Posts Tagged ‘Kyu Hyun’

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Tak Akan Pernah Menghilang
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Lee Ki Yeon as You
Cho Kyu Hyun Super Junior as Kyu Hyun
Other Cast
*************************************************************************************
“Cho Kyu Hyun?” Tanya ibu Park wali kelas kami. Ia sedang mengabsen murid pagi ini.
“Tidak masuk.” Ujar seorang murid.
“hmmm.. “
Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini. setiap bulan ia selalu tidak masuk minimal satu minggu per bulan. Guru-guru tidak memberitahu ada apa yang terjadi dengan dia. Kyu Hyun juga tidak memberitahu apa yang ia lakukan ketika tidak masuk sekolah. Setiap ia masuk, ia selalu kelihatan pendiam. Kelihatan lesu, tak bersemangat. Banyak anak murid yang mengatakan ia itu preman. Ada juga yang mengatakan ia tidak niat sekolah. Tapi, aku tahu ia orang yang baik. Ia sering tersenyum padaku. Entahlah, mungkin karena aku tak pernah menghinanya. Matanya tampak begitu sendu. Aku kadang merasa kasihan dengannya. Ia begitu misterius. Aku ingin sekali mengamati apa yang ia lakukan.
Jam istirahat aku kumpul bersama 2 orang teman sekelas ku di kantin. Menikmati bekal kami.
“Kyu Hyun itu kenapa ya?” tanyaku.
“entahlah…” ujar temanku.
“kurasa ia sakit.” Ujar temanku yang satunya.
“hah?” aku kaget.
“kamu lihat, badannya lemah dan kurus.”
“hmm..” aku hanya mengangguk.
Pulang sekolah aku sedang melihat-lihat majalah di sebuah kedai majalah. Melihat-lihat wajah-wajah artis yang begitu ganteng dan cantik. Aku menyadari, seorang anak laki-laki disampingku mirip dengan Kyu Hyun. Memakai kaos putih dengan celana panjang putih. Ia sedang melihat-lihat majalah juga. Aku merasa ingin menyapanya. Tapi aku takut salah orang.
“BRUUK!” tiba-tiba ia rebah disampingku. Aku kaget dan segara menahannya. Orang-orang disekelilingku tampak kaget juga. Beberapa ikut mengerumuni. Aku sadar, ini memang Kyu Hyun teman sekelasku. Aku bingung ia tiba-tiba pingsan begini.
“seseorang tolong panggilkan taksi! Temanku pingsan!” seruku.
Beberapa orang memanggil taksi. Beberapa membantuku membawakannya ketaksi. Di perjalanan aku meraba keningnya. Badannya dingin sekali dan ia tampak pucat. Sepertinya ia memang sakit. Aku , membawa kyu Hyun ke rumahku. Ibuku kaget. Tapi, setelah kujelaskan semuanya ia langsung mengerti. Aku segera membaringkannya dikasur dikamarku. aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin saja ia terkena demam. Aku segera menutup badannya dengan selimut tebalku.
Tiba-tiba Kyu Hyun membuka matanya. Ia tampak kaget. Ia menatapku.
“Kyu Hyun-ssi? Kamu sudah bangun.” Ujar ku.
“dimana aku? Siapa kamu?” tanyanya.
“Lho? Ini aku, Lee Ki Yeon teman sekelasmu. Kamu tadi pingsan jadi ku bawa kerumahku.” Jelasku.
“teman sekelasku?” Tanya Kyu Hyun lagi.
“Ye.” Aku mengangguk.
“hah!?” ia bangkit.
“jangan bergerak dulu. Kamu sakit.” Ujarku.
“aku memang sakit kok.”
“hah?” aku bingung. Mungkin makudnya, ia sudah tahu kalau ia sakit. Kalau dia sakit, kenapa ia jalan-jalan tadi?
Badannya tampak berkeringat. Aku jadi bingung kenapa ia begitu berkeringat padahal kamarku tidak begitu terasa panas.
“aku mau pulang.” Ujarnya.
“rumahmu dimana? Biar aku yang mengantarmu ya?”
“aniyo, aku bisa pulang sendiri.”
“lho? kamu kan lagi sakit..”
“gwaenchanayo, aku sudah terbiasa.” Kyu Hyun berdiri. tapi ketika berjalan, badannya jadi miring-miring. Ia terlihat agak pusing. Jadi aku segera menopangnya.
“biar aku yang mengantarmu pulang dengan sepedaku. “ujarku menawarkan.
Aku memboncengnya dengan sepedaku. Ia menunjukkan setiap arah. Kami tiba disebuah rumah yang ditutup gerbang yang tinggi. ia masuk kedalam rumah itu.
“yah, aku lupa bilang sampai jumpa..” ujarku dalam hati.
Esok harinya Kyu Hyun belum juga masuk sekolah. Mejanya kosong. Aku jadi bingung, sebenarnya ia sedang sakit apa?
Pulang sekolah aku segera mengambil sepedaku. Aku berniat pergi kerumahnya. Ibuku menitipkan kue untuknya. Aku ingin tahu ada apa dengan dia. Aku tiba didepan rumahnya. Rumahnya tak terlihat karena dtutup gerbang kayu yang tinggi. aku memakirkan sepedaku. Aku menekan bel di depan pintu gerbang. Seorang yeoja membukakan pintu.
“dengan siapa?” Tanya yeoja itu.
“saya ingin bertemu Cho Kyu Hyun. Saya temannya.” Jawabku. aku melirik kedalam. Didalam tampak sangat alami karena banyak tumbuhan.
Tiba-tiba yeoja itu menutu pintu. Aku jadi bingung. Mungkin aku tak diterima.eh, ternyata beberapa saat kemudian yeoja itu membuka pintu lagi.
“nona, anda hanya punya waktu 30 menit sebelum tuan rumah pulang.” Ujar Yeoja itu.
“ya sudah. Aku Cuma sebentar kok.” Jawabku. aku jadi bingung. Kenapa ada penentuan waktu seperti itu ya?
Aku masuk kedalam. Di halaman banyak sekali tumbuhan, bunga dan pohon yang berwarna-warni. Rumahnya seperti rumah-rumah jaman dulu. Rumah ini tampak seperti rumah adat. Yeoja itu mengantarku ke sebuah ruangan. Dia membuka pintu.
“tuan, ada tamu.” Ujar yeoja itu. Aku masuk kedalam. Yeoja itu meninggalkan kami.
“kamu…” ujar Kyu Hyun.
“aku Lee Ki Yeon. Yang kemarin.”
“mau apa kemari?” tanyanya.
Aku menyerahkan kue yang kubawa. “aku Cuma ingin tahu..”
“tahu apa?” tanyanya sinis.
“kenapa kamu tidak masuk beberapa hari ini?” tanyaku. “kenapa setiap bulan pasti selalu ada waktu bolos mu? Apa yang kamu lakukan?”
“bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Aku jadi agak kesal dengan sifatnya yang seperti itu.
“anak-anak jadi salah paham. Dan aku ingin tahu kebenarannya.”
“aku tak mau memberitahumu.”
“oh ya? Bagaimana dengan kejadian kemarin? Kamu tiba-tiba pingsan seperti itu.”
“kamu memberitahu teman-temanmu?” tanyanya.
“bukan urusanmu.” Jawabku ikut sinis.
“jawab!” tegasnya
“Jangan GR dulu. Untuk apa juga kuberitahu.”
“baguslah.”
“sepertinya aku ingin memberitahu teman-temanku. Habisnya kamu menyebalkan sekali.” Ujarku lalu pergi keluar meninggalkannya dengan kesal.
“tunggu!” ia mengejarku. Ia menahan tanganku. Tiba-tiba aku merasa deg-degan. Aku kaget. Ini pertama kalinya kami berpegangan tangan.
“kalau begitu ceritakan..” ujarku.
“aku tidak bisa..” ujarnya.
“kalau begitu aku mau pulang. Ini sudah lewat 30 menit.” Ujarku. Aku betul-betul pergi sekarang. Aku tak menghiraukannya yang memanggilku. Aku ingin berlama-lama, memaksanya menjawab pertanyaanku, tapi waktu yang kumiliki sudah habis, lagian untuk apa pakai waktu penentu seperti itu sih? Emangnya ini pertandingan basket???
Esok harinya lagi aku mencoba menemuinya, tapi kata yeoja yang kemarin, untuk seminggu ini ia tidak ada dirumah. Jadi aku tak mengunjunginya lagi. sampai suatu hari, ia masuk sekolah. Muncul lagi niatku untuk bertanya padanya.
Jam istirahat ia hanya duduk dikelas. Murid-murid lain keluar jadi tinggal kami didalam kelas. Aku mendatanginya. Sepertinya ia ketiduran.
“Kyu Hyun.” Panggilku. Ia terbangun.
“kamu Ki Yeon?” Tanya nya.
“syukurlah kamu sudah mengenalku.” Jawabku.
“waeyo?” tanyanya agak lesu.
“aku ingin kamu menjawab pertanyaanku kemarin..” ujarku.
“hei, kamu di lihat teman-temanmu tuh. Kamu gak malu?” tanyanya.
“malu? Wae? Aku sedang berbicara dengan kamu kok.” Jawabku.
“ya sudah, kalau begitu hari ini datanglah kerumahku.” Ujarnya.
Mwo? Aku diajak kerumahnya? Akhirnya, ia mau bicara juga.
Aku keluar meninggalkannya. Ia kembali tidur.
“Ki Yeon? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya temanku.
“tidak ada. Aku mencoba bertanya tapi ia tidak mau menjawab.” Jawabku bohong.
“yah, kurasa dia memang seperti itu.”
Pulang sekolah aku segera ganti baju dan menuju rumahnya denga sepedaku. Aku di beri waktu banyak karena katanya tuan rumah sedang dinas. Syukurlah, aku jadi punya waktu banyak.
“Kyu Hyun-ssi..” panggilku. Ia sedang duduk disamping jendela.
“Ki Yeon?” tanyanya.
“Ye.”
Aku masuk kekamarnya.
“Kamu tahu?” tiba-tiba Kyu Hyun angkat bicara.
“mwo?”
“sejak dulu, Cuma kamu satu-satu nya orang yang berani mendatangiku” ujarnya.
“kok bisa?” tanyaku.
“entahlah.”
“kurasa, karena sikapmu yang pendiam dan terlihat lesu itu.” Jawabku.
“Aku memang seperti itu..”
“Kyu Hyun, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi padamu?” tanyaku.
“mian…”
“waeyo?” tanyaku.
“aku merasa berat.” Jawabnya.
“waeyo?”
“aku akan segera menghilang..”
“Ah, apa maksudmu? Aku tidak mengerti..” ujarku.
“aku memang akan menghilang..” ujarnya lagi.
“ah, sudahlah. Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.” Aku bangkit hendak pulang. Aku bosan, ia belum menceritakan yang sebenarnya.
“Ki Yeon.” Kyu Hyun menahan tanganku. Ini sudah yang kedua kalinya.
“aku ingin kamu disini..” ujarnya. Aku kaget dengan apa yang ia katakan. Ia ingin aku disini?
“aku ingin kamu datang terus. Aku senang sekali, kamu orang pertama yang mau berbicara begitu akrab denganku..” jelas Kyu Hyun.
“kamu minta aku menjadi temanku?”
“Ne.” Ia mengangguk. “sampai aku menghilang.”
Aku kaget dengan kalimat terakhirnya itu. “sampai aku menghilang”. Apa maksudnya?
“Ah, Kyu Hyun, hari mulai sore, sebaiknya aku pulang.”
“ne, gomawoyo telah menemaniku hari ini..” ia tersenyum. Senyumnya begitu indah.
Aku pergi meninggalkannya. Diperjalanan aku terus memikirkan, “sampai aku menghilang”. Sebelumnya ia mengatakan “aku akan segera menghilang” . aku tidak mengerti arti ‘menghilang ‘itu baginya. Apa kah itu maksudnya ‘meninggal’ ?
Hari ini berlalu. Tiba hari minggu.
Hari ini sekolah libur. Aku datang kerumah Kyu Hyun ketika hari sudah agak siang. Dia sedang menggambar dikamarnya.
“apa yang kamu gambar?” Tanya ku.
“aku menggambar bunga itu.” Kyu Hyun menunjuk pada sebuah bungan di luar jendela. Ia menunjukkan gambar nya. Ia menggambar bunga itu mirip dengan aslinya.
“kamu bisa menggambar wajahku?” tanyaku.
“tentu saja.”
“kalau begitu gambar aku sekarang..”
“tapi, tidak bisa jadi hari ini. aku kecapean menggambar bunga hari ini.” ujarnya.
“ya sudah. Akan ku tunggu.”
“oke. Bagaimana kalau kita bermain di luar?” ajak Kyu Hyun.
“ayo!”
Kami pergi ke halaman luar yang luas. Bermain-main dengan tanaman-tanaman yang begitu banyak dan berwarna-warni. Disini udara terasa segar sekali. Suasana alami sangat terasa disini. Apalagi rumahnya ini terletak di atas bukit.
“sebentar, Kyu Hyun.” Ujarku. Aku mengeluarkan hape kameraku. Aku ingin sekali memotret suasana disini. Hal seperti ini sudah jarang di temui di daerah perkotaan.
“hape?” tanyanya.
“kita foto-an yuk!” ajakku.
“denganku? Aniyo! Aku kelihatan kusut!” ujar Kyu Hyun menolak.
“gwaencanayo. Kamu ingin menolak permintaan temanmu?” tanyaku.
“ne, baiklah..”
Kami berdua berfoto bersama. Tetapi di antara berbagai foto yang kami ambil bersama, hanya satu yang hasilnya bagus. Habisnya, Kyu Hyun banyak bergerak.
“kamu jangan sering menutup matamu kalau lagi berfoto!” keluhku.
“iya deh…”
Minggu-minggu berlalu. Sudah lebih dari 15 kali aku datang ke rumahnya. Kali ini, saat akan menemuinya, katanya ia sedang keluar. Dan ini untuk seminggu. Seperti waktu itu ini sudah kedua kalinya. Apa yang ia lakukan?
Setelah seminggu tak bertemu dengannya. akhirnya Kyu Hyun kembali juga. Tapi, ketika menemuinya ia tampak sangat muram dan lesu. Ia hanya berbaring di kasur.
“Ki Yeon..” Ujar Kyu Hyun seraya tersenyum.
“gwaenchananika?” tanyaku.
“Ki Yeon, mianhaeyo..” ujar Kyu Hyun.
“Waeyo?”
“aku minta kamu jangan menemuiku lagi..”
“mwo? Waeyo?” tanyaku kaget.
“gwaenchanayo..”
“jawab aku, Kyu Hyun!” tegasku.
“Ki Yeon, aku akan segera menghilang.”
“ukh!” aku kesal sekaligus kaget dan sedih. “maksudmu apa? Menghilang?”
“Ki Yeon, aku akan selalu mengingatmu. Aku tak akan pernah melupakanmu.”
“Kyu Hyun. Maksudmu apa?” tanyaku. Air mataku menetes.
“Ki Yeon… gomawoyo.” Kyu Hyun tersenyum.
Pikiranku jadi bingung bercampur aduk. Aku segera meninggalkannya. Aku kembali kerumahku. Aku sungguh tidak mengerti dengan nya. Aku merasa dia memang akan pergi. Tapi, kenapa begitu? Ia belum menceritakan yang sesungguhnya.
Beberapa hari Kyu Hyun tidak masuk. Aku masih tidak berani menemui dia. Suatu pagi disekolah sebelum pelajaran dimulai, aku menerima sebuah surat yang ditujukan untukku. Di amplop surat tertera nama Cho Kyu Hyun. Aku membaca surat itu.
LEE KI YEON
ANNYEONG HASEYO? KAMU MASIH INGAT AKU?
CHO KYU HYUN.
MAAFKAN AKU YANG TELAH MEMBUAT MU MENANGIS WAKTU ITU. AKU TAK BERMAKSUD SEPERT ITU. AKU HANYA MEMBERI TAHU APA YANG SEBENARNYA AKAN TERJADI PADAKU. SAAT KAMU MENERIMA SURAT INI, AKU SUDAH TIDAK ADA. AKU HANYA INGIN BERTERIMAKASIH KEPADAMU ATAS SEGALA KEBAIKANMU. KAMU ADALAH SAHABAT PERTAMAKU. AKU SENANG SEKALI SAAT BERSAMAMU. SEGALA BEBAN DIPIKIRANKU MENGHILANG SAAT ADA KAMU. KAMU ADALAH PENERANG HATIKU. DISAAT AKU MULAI KEHILANGAN CAHAYA SEMANGATKU, KAMU DATANG DENGAN LENTERA HATIMU YANG TULUS ITU SEHINGGA AKU BISA KEMBALI BERCAHAYA. AKU BISA MENIKMATI HARI-HARI TERAKHIRKU DENGAN BAIK. AKU BAHAGIA TELAH HIDUP DIDUNIA INI MESKI HANYA SEBENTAR KARENA ADA KAMU. DAN AKU INGIN KAMU TAHU, AKU MENYUKAIMU.
TERSENYUMLAH
SAHABATMU
CHO KYU HYUN
Air mata sungguh telah membanjiri saat aku membaca surat ini. aku tak menyangka ini akan terjadi. Au tidak tega kehilangan Kyu Hyun. Kenapa aku terlambat berteman dengannya? kenapa tidak dari dulu? Padahal aku sudah mengenalnya sejak dahulu. Kenapa aku begitu lamban? Andaikan aku mengenalnya lebih cepat, aku tak harus merasa kehilangan begitu cepat seperti ini. mungkin, kalau aku mengenalnya lebih cepat, aku bisa menerima kehilangannya.
Aku membalikkan kertas. Di situ ada gambarku. Aku sedang duduk didekat jendela memegang setangkai bunga. Aku ingat bunga ini. bunga ini, bunga yang ia gambar waktu itu. Kyu Hyun, aku tak akan melupakanmu. Aku juga ingin kamu tahu, bahwa aku juga menyukai. Aku bodoh sekali. Kenapa rasa ini baru muncul sekarang.
“Ki Yeon…? Kamu kenapa?” Tanya temanku. Aku tak sadar. Teman-temanku mengerumuniku.
“kalian tahu..” ujarku sambil menangis. “Kyu Hyun meninggal?”
Teman-temanku tampak kaget mendengar hal ini. tapi, mereka akan sekedar kaget saja karena mereka tidak begitu mengenal Kyu Hyun yang sebenarnya.
Aku berlari meninggalkan teman-temanku, meninggalkan kelas, meninggalkan sekolah, untuk gerbang belum tertutup. Aku keluar. Berlari dan berlari meski kelelahan meski menempuh jarak jauh. Aku pergi kerumah Kyu Hyun. Aku masuk kedalam rumah nya. Baju seragamku basah. Rambutku acak-acakkan. Mataku bengkak karena dari tadi menangis. Aku berlari kearah sebuah peti mati yang terdapat foto Kyu Hyun. Disitu ada beberapa orang mungkin saja itu keluarga Kyu Hyun.mereka melihatku. Aku tidak mengenal mereka.
Aku mendekat kearah peti. Aku sungguh-sungguh syok. Aku tak menyangka ini benar-benar terjadi. Ini bukan bohongan. Ini sungguh-sungguh terjadi.
“Kyuhyun..” panggilku. Bodoh sekali aku. Mana mungkin ia akan mendengarku. Aku keluar lagi dari ruangan itu. Aku tahu, Kyu Hyun tidak ada lagi disitu. Aku tahu jiwa Kyu Hyun yang sebenarnya, masih tersisa di kamarnya.
Aku berjalan menuju kamarnya. Aku menemukan beberapa lembar kertas di meja yang ternyata semuanya adalah gambar wajahku. Semuanya gambarku, dengan berbagai ekspresi.
Aku mengambil kertas-kertas itu. Aku duduk di bangku di samping jendela tempat ia biasa duduk. Aku menemukan setangkai bunga tereletak dijendela. Bunga yang sudah kering. Bunga yang itu, bunga yang ia gambar.
“Ki Yeon..” aku seolah mendengar suara Kyu Hyun. Aku mendiamkan diriku. Mendengar suara jiwa Kyu Hyun yang masih tersisa diruangan ini.
“aku tak pernah menghilang…”
THE END

Game Kyu

Posted: April 1, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Game Kyu
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Yang Ji Ah as You
Cho Kyu Hyun Super Junior as Kyu Hyun
Other cast:
Jung Tae Hun as Tae Hun (tokoh fiktif)

*************************************************************************************
Hubungan seperti ini tidak patut disebut dengan ‘pacaran’. Dimatanya aku hanya dianggap teman sekolah. Sedangkan game yang selalu dimainkannya adalah pacar baginya. Ia jarang menemuiku. Sedangkan untuk gamenya, dia bisa menggunakan segala cara untuk bertemu, entah itu lewat PSP, hape, Nintendo, PS, PC, Laptop, dan barang elektronik lainnya. Dasar Game Kyu pabo!
“Chagi..” aku memanggil nya dengan suara lembut.
“Tak tik tak” berharap ia akan meladeni ku, yang ada hanya terdengar suara-suara tombol-tombol keyboard laptop yang menjawab.
“Chagi!” panggilku agak keras.
“Tak tik tak!” sekali lagi, hanya bunyi-bunyi itu yang menjawab.
“Game Kyu!” panggilku dengan nada benar-benar keras. Huh, menyebalkan sekali. Sampai bosan aku memanggilnya ‘chagi’.
“Hmm, kenapa?” Tanya Kyu Hyun santai. Huh, aku capek-capek meneriakinya, dia Cuma bertanya santai seperti itu?
“Huh! Aku pulang saja deh.” Aku bangkit dari sofa.
“Eh, tunggu!” Kyu Hyun menahan tanganku.
“Lepaskan!” ketusku.
“Iya, deh. Kamu mau nonton apa?”
“gak jadi. Aku ngantuk!”
“jangan dulu dong, kitakan baru sampai.” Kyu Hyun ikut bangkit. Ia menarik tanganku untuk mengajakku duduk lagi di sofa. Dengan terpaksa aku duduk lagi di sofa ini.
Sekarang aku ada dirumahnya. Sepulang sekolah tadi ia mengajakku nonton DVD film horror yang baru saja dia beli katanya. Bukannya nonton film horror, yang ada, aku harus melototinya dengan kesal yang asik memainkan game. Huh! Apa-apaan ini!?
“kamu mau minum apa?” Tanya Kyu Hyun. Baru sekarang ia menanyakan hal itu. Hal mengenai menjamu tamu.
“apa aja yang ada deh.” Jawabku masih agak kesal.
“oke.”
Kyu Hyun kembali dengan segelas sirup dan sebuah cup cake di piring.
“mian, aku hanya punya ini dikulkas.” Ujarnya.
“gwaenchanayo.” Jawabku. Aku asik menikmati sajian yang diberikan Kyu Hyun sementara ia sedang sibuk mencari-cari sesuatu.
Ia memutar film horror tersebut . Kyu Hyun duduk disampingku.
“Mwaaaa!!” aku berteriak kaget melihat hantu yang tiba-tiba muncul. Jantungku terasa melompat-lompat. Aku tak menyangka tiba-tiba akan muncul hantu padahal sebelumnya ceritanya biasa-biasanya.
Tiba-tiba Kyu Hyun memegang tanganku. Deg! Seperti aliran listrik yang masuk kedalam tubuhku. Aku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Pipiku memerah. Segera ku alihkan pandanganku lagi ke tv. Menonton DVD hantu tadi.
“Khu Hyun?” panggilku. Aku bingung. Dari tadi kami menonton DVD ini, tapi aku merasa ada yang aneh dengan Kyu Hyun. Aku merasa ia tidak bergerak sama sekali.
“Kyu Hyun?” panggilku lagi. Ia menatapku.
“ada apa?” tanyanya.
“tidak.. sepertinya..” ucapanku terhenti. Satu hal yang mencurigakan dari Kyu Hyun. Tangan sebelahnya seperti menyembunyikan sesuatu. Aku menarik tangan sebelahnya.
“mau apa, kamu?” Tanya Kyu Hyun.
Aku menemukan sebuah PSP di tangannya itu. Huh! Kenapa ini lagi!? Bagaimana ia bisa bermain PSP dengan satu tangan?? Bagaimana ia bisa memegangnya dengan mudah dengan satu tangan??
“Huh!” aku melemparkan PSP nya itu kesofa dan bangkit berdiri. Aku mau pulang. Aku merasa ini tidak ada gunanya.
“Ji Ah!” panggil Kyu Hyun. Aku tak peduli. Keluar dari rumahnya.
“ Yang Ji Ah!” suara Kyu Hyun masih terdengar. Aku berlari keluar secepatnya berharap ia tidak mengejar. Aku terhenti karena capek berlari. Kupandangi belakang tidak ada Kyu Hyun. Tentu saja, mana mungkin dia mau mengejarku. Orang seperti dia akan mengejar PSP nya. Bahkan mungkin baginya nyawaku tidak penting di banding PSP atau laptopnya itu. Mungkin ia rela aku mati di bandingkan benda-benda kesayangannya itu hilang. Huh, Game Kyu sialan itu!!!??
***
“Tae Hun-i.. tanganku sakit…” ujarku manja.
“oh.. biarkan aku memijat tanganmu.”
“terima kasih..”
“memangnya kenapa tanganmu sampai sakit?”
“kemarin tanganku digenggam begitu kuat…”
“siapa yang melakukannya?”
“ah, hanya teman ku.”
“oh.. bagaimana? Sudah baikan?”
“sudah, chagi.. gomawoyo..”
Aku sedang ada di kantin bersama temanku Tae Hun. Hari ini ku putuskan akan membuat Kyu Hyun sadar akan pentingnya diriku. Aku tak akan menemui dirinya lagi, aku tak akan menyapa dia lagi, aku tak akan tersenyum padanya lagi, aku tak akan membantunya lagi, tapi itu semua hanya sampai ia melupakan mainan bodohnya itu dan kembali padaku. Hari ini, hari pertama kujalankan rencanaku. Aku menyewa Jung Tae Hun teman laki-laki yang ku kenal dari kelas lain untuk pura-pura menjadi pacar baruku. Dia sedang makan di meja yang tidak jauh dari tempat kami. Aku sengaja datang untuk menggodanya padahal aku ini malas sekali untuk ke kantin. Dulu, meskipun di ajak Kyu Hyun ke kantin, aku menolak, karena aku tahu, kantin selalu ramai, aku benci keadaan terlalu ramai seperti ini. Tapi, karena ini ada tujuan lain, aku rela asalkan bisa menyadarkan Kyu Hyun.
Seminggu lebih berlalu. Aku tetap menjalankan rencanaku sampai ia datang padaku, bersujud padaku, memohon padaku, memintaku kembali padanya. Huh, akan ku pastikan ia berbuat seperti itu!
“Ji Ah, apa aku bisa meminjam buku Bahasa Jepang mu? Tadi pagi Maag ku kambuh lagi jadi aku tak ikut pelajaran.” Kyu Hyun mendatangiku.
“Oh, maaf. Bukuku juga tadi ketinggalan. Jadi aku hanya mencatatnya di otakku.” Jawabku bohong dengan tampang cuek.
“ohh.. ya sudah.” Kyu Hyun pergi. Ia mendatangi temannya yang lain.
Maafkan aku Kyu Hyun. Aku tak bermaksud seperti ini sebenarnya. Ini hanya untuk rencana agar kamu sadar dan mau kembali padaku. Aku tahu kamu sering terserang maag, dan orang pertama yang akan kamu mintai adalah aku dan hanya aku. Dan aku tahu, ini pertama kalinya aku menolak meminjamkan. Maka dari itu, cepatlah mengerti supaya aku bisa meminjamkan bukuku padamu lagi.
“Tae Huni.. kerah baju mu kok tidak teratur begitu? Ku rapikan ya..” aku tengah bermanja-manjaan dengan Tae Hun.
“tentu saja, chagi..”
Aku berusaha agar tampak begitu mesra bersama Tae Hun. Agar Kyu Hyun bisa naik darah karena cemburu. Aku tengah berada dikelasku sekarang. Sekarang sedang jam istirahat dan aku mengundang Tae Hun kekelasku. Untuk membuat Kyu Hyun semakin kesal. Tiba-tiba Kyu Hyun beranjak dari tempat duduknya, keluar kelas. Kurasa, rencana ku mulai berhasil
Esok harinya ketika sedang menuju kantin untuk menemui Tae Hun, tiba-tiba aku dibawa, ditarik dengan kasar ke belakang sekolah oleh Kyu Hyun. Ia tampak begitu kesal. Haha, akhirnya ia akan minta maaf juga.
“ada apa?” tanyaku sok cuek.
“kenapa kamu bersama Tae Hun anak kelas 2-4 itu!!?”
“memangnya kenapa?”
“huh! Seharusnya kamu sadar!” serunya kasar. Sepertinya ia marah.
“sadar!!??” aku mulai naik darah. Dia bilang, aku yang harus sadar!!? Apa-apaan ini!!??
“hei! Kamu mau apa sebenarnya!? Kamu mau boneka!? Kalung!? Uang!? Kamu itu pacarku!” seru Kyu Hyun.
“Aduh!” Ia menyandarkan ku dengan kasar di dinding gedung.
“lepaskan aku!” seruku. “ sebelum kamu menyuruh ku sadar, kamu harus tahu bahwa pacar mu Cuma satu!”
Aku pergi meninggalkan Kyu Hyun. Ia tidak mengejarku. Meskipun begitu, kuharap ia mengerti.
Hari-hari mulai berlalu. Sepertinya apa yang ku katakan pada Kyu Hyun tak di cernanya. Ia bahkan belum menemuiku sejak kejadian itu. Aku sampai bosan sendiri. Aku merasa harus mengakhiri semua ini. Aku sudah muak. Mungkin aku memang belum cocok dengan dia. Mungkin aku memang harus memutuskan hubunganku dengan dia. Aku tak bisa begini terus.
Sore hari, pulang sekolah. Aku sedang menunggu Tae Hun. Tadi aku menyuruhnya menemuiku disini di belakang sekolah tempat yang sama seperti waktu Kyu Hyun membawaku. Aku ingin mengakhiri permainan ini dengannya. Aku sudah membawa beberapa lembar uang bernilai besar untuk ku berikan padanya. Ini tidak masalah bagiku harus mengeluarkan uang sebanyak ini, karena ini kemauan ku sendiri, dan aku masih memiliki uang jajan lebih yang di berikan orang tuaku.
“ada apa, Ji Ah chagi..” Tae Hun baru datang.
“sudahlah. Aku ingin mengakhiri ini semua.” Ujarku. “ini bayaran untukmu.” Tae Hun mengambil uang yang aku berikan.
“tapi, kenapa kamu ingin mengakhirinya!?”Tae Hun mendekat padaku.
“aku sudah bosan.”
“lebih baik, kamu pacaran denganku.”
“maaf, aku sedang tidak ingin berpacaran sekarang.” Jawabku.
“Ji Ah..” tiba-tiba Tae Hun memegang kedua tanganku. Ia menyandarkanku di dinding seperti yang waktu itu dilakukan oleh Kyu Hyun.
“Ta…Tae Hun!!?” aku spontan kaget. Pasti ia sedang mabuk. Apa yang dilakukannya!!!???
“Ji Ah..”
“Tolong!!” aku berteriak. Tae Hun mencoba membuka seragamku.
“diam lah..!” Tae Hun terus berusaha membuka seragamku.
“Tolong!!”
“BUUAAKKKHH!” Tae Hun terjatuh pingsan. Sebuah balok terpukul tepat dikepalanya.
“Jackpot!”
Ternyata itu Kyu Hyun. Ia memegang sebuah balok kayu tebal. Ia tampak kesal. Ia menarik tanganku.
“lepaskan! Kyu Hyun!” aku meronta-meronta.
“JI AH!!!” ia berteriak. Aku terdiam. Ia tampak benar-benar marah. Pandangannya begitu serius.
“jadi, kamu lebih memilih orang seperti itu!?”
Aku memalingkan wajahku kearah lain.
“lihat aku.” Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Menengadahkannya tepat bertatapan dengannya. Aku jadi takut dengan Kyu Hyun yang berbeda dan seserius seperti ini.
“aku mengerti. Baiklah. Aku akan membuang semua game-gameku. Tak akan ada lagi panggilan ‘game Kyu’ dari mu.”
Kyu Hyun berkata dengan serius. Kali ini, aku bisa percaya.
“kamu janji ?” tanyaku. Kyu Hyun memelukku dengan erat.
“asalkan kita bisa bersama lagi..” ujar Kyu Hyun. Kali ini dengan nada yang lembut berbeda dari yang sebelumnya.
“tentu saja!” seruku riang. Aku juga ikut memeluknya dengan erat.
:: 2 HARI KEMUDIAN ::
Kyu Hyun pembohong!!! Apanya yang di buang!? Tidak ada satu game pun yang ia buang. Yang ada ia malah mengajakku main PlayStation. Huh, Kyu Hyun memang tak bisa di percaya. Sekali Game Kyu akan tetap Game Kyu selamanya.
“Yeeah~! Kita menang chagi!!” seru Kyu Hyun seraya memelukku. Saking kagetnya, stik PS yang ku pegang sampai jatuh.
“iya.. kita menang..” ujar ku pura-pura ikut senang.
Ya sudahlah, yang penting ia makin menyanyangiku daripada yang dulu.
THE END