: END OF FLASHBACK ::
Si Young tambah kesal. Mencintaiku? akan selalu di hatinya? Pikir Si Young. Ia lalu menjatuhkan sebuah bingkai foto di meja di samping tempat tidur. Di bingkai itu ada foto nya bersama Chan Sung. Foto saat mereka berdua jalan-jalan ke Busan saat musim panas. Dalam foto itu, Chan Sung memakai t-shirt ungu, dan Si Young memakai t-shirt yang warna nya sama dengan Chan Sung. Chan Sung melingkarkan tangannya di leher Si Young dan Si Young memegang tangannya itu.
Ia melihat SMS hapenya. SMS nya yang kebanyakan antara ia dan Chan Sung. SMS yang hanya tiap malam datang. SMS yang di terakhirnya selalu ada kata CUIMD. See You in my dream. Sms yang sebenarnya hanya tipu belaka dari Chan Sung, itulah yang di pikirkan sekarang oleh Si Young. Tapi, Si Young tak tega menghapus SMS itu. Karena, dalam hatinya, ia amat-sangat mencintai Chan Sung, dan belum berakhir hingga sekarang. Ia tidak bisa benar-benar membenci Chan Sung dan melupakannya begitu saja. Ia tidak ingin hubungan mereka yang sudah 5 tahun berjalan itu, berhenti dalam semalam. Si Young berharap Chan Sung akan datang kembali padanya untuk meminta maaf.
Si Young terlelap. Tangisannya itu membuat ia mengantuk. Masih dengan pakaian jalan yang ia kenakan dari tadi, ia terlelap malam itu.
***
“Nona?” seseorang menyapa Si Young di sebuah rumah makan, saat jam makan siang. Si Young mengenal orang itu, namja tadi malam yang mengantarnya pulang.
“ah, kamu kan..”
“ne, yang kemarin.” Ujar namja itu.
Mereka berdua makan di restoran itu bersama.
“nona..”
“jangan panggil aku nona, itu bukan namaku.” Ujar Si Young.
“ah, ne. Kita belum berkenalan.” Ujar namja itu. “aku Lee Jun Ho. Panggil saja aku Jun Ho.” Ujarnya lagi lalu tersenyum.
“hmm, aku Kim Si Young. Panggil aja Si Young. Tanpa ‘nona’.”
“haha~ ne..” Jun Ho tertawa kecil
“jadi, Jun Ho-sshi, kamu kerja apa?” Tanya Si Young
“aku seorang fotografer.”
“fotografer? Menarik.” Ujar Si Young.
“tapi, itu Cuma pekerjaan karena hobi.” Ujar Jun Ho.
“maksudnya?”
“untuk menghidupi diriku, aku juga bekerja di supermarket.”
“oh ya?”
“hmm, jadi SPG.” Tambah nya sambil tersenyum. “kalau kamu?”
“ah aku, jurnalis.”
“jurnalis?” Tanya Jun Ho dengan nada tercengang. “keren.”
“keren?” Si Young setengah tertawa.
Pembicaraan mereka selesai setelah selesai makan, ketika Si Young harus kembali ke tempat kerjanya. Si Young mendapatkan nomor hape Jun Ho. Tapi, ia tidak tahu harus berbuat apa dengan nomor itu.
Di perjalanan kembali menuju kantor, ia melihat dengan Chan Sung. Chan Sung menyetir mobil, di sampingnya ada yeoja berambut pendek, yeoja yang waktu itu di restoran. Yeoja itu tampak lebih tua. Apakah Chan Sung selingkuh dengan tante-tante? Pikir Si Young. Ia kesal sekali, Chan Sung memutuskan dia demi seorang ajuhma keriput seperti itu.
“Bruuk!”
tiba-tiba Si Young terjatuh. Ia melihat hak sepatunya patah. ia jadi tambah kesal.

“Si Young-sshi?” seseorang memanggilnya dari belakang. Si Young menoleh dan mendapati itu adalah Jun Ho. “kamu belum pergi kerja?” Tanya Jun Ho .
“sepatuku patah.” ujar Si Young agak kesal.
“mau kubantu?” Jun Ho menawarkan tangannya. Si Young memegang tangan Jun Ho dan dan mencoba berdiri. tapi kakinya sakit sekali karena keseleo.
“kenapa?” Tanya Jun Ho.
“kaki ku…” ujar Si Young merintih memegang mata kakinya yang sakit.
“hmmpph!” Jun Ho segera membopoh badan Si Young.
“ah!?” Si Young tampak kaget.
“biar ku bantu. Kita cari tempat duduk.”
“kamu tidak terlambat kerja??” Tanya Si Young.
“Gwaencahana, itu gampang.”
Jun Ho membopong Si Young ke pinggiran sebuah toko dan mendudukinya ke sebuah bangku.
“Kamu mau pakai sepatu ku? Yah, untuk sementara sampai kamu medapatkan sepatu lain.” tawar Jun Ho.
“Nanti kamu pakai apa??”
“oh, tenang, aku tidak butuh. Aku kan naik sepeda.”
“tapi kan…”
“gwaenchana, kasihan kamu.” Ujar Jun Ho. Ia melepas sepatu sportnya dan memberikannya kepada Si Young.
Si Young mencoba memakainya tapi kaki nya masih terasa sakit.
“kakimu masih terasa sakit?” Tanya Jun Ho.
Si Young mengangguk.
“kalau begitu, kamu tidak bisa bekerja.”
“aku tahu..”
“ya sudah, aku akan mengantarmu ke rumahmu.” Tawar Jun Ho.
“tapi kan kamu..”
“sudah.” Potong Jun Ho. “sekarang kakimu yang lebih penting.”
Jun Ho mengantar nya kerumah Si Young.

Jun Ho juga harus membantunya masuk kedalam rumah karena kaki Si Young masih terasa sakit.
“disitu saja.” Si Young menunjuk ke sofa.
Jun Ho membantunya duduk ke sofa.
“duduklah dulu, kamu pasti capek.” Ujar Si Young.
Jun Ho duduk. Matanya menatap kesegala arah mengamati rumah Si Young.
“kamu kenapa?” Tanya Si Young.
“ah, aniyo. Rumahmu bagus sekali.”
“sebenarnya ini rumah orang tua ku.”
“lalu, di mana mereka?”
“mereka sudah meninggal.”
“ah, mianhae…”
“gwaenchana, itu sudah lama sekali kok.” Potong Si Young
“mian, aku tidak bisa menyajikan minuman untuk mu.” Ujar Si Young.
“ne, aku mengerti. Kaki mu kan sakit.”
“my baby boo… my love is tr…”
“Yoboseyo?” Si Young mengangkat hapenya yang berbunyi.
“di mana toiletnya?” tanya Jun Ho dengan suara pelan.
Si Young menunjuk ke belakangnya. Jun Ho pergi ke arah yang di tunjuk Si Young. Ia masuk kedalam toilet.
Jun Ho keluar dari toilet. Ia melihat beberapa pecahan kaca di depan pintu sebuah kamar. Pecahan tersebar di dalam ruangan. Jun Ho masuk untuk mengamati. Ia curiga kalau ada pencuri. Ia menemukan sebuah bingkai berukuran sedang jatuh di lantai. Ia membalikkan bingkai itu. Ia melihat sebuah foto. Didalamnya ada Si Young bersama namja yang tak di kenalnya.
“Jun Ho-sshi?” tiba-tiba Si Young muncul di depan pintu.
“ah, Si Young-sshi, kamu sudah bisa berdiri?” jun Ho bangkit.
“sedang apa kamu di kamarku?”
“ah, ini kamarmu ya?” Tanya Jun Ho. “tadi aku melihat pecahan-pecahan kaca ini. ku kira ada pencuri masuk.”
“lalu, kenapa kamu memegang bingkai itu?”
“ah, mianhae, aku hanya..” tiba-tiba Si Young merebut bingkai itu dengan kasar membuat Jun Ho kaget.
“pulang lah..”
“hah?”
“aku minta kamu pulang.” Ujar Si Young sinis.
“ah, baiklah. Maafkan aku.” Ujar Jun Ho lalu keluar dari kamar.
Dengan agak susah Si Young berjalan ke arah lemari. Ia meletakkan bingkai itu di atas lemari. Ia lalu berbaring di kasur.
ia merasa kesal telah mengundang Jun Ho ke rumahnya. Ia tidak ingin rahasia nya di ketahui siapa pun.
Berhari-hari berlalu. Si Young menghindari agar ia tidak bertemu Jun Ho. Ia merasa tak ingin mengenal Jun Ho lagi karena takut Jun Ho akan tahu semua rahasia nya.
Suatu hari saat Si Young sedang berbelanja di sebuah supermarket ia melihat Chan Sung bersama dengan pacarnya sedang berbelanja juga. Si Young merasa sedih dan marah. Ia mendatangi mereka berdua. Dia mendorong pacar Chan Sung itu hingga jatuh.
“Si Young! Apa yang kamu lakukan!” seru Chan Sung. Suasana berubah ‘mencekam’ bagi Si Young karena kemarahan Chan Sung. Ternyata Chan Sung lebih memilih untuk melindungi yeoja itu dari pada dirinya.
“katamu aku akan selalu di hatimu! Mana buktinya!?” seru Si Young.
“pergi dari sini!” seru Chan Sung.
“tidak mau! Katamu kamu mencintai ku!!??”
“diam!” ujar Chan Sung hendak menampar Si Young. Tapi tiba-tiba Chan Sung berhenti.
“wae? Ayo tampar aku! Aku baru tahu ternyata kamu adalah serigala berbulu domba.” Ujar Si Young.
Chan Sung hendak melanjutkan tapi tiba-tiba seseorang menahan tangannya. Ternyata itu Jun Ho.
“tolong jangan berkelahi di supermarket kami.” Ujar Jun Ho. Chan Sung segera berbalik pergi membawa pacar nya.
Jun Ho membawa Si Young menangis pergi ke ruang karyawan.
Mereka terdiam disitu. Tapi Jun Ho langsung angkat bicara.
“kamu tidak apa-apa?”
Si Young hanya mengangguk bisu.
“aku tahu namja itu.” Ujar Jun Ho lagi. Si Young menatap Jun Ho.
“yang di foto..” sambung Jun Ho. Tiba-tiba tangis Si Young menjadi lagi.
Jun Ho memegang bahu Si Young.
“Jun..”
“jangan menangis lagi.” ujar Jun Ho.
“aku tahu kamu tersiksa karena dia. lupakan dia.” ujar Jun Ho lagi.
Dalam hati Si Young berkata, tidak mungkin melupakan dia, tidak mudah menghilangkan Chan Sung dari pikiran ku, aku masih mencintainya. Aku akan sangat senang kalau aku bisa menemukan cara untuk melupakan dia. tapi, aku masih belum menemukan cara itu.
Setelah agak tenang Si Young pergi dari supermarket tempat Jun Ho bekerja. Dia kembali ke rumah. Dia masuk ke kamar. Duduk di pinggir kasur dan menangis. tiba-tiba ia langsung memporak-poranda isi kamar. Kasur, meja, lemari, bingkai-bingkai foto dan lukisan, semua menjadi berantakan. Emosi nya sungguh tak tertahan kan. Ia kesal sekali. Sungguh Shock. Ia merasa ini semua terlalu cepat untuk di alami.
Esok harinya, pagi-pagi sekali, saat jam dinding Si Young menunjukkan pukul 6 pagi, sebuah panggilan masuk di hape Si Young. Si Young kalang kabut karena suasana kamar yang berantakan telah menyembunyikan hapenya. Si Young menemukan hapenya ada di kolong kasur. Ia segera mengambil hapenya.
“uhuk.. uhuk..” Si Young terbatuk-batuk. Di bawah kasur sangat berdebu.
Ia melihat panggilan hapenya. Itu panggilan dari Jun Ho. Ia kaget Karena ini pertama kalinya Jun Ho menelponnya.
“Yoboseyo?
“Si Young-sshi?” Tanya Jun Ho.
“ne, ini aku.” Jawab Si Young agak lesu. “wae?”
“lihat lah ke luar jendela.” Ujar Jun Ho.
Dengan lesu, Si Young berjalan menuju ke jendela yang menghadap ke depan.
“Jun Ho?” Si Young kaget karena di depan rumah ada Jun Ho. Memakai jaket hijau. Ia tampak bersih dan rapi.
“ada apa?” Tanya Si Young di telepon.
“ayo kita jogging. Lekas lah bersiap-siap!” seru Jun Ho bersemangat.
“aniyo. Aku capek.”
“ayolah, aku sudah datang jauh-jauh ke rumah mu dan kamu mau mengecewakan aku??” ujar Jun Ho.
“ya sudah, tunggu aku..”
Si Young meletakkan hapenya di meja. Ia langsung menuju toilet. Mencuci muka dan menyikat gigi. Ia kembali ke kamar. Mengganti baju nya dengan t-shirt, celana training, dan jaket.
Ketika keluar Jun Ho sedang lompat-lompat. Ia tampak berkeringat.
“ah, selamat pagi, Si Young-sshi!” seru Jun Ho dengan napas terengah-engah.
“ayo pergi.”
Si Young segera pergi bersama Jun Ho. Mereka berkeliling di sekitar perumahan Si Young. Di perjalanan mereka juga asyik ngobrol.
“ah, aku capek berlari dari tadi.” Ujar Si Young lalu berhenti. Napasnya terengah-engah.
“Kamu haus?” Tanya Jun Ho yang ikut berhenti.
Si Young mengangguk.
“ini, aku bawa air kok.” Jun Ho menyerahkan sebuah botol berisi air mineral. Si Young meraih minuman itu lalu meminumnya tanpa menyentuh bibir botol.
“kita jalan kaki saja.” Ujar Jun Ho. “kita sudah berlari selama 30 menit.”
“ini, gomawo.” Ujar Si Young mengembalikan minuman Jun Ho.
Mereka meneruskan jogging dengan jalan kaki. Mereka tiba di sebuah taman dan duduk di sebuah kursi panjang. Di taman ada beberapa anak-anak dan orang dewasa yang juga sedang jogging.
“Si Young-sshi, kamu sudah tidak apa-apa kan?” Tanya Jun Ho.
“hmm? Waeyo?” Si Young menatap Jun Ho.
“yang kemarin.. ah mianhae, aku membicarakan hal itu.”
“Jun Ho, gomawoyo.” Ujar Si Young. Ia tersenyum.
“wae?”
“pagi tadi kepala ku terasa berat karena semalaman menangis. tapi, setelah kamu mengajak ku jogging, aku merasa segar.” Ungkap Si Young.
“ah, gwaenchana. Aku hanya merasa aku..” Jun Ho berhenti.
“merasa apa?”
“aehh… aniyo. Hehe.. ku harap kamu tidak memecahkan bingkai lagi.” ujar Jun Ho mengubah pembicaraan.
“haha..” Si Young tertawa.
“yah, sebenarnya aku telah memporak porandakan kamarku.” Ujar Si Young.
“astaga!?”
“aku akan merapikan nya kok.” Ujar Si Young.
“Si Young-sshi.” Ujar Jun Ho. Ia mendekat ke Si Young.
“mwo?”
“kamu tak usah bersedih lagi. aku akan menjadi teman mu. Kamu bisa menceritakan segalanya padaku. Aku akan jadi teman yang baik untuk mu.” Ujar Jun Ho.
Si Young menatap Jun Ho yang penuh PD. Si Young hanya tertawa menanggapi apa yang di katakan Jun Ho.
“waeyo?”
“baiklah, aku juga mau menjadi teman mu.” Ujar Si Young tersenyum.
“oke! Chingu, aku akan selalu ada untuk mu!” ujar Jun Ho.
“hmm!”
Akhirnya , Si Young dan Jun Ho menjalin hubungan pertemanan. Dengan hubungan ini, Si Young makin lama makin bisa melupakan Chan Sung. Si Young mulai tak cemburu lagi bila melihat Chan Sung bersama pacarnya. Si Young akhirnya menemukan ‘obat’ yang selama ini ia cari. Yaitu Jun Ho.
Si Young dan Jun Ho tampak begitu akrab. Si Young sering menemui Jun Ho, begitu juga dengan Jun Ho. Mereka sering mengunjungi beberapa tempat bersama. Meluangkan waktu bersama, layak nya teman SMA. Berfoto bersama, makan bersama, mereka berdua benar-benar bahagia.
suatu Pagi di hari minggu, Jun Ho berkunjung ke rumah Si Young. Meskipun sudah akrab menjadi teman yang saling menghibur satu sama lain, tapi masih ada rasa malu saat itu. Ini pertama kali nya Jun Ho berkunjung ke rumah Si Young. Tapi, mereka berdua tampak berusah mengubah atmosfer menjadi lebih ceria, tapi bagaimana pun, rasa canggung masih ada.
Si Young sedang membuat makanan untuk mereka berdua. Ia hendak membuat kan omelette sebagai sarapan. Si Young asyik memotong sayur-sayur yang akan di campur dalam menu sarapan mereka, omelette.
“Si Young, biarkan aku membantu mu.” Ujar Jun Ho yang tiba-tiba datang ke dapur tempat Si Young berada. Sebelumnya ia sedang menonton tv di ruang keluarga.
“ah, gwaenchanayo , ini sudah mau selesai kok.”
“kamu masak apa?” Tanya Jun Ho.
“omelet.” Jawab Si Young.
“biar aku yang meletakkan telur nya di pinggan.”
“aniyo, kamu tunggu saja kalau sudah selesai.”
“ah, aku ingin membantu…” Jun Ho merengek. Ia memonyongkan bibirnya.
“baiklah, kamu boleh membantu ku.”
“yes! Yes!” Jun Ho kegirangan.
“Adauwww~” tiba-tiba Si Young meringis. Jarinya berdarah. Terkena pisau.
“wah!? Jari mu terkena pisau!?” Tanya Jun Ho kaget.
“aku akan mencucinya.” Ujar Si Young. Ia mencuci jari nya dengan air dari keran di wastafel.
“aku punya plester.” Ujar Jun Ho. “ada di tas ku.”
“tolong ambilkan. Aku minta satu.” Ujar Si Young yang sedang menutup luka.
Jun Ho pergi dan kembali dengan membawa selembar plester luka. Ia membalutkan nya di jari telunjuk Si Young yang terluka.
“haha.. plester nya kok imut sekali..” ujar Si Young.
“cocok untuk mu, bukan?” ujar Jun Ho seraya tersenyum.
“ne, gomawoyo..” Si Young balas tersenyum.
Akhirnya makanan buatan Si Young dan Jun Ho jadi. Mereka berdua menikmati omelette buatan mereka pagi itu. Si Young juga membuatkan dua gelas kopi untuk mereka berdua.
“aku tidak biasa minum kopi pagi hari..” ujar Jun Ho.
“tapi, kopi nya habis juga.”
“aku suka…”
“ah? Kopinya? Gomawoyo.” Ujar Si Young tersenyum.
“aniyo..”
“hah?” Si Young bingung.
“maksud ku bukan kopinya.” Ujar Jun Ho.
“lalu…?” tanya Si Young.
“aduh.. kamu telmi ya.” Ujar Jun Ho.
“hah!? Maksud mu apa sih!??” Si Young agak kesal.
“maksudku, aku menyukai mu!” seru Jun Ho.
Si Young terdiam karena Jun Ho tiba-tiba berkata seperti itu. Ia kaget. Tapi ia merasa agak senang, entah kenapa.
“kamu mau menerima aku?” Tanya Jun Ho.
“Jun.. Ho…”
“sudah lama aku merasa kan debaran ini dan aku tahu ini karena mu.” Ungkap Jun Ho. “aku mencoba menyembunyikan, tapi tidak bisa.”
“Jun Ho.” Panggil Si Young. Ia tersenyum.
Jun Ho bangkit menuju ke tempat Si Young yang berada di depannya.
Jun Ho mencium Si Young. Ciuman yang lembut. Ciuman yang lebih lembut dari Chan Sung. Ciuman yang tulus dari hati. Ciuman lembut berasa kopi. Si Young menetes kan air mata. Ia juga menyukai Jun Ho.
***
“Si Young.” Seseorang memanggil nya dari belakang. Si Young sedang berada di depan rumahnya. Ia baru pulang dari tempat kerja malam ini.
“Chan Sung?” Si Young menyadari itu adalah Chan Sung. Ia tampak babak belur. Mata sebelah nya biru, jas dan seragamnya robek-robek, rambut nya acak-acakan. “kamu kenapa!??”
“tolong aku.”
“BRUUK~” tiba-tiba Chan Sung jatuh pingsan.
Si Young yang khawatir segera membawa masuk Chan Sung ke dalam rumahnya.
Ia membaringkannya di sofa ruang tamu. Ia segera mengkompres mata Chan Sung. Mengelap badannya yang kotor. Si Young bingung ada apa yang terjadi dengan Chan Sung.
Ia membiarkan Chan Sung tidur di sofa untuk malam itu, sementara ia tidur di kamarnya.
Paginya, Si Young segera memasakkan makanan untuk Chan Sung. Chan Sung sudah ganti baju dengan baju milik ayah Si Young. Ia memasakkan Chan Sung nasi goreng. Ia sengaja melebihkan porsi Chan Sung karena ia tahu Chan Sung pasti kelaparan.
Mereka makan dengan membisu hingga selesai.
“Si Young.” Ujar Chan Sung setelah meneguk segelas air. Si Young menengadah.
“gomawo.”
“cheonmanae..” jawab Si Young singkat.
“Si Young, mianhaeyo..” ujar Chan Sung lagi. “aku bodoh sekali. Aku melepas mu demi yeoja pencuri itu.”
“pencuri..?”
“ne, ia merampas semua milikku.” Ujar Chan Sung. “mobilku juga.”
Si Young kaget.
“Si Young, mianhaeyo. Tapi kamu mau menerima ku kembali..?” Tanya Chan Sung.
Si Young kaget. Ia merasa kesal. Kenapa setelah terjadi hal seperti ini baru dia akan kembali. Si Young merasa dia hanya akan di manfaatkan. Tapi, Si Young masih menyimpan rasa suka meskipun kecil terhadap Chan Sung. Ia pernah berharap Chan Sung akan memintanya kembali, dan hal itu terjadi. Tapi di saat ia telah menemukan Jun Ho. Si Young merasa bingung. Tap, satu hal yang ia yakin, ia tidak akan tertipu dua kali lagi oleh serigala berbulu domba ini.
“miahae Chan Sung.” Ujar Si Young sambil menunduk. Ia tak mampu menatap Chan Sung. Ia takut ia akan terbawa oleh wajah Chan Sung yang meminta di kasihani itu.
“Si Young?” Tanya Chan Sung kaget.
“aku minta kamu pulang ke rumah mu.” Ujar Si Young.
“pulang kemana? Rumahku juga telah di ambil nya.” Ujar Chan Sung.
Si Young merasa begitu kasihan terhadap Chan Sung. Ia ingin sekali menangis. ia ingin sekali memeluk Chan Sung yag begitu memprihatinkan. Ia bahagia masih melihat Chan Sung masih hidup. Ia bersyukur hanya harta yang diambil, bukan nyawa. Tapi, Si Young takut saat Chan Sung kembali sukses, ia akan meninggalkannya untuk yang ke dua kali. Lagipula, ia telah bersama Jun Ho, dan Si Young tak ingin mengecewakan Jun Ho yang sudah begitu tulus mencintainya.
“pergi! Keluar dari rumahku!” bentak Si Young.
“Si…” Chan Sung yang sudah menjadi lemah, tak dapat melawan lagi. ia bangkit, keluar dari rumah Si Young. Si Young memandangnya pergi dari jendela. Ia menangis. sebenarnya, ia tak ingin berbuat seperti ini pada Chan Sung. Si Young duduk di lantai di bawah jendela. Ia menangis tersedu-sedu.
“mianhae Chan Sung..” itulah kata yang terus terucap di hati Si Young.
Jun Ho yang baru sampai di rumah Si Young kaget melihat Chan Sung yang baru keluar dari rumah Si Young. Ia melihat Chan Sung yang tampak begitu sedih rasanya ingin menangis. Jun Ho tak jadi menegurnya. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah Si Young. Ia mendapati Si Young yang sedang menangis tersedu.
Jun Ho segera memeluk Si Young. Mengusap-usap belakangnya, mencoba menenangkannya. Jun Ho mengerti apa yang di alami Si Young.
“Si Young..” ujar Jun Ho.
“mianhae Chan Sung..” isak Si Young.
“Si Young sudah lah.” Ujar Jun Ho. Ia mengelap air mata Si Young dengan tangannya. “kamu telah melakukan hal yang benar.”
“tapi aku telah begitu jahat padanya!” ujar Si Young masih terisak.
“tapi, ia telah lebih jahat kepadamu sebelumnya. Maka dari itu, kamu telah melakukan hal yang benar.” Jelas Jun Ho.
“Jun Ho…” ujar Si Young sambil menatap Jun Ho. “gomawoyo..”
Jun Ho memeluk Si Young. “sekarang hanya ada aku. Lupakan dia.”
Jun Ho berhasil menenangkan Si Young. Tapi Si Young pingsan tiba-tiba. Jun Ho membaringkannya di kasur di kamar Si Young. Jun Ho terus berada di samping Si Young sampai ia bangun.
“Jun Ho..?” tiba-tiba Si Young terbangun. “kamu masih disini?”
“ne, aku akan selalu ada di samping mu.” Ujar Jun Ho. Ia menaruh tangannya di pipi Si Young.
“Jun Ho..” Si Young memegang tangan Jun Ho yang terasa hangat itu.
***
Si Young kembali bersemangat setelah nya. Karena ia telah bahagia bersama Jun Ho. Mereka melewatkan waktu bersama dengan baik. Si Young sudah 100 persen melupakan Chan Sung. Ia sudah menyerap kata-kata Jun Ho waktu itu dengan sangat baik. Si Young tidak tahu dimana Chan Sung berada dan ia sudah tidak perduli lagi. ia mau menjadi pengemis, dia menjadi kaya lagi, atau dia bunuh diri, Si Young benar-benar tak memikirkannya lagi. di hatinya hanya ada Jun Ho. Jun Ho yang serius mencintai nya.
Sore hari Bulan agustus hari ke empat belas. Jun Ho dan Si Young sedang jalan-jalan bersama di sebuah taman. Mereka memakai hoodie hijau yang model nya sama.
“Si Young-ah..” panggil Jun Ho.
“hhm? Waeyo?” Tanya Si Young.
Jun Ho memainkan trik sulap. Ia seolah sedang mengambil sesuatu dari telinga Si Young dan memberinya kepada Si Young. Sebuah cincin emas putih dengan buah berlian kecil di tengahnya.
“waah?? Apa ini?” Tanya Si Young kaget.
“ini? ini cincin.” Ujar Jun Ho.
“aku tahu. Tapi untuk apa??”
“begini Si Young…”
“hmm?”
“aduh, aku jadi malu..”
“kenapa? Hari ini bukan hari ulang tahun ku.” Ujar Si Young.
“aku tahu kok.”
“lalu..?”
“kamu mau em.. me.. eh..”
“emmeeh?” Si Young bingung.
“aniyo! Bukan itu maksud ku!” seru Jun Ho.
“lalu..?”
“ehemm! Baiklah aku akan mengatakannya dengan serius.” Ujar Jun Ho.
Si Young yag tak tahu apa-apa hanya diam.
“Kim Si Young. Mau kah kamu menikah denganku?” Tanya Jun Ho sambil memakaikan cincin berlian itu.
Si Young kaget bukan main. Perasaannya senang sekali. Jun Ho melamarnya.
“Bagaimana Kim Si Young, apa kamu bersedia menerima Lee Jun Ho menjadi suamimu?” Tanya Jun Ho.
“hmm! Aku bersedia.” Jawab Si Young.
Jun Ho yang kegirangan segera memeluk Si Young sambil berputar-putar. Mereka berdua senang bukan main. Terutama Si Young, akhirnya ia bisa menemukan pengganti yang lebih baik dari Chan Sung.
***
Contact name : Chan Sung ❤
Are you sure want to delete this contact number?
YES
Number Deleted
***
:: THE END ::