Posts Tagged ‘Super Junior’

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Tak Akan Pernah Menghilang
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Lee Ki Yeon as You
Cho Kyu Hyun Super Junior as Kyu Hyun
Other Cast
*************************************************************************************
“Cho Kyu Hyun?” Tanya ibu Park wali kelas kami. Ia sedang mengabsen murid pagi ini.
“Tidak masuk.” Ujar seorang murid.
“hmmm.. “
Ini sudah ketiga kalinya dalam bulan ini. setiap bulan ia selalu tidak masuk minimal satu minggu per bulan. Guru-guru tidak memberitahu ada apa yang terjadi dengan dia. Kyu Hyun juga tidak memberitahu apa yang ia lakukan ketika tidak masuk sekolah. Setiap ia masuk, ia selalu kelihatan pendiam. Kelihatan lesu, tak bersemangat. Banyak anak murid yang mengatakan ia itu preman. Ada juga yang mengatakan ia tidak niat sekolah. Tapi, aku tahu ia orang yang baik. Ia sering tersenyum padaku. Entahlah, mungkin karena aku tak pernah menghinanya. Matanya tampak begitu sendu. Aku kadang merasa kasihan dengannya. Ia begitu misterius. Aku ingin sekali mengamati apa yang ia lakukan.
Jam istirahat aku kumpul bersama 2 orang teman sekelas ku di kantin. Menikmati bekal kami.
“Kyu Hyun itu kenapa ya?” tanyaku.
“entahlah…” ujar temanku.
“kurasa ia sakit.” Ujar temanku yang satunya.
“hah?” aku kaget.
“kamu lihat, badannya lemah dan kurus.”
“hmm..” aku hanya mengangguk.
Pulang sekolah aku sedang melihat-lihat majalah di sebuah kedai majalah. Melihat-lihat wajah-wajah artis yang begitu ganteng dan cantik. Aku menyadari, seorang anak laki-laki disampingku mirip dengan Kyu Hyun. Memakai kaos putih dengan celana panjang putih. Ia sedang melihat-lihat majalah juga. Aku merasa ingin menyapanya. Tapi aku takut salah orang.
“BRUUK!” tiba-tiba ia rebah disampingku. Aku kaget dan segara menahannya. Orang-orang disekelilingku tampak kaget juga. Beberapa ikut mengerumuni. Aku sadar, ini memang Kyu Hyun teman sekelasku. Aku bingung ia tiba-tiba pingsan begini.
“seseorang tolong panggilkan taksi! Temanku pingsan!” seruku.
Beberapa orang memanggil taksi. Beberapa membantuku membawakannya ketaksi. Di perjalanan aku meraba keningnya. Badannya dingin sekali dan ia tampak pucat. Sepertinya ia memang sakit. Aku , membawa kyu Hyun ke rumahku. Ibuku kaget. Tapi, setelah kujelaskan semuanya ia langsung mengerti. Aku segera membaringkannya dikasur dikamarku. aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin saja ia terkena demam. Aku segera menutup badannya dengan selimut tebalku.
Tiba-tiba Kyu Hyun membuka matanya. Ia tampak kaget. Ia menatapku.
“Kyu Hyun-ssi? Kamu sudah bangun.” Ujar ku.
“dimana aku? Siapa kamu?” tanyanya.
“Lho? Ini aku, Lee Ki Yeon teman sekelasmu. Kamu tadi pingsan jadi ku bawa kerumahku.” Jelasku.
“teman sekelasku?” Tanya Kyu Hyun lagi.
“Ye.” Aku mengangguk.
“hah!?” ia bangkit.
“jangan bergerak dulu. Kamu sakit.” Ujarku.
“aku memang sakit kok.”
“hah?” aku bingung. Mungkin makudnya, ia sudah tahu kalau ia sakit. Kalau dia sakit, kenapa ia jalan-jalan tadi?
Badannya tampak berkeringat. Aku jadi bingung kenapa ia begitu berkeringat padahal kamarku tidak begitu terasa panas.
“aku mau pulang.” Ujarnya.
“rumahmu dimana? Biar aku yang mengantarmu ya?”
“aniyo, aku bisa pulang sendiri.”
“lho? kamu kan lagi sakit..”
“gwaenchanayo, aku sudah terbiasa.” Kyu Hyun berdiri. tapi ketika berjalan, badannya jadi miring-miring. Ia terlihat agak pusing. Jadi aku segera menopangnya.
“biar aku yang mengantarmu pulang dengan sepedaku. “ujarku menawarkan.
Aku memboncengnya dengan sepedaku. Ia menunjukkan setiap arah. Kami tiba disebuah rumah yang ditutup gerbang yang tinggi. ia masuk kedalam rumah itu.
“yah, aku lupa bilang sampai jumpa..” ujarku dalam hati.
Esok harinya Kyu Hyun belum juga masuk sekolah. Mejanya kosong. Aku jadi bingung, sebenarnya ia sedang sakit apa?
Pulang sekolah aku segera mengambil sepedaku. Aku berniat pergi kerumahnya. Ibuku menitipkan kue untuknya. Aku ingin tahu ada apa dengan dia. Aku tiba didepan rumahnya. Rumahnya tak terlihat karena dtutup gerbang kayu yang tinggi. aku memakirkan sepedaku. Aku menekan bel di depan pintu gerbang. Seorang yeoja membukakan pintu.
“dengan siapa?” Tanya yeoja itu.
“saya ingin bertemu Cho Kyu Hyun. Saya temannya.” Jawabku. aku melirik kedalam. Didalam tampak sangat alami karena banyak tumbuhan.
Tiba-tiba yeoja itu menutu pintu. Aku jadi bingung. Mungkin aku tak diterima.eh, ternyata beberapa saat kemudian yeoja itu membuka pintu lagi.
“nona, anda hanya punya waktu 30 menit sebelum tuan rumah pulang.” Ujar Yeoja itu.
“ya sudah. Aku Cuma sebentar kok.” Jawabku. aku jadi bingung. Kenapa ada penentuan waktu seperti itu ya?
Aku masuk kedalam. Di halaman banyak sekali tumbuhan, bunga dan pohon yang berwarna-warni. Rumahnya seperti rumah-rumah jaman dulu. Rumah ini tampak seperti rumah adat. Yeoja itu mengantarku ke sebuah ruangan. Dia membuka pintu.
“tuan, ada tamu.” Ujar yeoja itu. Aku masuk kedalam. Yeoja itu meninggalkan kami.
“kamu…” ujar Kyu Hyun.
“aku Lee Ki Yeon. Yang kemarin.”
“mau apa kemari?” tanyanya.
Aku menyerahkan kue yang kubawa. “aku Cuma ingin tahu..”
“tahu apa?” tanyanya sinis.
“kenapa kamu tidak masuk beberapa hari ini?” tanyaku. “kenapa setiap bulan pasti selalu ada waktu bolos mu? Apa yang kamu lakukan?”
“bukan urusanmu.” Jawabnya singkat. Aku jadi agak kesal dengan sifatnya yang seperti itu.
“anak-anak jadi salah paham. Dan aku ingin tahu kebenarannya.”
“aku tak mau memberitahumu.”
“oh ya? Bagaimana dengan kejadian kemarin? Kamu tiba-tiba pingsan seperti itu.”
“kamu memberitahu teman-temanmu?” tanyanya.
“bukan urusanmu.” Jawabku ikut sinis.
“jawab!” tegasnya
“Jangan GR dulu. Untuk apa juga kuberitahu.”
“baguslah.”
“sepertinya aku ingin memberitahu teman-temanku. Habisnya kamu menyebalkan sekali.” Ujarku lalu pergi keluar meninggalkannya dengan kesal.
“tunggu!” ia mengejarku. Ia menahan tanganku. Tiba-tiba aku merasa deg-degan. Aku kaget. Ini pertama kalinya kami berpegangan tangan.
“kalau begitu ceritakan..” ujarku.
“aku tidak bisa..” ujarnya.
“kalau begitu aku mau pulang. Ini sudah lewat 30 menit.” Ujarku. Aku betul-betul pergi sekarang. Aku tak menghiraukannya yang memanggilku. Aku ingin berlama-lama, memaksanya menjawab pertanyaanku, tapi waktu yang kumiliki sudah habis, lagian untuk apa pakai waktu penentu seperti itu sih? Emangnya ini pertandingan basket???
Esok harinya lagi aku mencoba menemuinya, tapi kata yeoja yang kemarin, untuk seminggu ini ia tidak ada dirumah. Jadi aku tak mengunjunginya lagi. sampai suatu hari, ia masuk sekolah. Muncul lagi niatku untuk bertanya padanya.
Jam istirahat ia hanya duduk dikelas. Murid-murid lain keluar jadi tinggal kami didalam kelas. Aku mendatanginya. Sepertinya ia ketiduran.
“Kyu Hyun.” Panggilku. Ia terbangun.
“kamu Ki Yeon?” Tanya nya.
“syukurlah kamu sudah mengenalku.” Jawabku.
“waeyo?” tanyanya agak lesu.
“aku ingin kamu menjawab pertanyaanku kemarin..” ujarku.
“hei, kamu di lihat teman-temanmu tuh. Kamu gak malu?” tanyanya.
“malu? Wae? Aku sedang berbicara dengan kamu kok.” Jawabku.
“ya sudah, kalau begitu hari ini datanglah kerumahku.” Ujarnya.
Mwo? Aku diajak kerumahnya? Akhirnya, ia mau bicara juga.
Aku keluar meninggalkannya. Ia kembali tidur.
“Ki Yeon? Apa yang kalian bicarakan?” Tanya temanku.
“tidak ada. Aku mencoba bertanya tapi ia tidak mau menjawab.” Jawabku bohong.
“yah, kurasa dia memang seperti itu.”
Pulang sekolah aku segera ganti baju dan menuju rumahnya denga sepedaku. Aku di beri waktu banyak karena katanya tuan rumah sedang dinas. Syukurlah, aku jadi punya waktu banyak.
“Kyu Hyun-ssi..” panggilku. Ia sedang duduk disamping jendela.
“Ki Yeon?” tanyanya.
“Ye.”
Aku masuk kekamarnya.
“Kamu tahu?” tiba-tiba Kyu Hyun angkat bicara.
“mwo?”
“sejak dulu, Cuma kamu satu-satu nya orang yang berani mendatangiku” ujarnya.
“kok bisa?” tanyaku.
“entahlah.”
“kurasa, karena sikapmu yang pendiam dan terlihat lesu itu.” Jawabku.
“Aku memang seperti itu..”
“Kyu Hyun, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi padamu?” tanyaku.
“mian…”
“waeyo?” tanyaku.
“aku merasa berat.” Jawabnya.
“waeyo?”
“aku akan segera menghilang..”
“Ah, apa maksudmu? Aku tidak mengerti..” ujarku.
“aku memang akan menghilang..” ujarnya lagi.
“ah, sudahlah. Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.” Aku bangkit hendak pulang. Aku bosan, ia belum menceritakan yang sebenarnya.
“Ki Yeon.” Kyu Hyun menahan tanganku. Ini sudah yang kedua kalinya.
“aku ingin kamu disini..” ujarnya. Aku kaget dengan apa yang ia katakan. Ia ingin aku disini?
“aku ingin kamu datang terus. Aku senang sekali, kamu orang pertama yang mau berbicara begitu akrab denganku..” jelas Kyu Hyun.
“kamu minta aku menjadi temanku?”
“Ne.” Ia mengangguk. “sampai aku menghilang.”
Aku kaget dengan kalimat terakhirnya itu. “sampai aku menghilang”. Apa maksudnya?
“Ah, Kyu Hyun, hari mulai sore, sebaiknya aku pulang.”
“ne, gomawoyo telah menemaniku hari ini..” ia tersenyum. Senyumnya begitu indah.
Aku pergi meninggalkannya. Diperjalanan aku terus memikirkan, “sampai aku menghilang”. Sebelumnya ia mengatakan “aku akan segera menghilang” . aku tidak mengerti arti ‘menghilang ‘itu baginya. Apa kah itu maksudnya ‘meninggal’ ?
Hari ini berlalu. Tiba hari minggu.
Hari ini sekolah libur. Aku datang kerumah Kyu Hyun ketika hari sudah agak siang. Dia sedang menggambar dikamarnya.
“apa yang kamu gambar?” Tanya ku.
“aku menggambar bunga itu.” Kyu Hyun menunjuk pada sebuah bungan di luar jendela. Ia menunjukkan gambar nya. Ia menggambar bunga itu mirip dengan aslinya.
“kamu bisa menggambar wajahku?” tanyaku.
“tentu saja.”
“kalau begitu gambar aku sekarang..”
“tapi, tidak bisa jadi hari ini. aku kecapean menggambar bunga hari ini.” ujarnya.
“ya sudah. Akan ku tunggu.”
“oke. Bagaimana kalau kita bermain di luar?” ajak Kyu Hyun.
“ayo!”
Kami pergi ke halaman luar yang luas. Bermain-main dengan tanaman-tanaman yang begitu banyak dan berwarna-warni. Disini udara terasa segar sekali. Suasana alami sangat terasa disini. Apalagi rumahnya ini terletak di atas bukit.
“sebentar, Kyu Hyun.” Ujarku. Aku mengeluarkan hape kameraku. Aku ingin sekali memotret suasana disini. Hal seperti ini sudah jarang di temui di daerah perkotaan.
“hape?” tanyanya.
“kita foto-an yuk!” ajakku.
“denganku? Aniyo! Aku kelihatan kusut!” ujar Kyu Hyun menolak.
“gwaencanayo. Kamu ingin menolak permintaan temanmu?” tanyaku.
“ne, baiklah..”
Kami berdua berfoto bersama. Tetapi di antara berbagai foto yang kami ambil bersama, hanya satu yang hasilnya bagus. Habisnya, Kyu Hyun banyak bergerak.
“kamu jangan sering menutup matamu kalau lagi berfoto!” keluhku.
“iya deh…”
Minggu-minggu berlalu. Sudah lebih dari 15 kali aku datang ke rumahnya. Kali ini, saat akan menemuinya, katanya ia sedang keluar. Dan ini untuk seminggu. Seperti waktu itu ini sudah kedua kalinya. Apa yang ia lakukan?
Setelah seminggu tak bertemu dengannya. akhirnya Kyu Hyun kembali juga. Tapi, ketika menemuinya ia tampak sangat muram dan lesu. Ia hanya berbaring di kasur.
“Ki Yeon..” Ujar Kyu Hyun seraya tersenyum.
“gwaenchananika?” tanyaku.
“Ki Yeon, mianhaeyo..” ujar Kyu Hyun.
“Waeyo?”
“aku minta kamu jangan menemuiku lagi..”
“mwo? Waeyo?” tanyaku kaget.
“gwaenchanayo..”
“jawab aku, Kyu Hyun!” tegasku.
“Ki Yeon, aku akan segera menghilang.”
“ukh!” aku kesal sekaligus kaget dan sedih. “maksudmu apa? Menghilang?”
“Ki Yeon, aku akan selalu mengingatmu. Aku tak akan pernah melupakanmu.”
“Kyu Hyun. Maksudmu apa?” tanyaku. Air mataku menetes.
“Ki Yeon… gomawoyo.” Kyu Hyun tersenyum.
Pikiranku jadi bingung bercampur aduk. Aku segera meninggalkannya. Aku kembali kerumahku. Aku sungguh tidak mengerti dengan nya. Aku merasa dia memang akan pergi. Tapi, kenapa begitu? Ia belum menceritakan yang sesungguhnya.
Beberapa hari Kyu Hyun tidak masuk. Aku masih tidak berani menemui dia. Suatu pagi disekolah sebelum pelajaran dimulai, aku menerima sebuah surat yang ditujukan untukku. Di amplop surat tertera nama Cho Kyu Hyun. Aku membaca surat itu.
LEE KI YEON
ANNYEONG HASEYO? KAMU MASIH INGAT AKU?
CHO KYU HYUN.
MAAFKAN AKU YANG TELAH MEMBUAT MU MENANGIS WAKTU ITU. AKU TAK BERMAKSUD SEPERT ITU. AKU HANYA MEMBERI TAHU APA YANG SEBENARNYA AKAN TERJADI PADAKU. SAAT KAMU MENERIMA SURAT INI, AKU SUDAH TIDAK ADA. AKU HANYA INGIN BERTERIMAKASIH KEPADAMU ATAS SEGALA KEBAIKANMU. KAMU ADALAH SAHABAT PERTAMAKU. AKU SENANG SEKALI SAAT BERSAMAMU. SEGALA BEBAN DIPIKIRANKU MENGHILANG SAAT ADA KAMU. KAMU ADALAH PENERANG HATIKU. DISAAT AKU MULAI KEHILANGAN CAHAYA SEMANGATKU, KAMU DATANG DENGAN LENTERA HATIMU YANG TULUS ITU SEHINGGA AKU BISA KEMBALI BERCAHAYA. AKU BISA MENIKMATI HARI-HARI TERAKHIRKU DENGAN BAIK. AKU BAHAGIA TELAH HIDUP DIDUNIA INI MESKI HANYA SEBENTAR KARENA ADA KAMU. DAN AKU INGIN KAMU TAHU, AKU MENYUKAIMU.
TERSENYUMLAH
SAHABATMU
CHO KYU HYUN
Air mata sungguh telah membanjiri saat aku membaca surat ini. aku tak menyangka ini akan terjadi. Au tidak tega kehilangan Kyu Hyun. Kenapa aku terlambat berteman dengannya? kenapa tidak dari dulu? Padahal aku sudah mengenalnya sejak dahulu. Kenapa aku begitu lamban? Andaikan aku mengenalnya lebih cepat, aku tak harus merasa kehilangan begitu cepat seperti ini. mungkin, kalau aku mengenalnya lebih cepat, aku bisa menerima kehilangannya.
Aku membalikkan kertas. Di situ ada gambarku. Aku sedang duduk didekat jendela memegang setangkai bunga. Aku ingat bunga ini. bunga ini, bunga yang ia gambar waktu itu. Kyu Hyun, aku tak akan melupakanmu. Aku juga ingin kamu tahu, bahwa aku juga menyukai. Aku bodoh sekali. Kenapa rasa ini baru muncul sekarang.
“Ki Yeon…? Kamu kenapa?” Tanya temanku. Aku tak sadar. Teman-temanku mengerumuniku.
“kalian tahu..” ujarku sambil menangis. “Kyu Hyun meninggal?”
Teman-temanku tampak kaget mendengar hal ini. tapi, mereka akan sekedar kaget saja karena mereka tidak begitu mengenal Kyu Hyun yang sebenarnya.
Aku berlari meninggalkan teman-temanku, meninggalkan kelas, meninggalkan sekolah, untuk gerbang belum tertutup. Aku keluar. Berlari dan berlari meski kelelahan meski menempuh jarak jauh. Aku pergi kerumah Kyu Hyun. Aku masuk kedalam rumah nya. Baju seragamku basah. Rambutku acak-acakkan. Mataku bengkak karena dari tadi menangis. Aku berlari kearah sebuah peti mati yang terdapat foto Kyu Hyun. Disitu ada beberapa orang mungkin saja itu keluarga Kyu Hyun.mereka melihatku. Aku tidak mengenal mereka.
Aku mendekat kearah peti. Aku sungguh-sungguh syok. Aku tak menyangka ini benar-benar terjadi. Ini bukan bohongan. Ini sungguh-sungguh terjadi.
“Kyuhyun..” panggilku. Bodoh sekali aku. Mana mungkin ia akan mendengarku. Aku keluar lagi dari ruangan itu. Aku tahu, Kyu Hyun tidak ada lagi disitu. Aku tahu jiwa Kyu Hyun yang sebenarnya, masih tersisa di kamarnya.
Aku berjalan menuju kamarnya. Aku menemukan beberapa lembar kertas di meja yang ternyata semuanya adalah gambar wajahku. Semuanya gambarku, dengan berbagai ekspresi.
Aku mengambil kertas-kertas itu. Aku duduk di bangku di samping jendela tempat ia biasa duduk. Aku menemukan setangkai bunga tereletak dijendela. Bunga yang sudah kering. Bunga yang itu, bunga yang ia gambar.
“Ki Yeon..” aku seolah mendengar suara Kyu Hyun. Aku mendiamkan diriku. Mendengar suara jiwa Kyu Hyun yang masih tersisa diruangan ini.
“aku tak pernah menghilang…”
THE END

Advertisements

Love You Like Crazy

Posted: April 1, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae

Title : Love You Like Crazy

Category : PG-15, Teenager, One Shoot

Genre : Comedy Romantic

Cast :

Kim Chi Yeon

Choi Si Won Super Junior as Si Won
Other cast:

———————————————————————————————————

“Kita putus.”
Putus. Pergi. Ini sudah ke dua belas kalinya aku diputusi pacarku. Ya Tuhan! Apa yang salah dengan ku? Aku ganteng, tinggi, macho, pintar, kaya, udah gitu aku ini pemegang sabuk hitam taekwondo. Aku juga orang yang setia dan romantis pada wanita. Tapi kenapa semua kisah percintaanku selalu gagal !? lebih sialnya lagi, mereka yang memutuskanku!!! Tuhan! Kalau memang aku belum menemukan seseorang yang tepat, tolong kirimkan aku seseorang yang tepat untukku! Sekarang juga!!
“BUUK!” seseorang menabrakku dari samping. Mengganggu saja! Aku lagi berdoa nih.
“Maaf.” Ujar orang itu sambil menunduk.
“Huh.” Keluhku kesal.
“Aku tidak sengaja. Maafkan aku.” Ujar orang itu. Dia mengangkat kepalanya dan….
Oh My God!! Cantiknya! Siapa wanita ini? Aku belum pernah melihat gadis secantik ini. Luar biasa! Tuhan, kalau dia memang orang yang tepat yang kau berikan padaku, tolonglah buat aku lebih dekat dengannya.
Sungguh, aku hanya bisa bengong memandangnya. Tuhan, inilah pertama kalinya aku percaya bahwa keajaiban itu memang ada. Thanks God!
“Ehmm.. Permisi.” Ujar gadis itu.
“Ah!” aku tersadar dari khayalanku.
“Maaf ya, kak!”
“Ah.. iya! Tidak apa-apa kok!” jawabku.
“Terima kasih. Saya pergi dulu ya.” Ujarnya lalu pergi meninggalkanku disini yang tak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Oh, senyumnya yang manis, indah, oh.. getaran yang kurasakan ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku merasa sangat nyaman. Tuhan! Semoga aku bisa bertemu lagi dengannya. Oh, tidak! Aku lupa minta nomor hp-nya. Bodoooh~

Aku Choi Si Won. lelaki muda yang menawan tapi selalu gagal dalam kisah percintaannya. Semua pacarku, maksudku mantan-mantanku hanya menyukai fisik dan uang yang kumiliki untuk dipamerkan. Setelah bosan aku akan dibuang. Wanita memang kejam. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ya, karena aku merasa aku belum menemukan yang tepat. Tetapi, kejadian yang kualami sore tadi sungguh suatu keajaiban. Rambut panjang lurus, mata yang indah, senyum tulus, inilah keajaiban yang aku dapatkan. Tapi sialnya aku melewatkan satu kesempatan besar yang kumiliki yaitu meminta nomor hp-nya. Ya, dengan itu aku bisa menghubunginya, PDKT dengannya dan memenangkan hatinya. Tuhan~ Tolong aku!
Malam berlalu tiba dengan pagi yang disambut cerah matahari. Saatnya memulai aktivitasku menuntut ilmu di SMA Hansae. Kubuka pintu kelas dan melangkah masuk. Segera menuju ketempat dudukku dan meletakkan tasku. Kusandarkan badan dikursi dan.. hey? Sejak kapan aku duduk berdua disini? Dalam satu meja. Yang aku tahu, aku duduk disini, dikursi paling belakang, paling sudut dan sendiri. Sejak kapan aku punya teman sebangku? Apa ini hantu disudut kelas? Haha! Takhyul!
Lebih baik kupastikan sekarang. Seorang gadis berambut panjang lurus lagi terlelap disebelahku. Ok, aku akan mulai mencoleknya pelan-pelan.
“Hmm, permisi..”
“Ah!” orang itu kaget. Ia segera merapikan rambutnya yang acak-acakan.
“Maafkan aku.” Ujarku.
“Ah, maafkan aku juga…” ujarnya sambil mengalihkan wajahnya pada ku.
HAAH!!!?? I… inikan gadis yang kemarin sore berpapasan denganku! Gadis dengan senyuman manis itu! Thanks God! Kamu selalu mengabulkan permohonanku. Baiklah, aku akan mengambilkan kesempatan kali ini. Si Won! Fighting!
“Hai. Selamat pagi.” Sapaku.
“Selamat pagi juga.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
Ups! Sepertinya aku akan segera mimisan. Ayo lanjut, Si Won!
“Hmm. Anak baru ya?” tanyaku.
“Oh iya. Kenalkan saya Chi Yeon. Kim Chi Yeon.” Ujarnya.
“Sa.. saya Choi Si Won.”
“Saya baru pindah kekota ini kemarin. Ngomong-ngomong, saya boleh duduk disini kan?” tanyanya.
“Oh, begitu… gak apa-apa kok.” Jawabku. Tentu saja boleh. Aku malah senang tahu! Tuhan! Aku harus mendapatkan hatinya!
Aktivitas disekolah terasa sangat menyenangkan. Chi Yeon anak yang baik dan ramah, dan juga selalu tersenyum. Dia benar-benar cantik. Bel pulang sekolah berbunyi bertanda aktivitas di sekolah pada hari ini telah berakhir. Tapi tidak dengan ku karena aku masih harus menyelesaikan tugas essayku yang harus dikumpul hari ini. Aku lupa mengerjakannya kemarin jadi harus buru-buru sekarang deh.
“Ah~ selesai deeh..”
Ku bereskan barang-barangku dan beranjak menuju pintu keluar.
“Kreek!” pintu kubuka.
“Waaaaa!” aku kaget sekali karena tiba-tiba ada orang didepanku.
“Haii..” ternyata itu Kim Chi Yeon.
“Wah, kamu bikin kaget aku aja..”
“Hehe.. maafkan aku Si Won-ssi.”
“Gak apa kok.” Jawabku.
“oh ya, Si Won-ssi ngapain disini sendirian?” Tanya Chi Yeon.
“Oh aku lagi ngenyelesaikan tugasku. Kalo kamu, ngapain didepan pintu kelas sendirian?”
“Aku mau ngambil buku-ku yang ketinggalan didalam laci.” Jawab nya.
“oh, begitu. Kutungguin deh..” ujarku.
Chi Yeon segera menuju ketempat duduknya yang berada disamping tempat dudukku.
“Ini dia.”
“Kenapa bisa ketinggalan?” Tanya ku.
“hehe.. begitulah.”” Jawabnya.
“jadi, sekarang kamu mau pulang?” tanyaku.
“Iya. Emangnya kenapa?” tanyanya balik.
“ya, kurasa lebih baik aku menemanimu pulang. Inikan sudah sore..”
“apa rumah kita tidak berlawanan arah?” tanyanya.
“rumahku lima blok dari sekolah.” Jawabku.
“lho? Benarkah?” tanyanya.
“kenapa?”
“berarti blok kita bersebelahan. Aku empat blok dari sini..” jelasnya.
“kalau begitu, ayo kutemani..”
“terima kasih. Ayo!”
Senang sekali rasanya berhasil mengajak nya pulang bersama. Sore ini sungguh terasa sangat special. Kami tiba didepan rumah Chi Yeon.
“Ini rumahku..” ujarnya.
“Oh…” rumah yang bagus. Catnya juga tampak nyaman.
“Hmm, Si Won-ssi.. terima kasih sudah mengantarku.”
“Ya, sama-sama…” balasku.
“Sampai jumpa.” Chi Yeon masuk kedalam halaman rumahnya.
“Daaa..”
Oh Tuhan! Aku gak bakal ngelupain hari menyenangkan ini. Thanks God! Aku jingkrak-jingkrak didepan rumah Chi Yeon.

Esok harinya disekolah..
“Si Won-ssi..” panggil Chi Yeon.
“Ya?” tanyaku.
“Hari ini ayah ibuku mengadakan pesta dirumah untuk merayakan kepindahan kami..” jelas Chi Yeon.
“Oh ya?”
“Ya. Kamu mau datang?”
“aku diundang? Wah.. boleh.” Jawabku.
“Oke. Jam 5 sore ya.”
“Siip!”
Jam setengah enam aku baru datang ke rumah Chi Yeon. Aku merasa agak malu untuk masuk kedalam rumah. Disana banyak orang. Jadi aku memutuskan untuk duduk di ayunan tamannya saja.
“Si Won-ssi!” Chi Yeon mengagetkanku dari belakang.
“Ah, Chi Yeon. Bikin kaget aja.” Ujarku.
“Tidak berniat masuk kedalam?” Tanya Chi Yeon sambil menawarkan minuman dan kue.
“Gak usah..” jawabku sambil menerima apa yang dibawakannya itu padaku.
“Si Won-ssi.. kau tahu?”
“Apa?” Tanya ku.
“Kamu teman ku yang pertama di kota ini..” ungkapnya.
“Hehe… benarkah?”
“Ya.”
“Kurasa aku sudah tahu akan hal ini.” Ujarku.
“Oh ya? Bagaimana bisa?” tanyanya.
“Sejak pertemuan pertama kali kita waktu itu kamu menabrakku di depan sebuah restoran.” Jelasku.
“benarkah?? Oh iya. Itu kamu ya!”
“hehe~ masa gak sadar sih..”
“habis mukamu terlihat lebih menakutkan waktu itu.”
“apaa!!??”
“bercanda kok. Aku juga sudah tahu itu kamu.” Ujarnya sambil tertawa kecil.
“kamu…!!” seruku pura-pura marah.
“haha~ ampun om..”
“om? Kamu bilang aku om? Gak salah?” tanyaku.
“kalau waktu itu aku pantas memangilmu om bukannya ‘kak’.” Jelasnya.
“Kalau sekarang?” tanyaku.
“kalau sekarang sudah bukan.” Jawab Chi Yeon.
“hehe.. so pasti.” Ucapku.

Hubungan kami menjadi akrab. Suatu siang saat sedang pulang bareng, Chi Yeon mengajakku kerumahnya.
“Si Won-ssi, mau kerumahku?” Tanya Chi Yeon.
“Hah? Ngapain?” tanyaku.
“Begini, aku harus membereskan gudang hari ini.”
“Lho, kok kamu?” Tanya ku.
“Iya, ayah-ibuku sibuk mengurus kepindahan kerja mereka. Jawab Chi Yeon.
“Kamu gak menyewa pekerja?”
“ngapain ngeluarin duit untuk menyewa pekerja kalo aku bisa minta tolong kepada teman baikku?” ujar Chi Yeon.
“Oh, oke deh. Nanti aku balik lagi.” Ujar ku setuju.
“Oke!”
“Sampai jumpa!”
Setelah ganti baju dan makan siang aku segera kerumah Chi Yeon. Ternyata Chi Yeon sudah ada di gudang di samping rumahnya. Didalam gudang banyak sekali kardus-kardus bertumpukan dan berantakan. Chi Yeon tampak mulai merapikannya.
“Chi Yeon.” Sapaku sambil masuk kedalam gudang.
“Eh, Si Won-ssi. Sini, bantu aku ngerapikan kardus-kardus ini.” Panggilnya.
“oke.”
Kami berdua mulai merapikan kardus-kardus ini satu persatu. Akhirnya tersisa satu kardus yang harus dirapikan.
“Wah, gak ada tempat lagi.” Ujarku.
“Ada kok..” potong Chi Yeon.
“Dimana?” tanyaku.
“Tuuh~” Chi Yeon menunjuk kearah atas sebuah lemari yang tinggi.
“Tingginya…..” keluhku.
“Yah, dimana lagi?”
“Ya udah. Tapi bagaimana naruh nya? Tinggi banget.” Ucapku.
“hmm.. begini aja!” tiba-tiba Chi Yeon mendapat ide.
“Bagaimana?”
“Kamu menggendong aku lalu aku menaruh kardus ini diatas sana. Bagaimana?” usul Chi Yeon.
“Ide bagus. Ayo kita coba.” Ucapku.
Kami mulai melakukan ide yang disusulkan Chi Yeon. Aku mulai menggendong Chi Yeon pelan-pelan.
“Oke…. Pelan-pelan..” ujar Chi Yeon.
“Kamu jangan banyak bergerak ya…”
“ya.. aku hampir berhasil. Lebih tinggi lagi.” Ucap Chi Yeon. Dia mulai menaruh Kardus diatas lemari. Aku mulai menggendongnya lebih tinggi.
“Yaa.. yaa…”
“Si Won-ssi lebih tinggi lagi..” Chi Yeon berkata.
“Ya…”
“Yaa… “ Kardus mulai diletakkan. Chi Yeon mendorong kardus agar lebih masuk.
“Yaaa..”
“Ya!! Berhasil!!” kamipun berhasil meletakkan kardus itu dengan rapi.
“Waaaa~” tiba-tiba keadaan kami mulai tidak seimbang dan sepertinya kami akan jatuh.
“BUUKKH!!” Aku dan Chi Yeon terbanting kelantai. Chi Yeon menimpaku. Kepalaku terasa sakit sekali.
“Si Won-ssi, tidak apa-apa?” Tanya Chi Yeon.
“Sakit nih. Kamu?”
“Ya aku sih jelas gak apa-apa.. kan ada bantalan, yaitu kamu.”
“Ah~ kamu. Sakit nih badan ku, udah gitu berat ditindih kamu.”
“habis kamu sih, tiba-tiba bergerak.” Ujar Chi Yeon.
“Heh, kok malah nyalahin aku…” ujar ku kesal.
“ya dong, emangnya siapa lagi??” seru Chi Yeon.
“Itu pasti kamu. Kalo kamu bergerak dikit aja, langsung gak seimbang.”
“enak aja! Kamu yang salah!” seru Chi Yeon kesal.
“Kamu, bodoh!”
“Kamu!” seru Chi Yeon lalu mencubit kedua pipiku.
“Adaww~ kamu!!” balasku mencubit kedua pipinya.
“aww~”
Dan terjadilah pertarungan sengit saling mencubit pipi antara aku dan Chi Yeon.
“Aduh~ sakit..” keluh Chi Yeon bangun sambil mengelus-elus pipinya.
“kamu sih, duluan!” aku ikut bangun.
“apa!!??” seru Chi Yeon. “Kamu, yaa!!” Chi Yeon memukul-mukul dadaku.
“Aw! Aw! Sakit, bodoh!” seru ku. Aku segera menahan kedua tangannya.
Tiba-tiba kami berdua terdiam. Mulutku seperti terkunci tiba-tiba. Kami saling berpandangan. Wajah kami dalam jarak yang sangat dekat. Benar-benar dekat. Entah kenapa, wajahku terasa bergerak sendiri mendekatinya. Makin dekat, mendekat, dan..
“Ah!” aku segera menyadarkan diriku.
“Ah..” Chi Yeon tampak ikut kaget.
Astaga Si Won! apa yang akan kamu lakukan barusan!!??? Lebih baik aku segera pulang sekarang.
“Chi Yeon-ssi, kurasa aku mau pulang sekarang nih. Udah ya, daah..” ujarku. Perasaanku tidak tenang, jantungku deg-degan, pikiranku mulai gak jelas.
“Lho? Kamu gak mau minum jus dulu?” Tanya Chi Yeon.
“Ah, gak usah. Sampai jumpa..” “BUUKK!”
“Aduuuhh!” kepalaku kejedut pinggiran pintu ketika aku berbalik.
“Si Won-ssi, gak apa-apa?” Tanya Chi Yeon. Ia tampak bingung denganku.
“Aku gak apa-apa kok. Daah~” aku segera menuju kerumahku. Berlari sekencang-kencangnya. Setiba dirumah aku segera mengunci pintuku rapat-rapat. Aku merasa sangat aneh. Benar-benar aneh. Esok harinya aku tidak bercerita dengan Chi Yeon. Saling menyapa pun tidak. Maafkan aku Chi Yeon, aku hanya sedang merasa aneh. Aku harap kamu mengerti dan aku harap ini segera berakhir.
Aku duduk termenung di meja guru. Sekarang sudah jam pulang. Murid-murid sudah pulang, hanya aku yang belum. aku mencoba menafsirkan apa yang tengah kurasakan ini. Tuhan, jangan bilang kalau aku telah
“JATUH CINTA..” jangan bilang aku telah benar-benar jatuh cinta padanya. Aku memang menyukai dia, mencintai dia, tapi yang barusan ini kurasa ini memang REAL. Tuhan, bagaimana cara aku menyatakan perasaanku ini padanya?
Aku membuka-buka buku daftar siswa mencoba mencari ide. Kulihat biodata Chi Yeon.
“18 JULI??” hah? Ulang tahunnya tanggal 18 juli. 18 juli kan, 2 hari lagi. Apa? Ulang tahunnya 2 hari lagi? Kenapa aku sampai bisa gak tahu ulang tahunnya sendiri?? Tuhan, inikah cara yang kau berikan padaku agar aku dapat menyatakan perasaanku ini padanya?
Kalau memang iya, aku akan menjalankannya karena aku yakin pasti berhasil. Thanks God! Thanks a lot!!

“sehari lagi…” aku terus memikirkan rencana ku ini. Apa hadiah yang pantas kuberikan padanya? Bunga? Simple banget, boneka? Gak seru, buku? Kayak teman SD, i-pod? Pamer banget sih, cincin? Emangnya mau kawin? Kalung? Ah! Iyaaa!! Kalung. Pas sekali. Baiklah, aku akan membelikannya kalung. Tapi, kalung apa? Emas? Kayak tante-tante, kalung biasa? Murahan banget, kalung mutiara? Gak cocok. Aduh! Aku bingung. Ya udah, pulangan ini aku ketoko perhiasan saja.
“Si Won-ssi.” Chi Yeon menghampiriku didepan pintu gerbang sekolah.
“Chi Yeon… “ Oh.. My.. God! Jantungku deg-degan. Perasaan ini mulai lagi. Aku harus pergi sekarang kalau tidak aku akan pingsan disini.
“Si..”
” Chi Yeon-ssi! Maaf ya! Aku ada urusan sebentar! Bye!” aku segera berlari meninggalkan dia.
Aku pergi ketoko perhiasan. Banyak sekali jenis kalung disana. Aku jadi bingung memilihnya. Seorang pramuniaga menghampiriku.
“Permisi, sedang mencari apa?” Tanya pramuniaga itu padaku.
“Ssst! Begini, aku mau memberikan sebuah kalung untuk ulang tahun pacarku tapi aku tak tahu memilih kalung.” Bisikku pada wanita pramuniaga itu.
“oh, begitu. Saya bisa memberikan saran.” Ujarnya.
“Oh ya?”
Pramuniaga itu membuka lemari pajangan itu. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink berukuran tidak terlalu kecil.
“ini…” dia membuka kotak itu. Sebuah untaian kalung menyilaukan mataku.
“waw..” aku tercengang. Bagus sekali.
“rantainya terbuat dari emas putih, liontinnya terbuat dari berlian asli.” Jelasnya.
Aku mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. Kupegang liontinnya yang berbentuk hati itu. Tampak cahaya-cahaya menyilaukan dari berlian.
“Aku beli ini.” Ujarku. Ini pas sekali untuknya!
“Terima kasih.”

Esok hari nya aku mulai merasa sedikit lega. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku. Bagaimana kalau saat pulangan sekolah? Siip! Hari ini ulang tahun Chi Yeon, teman-teman memberi ucapan. Beberapa dari mereka ada yang memberi kado. Chi Yeon tampak senang sekali hari ini.
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku segera mencari Chi Yeon. Dia tak ada dimana-mana. Kata temannya dia sudah pulang duluan. Pasti ia merasa sedih karena aku tak menegurnya beberapa hari ini. Lebih baik aku segera mengejarnya.
“Chi Yeon!” panggilku. Ia hendak membuka pintu pagar ketika aku menemukannya. Ia menatapku.
“Ada apa?” tanyanya.
“maafkan aku karena aku tidak menegurmu beberapa hari ini dan aku tahu ini terasa lain bagimu. Tapi aku ingin jujur..”
“apa?”
“kamu membuatku gila.”
“hah??” dia bingung.
“bukan begitu. Maksudku, kamu membuatku tak bisa berhenti memikirkan mu. Selalu dan selalu.. memikirkanmu.” Jelasku. Aku segera merogoh kantong celanaku untuk mengambil kado yang akan kuberikan padanya.
“AKU SUKA KAMU.” Ucapku sambil membuka kotak dan menunjukkan kalung ini padanya.
“Haaahh????” Chi Yeon tampak sangat kaget.
“kamu bisa menjawab kapan saja. Oh ya, selamat ulang tahun.” Aku menyerahkan kalung itu padanya. “sampai jumpa..” aku pergi meninggalkan dia yang hanya terpaku melihat kado yang kuberikan. Hehe, aku senang sekali. Thanks God! I did it!!

Esok harinya saat sedang bosan-bosannya mendengarkan penjelasan guru Chi Yeon menyerahkanku sepucuk kertas.
“AKU JUGA” bacaku dalam hati.
Apa?? Maksudnya dia juga menyukaiku? Aku menatapnya. Ternyata ia juga sedang menatapku sambil tersenyum. Aku tersenyum padanya. Yes! Yes! Si Won! kamu telah mendapatkan hatinya!! Yippie!!
Hari-hari berlalu. Sekarang kami telah menjadi sepasang kekasih. Tapi kami belum pernah kencan layaknya yang biasa dilakukan sepasang kekasih. Akupun mulai memberitahukan ide ini padanya. Ternyata ia sangat senang dengan ide ini. Hari minggu ini kami akan jalan-jalan kepusat kota.
Hari minggu tiba dan aku sedang dalam perjalanan untuk menemui nya. Kami janji akan ketemu ditempat waktu pertama kali kami bertemu. Didepan sebuah restoran. Didepan restoran itu merupakan tempat yang sangat berarti bagi kami berdua jadi kami memutuskan untuk berjanji temu disana saja.

“Si Won!” panggil Chi Yeon yang baru datang.
“Chi Yeon-ah..” panggilku juga yang sudah menunggu disini dari tadi.
“Ayo pergi!” ajaknya. Ia segera menggaet lenganku. Ups! Aku kaget sekali dia tiba-tiba menggaet lenganku ini.
“Ayo…” jawabku gak tersipu.
Kami berjalan bersama seharian mengunjugi berbagai tempat. Kami mengunjungi pusat perbelanjaan, taman hiburan dan berbagai tempat asyik lainnya. Sekarang kami sedang berada di rumah makan siap saji. Sedang menikmati makanan kami. Tiba-tiba seseorang memegang pundakku.
“SiWon-ah!??” seorang gadis peranakan barat berambut panjang bergelombang menghampiri kami. Aku coba memikirkan siapa kah dia.
“Jennifer ya?” tanyaku.
“Ah, tentu saja! Bagaimana kamu bisa lupa!” ujarnya.
Jadi betul. Dia ini Jennifer atau nama Hangulnya Kang Myung Dae, putri dari teman ayahku yang berasal dari Amerika Serikat. Ayahnya adalah pemilik sebuah grup terkenal di Korea Selatan ini, dan ibunya yang asli sini adalah orang penting Korea Selatan. Aku sudah mengenal dia dari kecil karena ayahnya sering membawanya kerumahku. Anak ini sangat manja, nakal, susah diatur, keras kepala, dan suka memaksakan kehendaknya. Aku sangat membencinya. Aku senang mendengar dia sudah ke AS untuk sekolah disana, tapi kenapa dia kembali lagi kesini dan harus berpapasan denganku disini?
“Kamu ngapain disini?” tanyanya seraya duduk disampingku.
“Kamu gak liat, aku lagi makan?” cetusku.
“Oh, by the way, siapa nih? Your girlfriend?” tanyanya dengan sok logat inggris.
“Iya, emang kenapa?”
Jennifer menghampiri Chi Yeon. Dia memperhatikan Chi Yeon sedetail mungkin membuat Chi Yeon tampak kesal. Aku segera menariknya menghindari Chi Yeon.
“Beautiful..” ujar Jennifer.
“Udah deh, kamu ngapain disini?” tanyaku mengalihkan perhatian.
“lho? Kamu gak tahu? Aku pindah sekolah kesini.” Jawabnya.
“Hah? Kenapa?”
“I miss you, baby…” ujar nya manja.
Bodoh! Apa yang dia katakan sih? Tahu-tahu aku lagi sama pacarku.
“Apaan sih. Chi Yeon, kamu udah selesai makan?” tanyaku ingin segera keluar dari sini.
“hmm, sudah.”
“Kalo begitu ayo pergi..” aku beranjak dari kursi.\
“Lho? Kok cepat sekali!?” Jennifer kaget.
“Bukan kami yang cepat, tapi karena kamu yang lambat datang.” Jawabku kesal. “Ayo Chi Yeon.
Aku meraih tangan Chi Yeon dan membawanya keluar meninggalkan Jennifer sendirian.
“Chi Yeon, masalah tadi gak usah dipikirkan ya?” ujar ku.
“Oh iya, gak apa-apa kok. Ngomong-ngomong siapa dia?” Tanya Chi Yeon.
“Yah~ dia putri teman ayahku dari Los Angeles. Dan aku sangat membencinya.” Jawabku terus terang.
“lho kenapa?” Tanya Chi Yeon.
“Habis nya dia menyebalkan sekali.” Jawabku.
“kalian sudah saling kenal dari dulu?”
“Iya. Ah, sudah ah ngebahas orang itu. Kita kemana sekarang?” Aku mengalihkan perhatian agar tidak membuat Chi Yeon kepikiran mengenai orang bodoh itu.
Huh, kenapa dia harus muncul disaat kami sedang bersama sih!
“Kita nonton bioskop yuk!” ajakku.
“Hmm, nonton apa?” Tanya Chi Yeon.
“Makanya, kita lihat dulu yuk!”
“Ayo.”
Aku dan Chi Yeon melanjutkan kencan kami.
***
Di depan rumah Chi Yeon.
“SiWon-ssi, terima kasih sudah mengantarku.” Ujar Chi Yeon tersenyum manis diterangi lampu jalan yang ada di samping kami.
“ya, sama-sama..” jawabku. Kami saling bertatapan.
Sebuah ciuman singkat selamat malam ku daratkan dibibir Chi Yeon yang kecil dan lembut.
“selamat malam.” Ujar Chi Yeon tersenyum sambil menggenggam kedua tanganku.
“selamat malam.” Jawabku tersenyum. Ia melepas genggamannya dan membuka pagar lalu masuk kedalam lingkungan rumahnya.
SiWon.. ini kencan terindah pertama kalinya dalam hidupmu! Tuhan! Terima kasih banyak! Benar-benar terima kasih Tuhan!

Memulai pagi ini dengan kegiatan belajar di SMA HANSAE. Kukira awalnya akan tenang-tenang saja. Tidak, setelah Jennifer pindah kesekolahku. Sialan! Kenapa dia datang lagi menggangu hidupku!? Cukup sudah sepanjang kehidupan sekolah dasarku kuhabiskan dengan gangguannya itu. Tuhan! Kenapa harus diulang lagi? Lagian apa tujuan nya pindah kesekolahku? Dia kan bisa bersekolah ditempat lain yang lebih cocok dengan standar anak-anak peranakan barat seperti dia. Tapi untunglah ia beda kelas dengan ku. Tapi dia tetap saja menggangu. Aku yakin! Pasti dia akan menggangguku!

“SiWon!!” panggil Jennifer ketika aku dan Chi Yeon sedang berada di kantin.
“Apa kubilang..” ujarku dalam hati.
“Chi Yeon, ayo pergi.” Aku mengajak Chi Yeon pergi.
“Lho, SiWon-ah mau kemana??” Tanya Jennifer.
Begini hari-hari kami setiap didatangi Jennifer. Chi Yeon angkat bicara karena bosan melarikan diri seperti ini terus.
“Kenapa kamu tidak mau ngobrol baik-baik dengannya?” Tanya Chi Yeon.
“bukannya tidak mau..” jawabku.
“tapi?”
“Ya, aku hanya takut dia akan mengganggu hubungan kita. Itu aja kok.” Jawabku
“apa dia pernah mengganggu hubunganmu dengan orang lain sebelumnya?” Tanya Chi Yeon.
“Aduh Chi Yeon, bukan begitu. Tapi dia itu suka mengganggu aku sejak dulu. Aku takut kali ini ia akan mengganggu hubungan kita..” jelasku.
“begitu.. tapi kasihan juga dia kamu jauhin begitu..”
“gak apa. Habis nyeselin banget sih!” ketusku kesal.
“ya udah, ayo masuk udah bel.”

Beberapa hari ini aku tak mendengar suara Jennifer yang mencari-cariku. Tiba-tiba, saat sedang pulang sekolah sendirian karena Chi Yeon sedang sibuk dengan kegiatan ekskulnya aku dicegat Jennifer di gerbang sekolah.
“Hai SiWon-aahhh..” panggilnya manja.
“ada apa sih!?” ketusku.
“ih, kamu. Kok jahat sama aku… ngomong-ngomong mana pacarmu itu?” tanyanya.
“emangnya apa urusanmu sama dia?” tanyaku.
“Nothin, just asking.” Ujar Jennifer. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan seuatu.
“Do you know who is this?” Tanya Jennifer. Ia menunjukan selembar foto yang tidak kukenal padaku.
“siapa?” Tanyaku bingung tampak seperti seseorang yang kukenal.
“sayang sekali, this is your girlfriend.” Ujarnya. Tidak mungkin, gendut, jelek, jerawatan itu adalah Kim Chi Yeon.
“Maksudmu Chi Yeon?”
“Iya, emang kamu punya pacar berapa?”
“bohong!” seruku.
“kamu tak percaya? Ya sudah.” Ujarnya enteng.
“yang serius!” seruku.
“kamu sih, gak percaya.Comon, kamu tahu siapa aku kan? Aku bisa mencari informasi dengan begitu cepat. Aku bisa mencari dengan cepat dimana sekolahmu,kan? Begitu juga dengan masa lalu Chi Yeon. Itu mudah sekali bagiku. Kamu gak mau foto ini disebarkan, right?”
“apa maumu menyebarkannya!?” aku mulai naik darah dengannya.
“hihihi. Just a little thing.” Ujarnya.
“apa?”
“kamu, menjauh darinya dan jadi pacarku.” Ujarnya. “atau tidak, foto ini menyebar luas diseluruh penjuru sekolah ini.” Ia meninggalkan aku yang terpaku disini.
Bagaimana ini? Apakah itu benar-benar Chi Yeon? Apa yang harus kulakukan? Terima begitu saja persyaratannya? tapi, bagaimana dengan perasaan Chi Yeon? Aku tak ingin melukai perasaannya tapi aku juga tak mau rahasia ini tersebar. Tuhan, tolong beri jalan padaku.
***

“baiklah aku terima.” Ujarku pada Jennifer. Kami tengah berada diatap sekolah. Udara segar berhembus menerpa rambutku.
“Wah, SiWon-ah baik deh. Mulai sekarang, you are mine~” grrr! Bikin kesal aja deh. Milikku-milikku apaan!!? Tipikal wanita seperti ini yang sangat tidak kusukai. Ah~ sabar.. sabar.. SiWon.. ini Cuma cobaan yang diberikan Tuhan padamu. Fighting SiWon!!

Kurasa aku jangan dulu memberitahu Chi Yeon agar masalah tidak makin rumit. Maaf Chi Yeon, aku harus menyimpan rahasia dari mu yang kedua kalinya. Sungguh, aku tak bermaksud seperti ini padamu. Aku tak ingin ada rahasia diantara masing-masing. Aku ingin kita berdua bisa terbuka satu sama lain. Tapi, kali ini aku benar-benar minta maaf. Setelah ini tak ada lagi rahasia diantara kita. Aku yakin. Tapi Chi Yeon, kali ini tolong bertabahlah sedikit.
Aku memandang handphoneku aku jadi terpikir, akankah ia mengangkat telepon jika aku menelponnya saat dia tahu aku bersama wanita lain? Akankah ia menelponku? Akan masih adakah namaku di list contact personnya? Masih adakah?
Ah, SiWon, jangan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi. Siapa tahu besoknya, Jennifer berubah pikiran. Ah, sepertinya gak mungkin atau tiba-tiba ia kehilangan fotonya? Atau bisa saja file-file computernya temakan virus. Semoga saja!

“Honey, lihat deh. Lucu,kan gambarnya?” Jennifer menunjukkan sebuah buku padaku.
Kami berdua sedang duduk di sebuah bangku disamping taman sekolah. Sekarang jam istirahat dan aku berharap hal ini tidak diketahui oleh Chi Yeon. Ah~ pasti akan ketahuan…
“iya.. iya bagus.” Jawabku kesal.
“ih, Honey. Kok kasar gitu sih.. kusebarin nih..” ancam Jennifer dengan nada manja.
“iya.. bagus.” Jawabku dengan nada pelan. Huh! Dasar licik.
Aku masih belum bisa mengatakan alasanku padanya. Bagaimana perasaannya nanti? Kalau aku menolak permintaan Jennifer dan foto itu tersebar?

“Astaga!” aku menyadari ternyata Chi Yeon sedang melihatku. Aku meletakkan buku yang ditunjukkan Jennifer dan melepas genggamannya. Tak kusadari ternyata ia sedang mengamatiku dari jendela kelasnya yang mengarah ke taman tempat kami berada.
“Ada apa, SiWon-ah…” ujar Jennifer.
“Ah, gak ada apa-apa..” aku mencoba bersikap biasa kepada Jennifer. Bisa gawat kalau dia marah. Aku memandang kearah Chi Yeon dengan perasaan galau. Maaf ChiYeon. Maaf.

Seminggu berlalu. Hari ini Chi Yeon masih tidak masuk sekolah. Sudah 3 hari ini ia tidak masuk sekolah. Apa jangan-jangan ia sakit? Apakah aku bisa menjenguknya?
“permisi..” aku menyapa beberapa anak perempuan yang biasa akrab dengan Chi Yeon.
“kamu tahu kemana Chi Yeon beberapa hari ini?” tanyaku.
“lho? Dia, bukannya dia pindah?” ujar seseorang dari mereka.
“Hah? Benarkah?” aku tercengang. “pindah sekolah?”
“tidak hanya itu, ia juga pindah rumah. Katanya ia pindah ke rumahnya dulu karena ayahnya dipekerjakan kembali ditempat semula.” Jelas anak itu.
“ah? Kapan ia pindah?”
“katanya hari ini baru mereka pindah. Tapi barang-barang mereka sudah diangkut duluan.”
“haah??”
“lho? Kamu pacarnya, kan? Kok tidak tahu, sih?”
Aku hanya terdiam.
“oh iya, kulihat sebelum ia tidak masuk, ia terlihat sangat sedih selama beberapa hari? Apa kalian bertengkar?” Tanya yang lain.
“ah, begitulah..”
“lebih baik kau menyusulnya sekarang..”
“ah, terima kasih banyak.” Aku segera meninggalkan mereka. Aku harus pergi menemuinya. Kurasa ini saatnya ini aku memberitahunya yang sebenarnya.
“SiWon. Ada apa terburu-buru?” Tanya Jennifer menghampiriku.
“menemui Chi Yeon.” Jawabku.
“lho? Kita kan sudah janji. Atau kamu mau foto ini disebarkan?” Tanya Jennifer sambil menunjukkan foto Chi Yeon.
“ah!” Jennifer kaget karena tiba-tiba merebut foto itu. Dengan segera kurobek foto itu hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.
“foto ini asli atau tidak, tapi kalau kamu berani menyebarkannya, KUBUNUH KAMU!” ujarku penuh serius.
Jennifer terdiam mendengar ancamanku. Kesempatan ini kuambil dengan melanjutkan perjalananku kerumah Chi Yeon. Melalui pintu belakang aku keluar dari sekolah. Berlari sekuat tenaga menuju rumah Chi Yeon. Aku harap ia belum pindah atau aku akan menyesal seumur hidupku.

“Bruum..” kulihat sebuah mobil sedan yang kutahu milik ayah Chi Yeon sudah melaju meninggalkan rumahnya. Pintu dan jendela rumah mereka tertutup dan didepan tampak kosong. Oh, tidak. Mereka sudah pergi.

“Chi Yeon!” Aku mencoba mengejar mobil itu.

“ah~ uh~ Chi Yeon!”

“Chi Yeon!”

Mobil itu terus melaju meninggalkanku. Aku tak mampu mengejarnya. Aku berhenti.

Ah~ Tuhan. Maafkan atas segala kebodohanku selama ini. selamat tinggal Chi Yeon. Aku terduduk dijalan meratapi perginya mobil itu.
Selamat tinggal Chi Yeon. Dimanakah aku harus mencari mu sekarang??
Tak terasa air mataku menetes.

Chi Yeon..

“SiWon?” seseorang memanggilku dari arah belakang. Aku kaget karena sepertinya aku tahu suara siapa ini. aku menoleh kebelakang.
“Chi Yeon!!??” seruku kaget. Chi Yeon memakai baju biasa dan memegang payung.
“Apa yang…”
“Chi Yeon!” aku segera memeluk Chi Yeon. Betapa senang diriku karena ternyata Chi Yeon belum pergi.

“SiWon-ssi? Apa yang kamu lakukan panas-panas begini didepan disini? Kamu gak pergi sekolah?” tanyanya.
“Tidak. Chi Yeon, maafkan aku. Sungguh aku tak maksud berbuat begini. Aku diancam oleh Jennifer untuk menjauhi mu supaya…” aku terhenti. Aku tak sanggup melanjutkan.
“supaya?” Tanya Chi Yeon tampak penasaran.
“Su.. supaya ia tidak menyebarkan fotomu..” jawabku jujur.
“fotoku? Foto apa?” tanyanya bingung.
“begini..” aku menceritakan keseluruhan kejadian kepadanya. Aku tak mau lagi berbohong padanya atau kisah cinta ku kali ini benar-benar akan hancur.

“benarkah begitu?” Tanya Chi Yeon kaget sesudah mendengar kesuluruhan ceritaku.
“ya, maafkan aku juga telah melihat wajahmu yang dulu tapi tenang saja..”
“SiWon..” potong Chi Yeon.
“a.. ya?”
“kamu masih menyukaiku, kan?” tanyanya tampak serius.
“a.. tentu saja!” seruku. “kau tahu, bagaimanapun kamu, akan selalu menjadi yang paling cantik bagiku. Dan aku akan tetap menyukai. Aku cinta kamu.”
Bssh~ pipiku terasa hangus terbakar. Aku tak pernah jujur seperti ini sebelumnya. Aku malu sekali.
“percayalah!” ujarku.
“aku percaya kok.” Jawab Chi Yeon tersenyum.
“benarkah?” tanyaku.
“iya. Aku percaya. Buktinya, mukamu sampai memerah tuh..” ujar Chi Yeon seraya tertawa kecil.
“Ah, Chi Yeon~” aku merasa malu. “pipimu juga memerah kok.”
Ah, SiWon, kamu memalukan sekali.

Chi Yeon memelukku. Kami saling berpandangan. Kami saling tesenyum. Ditutupi payung, kami berciuman.

THE END

# Side Story

Seminggu sejak hari itu. Jennifer pindah lagi ke Amerika Serikat karena takut dengan ancamanku waktu itu. Pagi ini pelajaran belum dimulai. Aku hanya duduk terdiam dibangkuku sendirian. Tak ada Chi Yeon disampingku. Aku duduk sendiri dipojokan kelas seperti dulu. menjalani hubungan jarak jauh ternyata kurang menyenangkan.
Ah, SiWon. Jangan cengeng begini dong. Kamu kan sering menelponnya tiap malam.
Bel berbunyi. Semua murid masuk kekelasnya masing-masing.

Bapak wali kelas kami masuk.
“Selamat pagi. Hari ini kita kedatangan murid baru. Sungguh tiba-tiba padahal sebentar lagi ulangan kenaikan kelas.” Ujar Bapak itu.
“wah, bagus. Setidaknya aku akan ada teman disampingku.” Pikirku dalam hati.
“tapi murid baru ini sudah pernah bersekolah disini beberapa waktu lalu. Juga didalam kelas ini.” sambung bapak lagi.

dikelas ini? siapa? Jangan-jangan…

“Kim Chi Yeon, silahkan masuk.” Ujar bapak itu.

APA!? Kim Chi Yeon!!?? Aku tercengang.
Ternyata benar. Itu Chi Yeon ku. Tapi kenapa diaa….??

Dia menatapku sambil tersenyum. Aku yang kaget hanya bisa tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Bukannya dia sudah pindah? Kok balik lagi?? Kenapa dia tidak memberitahuku sebelumnya?

“Chi Yeon, kamu duduk ditempat mu dulu ya.” Ujar wali kelas.
Chi Yeon duduk menghampiriku. Ia tersenyum padaku. Wajah yang sangat kukenal. Senyum yang sangat kukenal. Ini benar-benar dia.

“WUHOOO~!!!” tiba-tiba semua murid bersorak. “Yeee!!”

Ada apa? Aku bingung dengan mereka. Mereka semua melihat padaku dan Chi Yeon. Ada yang mengancungkan jempol padaku. Aku jadi benar-benar bingung.

“kenapa kalian menyoraki ku tadi?” tanyaku pada temanku saat jam istirahat.
“kamu belum tahu?’ Tanya temanku itu.
“apa?” aku bingung.
“sebentar” ia memencet-mencet handphonenya dan menunjukkan sebuah video padaku.
“nonton nih.”

“WAAH~” bukan main tercengangnya aku ternyata itu rekaman video saat aku bertemu dan meminta maaf pada Chi Yeon sebelum dia pindah.

Dia akhir rekaman ada sebuah tulisan “By : Jennifer”

“Jennifer!” seruku kesal. “jadi ini ulah mu ya!!??”

***

[Jennifer’s P.O.V]

“foto ini asli atau tidak, tapi kalau kamu berani menyebarkannya, KUBUNUH KAMU!” ujar SiWon penuh serius.
Aku terdiam mendengar ancamannya. Seumur hidup SiWon-ah tidak pernah sekasar ini padaku. Sepertinya kali ini dia benar-benar serius. Ia merobek foto itu. Padahal itu foto yang terakhir. File foto itu kusimpan di dalam flashdiskku dan sudah termakan virus tanpa kusadari.

Dia berlari meninggalkanku. Karena penasaran akupun mengikutinya. Huh, capek sekali harus mengejarnya. Larinya sungguh kencang sekali. Dari dulu SiWon-ah memang jago lari. Bajuku sampe berantakan ngejar dia karena takut kehilangan jejak.

Aku melihat SiWon berhenti didepan sebuah rumah menatap sebuah mobil pergi. Ia mengejar mobil itu sambil meneriakkan nama Chi Yeon. Huh! Ternyata ia mengejar Chi Yeon yang sudah pergi. Apa bagus nya sih, anak itu?
Lebih baik kurekam saja kejadian ini. lucu nih, kayaknya.
Aku mulai merekam mereka dengan handphoneku.
Eh, SiWon-ah kok duduk di jalan kotor? Bangun!
Eh, siapa itu yang pake payung warna biru? Ia mendekati SiWon-ah ku!
“Chi Yeon!?” SiWon-ah tampak memeluk orang didalam payung. Apa? Chi Yeon? Itu Chi yeon? Bukannya dia sudah pergi?

Huh lama banget sih. Mereka ngobrol apa? Panas-panas begini. Sialan! Bodoh sekali aku mengintip mereka. Eh? Mereka ngapain itu? Kok jadi rapat sekali? Apa mereka BERCIUMAN!!??

Ah!! Tidak! SiWon milikku!!
Aku berlari meninggalkan mereka.
Sialan kamu SiWon-ah. Telah menghancurkan perasaanku.
Huh, aku akan menyebarkan rekaman ini pada teman-temanmu biar kamu malu.
Lalu aku akan kembali ke L.A lagi dan tidak akan mengganggu mu lagi. Puas kamu!?
Apa ini? air mata? Aku menangis? Bodoh~
Ah, lebih baik aku balik kesekolah sekarang. Aku jadi tambah kesal melihat mereka.

***

[oneshoot] The School

Posted: April 1, 2011 in general
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : The School
Category : General , Ficlet
Genre : Horror, Mistery
Cast :
Kim Si Hyuk as You
Other cast :
Lee Dong Hae Super Junior as Dong Hae

Aku bangun dari tidur siangku. Aku sedang berada dikamarku. Di atas ranjangku. Aku mencari-cari hapeku tapi tidak ketemu. Kubongkar seluruh isi kamar, seluruh isi rumah tapi tetap tidak ada. Aku sampai dimarahi eomma. Sepertinya hapeku ketinggalan di sekolah. Aku harus mengambilnya sekarang. Sepertinya ketinggalan saat rapat pengurus tadi siang. Aku melirik jam dinding. Ternyata ini sudah jam 6.10 sore. Bagaimana ini? Aku harus mengambilnya!atau tidak bisa diambil orang! No! itu hape belinya pake uang tabunganku!!
“Eomma! Aku pergi dulu ya!” seruku.
“kemana nak?” Tanya eomma ku.
“ke sekolah!” seruku.
“Tunggu! Si Hyuk!” panggil eommaku.
“Aduh! Mian eomma! Aku buru-buru!” seruku. Segera ku gas motor matic ku. Meluncur ke sekolah yang tidak jauh dari rumahku. Tidak jauh kalau naik motor maksudku.
Aku masuk ke gerbang sekolah. Untung saja masih terbuka. Sepertinya penjaga sekolah belum pulang.
Aku segera memarkir motorku di parkiran. Segera berlari menuju ke ruang rapat tadi di kelas anak bahasa. Lampu-lampu belum dinyalakan sehingga gedung agak gelap dan terasa sedikit menakutkan. Tapi, sudahlah! Dari pada hapeku harus diambil anak-anak kelas bahasa yang usil itu!
Pintu kelas sudah terkunci. Kutarik-tarik gagang pintu tapi tak mau terbuka. Aku menarik-narik jendela, berharap ada jendela yang masih terbuka.
“Ah! Sial!” semuanya sudah di kunci.
“Si Hyuk!?” seseorang memanggilku. Aku memutar kepalaku.
“Dong Hae? Kamu belum pulang?” tanyaku. Dong Hae masih memakai seragam.
“Ne, aku les.” Jawabnya.
“Les? Sampai jam segini?” tanyaku. Yang aku tahu les tidak selama ini. Karena aku juga les Kimia di sekolah.
“tidak. Aku habis ngobrol dengan temanku, Eun Hyuk tadi. Dia sudah pulang.”
“oh, Eun Hyuk anak kelas sosial itu ya?”
“iya. Sekelas dengan ku.” Tambah Dong Hae.
“Iya.. iya..” aku mengangguk.
“hmm.. kamu ngapain disini?” Tanya Dong Hae.
“Begini.. hapeku sepertinya ketinggalan didalam..” ungkapku.
“kok bisa? Mau kubantu?” tawarnya.
“ya, tentu saja. Semua jendela tertutup. Pintunya juga.” Jelasku.
“oh ya? Nih kebuka.” Dong Hae memegang pintu jendela yang sudah terbuka.
“Lho?” aku kaget juga bingung. Yang aku tahu ini terkunci. “Kok.. bisa?”
“jadi, bagaimana? Kamu mau masuk?” Tanya Dong Hae.
“Ya, kamu tolong jaga pintu jendela ini ya.. nanti tertutup.”
“tentu..” Dong Hae tersenyum.
Aku masuk kedalam ruang rapat. Suasana sangat mencekam. Tak ada lampu. Kursi-kursi dan meja-meja yang menakutkan serasa ada yang menduduki.. hiasan di langit-langit ruangan yang berayun-ayun serasa ada yang menggerakkan. Glek! Aku jadi ingat cerita temanku.
Beberapa tahun lalu, seorang murid perempuan yang juga sedang mengambil barangnya yang ketinggalan di ruangan ini, esoknya di temukan tewas dengan mulut berbusa tanpa sebab. Ia di temukan tewas di jendela. Sepertinya ia masuk lewat jendela dan akan keluar lewat jendela itu juga, namun.. Aaahhhh, kenapa pas banget seperti aku!!??
Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, meja ku tadi dimana ya? Oh iya.. di sudut. Aku merogoh laci yang gelap dan menakutkan dengan gemetaran. Pikiranku mulai mengkhayalkan akan ada sebuah tangan menarik tanganku.
“GYAAAAA!!”
Dan begitulah suara yang akan kukeluarkan.
“GYAAAA!!”
Aku menarik tanganku dari laci. Ketika aku meraba laci,aku menemukan hapeku, tapi ketika menariknya, aku ditarik oleh sesuatu yang agak kasar, seperti sebuah tangan. Aku segera berlari kejendela. Aku merasa sebuah bayangan gelap mengear-ngejar aku. Jantungku makin kencang memompa. Aku segera menemui Dong Hae yang masih di luar didepan jendela. Aku segera naik dengan meja untuk keluar lewat jendela.
“kenapa?” Tanya Dong Hae.
“uh.. ah..” aku ngos-ngosan. “aku merasa tadi seperti ada yang..”
Aku merasa ada sebuah tangan di pundak ku. Aku mecoba memegangnya. Terasa seperti sebuah tangan manula yang kasar dan berkeriput. aku memutar kepalaku pelan-pelan.
“GYYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”
Hantu berambut panjang dan berbaju putih tepat di belakang ku. Dalam jarak yang snagat dekat. Aku memandang kedepan untuk berlindung pada Dong Hae. Tapi, ternyata Dong Hae sudah tidak ada.
Aku sangat sangat ketakutan. Aku sendiri disini bersamah hantu-hantu ini. Kenapa sekolahku snediri bisa menakutkan begini!??
Tiba-tiba saat aku memandang, seluruh sekolah tampak sangat using, tua, gelap, hita, seperti telah dibiarkan bertahun-tahun.
Aku segera berlari. Menuju ke tempat parkir. Di tempat parker terlihat banyak sekali hantu yang tidak jelas bentuknya. Aku menangis. Ilusi macam apa ini!? Kenapa sekolahku seperti ini!? Eomma tolong aku!
Aku berlari menuju gerbang. Ternyata motor sudah ada didekat gerbang. Tanpa ragu-ragu, ku rogoh kunci motor di kantong dan tarik gas. Aku memandang kebelakang. Tampak banyak sekali yang mengejarku. Aku mencoba menarik gas lebih kencang. Tapi, gerbang terasa sangat jauh. Tapi, tetap ku gas motor matic ku sekuat tenaga.
Pintu gerbang sudah dekat. Tiba-tiba mulai tertutup sendiri. Kugas motorku sekuat tenaga. Dalam ruang batas yang sempit aku berhasil keluar dari sekolahku. Segera ku gas motor ku sekencangnya menuju rumahku. hari sudah malam. Aku tak percaya apa yang kualami ini.
Sesampainya dirumah, aku segera memeluk eomma ku.
“eomma!” seruku sambil terisak-isak. “sekolahku…”
“Si Hyuk. Kamu belum tahu…?”
“kenapa Eomma?” tanyaku bingung. eommaku bangkit berdiri. Ia menyerahkanku sebuah Koran yang diambilnya dari atas meja.
“KEANEHAN TERBESAR SMA PYONSEUK! MURID-MURID MULAI MENGHILANG”
Kubaca berita utama Koran harian minggu lalu ini. murid-murid ditemukan tewas satu persatu dengan alas an yang tidak jelas. Semua mayat selalu di temukan di ruang rapat SMA PyoSeuk. Murid-murid yang lain merasa takut dan mulai pindah. Sekolah mengalami kerugian dan sekolah di tinggalkan begitu saja. Berita terbaru, seorang siswi ditemukan di ruang rapat sudah sekarat, Kim Si Hyuk.
“A.. apa!?” aku tercengang.
“makanya..” ujar ibuku.
“eomma.. aku lupa dengan kejadian ini..” aku memeluk eommaku.

“sudah nak… pemakaman mu sudah diurus..”
THE END

Feel the Marsmallow

Posted: April 1, 2011 in general
Tags: , , ,

Author : GAA Tiffany a.k.a Kang Myung Dae

CAST:

Diiryeo”woon a.k.a Lee Hyun Jee

Son Dong Woon –B2ST

Kim Ryeo Wook ¬¬ –SUPER JUNIOR

*************

“Letnan Kim! Apa yang terjadi!!?”

“kapal selam kami menabrak terumbu karang dan sepertinya masuk kedalam sebuah lubang!!” terdengar suara dari alat komunikasi.

“jangan-jangan memasuki lubang terlarang!?”

“Sepertinya begitu. Kami membutuhkan bantuan sekarang! Oksigen sudah mulai berkurang dan air mulai memasuki kapal!”

“baiklah.” Orang itu mengakhiri komunikasi. Ia segera menugaskan beberapa orang untuk menyelamatkan kapal selam tersebut.

“Letnan Kim, perkiraan berapa lama oksigen dapat bertahan?” ia menyambung komunikasi.

“Sepertinya bisa 30 menit.”

“Baiklah.”

“Sebentar, kami telah menemukan dimana letak rudal yang jatuh itu! Ternyata ia memang jatuh di lubang ini!” ujar orang diseberang.

“benarkah!? Tapi kami akan menyelamatkan kapal selam kalian terlebih dahulu.”

“baiklah.”

“Kapal selam bantuan sudah menuju kesana. Bertahanlah kalian disana.”

“ya, pak…” tiba-tiba terdengar bunyi yang tidak jelas.

“Letnan Kim, ada apa!!?”

“Gawat, kapal kami makin tergelincir!”

“Bertahanlah!”

“Waa~ Waa~” bunyi tergelincir mulai lagi. Orang diseberang terdengar ribut.

“Letnan Kim!? Apa yang……!??”

“BUUUMMMMMM!!!!!~”

“ttssssssskkkkkk…~” komunikasi terputus.

*************
Aku Lee Hyun Ji, seorang wanita berumur 25 tahun yang menjabat disebuah rumah sakit besar sebagai seorang dokter internis. aku menjalin hubungan dengan seorang letnan angkatan laut bernama Kim Ryeo Wook. Aku mengenalnya sejak masih kuliah. Dia adalah adik dari salah seorang temanku. Saat itu dia sedang terburu-buru menuju kantornya setelah mengantar temanku ke kampus. Saking terburu-burunya dia, motor yang ia kendarai menyerempet sepeda yang kunaiki menuju kampus. Jadinya aku harus masuk ke rumah sakit selama 3 hari. Tapi, karena itulah aku bisa mengenal dia.. Kami menjadi akrab dan akhirnya kami bisa berpacaran hingga akan segera menikah sekarang.

Mengingat kenangan indah itu, sekarang aku akan segera menikah dengannya. Tepatnya 3 hari lagi. Akhirnya, hal yang sangat kutunggu-tunggu akan tiba juga. Persiapan pernikahan sudah disiapkan. Keluarga ku dan keluarganya sudah mempersiapkan nya sejak lama. Aku juga sempat ikut membantu. Sekarang, diruang kamar ku ini, aku sedang mencoba gaun pengantinku. Gaun yang begitu indah, gaun putih yang bersih dengan kemilau hiasan mutiara-mutiaranya. Aku jatuh cinta dengan gaun ini. aku memandang diriku didepan cermin panjang sehingga aku bisa melihat keseluruhan tubuhku. Aku tampak begitu indah memakai gaun ini. rasanya aku tak ingin melepas gaun itu. Disaat aku sedang asyik berlenggak-lenggok didepan cermin, tak sadar ibu ku telah masuk kekamarku. Dia tersenyum melihat tingkahku.

“i.. ibu!” aku merasa malu dilihat ibuku.

“wah, kamu cantik sekali memakai gaun ini.” ujar ibuku. Ia mendatangiku.

“benarkah?” aku tersenyum. Ibu ku meraih gaunku.

“ya, kamu pasti akan menjadi pengantin tercantik.” Ujar ibu.

“ah, ibu ada-ada aja.”

“dia pasti akan sangat senang melihat mu.”

“tentu saja.”

“jadi, Ryeo Wook akan pulang besok?” Tanya ibu.

“katanya, kalau tidak besok, mungkin lusa. Begitu yang ia katakan padaku.” Jelasku pada ibu.

“dia sedang tugas apa, sih?”

“katanya, ia ada tugas di perairan dengan kapal selam. Tapi tak tahu tugas apa.” Jawabku lagi.

“mudah-mudahan saja dia selamat.” Ujar ibu.

“tentu saja. Ia sudah janji saat sebelum pergi.” Ujarku mantap.

Tiba-tiba terdengar telepon berdering dari ruang keluarga.

“Ibu keluar mengangkat telepon dulu, ya. Mungkin itu ayahmu. dia selalu sibuk mengurus pernikahanmu.” Ibu keluar agak terburu-buru.

Aku tersenyum. Ayahku memang terlihat paling sibuk mengurus pernikahanku. Dia sangat setuju aku menikah dengan Ryeo Wook yang letnan itu. Hari ini ia sedang pergi mengambil pesanan undangan.

“Hyun ji!” panggil ibu dari luar. Tanpa melepas baju pengantin, aku keluar dari kamar.

“Ada apa, bu?” tanyaku.

“aduh, kenapa baju pengantinnya tidak dilepas dulu!?” ketus ibuku.

“iya, nanti aku lepas. Ada apa sih?”

“ini, ada telepon untukmu.” Ibu menyerahkan telepon padaku.

“ingat, habis nelpon langsung dilepas bajunya supaya tidak kotor.” Ujar ibuku lagi.

“iya.. iya..”

“Yoboseyo…” aku menyapa orang ditelepon.

“Yoboseyo? Dengan istrinya letnan Kim?” Tanya orang diseberang.

“Ya, Lebih tepatnya, calon istri.” Jawabku.

“Ya, maksud saya seperi itu..”

“ada apa?” tanyaku.

“Letnan Kim..” tiba-tiba orang itu berbicara dengan nada lebih rendah.

“Kenapa dengan dia?” tanyaku sedikit bingung.

“maafkan saya memberitahukan hal ini kepada anda..”

“Kenapa!?” aku berbicara dengan nada penasaran sekaligus khawatir.

“Dia meninggal…”

Deg! Tiba-tiba hati ku tersentak. Apa yang ia bilang?? Meninggal.? Candaan apa ini?

“Me.. ninggal…??”

“maafkan saya.. tap…”

“Anda pasti bercanda. Ryeo Wook, itu pasti kamu. Tolong jangan buat aku khawatir.” Ujarku tak percaya.

“Maaf nyonya, Letnan Kim memang telah meninggal dalam misinya.”

“APAAAA!!!!???~” pekikku. Aku menjatuhkan telepon. Air mata mulai mengaburkan pandanganku hingga tak terbendung lagi dan jatuh membasahi pipiku.

“Hyun Ji! Ada apa?” ibu segera datang setelah mendengarku berteriak.

“Kamu kenapa Hyun Ji?” ibu memelukku.

Aku hanya bisa menangis keras. Ibu ku meraih gagang telepon.

“sudah di tutup.” Ujar ibu lalu meletakkan telepon.

“ibu…” aku memeluk ibuku.

“ada apa!?” Tanya ibu dengan muka khawatir melihatku menangis terisak-isak.

“Ryeo Wook… hikss..” ujarku sambil menangis.

“Kenapa dengan dia?” Tanya ibuku penasaran.

“Dia meninggal…..”

***
3 hari berlalu. Hari dimana seharusnya aku dan Ryeo Wook sedang mengucap janji pernikahan harus berubah menjadi sebuah acara yang paling menyedihkan.
Aku tak bisa melihat dirinya untuk yang terakhir kalinya. Biarpun tidak melihatnya selagi hidup, tapi aku ingin melihat dia, tersenyum padanya yang dalam keadaan yang tertidur. Tertidur untuk selamanya. Tapi yang kulihat ini, hanyalah makam kosong. Makam yang dalamnya tidak ada apa-apa.

Kenapa ini harus terjadi? Kenapa dia harus pergi disaat hari yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi kami? Kenapa Tuhan begitu tega mengambil dia dariku?
Kalau seperti ini…
kami tak akan pernah mengucap janji bersamanya…
menjadi sepasang suami istri…
menjadi ayah dan ibu yang pertama kalinya..
kami tak akan pernah…
untuk selamanya…

“Ah!!~ Ryeo Wook!!!” aku berteriak sekeras mungkin. Air mataku terus menetes. Mataku sampai terasa pedih.

“Hyun Ji… ayo pulang.” Ibu ku datang. Ia membelai rambutku yang basah karena keringat.

“Tidak mau, bu. Biarkan aku disini. Aku bisa pulang sendiri.”

“tapi nak…” tiba-tiba ibuku berhenti bicara. “baiklah kalau begitu..” lanjutnya.
Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ia berubah pikiran seperti itu. Aku tak mau memikirkan itu. Aku hanya ingin memandang makam ini. makam milik calon suamiku, Kim Ryeo Wook.

“Makam itu..” seseorang berkata padaku dari belakang. Suara yang tidak kukenal sebelumnya. Suara laki-laki yang lebih berat dari suara Ryeo Wook. Aku menoleh. Seorang laki-laki tinggi, cakep, dan tampak lebih muda menghampiriku. Ia mengenakan jas rapi. Ia ikut jongkok disebelahku. Ia memberikanku setangkai bunga.

“Apa ini?” tanyaku.

“taruh lah diatas makamnya.” Ujarnya.
Aku meletakkan bunga itu diatas makam Ryeo Wook.
Tiba-tiba air mataku mengucur lagi. Mengingat kepergian dia dengan cara yang tidak menyenangkan ini.

“Aku turut bersedih atas kepergian letnan Kim.” Ujarnya.

“a.. apa dia mengenalmu?” tanyaku yang juga tidak mengenal dia.

“ya, dia pimpinan kami di angkatan laut.” Jawabnya.

“Jadi, kamu juga marinir?” tanyaku.

“Ya.”

“Letnan Kim sosok yang baik hati tapi sangat tegas dan bertanggung jawab. Aku sangat menyukai dia.” Sambungnya mengungkapkan.

“Hiks..” air mata masih belum mau berhenti. Sekali lagi mengucur dengan deras. Mataku bengkak. Air mataku tidak dapat berhenti. Aku tidak bisa melupakan nya.

“Anda tidak apa-apa?” Tanya orang itu.

Aku hanya diam. Tidak menjawab pertanyaannya.

“makanlah ini.” ujarnya. Aku menoleh. Ia menawarkan sebuah permen ditangannya.

“permen apa itu?” tanyaku.

“ini, permen marsmallow. Ambillah.”

“tidak usah, terima kasih.”

“ambillah. Aku yakin permen ini akan mengurangi sedikit kesedihanmu.” Ujarnya.

Bukannya percaya dengan ia katakan tapi aku hanya mengambil permen itu. Aku membuka bungkusnya dan mengunyah permen itu. Lembut di mulut.

“rasanya manis dan lembut, kan?” tanyanya. Aku mengangguk.

“rasa lembut permen ini membuat kita merasa nyaman dan melupakan kesedihan kita. Rasa manisnya memberi kita semangat agar kita dapat tetap menjalani hari-hari kita dengan baik. Coba pejamkan matamu, dan rasakanlah itu.” Jelasnya.

Aku hanya melakukan apa yang ia bilang. Menghayati permen ini baik-baik dalam mulutku. Mencoba merasakan seperti yang ia rasakan.

Ya, sepertinya yang ia bilang ada benarnya. Rasa lembutnya nyaman. Aku jadi sedikit tenang. Rasa manisnya seperti mengubah ekspresi wajahku dengan sendirinya. Aku tak menangis lagi. Aku tak berwajah murung lagi. Tapi juga tidak tersenyum. Setidaknya aku sudah tidak sedih berat seperti tadi, meski ada sedikit rasa sakit didadaku yang tak dapat diungkapkan, tapi entah mengapa, saat ini dapat tertahankan.

“bagaimana? Betul, kan?” tanyanya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk.

“kalau kamu mau, aku masih punya banyak.” Ujarnya seraya merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan beberapa buah permen marsmallow dan menyerahkannya ke tanganku.

“a…” aku berniat menolak.

“emutlah satu bila kamu merasa emosi tak dapat diberhentikan. Dan rasakanlah ketenangan yang diberikan padamu dari permen ini.” jelasnya.

Aku memegang permen-permen itu. Jumlahnya ada 5 buah.

“apa sebaiknya, kita tidak segera pulang?” tanyanya. “ hari sudah mulai sore.”

Aku berpikir mungkin aku lebih baik pulang sekarang. Aku memandang makam Ryeo Wook. Melihat ukiran namanya disitu. Dalam hati kuucap, selamat tinggal, Chagi.

“Baiklah.” Ujarku.

“kamu naik apa? Aku melihat ibumu sudah pergi tadi.” Ujarnya.

“aku bisa naik bus.” Jawabku.

“tapi, kamu masih harus jalan sekitar 100 meter kedepan untuk mendapat jalan raya. Belum lagi kamu harus jalan jauh mencari halte bus.” Ujarnya.

“ya…” aku tak tahu harus berkata apa. Memang betul yang ia katakan.

“bagaimana kalau ku antar? Aku bawa motor.” Ujarnya.

“baiklah. Terima kasih.”

Aku dan dia boncengan menaiki sepeda motor vespanya. Menempuh setiap jalan-jalan kota. Di perjalanan kami tidak mengobrol. Aku memikirkan tentang Ryeo Wook.

Aku mengingat saat ia memboncengku menuju tempat kuliah disaat hari ulangan kenaikan. Kami sangat terburu-buru waktu itu. Ia mendapat panggilan tugas di tempatnya, sedang aku buru-buru menuju kampus. Ban sepedaku kempes jadi dia menawarkan boncengan motornya padaku. Menempuh jalan-jalan kota. Rambutku yang panjang mengambang diudara diterpa angin. Melihat raut mukanya yang sangat serius dari kaca spion motor. Raut wajahnya yang lucu bagiku, tak terlupakan. Benar-benar tak terlupakan.

Tak terasa, air mata jatuh lagi. Jatuh lagi… hati yang semula tenang menjadi buyar. Membayangkan apa yang terjadi padanya. Pada Ryeo Wook ku. Ini terlalu cepat. Aku belum siap menerima semua ini..

“Ufffttt” aku menarik ingusku kedalam.

“Anda menangis?” tanyanya.

“ah.. ah.. tidak.” Jawabku bohong lalu segera menghapus air mataku.

“bertenanglah…”

Huh. Dia hanya bisa berkata seperti yang oranglain katakan padaku. Tak bisa kah ia berkata selain bertenanglah atau kata-kata seperti itu?

“menangisi yang sudah pergi sama saja kita menyerah. Kita hanya mau menjalani yang sudah berlalu berarti pikiran kita akan tetap berada di masa lalu, tidak akan maju. Seharusnya kita menerima nya. Karena kita harus bergerak maju kedepan. Menjadi seseorang yang lebih dewasa.” Nasehatnya.

Aku terdiam. Betul juga yang ia katakan. Tapi, apa begitu mudah aku harus melupakan Ryeo Wook? Ryeo Wook yang selama ini memberikan kehangatan padaku. Ryeo Wook yang selama ini mengisi hari-hariku dengan senyum dan tawanya. Menatap setiap ekspresi wajahnya, yang membuatku semangat menjalani kuliahku.

“tapi, tak salah bukan, kalau kita menangis?”

“betul, menangis menunjukkan kita ini normal. Menunjukkan perasaan sedih kita. Tapi jangan biarkan kesedihan menguasai pikiranmu dan membodohimu.” Jelasnya. Aku hanya mengangguk.

“Makanya kubilang, emutlah permen yang kuberikan itu setiap kali kamu merasa emosimu tidak dapat terkontrol.” Lanjutnya.

Aku tertawa kecil mendengar yang ia katakan.

“kamu tertawa?” tanyanya.

“ti.. tidak!”

“tidak apa-apa. Berarti kamu sudah tidak sedih lagi, bukan?” ujarnya.

“ya, begitulah.”

“ye~ aku berhasil menenangkanmu!” serunya.

“hah?” aku bingung.

“aku tidak suka melihat orang bersedih. Apalagi melihat seorang perempuan bersedih. Aku merasa… eh.. “

“merasa apa?”

“Ya~ aku merasa tidak tega..”

“benarkah?”

“ya. Aku merasa ingin menyenangkan nya. Menghibur nya. Selama ini, aku selalu membantu teman-temanku bila merasa sedih.”

“kamu baik sekali.”

“ya, bukannya pamer. Tapi, seperti yang kubilang, aku hanya.. tidak tega. Percayalah.”

“iya.. iya.. aku percaya.”

Akhirnya aku tiba didepan rumahku. Ia tampak mengamati rumahku. Rumahku yang tidak terlalu besar.
“rumahmu bagus sekali.” Ujarnya.

“terima kasih.”

“oh iya, kita belum berkenalan.” Ujarnya. “saya Son Dong Woon.”

“saya.. Lee Hyun Ji.” Ujarku.

“hmm, Lee Hyun Ji-nuna.. kalau begitu saya pulang ya.” Ujarnya.

“Ya, terima kasih sudah mengantarku.”

“Annyeong Haseyo.”

“Ne.. Annyeong Haseyo.”

Dia menyalakan motornya dan segera pergi meninggalkanku didepan rumah. Aku memandang dia sebentar dari belakangnya. Ternyata, aku bisa menjadi akrab dengan orang asing hanya dalam beberapa saat.
Melangkahkan kakiku kedalam rumah perlahan-lahan. Tanpa berbasa-basi aku langsung masuk ke dalam kamarku. Ku baringkan diriku dikasur. Kulihat gaunku yang masih tergantung rapi.
Kapan aku bisa memakainya? Memakainya disaat aku menikah.. kapan?
Aku tak mungkin melakukan ini dengan orang lain selain Ryeo Wook. Aku tak mau mengkhianati dia. Dia pasti akan merasa sedih.
Dia pasti akan merasa sedih… Ryeo Wook..
Tuhan. Apa ini ujian berat yang kau berikan padaku? Bagaimanakah aku bisa melewatinya? Bagaimana aku bisa tersenyum lagi? Sedangkan Ryeo Wookku sudah tidak ada. Apa dengan aku tersenyum, ia akan tersenyum juga?
Kubayangkan Ryeo Wook. Senyumnya yang begitu ikhlas. Senyumnya yang menemaniku setiap hari. Dia yang selalu menanyakan kabarku. Dia yang selalu ada untukku disaat aku senang ataupun sedih.. tapi kenapa, ia malah membuatku sedih tak tertahankan seperti ini??

“menangisi yang sudah pergi sama saja kita menyerah. Kita hanya mau menjalani yang sudah berlalu berarti pikiran kita akan tetap berada di masa lalu, tidak akan maju. Seharusnya kita menerima nya. Karena kita harus bergerak maju kedepan. Menjadi seseorang yang lebih dewasa.”

Ah, kenapa perkataan Dong Woon itu terngiang dikepalaku?
Tapi betul juga sih… aku memang tidak boleh menangisi apa yang sudah terlanjur terjadi. Dia betul, aku harus menerimanya dan tetap melangkah kedepan. Tapi.. kejanggalan dihati ini menambatkan semangatku untuk maju. Aku tak bisa tanpa Ryeo… tak bisa…

***

Seminggu sejak kejadian itu. Aku belum bisa melupakan Ryeo Wook. Setiap kenangan bersama kami selalu terngiang di pikiranku. Setiap senyum yang dia ungkapkan kepadaku. Tak terasa, kebersamaan kami berakhir.

“annyeong haseyo.” Seseorang menyapaku yang sedang menikmati kopi. Malam ini hujan. Aku tidak bisa pulang kerumah dari rumah sakit karena hujan turun deras diluar. Jadi aku singgah di kafe kecil ini untuk menghangatkan tubuhku yang merasa dingin ini.
“Dong Woon?”
“Ne, ini aku..” ujarnya. Ia duduk di kursi di depan ku. Ia kehujanan. Bajunya agak basah. Rambutnya juga basah dan airnya menetes-netes.
“aku punya handuk..” ujarku beriniat menawarkan.
“boleh aku pinjam?” tanyanya.
“Tentu saja.” Jawabku. Aku merogoh tasku yang berukuran agak besar dan mengambil selembar handuk kecil dan memberikannya pada Dong Woon.
“Terima kasih.” Ujarnya. “Bisa kupakai untuk mengelap rambut?” tanyanya lagi.
“Silahkan.”
Aku mengamati dia yang asik mengelap leher, rambut, wajah, dan tangannya yang basah.
“bisa ku bawa pulang? Aku akan mencucinya.”
“iya.” Jawabku singkat.
“hmm, jadi kamu juga tidak bisa pulang?” tanyanya seraya memasukkan handukku kedalam tas gendong yang ia pakai.
“ya..”
“aku juga ingin memesan minuman.” Ujarnya. ia memanggil pelayan untuk memesan minuman.
“kamu dari mana?” tanyaku.
“tadi kami ada latihan rutin..”
“kami?” aku bingung.
“ya.. maksudku aku dan teman-teman marinirku…”
“ohh…”
Dia merogoh sesuatu dari kantongnya. Ternyata itu permen marsmallow seperti yang ia berikan padaku. Ia membuka bungkusnya dan memakan permen itu.
“kamu mau?” tanyanya.
“ah, tidak. Punyaku masih ada.” Ujarku menolak.
“benarkah? Kalau aku, 10 bungkus permen bisa habis tidak sampai sehari..”
Aku tersenyum.
“anda manis sekali kalau tersenyum.” Ujarnya. “sungguh. Anda lebih baik tersenyum seperti ini terus.” Ujarnya lagi.

“anda lebih baik tersenyum seperti ini terus.” Aku mendengar yang ia katakan. Aku jadi ingat, kalimat seperti ini pernah dikatakan oleh… Ryeo Wook.

:: Flashback ::

“Oppa! Aku lulus ujian!” seruku sambil mendatanginya yang menunggu di gerbang kampus.
“hebat!” serunya.
“dan kamu tahu?”
“apa?”
“nilai ku semuanya A !” jawabku.
“wah! Aku bahkan sangat jarang mendapat nilai A kalau ujian.”
“oppa kan babo! Haha~” candaku.
“enak saja!”ia mencubit pipiku.
“aw~ ampun oppa!”
“saat akan menghadapi ujian, kamu terus bermuka masam.” Ujar Ryeo Oppa.
“Habisnya.. aku harus sungguh-sungguh belajar.”
“jadi, wajah seriusmu seperti itu??”
“memangnya kenapa?”
“aku lebih menyukai kamu yang ceria. Kamu lebih baik tersenyum.”
“benarkah, oppa?”
“ya, menurutku kamu lebih baik tersenyum seperti ini terus..”

:: End of flashback ::

“kamu kenapa?” tiba-tiba Dong Woon bertanya membuyarkan khayalanku.
“ah, aku tidak apa-apa.”
“kenapa mata mu berkaca-kaca? kamu menangis?” tanyanya.
“tidak.” Jawabku. “maaf, aku pergi duluan..” aku segera bangkit dan mulai melangkah menuju pintu keluar. Bodoh, kenapa air mataku harus keluar lagi!?
“Tunggu!” seru Dong Woon. Ia mengejarku sampai keluar. Hujan sudah tidak deras lagi. Hanya berupa titik-titik hujan.
“Nuna!” Dong Woon memegang pundakku. Ia membalikkan badanku.
“kamu menangis lagi!?” tanyanya. Aku hanya diam.
“sudahlah.” Ia mengelap air mataku dengan tangannya. Aku hanya menatapnya. Kenapa ia baik sekali kepadaku?
“ini.” ia memberi ku sebungkus permen marsmallow. Aku menerimanya. Ku buka bungkusnya dan kumasukkan dalam mulutku.
“sudah baikkan?” tanyanya.
“huhu~” aku tertawa kecil.
“kamu tertawa?”
“huhuhu~ kamu…”
“aku?” tanyanya bingung.
“kamu memberi permen ini, seolah ini adalah suplemen penghilang rasa sakit.”
“memang seperti itu gunanya, bukan?” tanyanya.
Aku tersenyum. “Ya, terima kasih.”
”jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada permen ini. ia yang telah menolongmu.”
“ya, betul juga. Terima kasih.” Ujarku.
“kamu sudah mau pulang?” tanyanya.
“ya..”
“kamu naik apa?” tanyanya.
“aku bawa mobil..” Ujarku.
“oh, begitu. Kalau begitu, berhati-hatilah dijalan.”
“Ne, terima kasih. Sampai jumpa.”
Kami berpisah malam ini. Aku segera masuk dan menyalakan mobilku. ia melambaikan tangannya. Aku tersenyum dan segera meninggalkannya disitu.

Di jalan, aku terus memikirkan kejadian tadi. Kenapa air mataku keluar lagi tadi? Aku merasa malu menangis seperti orang bodoh begini didepan dia. Tapi, kenapa ia selalu mengingatkan ku pada Ryeo? Tingkahnya, perkataannya selalu membuatku ingat akan Ryeo. Dia sengaja berniat menenangkanku atau dia memang orang yang humoris seperti itu? Dia membuatku tersenyum. perkataannya yang kadang bercanda, kadang serius, sungguh menarik.

“anda manis sekali kalau tersenyum.”
Ah, kenapa kalimat itu terngiang di kepalaku? Manis? Hmmpphh..~

:: Esok harinya ::

Malam harinya saat akan pulang ke rumah dari tempat praktek. Ternyata aku sudah ditunggu oleh Dong Woon.

“Dong Woon..?” tanyaku.

“Ya.”

“darimana kamu tahu….”

“aku mencari tahu tempat praktekmu..”

“ada apa?”

“begini.. besok aku akan pergi berlayar.”

“benarkah?”

“ya, ini tugas pertamaku dan aku masih merasa tidak enak. ” ujarnya.

Aku ingat saat Ryeo Wook berkata seperti ini.

“Dong Woon…” ujarku. “kurasa ini hal yang lazim di alami seorang marinir dalam tugas pertamanya. Aku yakin kamu bisa melewatinya.”

“hhmmm…”

“aku ingat…”

“apa?”

“hal seperti ini pernah di alami Ryeo.”

“Letnan Kim?”

“ya, dia juga mengalaminya.”

“Nuna..” ujar Dong Woon.

“Ya?”

“kamu tidak menangis lagi?”

“sepertinya begitu.”

“ya, anda memang tidak menangis.. lagi…”

“benarkah?” ujarku. Aku memang tidak menangis. Untuk pertama kalinya aku bisa melepas kepergian Ryeo Wook.

Ia tersenyum padaku.

“terima kasih..” ujarku padanya.

“kenapa?”

“aku tahu, ini berkat kamu. Kalau tidak, aku akan terus murung dan menyendiri.”

“ya, itu karena aku di bantu oleh rekanku, permen marsmallow..”

“huhu~”
Aku tertawa kecil. Dia tersenyum padaku.

“Nuna..” ujar Dong Woon. “aku menyukai mu…”

“hah?” aku kaget ia tiba-tiba berkata begitu.

“pasti kamu belum bisa betul-betul melupakan Letnan Kim. Tapi, aku akan selalu ada untuk mu. Karena aku telah menyukaimu.” Ujarnya.

Aku terdiam. Kami saling bertatapan.

“aku ingin kamu menyimpan ini..” ia menyodorkan selembar kertas kecil. Disitu tertera sebuah nomor telepon.

“ini..?”

“itu nomor hapeku.” Ujarnya.

“akan kusimpan..”

“terima kasih.” Ujarnya. “aku harus pergi sekarang. Aku tak punya waktu banyak.”

“Dong Woon..” panggilku.

“hmm?”

“hati-hati…” ujarku.

Kami berpisah malam itu.
Dirumah, aku belum bisa melupakan Dong Woon. Dong Woon yang menyukaiku. Apakah ia akan selalu ada untukku? Aku tak ingin kehilangan lagi. Kupandangi nomor hapenya sudah kusalin di hapeku. Untuk apa ia memberiku ini? apa aku bisa menelponnya?
Aku mencoba menelponnya.
“ttuutt. Tuuutt…”

Aku mematikan sambungan telepon. Aku merasa malu. Aku bodoh sekali menelponnya sekarang. Mungkin saja ia sedang sibuk sekarang.

Tiba-tiba sebuah SMS masuk.

“Nuna, apa itu kamu? Balas.”
Aku membalas SMS nya.

“Ne, ini aku. Maafkan aku menelpon selarut ini.”

“Tidak apa-apa. Aku masih belum tidur.”

“aku akan segera tidur.” Balasku di SMS

“selamat malam.”

Esok hari nya ketika sedang di rumah sakit, aku menerima sebuah SMS. SMS lagi dari Dong Woon.

“Aku sedang ada di kapal untuk pertama kalinya. Aku senang sekali!!”

Beberapa menit kemudian datang SMS yang juga darinya.

“Kuharap SMS ini bisa tiba. Karena sepertinya sinyal telepon mulai hilang. Aku ingin menelponmu.”

Aku tersenyum. Kuharap ia baik-baik saja.
***

“Chagi..” seseorang memanggilku dari belakang. Entah kenapa kusadari aku sedang berada disebuah padang bunga yang sangat indah.

“Oppa!?” kusadari ternyata itu Ryeo Oppa yang memanggilku. Aku berlari kepadanya. Memeluknya. Ku hirup aroma tubuhnya yang sangat kukenal itu.

“Oppa, aku kangen sekali padamu…”

“Chagi, kamu tambah kurus..” ujar Ryeo Wook oppa. Ia menatapku. Tatapan matanya yang terlihat sendu. Dia membelai rambutku.

“Oppa…”

“dia…” ujar Ryeo Wook oppa lagi. Ia tersenyum.

“dia? Siapa?” tanyaku bingung. Tiba-tiba kusadari Ryeo Wook oppa bergerak mundur seperti di tarik angin. Makin lama, makin jauh meninggalkanku.

“Oppa!” “Oppa!” “Tunggu!”

Aku berusaha mengejarnya. Ia malah makin menjauh. Di kejauhan, tetap tersenyum tiba-tiba menghilang.

“Oppa!!!”
tiba-tiba aku tersadar. Aku sedang berada di tempat tidurku. Ternyata tadi itu hanya mimpi. Tapi kusadari, air mata sudah membasahi wajahku. Segera ku hapus air mataku dengan selimut yang kukenakan.

Matahari sudah bersinar. Aku segera bangkit dari tempat tidur. Kubuka jendela kamar biar cahaya bisa masuk.

Di rumah sakit, di ruanganku, aku berpikir. Dalam mimpiku aku melihat Ryeo. Dia tersenyum begitu manis. Senyum yang begitu ikhlas, senyum tanpa beban. Senyum yang sangat aku rindukan.

“dia…”

Aku teringat yang Ryeo Oppa katakan. Siapakah yang dia maksud dengan “dia”? apakah itu… Dong Woon? Dong Woon?? Kalau memang dia, apa maksudnya Ryeo Oppa berkata seperti itu?

Dong Woon… sudah 3 hari ia belum kembali dari laut. Kuharap ia baik-baik saja.

“Tttrrrttt… tttrrrrttt….” Hapeku bergetar. Sebuah SMS masuk. Dari Dong Woon.

“Annyeong haseyo, Nuna. Aku merindukanmu. Aku sudah kembali hari ini dan aku ingin menemuimu.”

“Annyeong haseyo. Kamu ingin bertemu denganku?dimana?”

“Ne, bagaimana kalau di kafe yang kemarin dulu?”

“baiklah. Bagaimana kalau siang nanti?”

“ok. Sampai jumpa.”

Siangnya aku segera pergi kafe yang kudatangi kemarin. Disitu ada Dong Woon. Duduk di sudut. Masih mengenakan seragam marinirnya.

“aku kembali tadi pagi.” Ujarnya.

“oh ya? Apa yang kalian lakukan?” tanyaku.

“tim kami ditugaskan memata-matai kapal dari Korea Utara.” Ujarnya.

“kalian bertempur?” tanyaku.

“belum. tapi akan…” ujarnya.

Kami terdiam. Aku menatapnya. Sepertinya ia sedang menyimpan sebuah rahasia.
“Dong Woon? Kamu kenapa?” tanyaku.

“Nuna, maaf.” Ujarnya.

“Kenapa?”

“ini..” ia menyerahkan sesuatu. Sebuah untaian kalung dengan buahnya.

“ini, kalung yang wajib di pakai oleh marinir. Dan ini..”

“ini..?”

“milik Letnan Kim. Saat kami pulang, kami menemukan patahan-patahan kapal selam yang waktu itu meledak.”

“dari mana kamu tahu ini punya nya?”

“dari jaket….” Jawabnya.

Aku memandang kalung itu. Tampak usang. Tulisannya sudah tidak kelihatan lagi. Aku meremas kalung itu. Aku senang sekali. Setidaknya masih ada kenang-kenangan dari Ryeo Oppa.

“Terima Kasih Dong Woon..” aku tersenyum.

Dia tersenyum. Kami bertatapan. Ia memegang tanganku. Tangan yang lebih besar dariku. Seperti tangan Ryeo. Aku merasa sangat nyaman. Sangat tenang.

“Nuna, tolong ikut aku.” Ujarnya tiba-tiba.

“kemana?”

“aku akan mengajakmu kesuatu tempat. Tempat yang sangat indah. Tempat yang belum pernah kamu kunjungi sebelumnya.” Jelasnya.

Kami pergi menaiki motor vespanya. Melewati jalan-jalan, keluar dari daerah perkotaan yang padat, kami menuju ke arah pantai. Kami tiba di sebuah bukit yang indah.

Aku turun dari motor. Aku melihat sebuah padang yang tampak indah. Berwarna-warni. Aku berlari mendekat. Aku seperti tahu tempat ini sebelumnya.

“dejavu?”

“bagaimana? Indah, bukan?” ujar Dong Woon.

“aku… sepertinya pernah kesini..”
“benarkah? ah, berarti aku salah. Kupikir kamu belum tahu tempat ini.” ujarnya.

“tidak, maksudku.. aku tidak tahu tempat ini.. tapi rasanya pernah kesini..” ujarku padanya. Kulihat dia yang tampak bingung.

“aku pernah melihat ini.. dalam mimpiku..” ujarku lagi.

“dalam mimpi?”

“ya, aku bermimpi bertemu Ryeo Wook disini.” Jawabku.

“Nuna..” tiba-tiba Dong Woon memelukku.

“Dong.. Woon…?” aku kaget.

“Nuna, bisakah aku menggantikan dia?” tanyanya. Dia menatapku.

Aku memandang wajah Dong Woon. Aku merasa nyaman bersamanya. Ia selalu membuatku bahagia. Aku menginginkannya. Tapi, apa bisa aku berbuat seperti ini? meninggalkan Ryeo Wook Oppa. Bisakah aku berbuat begini sementara ia tidak ada disini? Apa kah ia tahu?

“dia…”

Aku mendengar kembali kalimat yang diucapkan Ryeo Oppa dalam mimpi. Aku ingat ia tersenyum saat mengatakan itu. Oppa, apakah ini berarti aku bisa memiliki Dong Woon?

“Nuna.. saranghae…” ujar Dong Woon.

Air mataku menetes. Kalimat yang ia ucapkan. Terdengar sangat lembut di telingaku. Seperti angin sepoi-sepoi.

“Dong Woon…” panggilku. Aku mengangguk. Mengisyaratkan aku menerima cintanya. Hatiku telah terbuka untuknya. Dan ini hanya untuk Dong Woon.

“Saranghae…” bisikku.

Dia menatapku. dia tersenyum. Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Dia menciumku. Ciuman yang begitu nyaman. Aku merasa tenang. Aku merasa tenang bersamanya.

“Nuna, aku menemukan tempat ini saat aku sedang di kapal. Dari kejauhan aku melihat tempat ini.”

“benarkah?”

“ya, aku melihatnya dari arah sana.” Ia menunjuk kearah laut.

“indah sekali pemandangan dari sini.” ujarku.

“semua orang pasti akan sangat menyukai tempat ini. tapi tempat ini, ku spesialkan hanya kamu yang kuberitahu..” ujarnya.

Aku tersenyum padanya. Dia memetik sebatang bunga. Entah bunga apa namanya itu. tapi bunga itu begitu indah.

“bunga ini cantik.. seperti dirimu..” ujar Dong Woon. Ia memakaikannya di dekat telingaku.

Kami berpegangan tangan. Menatap indahnya pemandangan disini. di depan kami ada laut yang berkilauan seperti untaian mutiara. Di belakang kami ada lautan bunga yang begitu indah nya. Dong Woon benar-benar orang yang sangat romantis.

***
“Nuna, kamu tertidur!?” tiba-tiba Dong Woon membangunkanku.

“Filmnya sudah selesai?” tanyaku. Aku mengusap-usap mataku.

Malam ini kami pergi menonton movie di bioskop. Sialnya, aku malah ketiduran. Selalu saja begini.

“Iya, ayo kita pulang.”

Aku membereskan dandananku. Mengatur rambutku yang acak-acakan.

“Nuna, padahal filmnya bagus sekali.” Ujarnya. kami keluar dari gedung bioskop.

“ah, mianhae.. aku selalu saja begini..”

“sepertinya lebih baik kita menontonnya siang hari, bukan?”

“entahlah, sepertinya begitu.”

Udara malam hari ini sangat dingin. Baju yang kupakai bisa ditembus oleh dingin karena tipis. Tiba-tiba Dong Woon memakaikan jaketnya.

“maaf, jaketku agak tipis tapi aku tahu kamu kedinginan.”

“terimakasih.”

Dong Woon mengantarku sampai ketempat parkiran mobil dimana tempat mobilku berada.
“Sampai jumpa.” Ujarnya.

“Ya..” aku tersenyum. Aku pergi dengan mobilku. belum sempat keluar menuju jalan raya, tiba-tiba hapeku berdering. Dari Dong Woon?

“Dong Woon?” tanyaku bingung.

“Nuna, hati-hati.” Ujarnya diseberang telepon.

“Pabo. Kenapa tidak dari tadi mengucapkannya?”

“hehe~ mianhae, aku lupa..” ujarnya.

“Ya sudah, Gomawo..”

“Ne, cheonman..”

Sekarang sudah lebih dari satu minggu kami menjalin hubungan. Dong Woon selalu menelponku. Menanyakan kabarku setiap hari. Dalam sehari dia bisa menelponku lebih dari sekali kalau kami tidak sempat bertemu.

Ternyata Dong Woon lulusan akademi dan lebih muda 3 tahun dari ku. Meskipun lebih muda dariku, dia dapat menjadi seseorang yang dewasa di mataku. Dia selalu mengerti akan aku. Dia dapat memahami setiap emosiku. Dia dapat membuatku tenang saat aku menangis dan dia dapat membuatku tenang saat aku marah.

“Pemirsa, menurut laporan Korea Utara telah menembakkan sekitar 30 artileri peluru tidak jauh dari Baeknyeong, dan militer Korea Selatan menanggapinya dengan 100 tembakan peringatan.” Pembawa berita membacakan beritanya dari televisi. Aku tengah duduk menonton berita.

“dan pemirsa, militer Korea Utara mengancam serangan tak terduga terhadap Korea Selatan. Akibat ancaman ini, seluruh gabungan angkatan laut Korea Selatan dikerahkan untuk bersiap-siap di perbatasan untuk menghadapi nya.” Lanjut pembawa berita.

Aku sudah bisa menebak. Dong Woon pasti akan ikut berperang. Tentu saja, angkatan laut seperti dia pasti akan di taruh di barisan depan. Semoga saja dia baik-baik saja nanti.

Esok harinya Dong Woon menelponku.

“Nuna, begini..”

“Ya, aku sudah menontonnya di tv.”

“maaf karena ini aku tidak bisa menghubungimu lagi..

“Kenapa meminta maaf ? ini untuk Korea Selatan, bukan?”

“Ya, kami akan berangkat hari ini.” ujarnya.

“Dong Woon…”

“Hmmm?”

“hati-hati….”

“tenang saja, aku akan kembali dengan selamat!” serunya bersemangat.

“kamu janji?”

“aku janji!”

Janji seperti ini… pernah di ucapkan Ryeo Oppa. Apa kah Dong Woon bisa menepati janjinya? Aku tak ingin ada seperti ini lagi. Tapi, ini sudah kewajibannya sebagai angkatan laut. Tolong selamatkan dia, Tuhan. Aku tak ingin kehilangan orang yang ku cintai untuk kedua kali…

Seharian aku terus menonton berita di televisi. Menunggu berita baru dari mereka. Tak akan ku lewatkan satu berita sama sekali. Aku harus bertahan disini. di sofa. Di depan tv.

Ku coba menghubungi hape Dong Woon tapi sudah tidak aktif. Tentu saja, memangnya dia dimana sekarang? Di mall?

Huh, dengan lesu terus ku tonton berita di televisi. Menonton berbagai interview dengan orang-orang penting. Tapi bukan ini berita yang kuharapkan.

“BREAKING NEWS!”

Jam 10.30 malam aku di kejutkan dengan sebuah ‘ breaking news’ di televisi. Segera ku tanam mata dan telingaku didepan televisi agar tidak kehilangan satu gambaran dan suara sekalipun. Ini berita yang dari tadi siang kutunggu-tunggu.

“Pemirsa!” ujar orang pembawa berita. “berita terbaru yang kami dapat. Serangan tak terduga terjadi tadi pukul 10.20 malam di pulau YeonPyeong. Asap hitam membumbung dari pulau milik Korea Selatan tersebut. Hal ini diketahui di lakukan oleh Korea Utara.”

“Sebuah kapal angkatan laut juga ikut diledakkan. Kapal berkekuatan 1200 ton tersebut tenggelam. Penyelamat telah menyelamatkan setengah dari pelaut yang ada di dalam kapal sedang sekitar 40 lebih belum ditemukan.”

Dong Woon. Tiba-tiba aku teringat dengan Dong Woon. Apakah ia ada didalam kapal itu? Semoga saja tidak! Jangan secepat ini. jangan…
Serangan Korea Utara menjadi heboh hampir di seluruh dunia. Militer Amerika Serikat ikut membantu Korea Selatan dalam menghadapi Korea Utara. Perang saudara yang tak pernah berakhir ini, terjadi lagi sekarang. Semoga saja tidak menimbulkan banyak korban. Dan semoga saja Dong Woon bisa selamat. Aku tahu, setiap orang yang salah seorang keluarganya ikut dalam perang ini, khawatir seperti aku. Berdoa semoga bisa selamat. Berdoa agar masih dapat melihat wajahnya. Berdoa agar masih dapat menghubunginya, bercerita dengannya. Dan itu juga yang ku harapkan. Aku terus berdoa pada Tuhan agar dia menjaga Dong Woon ku.

Sehari, dua hari, tiga hari, empat hari berlalu. Makin lama keadaan makin aman. Sepertinya Korea Utara sudah berhenti menyerang. Atau tidak, aku berpikir mungkin mereka sengaja berbuat begini karena serangan tak terduga itu belum benar-benar di tunjukkan. Semoga saja yang aku pikirkan itu tidak terjadi. Semoga serangan tak terduga itu sudah tidak ada lagi.

“Yoboseyo?” aku mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal di hapeku.

“Nuna, ini aku Dong Woon..”

“Dong Woon!? Kamu tidak terluka!!??”

“Tenang nuna, aku baik-baik saja disini..”

“Syukurlah..” ujarku lega. “kamu dimana sekarang?”

“sekarang aku ada di pusat evakuasi di pulau Baeknyeong.”

“kapan kamu akan kembali?”

“entahlah. Nuna, maaf. Aku harus menutup telepon. Yang lain masih mengantri.”

“Ne. Dong Woon….”

“Hmm?”

“sekali lagi, hati-hati…”

“Ne, sampai jumpa, nuna..”

“sampai jumpa..”

Syukurlah ia baik-baik saja. Setidaknya aku agak semangat sekarang.

Esok harinya aku mulai menjalankan aktivitas seperti biasa di rumah sakit.

“Anda sudah tidak sedih seperti dulu lagi ya, Hyun Ji…”

“Ah, Dokter Choi. Terima kasih.” Aku tersenyum. Itu adalah Dokter Choi Jong Hun. Dia teman se-kampus saat aku kuliah dulu.

“aku turut berduka..”

“terima kasih.”

“sepertinya anda sudah bisa melepas kepergian nya.”

“ya, begitulah..”

“apakah anda sudah menemukan..”

“menemukan?”

“ah, tidak. Maksudku apakah anda sudah menemukan berkas yang aku minta tadi?”

“oh, ini.” aku menyerahkan sebuah map padanya.

“Gomawo..” Dokter Choi keluar dari ruanganku.

Aku curiga dengan nya. Sepertinya bukan itu yang akan dia katakan padaku. Ah, sudahlah. Aku tidak boleh berprasangka buruk.

Tiba-tiba hapeku bergetar. Sebuah SMS masuk di hapeku. Dari Dong Woon.

“Nuna, besok aku akan pulang. Temui aku di depan pelabuhan angkatan laut.”

“Ne.” aku membalas SMS dengan singkat.

Malam hari saat aku pulang dari tempat praktek, mobil yang kukendarai mogok. Aku terhenti di jalan yang sepi. Menunggu ada kendaraan yang bisa ku tumpangi tapi tak kunjung lewat. Akhirnya sebuah mobil sedan hitam berhenti didepan ku. Di dalamnya ada Dokter Choi.

“Hyun Ji? Kenapa?”

“mobilku mogok.”

“aku akan mengantarmu.”

“bagaimana dengan mobilku?”

“akan ku telepon jasa pengangkut.”

Akhirnya aku menumpangi mobil Dokter Choi Jong Hun hingga tiba di rumahku.

“Terima kasih..”

“Hyun Ji..”

“ya?”

“selamat malam.” Jong Hun pergi dengan mobilnya.

Aku masuk kerumahku. Ke dalam kamarku. Mengganti pakaian formalku dengan baju rumahan. Bergegas tidur agar besok tidak terlambat menemui Dong Woon.

:: Esok harinya ::

“Dong Woon!” aku menghampiri Dong Woon. Aku memeluknya. Aku senang sekali dapat berjumpa dengannya.

“aku merindukanmu…” ujar Dong Woon. Ia mengecup keningku.

Kami bertatapan. Ia tersenyum padaku.

“kamu ingin jalan-jalan?” ajak Dong Woon.

“tapi, bukankah kamu lelah?”

“entahlah, kalau melihat wajahmu lelahku jadi hilang.” Ujar Dong Woon.

“ah, jangan bercanda..” ujarku tersipu.

“aku serius.” Ujar Dong Woon. “ketika aku kesusahan di atas kapal. Aku jadi kembali bersemangat ketika membayangkan dirimu.” Sambungnya sambil tersenyum.

Kami pergi ke sebuah tepi laut tidak jauh dari pelabuhan angkatan laut. Angin sepoi-sepoi bertiup begitu segar rasanya.

“bagaimana kah rasanya menjadi seorang marinir?” tanyaku.

“asyik.”

“hanya itu?”

“dulu ayahku adalah seorang marinir. Dia tampak sangat keren. Dan ku pikir, aku ingin menjadi seorang marinir seperti ayah. Bisa menaiki kapal dan berperang, itu hal yang mengasyikkan bagiku.” Jelas Dong Woon.

“dan kamu sudah mendapatkan apa yang kamu impikan?”

“belum. aku ingin pertempuran yang luar biasa. Seperti pertepuran di Yellow Sea dulu.”

“semoga kamu mendapat apa yang kamu impikan itu.”

“terima kasih.” Ujarnya seraya tersenyum. “ kalau nuna? Mengapa kamu ingin menjadi dokter?”

“aku hanya ingin mengabulkan permintaan orang tua ku. Mereka mau aku menjadi seorang dokter. Dan itu tidak masalah bagiku.”

“Nuna, kapan pertama kali kamu mengenal Letnan Kim?”

“Hmm..”

“ah, maaf. Aku menyinggung tentang dia.”

“tidak apa-apa. Aku bertemu dia saat masih kuliah. Saat itu ia masih sepertimu.”

“oh ya?”

“ya. Ia pernah mengatakan, saat dia sudah memiliki kapal tempur sendiri. Dia akan mengajakku menaikinya. Tapi, hal itu tak pernah terjadi…”

“Nuna..” Dong Woon memegang tanganku.

“Hmm?”

“aku yang akan melakukannya.” Ujarnya. “aku akan melanjutkan apa yang Letnan Kim inginkan untukmu.”

“Dong Woon…”

“ya?”

“kamu janji!?” aku mengancungkan kelingking ku.

“aku janji!” ia mengaitkan kelingkingnya.

“Hahahahahha~”

Kami tertawa bersama.
***

“Nuna, saengil Chukahamnida. Maaf, aku tidak bisa menemuimu karena ada tugas.” Ujar Dong Woon dari seberang telepon.

“Ne. Gwaencana.. Gomawo..”

“tapi, aku janji aku akan membelikanmu hadiah kalau aku kembali! Kamu mau apa? permen marsmallow? Atau..”

“Ne. tidak ada hadiah juga tidak apa-apa kok.” Potongku.

“ah, tidak bisa begitu.”

“Ne. Aku tunggu.”

“sampai jumpa, nuna..”

“ne, sampai jumpa.”

Seminggu berlalu tapi Dong Woon tidak bisa menemuiku. Aku mengerti. Beberapa minggu ini ketegangan antara Korea Selatan dan Utara muncul lagi. Kurasa Dong Woon tak akan bisa menemuiku dalam minggu-minggu ini.

“Saengil Chukahamnida.”

“Ah, Dokter Choi. Terima kasih.”

“ini, untukmu..” Dokter Choi menyerahkan seikat bunga padaku.

“Terima kasih.” Aku tersenyum.

“Hyun Ji.. apa kamu sudah menemukan pengganti?” tanya Dokter Choi.

“Pengganti?” tanyaku agak bingung.

“Hyun Ji…” Dokter Choi mendekat padaku. Aku tersentak kaget dan bergerak mundur.

“Ma..u apa kamu?”

“Hyun Ji. Aku mencintaimu..” ujarnya.

“Terima kasih. Tapi maaf, aku tak bisa..” jawabku. Aku tak pernah berpikir akan menyukai Dokter Choi. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman. Dan lagian, aku tak mungkin mengkhianati Dong Woon. Itu tidak mungkin.

Dokter Choi tiba-tiba memegang kedua tanganku. Aku mencoba melepaskan.
“Hyun Ji..”

“Lepaskan! Mau apa kamu!?”

“Kenapa? Aku menyukai mu sejak dulu. Aku sudah lelah memendam perasaanku ini!”

“aku tak bisa!” seruku. Sekali lagi aku mencoba melepaskan tanganku. Tapi, tetap saja tidak bisa. Tangan-tangannya begitu kuat.

“kenapa tidak bisa!?” Dokter Choi mendekatkan wajahnya padaku.

“Ukhh!” aku mencoba menghindar dari wajahnya yang mulai mendekatiku.

“Nuna..!?” aku mendengar seseorang berkata.

Aku melihat kedepanku. Ternyata itu Dong Woon yang berdiri didepan pintu. Ia tampak kaget menatapku.

Tiba-tiba ia berlari meninggalkanku.

“ Dong Woon!” panggilku. “Lepaskan aku!” aku melepaskan tangan Dokter Choi. Kali ini dengan mudah kulepaskan genggamannya.

“Hyun Ji!” panggil Dokter Choi. Aku tak memperdulikannya. Aku mengejar Dong Woon yang meninggalkanku tadi.

Aku berlari mengejar Dong Woon sampai keluar gedung RS. Aku berhasil menahan bajunya.

“Lepaskan aku!” seru Dong Woon membuatku kaget.

“Dong Woon..”

“huh~ aku sengaja datang kesini untuk memberimu kejutan. Tapi..” ujar Dong Woon tersenyum terpaksa.

“maafkan aku Dong Woon.” Ujarku.

“tapi, yang kulihat malah adegan seperti itu..”

“itu hanya kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud seperti itu..”

“Sudahlah..” Dong Woon membalikkan badannya. Akan segera pergi.

“Tunggu! Dong Woon..” aku menahan lengannya.

“Lepaskan. Biarkan aku pergi.” Ujar nya seraya melepaskan tanganku. Wajahnya tampak serius.

Aku tak dapat berbuat apa-apa. Aku hanya menatap belakangnya yang pergi menjauhiku. Ini semua salahku. Sekarang aku tak tahu harus berbuat apa, Meminta maaf dengan cara apa.

Beberapa hari berlalu. Hampir seminggu. Aku masih berdiam diri. Belum ada komunikasi sejak kejadian itu. Aku masih tak tahu caranya untuk meminta maaf. Aku masih belum menemukan waktu yang tepat. Hari-hari terasa membosankan tanpa telepon ataupun SMS darinya. Hampa. Itu lah kata yang lebih tepat. Inbox hapeku hanya SMS dari orang-orang yang tidak penting.

Aku melihat sebuah bungkus kosong permen marsmallow pemberian Dong Woon di depan tv. Sepertinya aku memakan ini saat menonton DVD kemarin. Ah, permen marsmallow ini membuatku makin mengingat Dong Woon. Dia pasti sekarang sedang merasa kesal. Habisnya, dia tidak mau mendengaran ku dulu. Mendengar penjelasanku. Ah, sudahlah. Aku merasa aku harus mendapatkan permen ini lagi. Dan, tempat yang menjual permen seperti ini, pasti swalayan.

***

Permen jahe, permen buah… dimana permen marsmallow nya?

Satu-persatu rak makanan ringan ku amati. Mencari dimana permen yang kucari-cari. Begitu banyak jenis permen yang berwarna-warni disini membuatku bingung.

Ah! Ini dia! Aku menemukan permen marsmallow seperti milik Dong Woon.

“Ah maaf!”

tangan seseorang berebut dengan tanganku ketika aku hendak mengambil se-pak permen marsmallow tersebut.

DONG WOON!!?

Aku kaget bukan main. Ternyata itu Dong Woon. Ia memakai jaket hitam panjang, celana jeans, fedora hitam dan headset ditelinganya. Wajahnya tampak muram.

“Dong Woon..”

“Nuna..”

Kami terdiam sejenak.

Aku mengambil permen marsmallow yang ada di rak dan berbalik hendak pergi.

“Nuna..” Dong Woon meraih tanganku.

“Dong Woon…” tiba-tiba air mataku menetes.

“Nuna…” Dong Woon langsung memelukku.

“Maafkan aku..” ujarku. Air mataku terus mengalir.

“Sudah, Nuna. Sebenarnya itu salahku juga.” Ujarnya.

Dong Woon melepaskan pelukan. Ia mengelap air mataku dengan kedua tangannya.

“maafkan aku yang tidak mau mendengar mu dulu.” Ujarnya. “aku baru tahu kalau kamu di paksa oleh Dokter itu.”

“kamu tahu dari mana?”

“waktu beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Dokter itu di restoran yang biasa kita pergi.” Jelas Dong Woon.

“Oh ya? Kalian bicara apa?”

“ia mengatakan kalau waktu itu ia memaksa menciummu.”

“ya..”

“Hampir saja aku menghajarnya waktu itu. Tapi tiba-tiba ia memotong dan berkata ; dia tampak sedih beberapa hari ini, lebih baik kamu menemuinya.” ungkap Dong Woon.

“Oh ya?”

“ya, hari ini rencananya aku akan menemuimu makanya aku membeli permen marsmallow ini..” aku Dong Woon.

“Makanya, kamu jangan berprasangka buruk dulu.” Ketus ku.

“habisnya, waktu itu aku kesal sekali. Kukira kamu sudah tidak menyukaiku.”

“itu tidak mungkin Dong Woon. Aku tak mungkin menyukai orang lain lagi..” ujarku. Hati ku sudah tertambat padanya. Tak akan ada seorang pun yang bisa menggantikan Dong Woon lagi.

“Oh ya? Kalau begitu…” Dong Woon merogoh kantong jaketnya. Fedora hitam yang ia kenakan menutupi wajahnya yang menunduk merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan sesuatu yang di genggamnya.

“Kalau begitu apa?” tanyaku.

“Kalau begitu kamu mau menikah denganku?” Dong Woon memakaikan sebuah cincin di jari manis kananku.

“Dong.. Woon!?” aku kaget mendengar apa yang ia katakan barusan. Aku menatap cincin yang ia pakaikan padaku. Cincin emas putih dengan buah berlian kecil ditengahnya.

“aku berniat memakaikan cincin kawin dijari itu..”

Dong Woon, aku tak menyangka ia berani mengatakan hal ini padaku. Aku senang sekali ketika ia mengatakan hal itu padaku. Ia benar-benar serius mencintaiku.

“Kamu mau menjadi istriku..?” kata-kata yang begitu lembut masuk terdengar di telingaku. Aku seperti merasa, inilah kata-kata yang sejak dulu ingin kudengar. Kudengar dari orang yang ku cintai dan mencintaiku.

“aku mau..” jawabku tersenyum.

Kami berpelukan. Aku tahu, perasaan Dong Woon pasti senang bukan main. Dan itu juga yang kurasakan.

“Nuna! Saranghae!” seru Dong Woon.

***

::3 Tahun Kemudian::

3 tahun berlalu sejak ia melamarku waktu itu. Dua bulan setelah ia melamarku, kami menikah. Hari bahagia yang sangat kuharapkan akhirnya datang juga. Kedua orang tuaku dan orang tua Dong Woon juga merestui perkawinan kami. Sekarang, kami baru pindah dirumah baru kami. Rumah yang sederhana. Dari rumah ibuku akhirnya aku bisa pindah dirumah milik sendiri. Rumah milik kami berdua, aku dan Dong Woon. Dan juga Son Mi Yung kecil, bayi perempuan kami yang masih berumur dua tahun dua bulan.

“Chagi! Angkatkan kardus ini.”

“di taruh dimana?” Tanya Dong Woon.

“di kamar. Didalamnya ada barang-barangku.”

“eomma…”

“eom…??” aku kaget. Aku dan Dong Woon saling bertatapan. Kami tersenyum kaget. Kami segera mendatangi Mi Yung kecil yang duduk di dikereta bayi. Ini pertama kalinya ia menyebut kata ‘eomma’ sejak ia lahir.

“Mi Yung, coba ulangi lagi..” ujarku.

“eomma…”

“Waah~ dia mengerti !!” ujarku kegirangan.

“Haha. Iya!” ujar Dong Woon.

Ternyata, usaha kami selama ini mengajarinya bicara, berhasil.

“eomma~ eomma~” panggil Mi Yung lagi. Ia tertawa begitu lucu. Dong Woon mengangkat nya dari kereta bayi.

“Mi Yung, coba panggil appa..” ujar Dong Woon.

“eomma..”

“bukan, tapi appa..” ujar Dong Woon lagi.

“eomma..”

“hahaha..” aku tertawa. Sepertinya dia baru bisa mengucapkan kata eomma.

Dong Woon mencium pipi Mi Yung yang tampak seperti apel merah dan gembung.

“kurasa dia tidak mau memanggil mu appa..” candaku.

“appa..?” tiba-tiba Mi Yung membuat kaget dengan apa yang barusan dikatakannya.

“Lihat, dia memanggilku appa!!” seru Dong Woon riang.

“hahaha~” kami tertawa.

“Mi Yung, kamu pintar sekali…” ujar Dong Woon.

Ryeo- oppa, aku sudah bahagia sekarang. Dan aku harap kamu juga ikut bahagia disana.
Oppa, kamu tak usah khawatir. Karena, Dong Woon, dengan begitu ikhlas mau menggantikanmu. Dia mau menggantikan semua kehangatan yang pernah kamu berikan padaku, ia mau melanjutkan senyuman manis dan ikhlas yang biasanya kau tujukan hanya untukku. Dia mau meneruskan impian yang kita impikan dari dulu. Ia juga berkata akan mengajakku naik kapal miliknya. Oppa, tersenyumlah sekarang. Aku tahu, kamu selalu tersenyum padaku. Bagaimanapun, kamu tak akan pernah kulupakan. Aku janji tak akan membagi cinta Dong Woon ini. Tapi, bagaimanapun, rasa cintaku padamu akan tetap ada untuk selamanya, sampai aku mati, sampai aku bertemu kembali denganmu.

Oppa, aku tahu kamu mendengar apa yang aku katakan ini.

THE END

***

He’s An Apple

Posted: April 1, 2011 in Teenager
Tags: , ,

Author : GAA Tiffany a.k.a Kang Myung Dae

CAST:
Kim Han Mi as You

Eun Hyuk Super Junior

Dong Hae Super Junior

Jang Mi Hee as your friend

Kang Myung Dae as the fortune-teller *aku… :p
*************

“Lihat ini!” seruku. Aku menunjukkan sebuah lembaran pada seorang teman akrabku.

“Wah! Lady Kang Si peramal hebat itu ya!” ujarnya.

“betul! Dan dia kembali ke Seoul!” tambahku.

“Kesempatan bagus nih!”

“Iya! Pulang sekolah kita pergi, yuk!” ajakku.

“iya!”

“aku ingin meramal tentang kisah percintaanku seperti apa.” Ujarku.

“Tentu saja! Emang apa lagi yang penting!?”

“Iya!”

“Sreeekk!” tiba-tiba seseorang dari depan kami menarik lembaran yang kami baca.

“Eun Hyuk!!” seruku kesal. Ternyata itu Eun Hyuk si Monyet liar SMA PyonSuk ini.

“Huh! Emangnya ramalan bohongan seperti ini, lebih penting dari apapun!?”

“Huh! Cerewet!”

“Kreek!”

“Jangan!” Eun Hyuk merobek sedikit bagian tengah lembaran. Aku mencoba merebutnya.

“Eits! Kalau mau… ambil nih!!!!” dia berlari meninggalkan ku. Aku berniat mengejarnya, tapi temanku menahan.

“Han Mi! Sudahlah…”

“Mi Hee..”

“orang seperti itu tidak usah terlalu di ladeni.” Ujarnya.

“betul juga. Ya udah kalau begitu..”

Huh! Eun Hyuk pabo! Michyeo! $#!&@ !!! apa sih maunya menggangu aku terus!? Selalu saja begini sejak hari pertama masuk SMP hingga sekarang selalu menghantuiku! Dasar Monkey! Huh! Kenapa juga aku memikirkannya? Ya.. lebih baik aku memikirkan Dong Hae oppa, my prince… ah! Aku tidak sabar menemui Lady Kang.

“orang yang sungguh-sungguh menyukaimu adalah…” Lady Kang menegangkan perasaanku.

“Si.. siapa? Dong Hae oppa?” tanyaku.

“Apel!” Serunya rada teriak.

“Wa!” aku kaget. “A.. apel??”

“Ya, apel…” ujar lady Kang seraya menunjukkan sebuah apel di tangannya. Hey, dari mana apel itu? Rasanya tadi tidak ada apel…

“Tapi, siapa apel itu?”

“Menurut mu siapa?”

“Ah iya!”

Aku dan temanku keluar dari tenda Lady Kang.

“Kamu tahu siapa?” Tanya Mi Hee.

“aku Tahu. Dong Hae oppa..!” jawabku.

“benarkah? Kamu yakin?” Tanya Mi Hee.

“ya, habisnya aku tahu Dong Hae oppa hobi makan apel.” Jawabku yakin.

“Ohh..”

Hatiku berbunga-bunga. Sepertinya aku harus memulai rencana mendekati Dong Hae oppa. Aku tak akan melewatkan kesempatan ini.

Esok harinya pulang sekolah, aku sedang menunggu saat yang tepat untuk berpapasan dengan Dong Hae oppa.

“Huh! Dasar gadis takhyul!” seseorang mengejutkan ku dari belakang.

“Huh! Kamu lagi!” seruku kesal. Ternyata itu Eun Hyuk pabo the Wild Monkey of PyonSuk High School. Kenapa ia harus datang mengganggu ku disaat genting seperti ini, sih!?

“Aku sudah dengar semuanya dari Mi Hee..” ujarnya.

“Lalu kenapa??”

“Jadi, Dong Hae itu si Pangeran apel mu!?”

“Iya, lalu kenapa!?”

“Sudahlah, aku yakin dia gak bakal menyukai mu!” ujar Eun Hyuk.

“Huh! Bilang aja kalau kamu Cuma cari gara-gara!” ketusku kesal.

“Haha.. itu pasti!”

“Pergi sana!” aku mendorongnya.

“Hahahahaha~ pangeran apel.. Oh, pangeran apel.. kamu cakep banget. Kiss aku donk… Chuuu~” ejek Eun Hyuk menirukan suara perempuan.

“Huh!!

Tenanglah, Hyun Mi, the Legend Monkey udah pergi. Sekarang saatnya melanjutkan rencanamu.

“Eh, itu dia! Ayo mulai!” ujarku dalam hati.

Aku segera mejalankan rencanaku. Pertama, pura-pura lari terburu-buru.

“BUUKH!” Yes! aku berhasil bertabrakan dengan Dong Hae oppa. Kami berdua terpelanting kebelakang.

“Aduuhh~” aku meringis. Sakit sekali. Kali ini bukan parody. Sakit~

“Ah, Mianhae…” ujar Dong Hae oppa. Yes! Dia menanggapiku.
“mau kubantu?” Dong Hae oppa menawarkan tangannya. Kyaa… untuk pertama kalinya berpegangan tangan dengannya. Tangannya lembut sekali.

“kamu tidak apa-apa?” tanyanya.

“ya, terima kasih.”

“maafkan aku. Aku tidak melihatmu tadi.” Ujarnya.

“ah, tidak. Itu salahku. Aku saja yang terlalu buru-buru.” Ujarku.

Dia tersenyum. Waahh~ cakepnya… rasanya bahagia sekali melihat ia tersenyum. Inilah yang kusebut senyum pembawa kebahagiaan. Aku tak dapat menahan perasaan menggebu-gebu didadaku ini. lebih baik aku pergi.

“Ah, maaf, aku harus pergi duluan..” ujarku seraya membalikkan badanku.

“tunggu..” panggilnya. Kyaa~ aku di panggil!

“ya?”

“bisa aku tahu nama mu?”

“aku.. Kim Han Mi…” jawabku. Oppph~ upphhhh~ perasaanku makin meledak-ledak.

“aku Dong Hae..” ujarnya.

“Dong Hae-oppa, maaf..Aku duluan ya..” aku tak tahan~ aku mau pergi!!

“Tunggu!”

“Ya!?”

“Hati-hati dijalan..” ujarnya

“GLEGAARRRR~” seperti bom atom. Perasaanku seperti meledak begitu kerasnya. So sweet sekali saat ia mengatakan hati-hati di jalan. Ditambah senyum charmingnya itu. Ah, aku burned, melted 100 %
***
“Sukses?” Tanya Eun Hyuk tiba-tiba mendatangiku yang sedang menatap langit dari depan jendela gedung sekolah.

“sukses apa-an?” tanyaku sinis.

“kemarin kamu menemuinya, bukan??”

“sok tahu…”

“sudahlah. Dia gak akan menyukai mu..”

“huh! Sana pergi..”

“apel.. apel.. apel… pangeran apel.. lihat aku.. aku menyukai mu… oppa… chuu~” Eun Hyuk menirukan suara perempuan lagi. Ini sungguh membuatku kesal.

“auw~” aku mencubit telinganya.

“Monyet nakal memang harus di hukum!” seruku.

“huh! enak aja panggil aku monyet. Aku bukan monyet!” serunya.

“lalu apa? Babon? Hahahaha~”

“huh!” ketus Eun Hyuk kesal. Ia meninggalkanku. Haha.. akhirnya ia kalah juga.

“Lho? Han Mi?” tiba-tiba Dong Hae oppa ada didepanku.

“Dong Hae oppa?” aku kaget. “oppa ngapain disini?”

“tadi aku pergi menemui Yang-nim.” Ujarnya.

“ohh..”

“kamu sudah tidak apa-apa, kan?”

“tentu saja…”

“oh iya, ini..” Dong Hae oppa menyodorkan sebuah lembaran seperti pamflet.

“apa ini?”

“pentas seni nanti, kamu mau datang kekelas ku? Kelasku mengadakan café.” Ujarnya.

“mau!”

“terima kasih. Aku pergi dulu ya..” ujarnya.

Dong Hae oppa pergi. Aku menatapnya dari belakang.

“Lho?” aku melihat sebuah pulpen berwarna biru tergeletak di lantai didepanku. Kuraih pulpen itu. Disini tertulis nama Dong Hae oppa. Pasti terjatuh saat kami ngobrol tadi. Pulang sekolah aku harus mengembalikannya.
***
“pulang sekolah aku berniat menuju kekelas Dong Hae oppa. Karena agak malu, aku bersembunyi disebuah pohon menunggu Dong Hae oppa keluar dari kelas.

“Han Mi!?”

“Waa~ Dong Hae oppa!?” aku kaget. tiba-tiba Dong Hae ada didepanku.

“sedang apa disini?” tanyanya.

“begini..” aku menghampirinya. “pulpen ini..”

“ah.. itu dia. Daritadi aku mencarinya.” Ujarnya. ia mengambil pulen itu.

“mungkin tadi terjatuh saat kita ngobrol.”

“ohh.. mau melihat kelasku?” ajak Dong Hae oppa.

“boleh?”

“ayo. Kami lagi mempersiapkan kelas kami.”

Dengan agak malu, kuikuti Dong Hae oppa dari belakang menuju kelasnya.
Didalam kelas, ada beberapa temannya yang sedang mengatur kelasnya.

“karena acaranya lusa, kami tidak mau menunda lagi..”

“oohh..”

“bagaimana dengan kelas mu?”

“hhmm.. aku tidak tahu. Aku jarang berpartisipasi..”

“begitu? Sayang sekali..”

“ya..”

“ayo masuk..” ajaknya.

“ah.. tidak usah. Aku diluar saja..”

“tidak usah malu. Teman-temanku baik kok.” Ujarnya. OMG~ dia mengeluarkan senyum indahnya itu lagi.

“oppa, aku harus pergi sekarang. Aku baru ingat, aku ada les matematika hari ini..” ujarku berniat menghindar.

“benarkah? ya sudah, hati-hati..”

“PESSHH~” apa dia bilang? Hati-hati? Ia mengatakan itu padaku? Selama ini tidak pernah ada namja yang pernah berkata seperti ini padaku kecuali appa. Dan yang mengucapkannya sekarang adalah Dong Hae oppa!! Han Mi.. beruntungnya dirimu. Dia sudah mengatakannya dua kali. DUA KALI!!

aku keluar dari gerbang sekolah. Tiba-tiba datang Eun Hyuk lagi. Huh, mau apa dia?

“Huh~” cetusku kesal.

“aku mau kamu menjauh dari Dong Hae oppa.” Ujarnya. huh, dia pikir siapa dia? Tiba-tiba mendiktator seperti itu.

“memangnya kenapa?”

“pokoknya menjauh darinya!” kali ini Eun Hyuk berkata dengan tampang serius. Aku bingung. Kenapa tiba-tiba ia jadi seperti ini.

“kalau aku tidak mau, memangnya kenapa!!?” aku menghindar. Meninggalkan dia. Tiba-tiba ia memegang tanganku.

“lepaskan aku.” Aku melepas tangannya dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan dia.

Huh, tuh anak makin lama makin gak beres. Ada apa sih? Aku bingung dengan perubahan sikapnya itu.
***

“Oh. Itu….” Ujar Mi Hee temanku. “Dia pasti menyukai mu.”

“apa? Tidak mungkin.” Ujarku. Tidak mungkin Eun Hyuk monkey itu menyukai ku. Yang ada, aku malah di jadikan mainan.

“coba kamu pikir, untuk apa selama ini ia mengganggu kamu? Seusil apapun seorang namja, dia tidak akan mengusili seseorang sampai selama ini kecuali Karena menyukainya.” Jelas Mi Hee.

“Mi Hee!” ketus ku kesal.

“lalu..” sambung Mi Hee lagi. “untuk apa ia memintamu untuk jauh-jauh dari Dong Hae oppa? Untuk apa ia menahan tanganmu kema…”

“Stop! Stop! Aku tidak mau dengar lagi!!” potongku. Aku menutup kedua kupingku.

“Han Mi.. Han Mi.. kenapa sih, kamu tidak mau menerima kenyataan?”

“Mi Hee! Itu bukan kenyataan… bukan!” seruku. Aku pergi keluar kelas meninggalkan dia.

“BUUKK!” tiba-tiba aku menabrak seseorang.

“Eun Hyuk!?” ternyata itu Eun Hyuk. Huh! kenapa sih, hidupku selalu sial seperti ini.

“Han Mi!” panggil Eun Hyuk. Aku segera meninggalkan dia. Mencari tempat persembunyian yang aman. Aku bersembunyi di gudang. Setidaknya sampai bel masukan, aku bisa aman disini.

“Fuu~ Fuu~ Fuu~”

Hmm, kurasa sekarang sudah masukan.

“Kreek.. Kreek..” aku mencoba membuka pintu. Kenapa tidak terbuka? Apa aku terkunci!!??

“Huwaaaaa~” bagaimana ini? aku tidak mau di makan tikus di sini. Tuhan~ tolong akuuuu!!!

Eh? Itu ada jendela. Apa bisa terbuka?

“Krrekk~ Krrekk~”ahh~ terkunci…

“Lho? Sudah pulang sekolah ya? Hei yang disanaaa!!!” teriakku.

“Tolong aku!!!” teriakku lagi.

“Ceklek.” Aku mendengar pintu di buka. Ahh~ syukurlah.. aku bisa bebas sekarang.

“Dong Hae, pintunya keras nih!” seseorang berbicara dari luar. Apa? Dong Hae? Dong Hae oppa?

“Siapa sih, yang menguncinya!?” seseorang mengeluh.

“Brruukk!” pintu di buka paksa.

“Gyaaa!” aku kaget.

“Lho? Han Mi?” Dong Hae kaget. Ia datang bersama 2 orang temannya. “Kenapa kamu disini?”

“Ah.. Eh..” Han Mi Pabo! Pabo! Pabo!

“Jangan bilang kamu terkunci disini?” ujar Dong Hae oppa lagi.

Aku mengangguk.

“Wah, kamu kok bisa terkunci disini?” Tanya temannya yang lain.

“Sudah, yang penting kamu sudah aman.” Ujar Dong Hae oppa.

“Terima kasih.” Ujarku. Aku segera keluar.

Huh! ini semua gara-gara Eun Hyuk. Eun Hyuk pabo!
***
Di kamarku, aku terus berpikir. Apa yang dikatakan Mi Hee itu betul? Ah, tidak mungkin! Aku tidak percaya! Tapi, betul juga, kenapa Eun Hyuk tak pernah berhenti menggangguku? Ah! Han Mi! kenapa kamu memikirkan Eun Hyuk terus!? Dia yang telah membuatmu terkunci! Ia yang telah membuat mu malu didepan Dong Hae oppa tadi siang!

Ah~ pikiranku campur aduk. Aku jadi bingung dengan semua ini.

Hari Pentas Seni pun tiba. Semua kelas ikut berpartisipasi. Aku jadi teringat dengan Lady Kang. Aku harus mendapatkan cintaku. Dong Hae oppa. Hari ini kuputuskan akan kunyatakan perasaanku padanya. Kuputuskan akan kukatakan saat Pentas seni berakhir saat murid-murid mulai pulang.

Aku dan Mi Hee menikmati setiap acara yang disediakan setiap kelas. Tak terasa berjam-jam kami lewati dan hampir saatnya aku menemui Dong Hae oppa.

“semoga sukses, Han Mi!” ujar Mi Hee.

“Kamu sudah mau pulang?” tanyaku.

“iya, mau apa lagi disini? acara sudah berakhir.” Jawabnya.

“tapi, aku grogi…” ujarku.

“Han Mi, Hwaiting!” Mi Hee meninggalkanku.

“Mi Hee!” ah~ Mi Hee.. aku agak takut nihh…

Ah!! Sudah saatnya aku berjuang sendiri. Ku harap ia belum pulang.

Aku segera menuju kelasnya. Kulihat ia dan beberapa teman laki-lakinya sedang sibuk beres-beres. Ku putuskan untuk menunggu di balik kelas, di bawah jendelanya.

“HOOOAAAMM~” aku menguap. APA? Aku tertidur!!???????? Ah~ Han Mi Paboooo!

Aku segera melihat ke kelas Dong Hae. Ah, ternyata Dong Hae oppa baru mau pulang. Ia baru saja keluar kelas. Lebih baik, aku mengejarnya sekarang.

“Dong Hae oppa, tunggu!” seruku dalam hati. Aku mengejar Dong Hae oppa diam-diam sampai kedepan gerbang.

“eehh!??” aku kaget. Dong Hae oppa menemui seorang gadis. Gadis itu sepertinya murid disini karena memakai seragam yang sama sepertiku.

Dari kejauhan kulihat Dong Hae oppa berbicara sebentar dengannya. Lalu…

“Waaa!!!??” Dong Hae oppa merangkul pinggangnya!?

Aku terdiam. Jangan bilang kalau Dong Hae oppa sudah punya pacar? Huh.. sudah jelas. Orang secakep Dong Hae oppa pasti sudah punya pacar. Sepertinya aku terlalu berharap.

“Makanya, kubilang kamu pasti tak akan mendapatkan dia..” aku mendengar seseorang berkata dari belakang. Aku kenal suara ini. ini…

“Eun Hyuk!?” aku kesal. “Mau apa lagi kamu?” aku menghindar darinya.

“Han Mi! Tunggu!” serunya. Aku berhenti. Menoleh padanya.

“Aku menyukai mu.” Ujar Eun Hyuk tiba-tiba.

Huh! apa-apaan ini maksudnya!?

“Ku mohon, kamu tidak usah menjahili aku lagi. Aku sudah capek.” Ujarku.

“aku serius!” serunya.

“sejak kapan kamu serius!? Kamu hanya bisa menjahiliku. Dan aku sudah bosan!!” seruku.

“Han Mi! Tunggu! Aku serius! Dengarkan aku!” seru Eun Hyuk.

Aku berlari meninggalkannya. Dia mengejarku. Dia berhasil menahan tanganku.

“Lepaskan!” seruku mencoba melepas.

“aku tidak main-main. Ini kenyataann!!”

“bagaimana aku bisa menganggap ini kenyataan! Kamu selalu menjahiliku. Sekarang, tiba-tiba kamu bilang kamu menyukai ku. Aku jadi bingung!” seruku. Tak sadar air maaku menetes.

“Maafkan aku selama ini. ini semua kulakukan supaya kamu tidak diambil orang lain. Aku sudah menyukaimu seja dulu. dan ini caraku untuk mempertahankanmu!”

“Pabo! Kenapa tidak dari dulu kamu bilang!? Kenapa harus dengan cara seperti ini!?”

“maafkan aku..”

“Lepas!” aku melepaskan tanganku yang di tahan Eun Hyuk. Berlari meninggalkan dia.

Bodoh! Kenapa harus ada acara menangis seperti ini!? kenapa aku harus menangis terhadapnya?
***

3 hari aku bolos sekolah. Ini semua karena aku ingin menghindar darinya.

“Han Mi? sudah masuk lagi?” ujar Mi Hee.

“Aku di marahi ibuku, bolos terlalu lama.”

“hihi.. kamu tahu?”

“kenapa?” tanyaku.

“Eun Hyuk terus mencarimu selama 3 hari ini. ia tampak serius. Memangnya ada apa diantara kalian?” Tanya Mi Hee.

“Tidak ada.” Jawabku.

“Han Mi, aku ingat, waktu kita kelas 6 SD..” ujar Mi Hee.

“Kenapa?”

“Waktu itu, karena kamu tidak suka apel, apel yang kamu bawa dari rumah untuk bekal, kamu berikan pada seorang namja yang sedang bermain dengan teman-temannya.” Jelasnya.

“Lalu?”

“Namja itu adalah Eun Hyuk.” Ujar Mi Hee.

“Eun Hyuk?” aku kaget.

“Ya, karena itu, ia sampai di ejek Apel oleh teman-temannya.” Mi Hee tertawa kecil.

“benarkah?”

“ya, dan aku rasa, itu penyebab ia menyukaimu. Dan karena ia malu diketahui teman-temannya, ia sengaja menjahilimu.”

“Mi Hee.. kenapa tidak bilang dari dulu?” seruku.

“bukannya tidak bilang, tapi kamu yang menutup telinga mu waktu itu!” tegas Mi Hee.

“Hehehe~ lalu… bagaimana ini?”

“bagaimana? Aku tahu, kamu juga menyukainya. Temui dia. Sekarang saatnya kamu yang jujur..”

“Mi Hee.. kamu benar-benar teman terbaikku! Saranghae!” aku segera berlari keluar.

“Hei! Katakan itu padanya bukan padaku!” seru Han Mi.

Aku berlari. Menuju kelas Eun Hyuk. Ketika sampai didepan kelas aku melihat Eun Hyuk. Ia sadar aku ada didepan kelasnya. Ia keluar.

Hati ku deg-degan. Aku tak pernah bertindak seperti ini sebelumnya. Eun Hyuk datang. kami terdiam.

“mungkin lebih baik kalau bicara di luar.” Ujar ku duluan.

Eun Hyuk menuju keluar gedung diikuti aku. Kami menuju ke belakang gedung agar tak terlihat orang-orang.

“ada apa?” tanyanya.

“a…aku mau bilang.. aku me..” belum sempat ku lanjutkan kata-kataku tiba-tiba Eun Hyuk memelukku. Aku kaget.

“kamu mau bilang kalau kamu juga menyukaiku?” tanyanya. Aku malu. Dia sudah tahu apa yang akan kukatakan.

“Ne..” ujarku. “dan maafkan aku yang sudah membentakmu kemarin!!” napasku terengah-engah.

“kalau begitu, cium aku!” ujarnya.

“ci.. um?” tanyaku. “dipipi?”

“bukan. Disini..” ia menunjuk bibirnya. Aku kaget.

“di situ?”

“iya, dimana lagi? Di ketiak?”

“huh!”

“ayo.. “

Terpaksa aku harus menciumnya. Entah mengapa aku mau menurutinya. Ah, pabo..

Aku mulai mendekatkan wajahku. Karena ia agak tinggi, aku harus berjinjit.

Semakin dekat.. semakin dekat..

“Chuu!” tiba-tiba Eun Hyuk langsung bergerak menciumku.

“Jepreet” aku seperti mendengar suara jepretan foto. Aku menoleh.

“Eun Hyuk!!!!!” teriakku kesal. Ternyata ia memfoto adegan ini dengan hapenya.

“Haha! Kamu tak akan bisa lari dari aku lagi!!!” ujarnya. aku mencoba merebut hapenya tapi dia menghindar dengan lincah seperti biasa.

“Eun Hyuk! Cepat di hapus!!!” seruku. Aku mengejar dia yang sudah berlari duluan meninggalkan aku.

:: THE END ::

Game Kyu

Posted: April 1, 2011 in Teenager
Tags: ,

Author : Tiffany Elfuty Armstrong a.k.a Kang Myung Dae
Title : Game Kyu
Category : PG-15, Teenager, One Shoot
Genre : Romantic
Cast :
Yang Ji Ah as You
Cho Kyu Hyun Super Junior as Kyu Hyun
Other cast:
Jung Tae Hun as Tae Hun (tokoh fiktif)

*************************************************************************************
Hubungan seperti ini tidak patut disebut dengan ‘pacaran’. Dimatanya aku hanya dianggap teman sekolah. Sedangkan game yang selalu dimainkannya adalah pacar baginya. Ia jarang menemuiku. Sedangkan untuk gamenya, dia bisa menggunakan segala cara untuk bertemu, entah itu lewat PSP, hape, Nintendo, PS, PC, Laptop, dan barang elektronik lainnya. Dasar Game Kyu pabo!
“Chagi..” aku memanggil nya dengan suara lembut.
“Tak tik tak” berharap ia akan meladeni ku, yang ada hanya terdengar suara-suara tombol-tombol keyboard laptop yang menjawab.
“Chagi!” panggilku agak keras.
“Tak tik tak!” sekali lagi, hanya bunyi-bunyi itu yang menjawab.
“Game Kyu!” panggilku dengan nada benar-benar keras. Huh, menyebalkan sekali. Sampai bosan aku memanggilnya ‘chagi’.
“Hmm, kenapa?” Tanya Kyu Hyun santai. Huh, aku capek-capek meneriakinya, dia Cuma bertanya santai seperti itu?
“Huh! Aku pulang saja deh.” Aku bangkit dari sofa.
“Eh, tunggu!” Kyu Hyun menahan tanganku.
“Lepaskan!” ketusku.
“Iya, deh. Kamu mau nonton apa?”
“gak jadi. Aku ngantuk!”
“jangan dulu dong, kitakan baru sampai.” Kyu Hyun ikut bangkit. Ia menarik tanganku untuk mengajakku duduk lagi di sofa. Dengan terpaksa aku duduk lagi di sofa ini.
Sekarang aku ada dirumahnya. Sepulang sekolah tadi ia mengajakku nonton DVD film horror yang baru saja dia beli katanya. Bukannya nonton film horror, yang ada, aku harus melototinya dengan kesal yang asik memainkan game. Huh! Apa-apaan ini!?
“kamu mau minum apa?” Tanya Kyu Hyun. Baru sekarang ia menanyakan hal itu. Hal mengenai menjamu tamu.
“apa aja yang ada deh.” Jawabku masih agak kesal.
“oke.”
Kyu Hyun kembali dengan segelas sirup dan sebuah cup cake di piring.
“mian, aku hanya punya ini dikulkas.” Ujarnya.
“gwaenchanayo.” Jawabku. Aku asik menikmati sajian yang diberikan Kyu Hyun sementara ia sedang sibuk mencari-cari sesuatu.
Ia memutar film horror tersebut . Kyu Hyun duduk disampingku.
“Mwaaaa!!” aku berteriak kaget melihat hantu yang tiba-tiba muncul. Jantungku terasa melompat-lompat. Aku tak menyangka tiba-tiba akan muncul hantu padahal sebelumnya ceritanya biasa-biasanya.
Tiba-tiba Kyu Hyun memegang tanganku. Deg! Seperti aliran listrik yang masuk kedalam tubuhku. Aku menatapnya. Dia tersenyum padaku. Pipiku memerah. Segera ku alihkan pandanganku lagi ke tv. Menonton DVD hantu tadi.
“Khu Hyun?” panggilku. Aku bingung. Dari tadi kami menonton DVD ini, tapi aku merasa ada yang aneh dengan Kyu Hyun. Aku merasa ia tidak bergerak sama sekali.
“Kyu Hyun?” panggilku lagi. Ia menatapku.
“ada apa?” tanyanya.
“tidak.. sepertinya..” ucapanku terhenti. Satu hal yang mencurigakan dari Kyu Hyun. Tangan sebelahnya seperti menyembunyikan sesuatu. Aku menarik tangan sebelahnya.
“mau apa, kamu?” Tanya Kyu Hyun.
Aku menemukan sebuah PSP di tangannya itu. Huh! Kenapa ini lagi!? Bagaimana ia bisa bermain PSP dengan satu tangan?? Bagaimana ia bisa memegangnya dengan mudah dengan satu tangan??
“Huh!” aku melemparkan PSP nya itu kesofa dan bangkit berdiri. Aku mau pulang. Aku merasa ini tidak ada gunanya.
“Ji Ah!” panggil Kyu Hyun. Aku tak peduli. Keluar dari rumahnya.
“ Yang Ji Ah!” suara Kyu Hyun masih terdengar. Aku berlari keluar secepatnya berharap ia tidak mengejar. Aku terhenti karena capek berlari. Kupandangi belakang tidak ada Kyu Hyun. Tentu saja, mana mungkin dia mau mengejarku. Orang seperti dia akan mengejar PSP nya. Bahkan mungkin baginya nyawaku tidak penting di banding PSP atau laptopnya itu. Mungkin ia rela aku mati di bandingkan benda-benda kesayangannya itu hilang. Huh, Game Kyu sialan itu!!!??
***
“Tae Hun-i.. tanganku sakit…” ujarku manja.
“oh.. biarkan aku memijat tanganmu.”
“terima kasih..”
“memangnya kenapa tanganmu sampai sakit?”
“kemarin tanganku digenggam begitu kuat…”
“siapa yang melakukannya?”
“ah, hanya teman ku.”
“oh.. bagaimana? Sudah baikan?”
“sudah, chagi.. gomawoyo..”
Aku sedang ada di kantin bersama temanku Tae Hun. Hari ini ku putuskan akan membuat Kyu Hyun sadar akan pentingnya diriku. Aku tak akan menemui dirinya lagi, aku tak akan menyapa dia lagi, aku tak akan tersenyum padanya lagi, aku tak akan membantunya lagi, tapi itu semua hanya sampai ia melupakan mainan bodohnya itu dan kembali padaku. Hari ini, hari pertama kujalankan rencanaku. Aku menyewa Jung Tae Hun teman laki-laki yang ku kenal dari kelas lain untuk pura-pura menjadi pacar baruku. Dia sedang makan di meja yang tidak jauh dari tempat kami. Aku sengaja datang untuk menggodanya padahal aku ini malas sekali untuk ke kantin. Dulu, meskipun di ajak Kyu Hyun ke kantin, aku menolak, karena aku tahu, kantin selalu ramai, aku benci keadaan terlalu ramai seperti ini. Tapi, karena ini ada tujuan lain, aku rela asalkan bisa menyadarkan Kyu Hyun.
Seminggu lebih berlalu. Aku tetap menjalankan rencanaku sampai ia datang padaku, bersujud padaku, memohon padaku, memintaku kembali padanya. Huh, akan ku pastikan ia berbuat seperti itu!
“Ji Ah, apa aku bisa meminjam buku Bahasa Jepang mu? Tadi pagi Maag ku kambuh lagi jadi aku tak ikut pelajaran.” Kyu Hyun mendatangiku.
“Oh, maaf. Bukuku juga tadi ketinggalan. Jadi aku hanya mencatatnya di otakku.” Jawabku bohong dengan tampang cuek.
“ohh.. ya sudah.” Kyu Hyun pergi. Ia mendatangi temannya yang lain.
Maafkan aku Kyu Hyun. Aku tak bermaksud seperti ini sebenarnya. Ini hanya untuk rencana agar kamu sadar dan mau kembali padaku. Aku tahu kamu sering terserang maag, dan orang pertama yang akan kamu mintai adalah aku dan hanya aku. Dan aku tahu, ini pertama kalinya aku menolak meminjamkan. Maka dari itu, cepatlah mengerti supaya aku bisa meminjamkan bukuku padamu lagi.
“Tae Huni.. kerah baju mu kok tidak teratur begitu? Ku rapikan ya..” aku tengah bermanja-manjaan dengan Tae Hun.
“tentu saja, chagi..”
Aku berusaha agar tampak begitu mesra bersama Tae Hun. Agar Kyu Hyun bisa naik darah karena cemburu. Aku tengah berada dikelasku sekarang. Sekarang sedang jam istirahat dan aku mengundang Tae Hun kekelasku. Untuk membuat Kyu Hyun semakin kesal. Tiba-tiba Kyu Hyun beranjak dari tempat duduknya, keluar kelas. Kurasa, rencana ku mulai berhasil
Esok harinya ketika sedang menuju kantin untuk menemui Tae Hun, tiba-tiba aku dibawa, ditarik dengan kasar ke belakang sekolah oleh Kyu Hyun. Ia tampak begitu kesal. Haha, akhirnya ia akan minta maaf juga.
“ada apa?” tanyaku sok cuek.
“kenapa kamu bersama Tae Hun anak kelas 2-4 itu!!?”
“memangnya kenapa?”
“huh! Seharusnya kamu sadar!” serunya kasar. Sepertinya ia marah.
“sadar!!??” aku mulai naik darah. Dia bilang, aku yang harus sadar!!? Apa-apaan ini!!??
“hei! Kamu mau apa sebenarnya!? Kamu mau boneka!? Kalung!? Uang!? Kamu itu pacarku!” seru Kyu Hyun.
“Aduh!” Ia menyandarkan ku dengan kasar di dinding gedung.
“lepaskan aku!” seruku. “ sebelum kamu menyuruh ku sadar, kamu harus tahu bahwa pacar mu Cuma satu!”
Aku pergi meninggalkan Kyu Hyun. Ia tidak mengejarku. Meskipun begitu, kuharap ia mengerti.
Hari-hari mulai berlalu. Sepertinya apa yang ku katakan pada Kyu Hyun tak di cernanya. Ia bahkan belum menemuiku sejak kejadian itu. Aku sampai bosan sendiri. Aku merasa harus mengakhiri semua ini. Aku sudah muak. Mungkin aku memang belum cocok dengan dia. Mungkin aku memang harus memutuskan hubunganku dengan dia. Aku tak bisa begini terus.
Sore hari, pulang sekolah. Aku sedang menunggu Tae Hun. Tadi aku menyuruhnya menemuiku disini di belakang sekolah tempat yang sama seperti waktu Kyu Hyun membawaku. Aku ingin mengakhiri permainan ini dengannya. Aku sudah membawa beberapa lembar uang bernilai besar untuk ku berikan padanya. Ini tidak masalah bagiku harus mengeluarkan uang sebanyak ini, karena ini kemauan ku sendiri, dan aku masih memiliki uang jajan lebih yang di berikan orang tuaku.
“ada apa, Ji Ah chagi..” Tae Hun baru datang.
“sudahlah. Aku ingin mengakhiri ini semua.” Ujarku. “ini bayaran untukmu.” Tae Hun mengambil uang yang aku berikan.
“tapi, kenapa kamu ingin mengakhirinya!?”Tae Hun mendekat padaku.
“aku sudah bosan.”
“lebih baik, kamu pacaran denganku.”
“maaf, aku sedang tidak ingin berpacaran sekarang.” Jawabku.
“Ji Ah..” tiba-tiba Tae Hun memegang kedua tanganku. Ia menyandarkanku di dinding seperti yang waktu itu dilakukan oleh Kyu Hyun.
“Ta…Tae Hun!!?” aku spontan kaget. Pasti ia sedang mabuk. Apa yang dilakukannya!!!???
“Ji Ah..”
“Tolong!!” aku berteriak. Tae Hun mencoba membuka seragamku.
“diam lah..!” Tae Hun terus berusaha membuka seragamku.
“Tolong!!”
“BUUAAKKKHH!” Tae Hun terjatuh pingsan. Sebuah balok terpukul tepat dikepalanya.
“Jackpot!”
Ternyata itu Kyu Hyun. Ia memegang sebuah balok kayu tebal. Ia tampak kesal. Ia menarik tanganku.
“lepaskan! Kyu Hyun!” aku meronta-meronta.
“JI AH!!!” ia berteriak. Aku terdiam. Ia tampak benar-benar marah. Pandangannya begitu serius.
“jadi, kamu lebih memilih orang seperti itu!?”
Aku memalingkan wajahku kearah lain.
“lihat aku.” Ia memegang wajahku dengan kedua tangannya. Menengadahkannya tepat bertatapan dengannya. Aku jadi takut dengan Kyu Hyun yang berbeda dan seserius seperti ini.
“aku mengerti. Baiklah. Aku akan membuang semua game-gameku. Tak akan ada lagi panggilan ‘game Kyu’ dari mu.”
Kyu Hyun berkata dengan serius. Kali ini, aku bisa percaya.
“kamu janji ?” tanyaku. Kyu Hyun memelukku dengan erat.
“asalkan kita bisa bersama lagi..” ujar Kyu Hyun. Kali ini dengan nada yang lembut berbeda dari yang sebelumnya.
“tentu saja!” seruku riang. Aku juga ikut memeluknya dengan erat.
:: 2 HARI KEMUDIAN ::
Kyu Hyun pembohong!!! Apanya yang di buang!? Tidak ada satu game pun yang ia buang. Yang ada ia malah mengajakku main PlayStation. Huh, Kyu Hyun memang tak bisa di percaya. Sekali Game Kyu akan tetap Game Kyu selamanya.
“Yeeah~! Kita menang chagi!!” seru Kyu Hyun seraya memelukku. Saking kagetnya, stik PS yang ku pegang sampai jatuh.
“iya.. kita menang..” ujar ku pura-pura ikut senang.
Ya sudahlah, yang penting ia makin menyanyangiku daripada yang dulu.
THE END

A Shappire Blue’s Heart

Posted: April 1, 2011 in general
Tags:

Sebelumnya, aku minta maaf, mungkin ada beberapa dari yang membaca catatan ini merasa aku ini orang yang tidak terlalu perduli dengan Super Junior. Tapi, dengan ini, aku ingin kalian bisa paham semua isi hatiku yang sebenarnya.
Aku memang merasa aku ini belum sepenuhnya ELF. Aku masih belum menghafal lagu-lagu Super Junior sepenuhnya. Aku kadang lupa pada judul-judul lagu Super Junior. Aku kadang terlewat berita update Super Junior. Aku kadang lupa pada Super Junior sendiri dan berpaling ke boy band lain. Aku sadar akan hal ini. Aku benci mengetahui diriku adalah jenis ELF seperti ini. Tapi, aku tidak bermaksud seperti ini. Aku sangat mencintai Super Junior. Dan aku ingin mengungkapkan hal ini disini sekarang.
Aku cinta semua oppa-oppa Super Junior. Sifat-sifat mereka yang beragam. Kebiasaan-kebiasaan mereka yang beragam. Suara mereka yang beragam. Aku cinta mereka yang bekerja keras siang malam hanya untuk ELFs. Aku cinta mereka yang rela yang rela meninggalkan hal pribadi mereka yang berharga hanya untuk menemui, menghibur para ELF dengan suara dan tarian mereka. Mereka yang masih tersenyum padahal mereka sebenarnya tidak mampu lagi tersenyum. Mereka yang seperti itu, begitu ikhlas, aku cinta akan hal itu.
Aku akan tetap mencintai Super Junior sampai kapanpun. Meskipun mereka terpecah-pecah, mereka tua, atau aku yang menua, apapun yang terjadi, aku akan tetap menyukai, mencintai Super Junior sepenuh hatiku. Cinta yang ikhlas ini hanya akan kuberikan kepada Super Junior, bukan untuk seseorang, tapi untuk 13 oppa ku.
Aku bangga menjadi salah seorang dari para Sapphire Blue yang sangat dicintai Super Junior. Aku tak akan pernah menyesal telah mencintai mereka. Meneriakkan nama mereka satu persatu, Lee Teuk, Hee Chul, Han Kyung, Ye Sung, Kang In, Shin Dong, Sung Min, Eun Hyuk, Dong Hae, Si Won, Ryeo Wook, Ki Bum, Kyu Hyun. Tak perlu datang di konser atau super show mereka, menonton video sambil meneriakkan nama mereka didalam hatiku, sudah cukup bagiku. Sudah cukup membuatku merasa aku berada ditengah ribuan ELF lainnya. Sudah cukup membahagiakan.
Mendengar cerita-cerita perjuangan mereka untuk ELF, selalu membuatku terharu, setiap ELF pasti akan terharu. Dan karena aku merasa seperti ELF yang lainnya, aku merasa aku memang masih seorang ELF. Karena aku masih mencintai Super Junior. Dan akan selalu mencintai mereka.
Kadang aku terpikir, apa kah mereka tak pernah merasa letih, terus-terusan menghibur kami selama 5 tahun lebih –hampir 6 tahun. Aku bahkan akan merasa bosan bila merasa begini terus. Tapi, aku berjanji aku tak akan merasa bosan menjadi ELF sampai kapanpun karena mereka juga telah berjanji hal yang sama pada ku, pada kami, pada semua ELF. Mereka akan terus ada untuk kami. Dan kami, aku, berjanji akan terus ada untuk kalian. Selalu dan selalu.
Aku tak berharap akan menemui kalian secara langsung, aku tak berharap apa yang aku tulis ini akan sampai kepada kalian. Yang aku harapkan adalah selalu bersama kalian. Menjalin hubungan yang jauh di mata namun terasa begitu dekat di hati. Begitu nyaman di hati. Mendengar alunan lagu yang kalian bawakan, yang mengasyikkan, yang mengharukan, yang aku harus mencari tahu dulu apa artinya, yang membuatku menari gila, yang membosankan, yang aneh, yang biasa saja, aku suka mendengar semua itu. Aku selalu berharap mengoleksi keseluruhan album kalian. Tapi uang yang kumiliki selalu tidak cukup. Aku berjanji, aku akan belajar giat, agar aku bisa menjadi orang yang sukses dan bisa membeli seluruh album kalian. Aku janji. Dan aku harap masih dijual. Hihihi..
Aku ingin sekali punya lesung pipit yang indah seperti Lee Teuk oppa, yang membuat orang disekelilingnya terasa nyaman. Aku ingin senyaman Lee Teuk oppa. Aku ingin punya jari yang lentik seperti Hee Chul Oppa, aku ingin punya wajah yang menawan seperti dia. Aku ingin belajar gerakan membelai dagu seperti yang biasa ia lakukan. Aku ingin terus bersama orang yang tampak Gentle seperti Han Kyung Oppa. Ibuku sangat menyukai Han Kyung Oppa. Aku menunjukkan sebuah buku bergambar Super Junior. Ibu ku berkata ; itulah sebabnya dia (Han Kyung oppa) di taruh di paling depan! Aku ingin punya suara sebagus, seindah, semenawan Ye Sung oppa. Hatiku luluh mendengar suaranya. Aku yakin, ELF yang lain juga begitu. Kalau aku bertemu dengan Ye Sung oppa, aku ingin berkata ; berterima kasihlah pada Tuhan atas apa yang telah ia berikan padamu ini. Sungguh sempurna! Aku kagum. Wajah Cute Kang In oppa terlihat lain dari yang lain. Wajah baby facenya selalu membuatku tertawa. Aku tidak meledeknya. Aku menyukainya. Setiap ekspresi apapun, wajahnya tak akan pernah menyembunyikan baby facenya itu walau ia mencoba mencoba menyembunyikannya. Kurasa aku memiliki sifat seperti Kang In oppa yang pemarah. Tapi, kalau aku bertemu dengannya, aku ingin mengajaknya Yoga agar bisa rilex dan melepas emosi dalam tubuh kami. Dan dengan ini kuharap ia bisa berhenti drunks.
Aku ingin sehebat Shin Dong oppa. Betul kata ELF lainnya. Orang tak akan ada yang menyangka ia memiliki talenta luar biasa. Ia dengan begitu mudah tampaknya bisa menggerakkan badannya dengan lincah. Memikirkan Shin Dong oppa membuatku semangat menjalani aktivitasku. Aku selalu berpikir ingin memiliki kakak laki-laki seperti Sung Min. aku berpikir, aku tak akan merasa canggung dengan kakak seperti ini. Aku ingin sekali curhat padanya, menceritakan segalanya padanya, aku harap dan aku yakin ia akan selalu tersenyum dan duduk manis mendengarkan. Siapa lagi anak Super Junior yang selalu melihatkan gusinya ketika tersenyum ataupun tertawa? Tentu saja Eun Hyuk oppa. Wajah polosnya, tingkah-tingkahnya yang menurutku lucu, cara bicaranya yang lucu membuatku selalu memperhatikan mulutnya. Aku ingin belajar rap bersamanya. Aku ingin belajar dance bersamanya, aku ingin meluangkan seluruh waktuku untuknya kalau aku mampu dan mau. Eun Hyuk oppa adalah satu-satunya orang yang dapat menghilangkan stressku. Dong Hae oppa selalu membuatku melted. Menatap wajahnya yang sendu, mendengar suaranya yang begitu lembut dan menenangkan, mendengar cerita kisah hidupnya, membuatku makin sayang kepada Dong Hae oppa. Aku tahu kamu orang yang simple, makanya aku merasa tak ingin terlalu banyak merepotkanmu, padahal aku sangat ingin mengganggumu kalau bisa, mengusikmu, mengejekmu, bersifat manja didepanmu. Oppa, kamu adalah orang terlembut yang pernah kutemui. Bahkan Lee Teuk oppa kurasa bisa di kalahkan oleh mu.
Si Won oppa, benar-benar mencintai Super Junior dan para ELF. Itulah sebabnya aku benar-benar mencintai dia. Dia rela membuat dirinya capek hanya karena ELF. Padahal ia tahu, menjadi anggota Super Junior bukan apa-apa dibanding dengan kekayaan yang ia miliki, kedudukan yang ia miliki, tapi ternyata ia setia untuk kami. Oppa, aku berjanji padamu akan menjadi ELF sampai akhir. Sampai akhir hidupku. Ryeo Wook oppa, kamu benar-benar orang yang benar-benar Khas bagiku dan mungkin juga para ELF yang lain. Wajahmu begitu cakep dan khas, suaramu yang indah dan khas, tingkahmu yang lucu dan Khas, aku menyukai kekhasan mu itu. Pernahkah terpikir olehmu akan bisa menjadi orang yang lebih akrab dengan Ye Sung oppa dibanding oppa-oppa yang lain? Kamu adalah eternal magnae Super Junior. Kamu selalu mempertahankan kekhasan magnaemu hingga sekarang sehingga kamu di sebut eternal magnae, padahal kamu bukanlah magnae yang sesungguhnya dari Super Junior. Bila aku mengajak para ELF yang lain untuk voting pasti mereka akan memilih dirimu sebagai magnae Super Junior. Aku yakin. Dan oppa, pertahankanlah kekhasanmu itu, karena aku menyukainya. Sungguh-sunguh menyukainya. Kadang aku merasa benar-benar membenci Ki Bum oppa. Aku selalu berpikir, berkata dalam hati ; kenapa ia tega sekali meninggalkan para ELF hanya untuk karir lainnya. Tapi aku sadar, aku tidak harus sepenuhnya membencinya.mungkin saja karena ia sudah terlanjur terikat kontrak dengan filmnya atau apapun itu. Dan aku sudah tenang karena ia mengatakan akan kembali lagi untuk kami, dan aku harap ia menepatinya. Aku kaget begitu pertama kali mengetahui kalau Kyu Hyun oppa adalah magnae Super Junior. Kukira pemegangnya adalah Ryeo Wook oppa. Ternyata aku salah. Magnae yang satu ini sangat berbeda. Harus nya kusarankan ia memberikan jabatannya itu pada Ryeo Wook oppa kalau bisa. Luar maupun dalamnya sungguh-sungguh tidak menunjukkan dia itu seorang magnae. Tapi, aku cukup senang, Super Junior memiliki magnae seperti dia. Tingkahnya yang kadang sok dewasa, begitu lucu. Aku sangat menyukai senyumnya. Wajahnya memang kadang-kadang menunjukkan ia seorang magnae dari Super Junior. Tapi, kutegaskan sekali lagi, itu hanya Kadang-Kadang. Aku sering kali bingung dengan jumlah ELF yang menyukainya begitu banyak. Kyu Hyun oppa selalu mendapat sorakan paling banyak. Kenapa tidak Si Won? Padahal pertama kali aku yakin, Si Won akan mendapat sorakan paling banyak, tapi aku salah lagi. Huh, aku selalu salah menilai Kyu Hyun oppa. Dia benar-benar tidak terduga bagiku. Tapi inilah satu lagi kekhasan yang dimiliki Super Junior. Tidak hanya, itu, sebenarnya, Super Junior memiliki 13 kekhasan. Dan karena itu aku bangga menjai ELF karena aku merasa menjadi benar-benar spesial.
Itulah, Super Junior yang selalu memenuhi, meramaikan panggung. Yang selalu tersenyum untuk ELF, yang selalu setia menemani ELF dalam setiap langkah. Hari-hariku terisi dengan keceriaan mereka. Aku harap mereka akan terus bersinar seperti shining star di langit malam dan tampak begitu indah, dan cahayanya akan menyatu dengan cahaya Sapphire Blue yang kuat dan tak terpisahkan untuk selamanya.
Terima kasih.